
Setelah pulang dari kampus Devan selalu pergi ke kamar anak semata wayangnya. Queenza adalah buah cinta Devan dan Kiara istri pertamanya yang sudah meninggal. Dulu saat bersama Kiara, Devan merasa hidupnya sempurna. Memiliki seorang istri yang cantik, baik, ramah, sabar dan penyayang serta seorang bayi perempuan mungil yang cantik membuat Devan sangat bahagia dan tidak ingin melewatkan sedikitpun hari tanpa mereka. Devan selalu menghabiskan waktu bersama istri dan anak di rumahnya yang sederhana. Meskipun begitu Devan dan Kiara selalu bahagia dan mencurahkan semua cinta mereka untuk buah cinta mereka.
Tapi kini Kiara telah tiada, Devan berusaha menjadi ayah sekaligus ibu untuk Queenza. Meskipun dulu Devan pernah menikah dengan Almira tapi Devan tidak pernah bisa mencintainya. Devan hanya menikahi Almira untuk anaknya Queenza yang begitu menyayangi Almira. Devan menikah dengan Almira selama 2 tahun. Itu juga karena Almira yang selalu berusaha bertahan demi Queenza yang waktu itu masih kecil. Almira tidak tega bila harus bercerai dengan Devan saat Queenza masih kecil jadi Almira menunggu sampai Queenza berusia 5 tahun. Dulu Queenza berumur 3 tahun saat di titip di TK tempat Almira mengajar. Biarpun umur Queenza 3 tahun tapi ukuran badannya sama besarnya dengan anak berumur 4 tahun. Dan juga Queenza cukup mandiri dan dewasa di usianya 3 tahun.
Devan masuk ke kamar Queenza, dia melihat Queenza sedang menangis di kamarnya. Devan mencoba mendekati Queenza yang sedang menangis dan berusaha bertanya padanya.
"Queenza kenapa kamu menangis sayang?"
"Hik ... hik ... hik ... besok di sekolah ada lomba memasak ibu dan anak, cuma Queenza yang tidak mempunyai ibu."
"Kan ada Papa, Queenza."
"Papa gak bisa masak, dan acara itu untuk ibu dan anak hik ... hik ... hik ...," ucap Queenza.
"Kalau begitu bagaimana kalau nenek yang menemani Queenza?"
"Nenek galak, Queenza gak suka. Nenek terlalu mengatur, Queenza harus begini dan begitu mengikuti aturan nenek."
"Nenek sayang Queenza lho, kan nenek itu ibu dari mama kandung Queenza."
"Gak mau, nenek galak. Queenza lebih suka Mama Almira. Mama Almira sabar dan penyayang gak galak kaya nenek." Queenza kembali teringat Almira. Selama jadi ibunya, Almira begitu menyayanginya seperti anaknya sendiri. Queenza bahagia saat bersama Almira.
"Queenza gak boleh begitu."
"Semua ini gara-gara Papa berpisah dengan Mama Almira, sekarang Queenza sendiri kalau Papa kerja dan sibuk."
"Maafkan Papa sayang."
"Coba kalau ada Mama Almira, pasti Queenza ditemani Mama Almira di lomba memasak itu."
"Ya udah, Papa minta maaf, Queenza maunya apa?"
__ADS_1
"Pokoknya aku mau sama Mama Almira ikut lomba memasaknya."
"Nanti Papa pikirkan ya."
Devan sedih mendengar ucapan Queenza, putri kecilnya itu merindukan Almira. Dia merasa dulu egois telah menceraikan Almira hanya karena perasaannya sendiri tanpa memikirkan perasaan Queenza. Anaknya sangat membutuhkan sosok Almira. Devan berjalan menuju kamarnya, Ibu mertuanya menghentikan langkahnya dan mengajaknya bicara.
"Devan kamu dari kamar Queenza?"
"Iya Bu."
"Jangan terlalu memanjakan Queenza, dia jadi bandel dan sulit diatur."
"Dia masih kecil Bu."
"Mumpung masih kecil kita harus mendidiknya dengan keras."
"Iya, tapi Queenza."
"Kamu sama seperti mantan istrimu Almira, bisanya memanjakan Queenza jadinya begini deh. Coba kalau Kiara anakku masih hidup, dia pasti bisa mendidik Queenza dengan benar."
"Kalau dulu kamu tidak telat menjemput Kiara, mungkin dia masih hidup sampai sekarang. Dia mengorbankan hidupnya demi kamu tahu Devan."
Ibu Siska mengingatkan kembali kesalahan Devan di masa lalu. Secara tidak langsung Devan jadi penyebab kematian Kiara, istrinya sendiri.
"Iya, saya ingat."
Dulu Kiara pergi menyusul Devan yang bekerja di luar kota. Waktu itu Queenza masih berusia 1 tahun. Queenza dititip di rumah neneknya. Kiara naik bus ke luar kota menyusul Devan. Dia menunggu Devan di terminal bus saat sampai, tapi Devan belum juga menjemputnya. Sampai malam Kiara menunggu Devan di terminal, akhirnya Kiara memutuskan mencari angkot untuk ke rumah kontrakan Devan. Satu jam menunggu angkot tapi belum dapat juga. Akhirnya Kiara memutuskan jalan kaki dulu sambil menunggu angkot. Di jalan Kiara bertemu tiga orang preman. Preman itu hendak menodong Kiara tapi Devan langsung datang, dan melihat Kiara ditodong tiga orang preman itu.
"Apa yang kalian lakukan pada istriku?"
"Apalagi selain uang."
__ADS_1
"Pergi kalian atau aku akan menghajar kalian."
"Jangan Mas Devan, biarkan saja mereka mengambil uangku, lebih baik kita pergi sekarang."
Kiara membujuk Devan. Percuma meladeni preman, mereka tak akan mengalah. Kiara tidak ingin mereka melukai suaminya.
"Tidak Kiara, sampah masyarakat seperti mereka harus diberi pelajaran."
"Ayo siapa takut, lawan kita bertiga."
Devan menghadapi ketiga preman itu sementara Kiara hanya melihat Devan dan ketiga preman itu berkelahi. Salah satu preman mengeluarkan pisau untuk menusukkannya pada Devan tapi Kiara menghalanginya.
"Tidak ... jangan!" Kiara menjadi tameng untuk Devan, dia terkena tusukan pisau itu.
"Tiaraaaaa!"
"Bro ayo kabur keburu ada yang melihat."
"Iya."
Preman-preman itu pergi meninggalkan mereka berdua. Kara jatuh kepelukan Devan dengan luka tusuk di perutnya. Devan ingin mengajak Kiara ke rumah sakit tapi Kiara melarangnya.
"Kiara, kita harus segera ke rumah sakit."
"Tidak perlu, Mas Devan ... waktuku tidak banyak, tolong jaga buah hati kita. Aku sangat mencintaimu dan Queenza." Setelah bicara Kiara mengakhiri nafas terakhirnya.
"Tiaraaaa!"
Setelah kejadian itu Devan selalu merasa bersalah dan ingin mengulang waktu. Seandainya dia tidak telat menjemput Kiara mungkin Kiara masih hidup. Devan selalu berpikir seharusnya dialah yang terkena tusukan pisau itu tapi malah Kiara yang menggantikannya. Itu yang menyebabkan Devan tidak bisa melupakan cinta Kiara dan pengorbanannya untuk Devan.
Setelah bicara dengan mertuanya Devan kembali ke kamarnya. Dia sangat sedih mendengar ucapan ibu mertuanya yang mengingatkannya pada Kiara. Devan jadi kembali merasa bersalah dan bersalah. Dia memandangi foto pernikahannya dengan Kiara. Devan tahu Kiara begitu mencintainya dan Queenza, tapi kini Kiara telah pergi. Devan harus bisa melangkah maju demi Queenza dan janjinya pada Kiara untuk menjaga Queenza.
__ADS_1
"Kiara maafkan aku sudah mengecewakanmu, seharusnya aku memikirkan kebahagiaan Queenza, bukan malah memikirkan diriku sendiri. Dulu Queenza sudah bahagia bersama Almira, tapi aku malah membuat Almira terus terluka dengan sikapku. Dia sangat menyayangi Queenza seperti anaknya sendiri. Seandainya aku tak bodoh, mungkin kini Queenza tersenyum bahagia," batin Devan.
"Ya Allah jodohkan hamba kembali dengan Almira, berilah hamba jalan agar bisa kembali dengannya. Engkau Maha besar, bisa dengan mudahnya membalikkan apapun. Izinkan hamba kembali jadi suami Almira, amin," ucap Devan dalam doanya.