Istri Pajangan CEO Alergi Wanita

Istri Pajangan CEO Alergi Wanita
Bersamamu


__ADS_3

Evander, Almira dan Sakira sudah sampai di taman hiburan. Taman hiburan itu sangat ramai dipadati pengunjung, apalagi hari minggu, hampir semua orang libur. Mereka masuk ke dalam taman hiburan itu. Membeli tiket dan masuk ke wahana yang ada di dalam. Sakira mengajak Evander dan Almira untuk naik wahana halilintar.


"Kak naik halilintar seru, menegangkan," usul Sakira.


"Kakak tidak berani naik itu," ucap Almira.


"Gak usah takut Kak Almira, sekali-kali nyoba wahana itu, iyakan Kak Evan?" tanya Sakira.


"Iya ide bagus Sakira," jawab Evander.


Almira terdiam.


"Ada aku Almira, tidak usah takut," ucap Evander.


Almira tersenyum malu-malu, apalagi Sakira semakin meledeknya.


Merekapun menuju ke wahana halilintar. Almira duduk berdua di kursi belakang dengan Evander. Sedangkan Sakira duduk di depan bersama orang lain. Wahana halilintarnya mulai jalan makin kencang naik turun bolak balik berputar-putar semakin kencang, semua orang berteriak ketakutan. Almira hanya menutup mata. Ini kali pertama Almira naik wahana adrenalin. Evander menoleh ke samping melihat Almira ketakutan dan memegang pegangan kursi.


"Almira kau takut?" tanya Evander.


"Iya," jawab Almira.


"Bayangkan hal yang lucu atau hal yang kau sukai untuk mengalihkan rasa takutnya," jawab Evander.


Almira mengangguk. Mengikuti nasehat dari Evander. Dia mengingat hal yang menyenangkan membuat fokusnya beralih. Dia tidak ingat takutnya lagi.


Setelah itu mereka turun dari wahana halilintar, Evander mengajak Almira duduk dikursi yang tersedia ditaman hiburan itu. Sakira pergi ke toilet sementara Evander dan Almira berduaan. Evander mengajak Almira bicara.


"Almira apa kau pusing?" tanya Evander.


"Gak," jawab Almira.


"Kau suka?" tanya Evander.


"Iya, ini pertama kali untukku naik halilintar," jawab Almira.


"Besok-besok kita akan sering pergi ke tempat ini," sahut Evander.


Almira terdiam. Apa mungkin mereka akan pergi bersama lagi.


"Tapi nanti kita sudah menjadi suami istri," celetuk Evander.


"Apa?" Almira terperanjat dengan ucapan Evander.


"Suami istri," jawab Evander.


Almira terdiam. Dia memikirkan hubungan mereka dulu.


"Almira, mau minum?" tanya Evander.


Almira mengangguk.


Evander berdiri, berjalan meninggalkan Almira, dia membeli air mineral untuknya, namun saat hendak kembali ke tempat Almira duduk, dia melihat badut beruang. Evander berpikir ingin menghibur Almira supaya semangat lagi. Dia mendatangi pemilik kostum badut beruang itu, lalu menyewanya.

__ADS_1


"Bos ini uangnya gak kebanyakan?" tanya pemilik kostum.


"Gak, ambil aja. Hari ini hari spesial untukku," jawab Evander.


"Mau menyatakan cinta sama cewek ya Bos? romantis banget caranya," ucap pemilik kostum itu.


"Iya, dia sangat berarti untukku, jadi aku harus memberikan hal romantis untuknya," ujar Evander.


"Semoga sukses ya Bos," ucap pemilik kostum itu.


Evander mengangguk. Kemudian dia membawa kostum badut beruang itu. Evander memakai kostum, pergi menuju tempat Almira duduk.


Di sisi lain, di taman hiburan yang sama Mona dan Queenza sedang berdiri di depan wahana komedi putar, sedangkan Devan sedang membeli camilan untuk mereka. Hari ini Mona berdandan semenor mungkin dan baju yang dipilihnya begitu seksi. Rok yang dipakainya saja begitu pendek. Dia berpikir Devan akan terpikat padanya.


"Tante ayo pergi ke rumah hantu pasti seru," pinta Queenza.


"Gak boleh, kamu naik komedi putar aja," ucap Mona.


"Bosen Tante, dari tadi naik itu terus, Queenza mau lihat ke rumah hantu," elak Queenza.


"Kamu mulai berani melawan Tante ya, mau Tante cubit nih," ucap Mona lalu mencubit tangan Queenza.


"Aw ..., sakit Tante hik ... hik ...," keluh Queenza sambil menangis.


Sakira yang sedang berjalan tak jauh dari mereka berdua berada, melihat Mona mencubit tangan Queenza begitu lama. Sakira langsung menghampiri mereka.


"Hei, gak boleh kasar sama anak kecil," ucap Sakira sambil melepas tangan Mona dari tangan Queenza.


"Tante Sakira," kata Queenza lalu memeluk Sakira.


"Hik ... hik ... hik ..." Queenza masih menangis kesakitan karena cubitan Mona.


"Justru karena kamu tantenya seharusnya tidak melakukan kekerasan pada ponakanmu sendiri," ucap Sakira.


"Aku gak mau ikut sama Tante Mona, jahat, tangan Queenza sakit hik ... hik ..., Queenza maunya sama tante Raisa aja," keluh Queenza.


"Awas ya kamu Queenza, aku ini tantemu, mau tante laporin ke nenek, kamu nakal hari ini!" ancam Mona.


"Ayo Queenza ikut Tante Sakira aja, gak usah takut sama nenek lampir ini," ucap Sakira sambil membawa Queenza meninggalkan Mona.


"Sialan kalian, awas aja!" ucap Mona kesal.


Tak lama Devan kembali membawa camilan mendekati Mona, tapi dia tidak melihat ada Queenza bersama Mona.


"Mutie Queenza mana?" tanya Devan.


"Dia lagi ke toilet sebentar," jawab Mona berbohong.


"Kalau begitu aku mau menyusulnya dulu ya," ucap Devan.


"Kak Devan di sini aja temani Mona, mumpung kita hanya berdua," ucap Mona sambil memegang lengan Devan.


"Maaf Mona, aku ini seorang ayah, aku bertanggungjawab atas keselamatan Queenza, aku pergi dulu mencari Queenza," ucap Devan sambil melepas tangan Mona dari lengannya lalu pergi mencari Queenza.

__ADS_1


"Sialan kenapa sih kak Devan masih saja jual mahal padahal aku sudah menggodanya, apa aku harus pakai cara yang lebih hot ya," ucap Mona kesal.


Devan berjalan ke sana ke mari mencari Queenza, dia sudah dari toilet tapi tidak menemukan Queenza. Devan terus berjalan dan bertanya pada setiap orang yang ditemuinya. Sampai pada akhirnya dia melihat Queenza sedang membeli kembang gula bersama Sakira. Devan langsung berjalan menghampiri mereka.


"Queenza," panggil Devan.


"Papa," sahut Queenza langsung memeluk Devan.


"Papa Tante Mona jahat, tadi dia mencubitku,


untung ada Tante Sakira yang menolongku." Queenza mengadu pada ayahnya. Dia menceritakan apa yang terjadi tadi


Devan langsung melihat ke arah Sakira yang berdiri di depannya. Gadis muda yang terlihat cantik dan mempesona itu tersenyum padanya.


"Sakira terimakasih sudah menjaga Queenza," ucap Devan.


"Ya sama-sama Kak Devan," sahut Sakira.


Setelah itu Devan, Sakira dan Queenza berjalan-jalan bersama di taman hiburan itu. Mereka naik wahana arum jeram, bianglala lalu mereka pergi ke wahana bom bom car. Qisya naik bersama Sakira sedangkan Devan sendirian. Mereka balapan satu sama lain.


"Papa ayo cepetan, kita udah duluan nih."


"Iya, ini Papa sedang menyusul."


"Kak Devan cepatan, bisa gak kalahkan kita," ledek Sakira.


"Oke, aku pasti menang," ujar Devan. Dia berusaha mengejar Sakira dan Queenza. Mereka kejar-kejaran. Semua itu membuat Queenza senang. Devan belum pernah melihat Queenza sesenang itu. Dia sadar, Queenza butuh sosok ibu yang merawatnya dan memberinya kasih sayang.


Mereka bertiga beristirahat setelah turun, duduk dan minum jus bersama sambil menikmati camilan ringan.


"Papa kalau kita selalu bersama pasti menyenangkan," ujar Queenza.


Devan terkejut dengan perkataan Queenza, begitupun Sakira. Mereka saling memandang sesaat kemudian terdiam.


"Papa, Tante Sakira baik kaya Mama Almira, cantiknya sama," puji Queenza.


Devan menelan ludahnya, merasa tak enak dengan Sakira, begitupun Sakira.


"Papa, jawab dong, menurut Papa Tante Sakira baik dan cantikkan?" tanya Queenza.


"Iya," jawab Devan.


Sakira tersenyum malu.


"Queenza seneng kalau bersama Tante Sakira, gak kaya sama Tante Mona, kapan-kapan kita jalan-jalan bersama lagi ya Pa, Tante Sakira?" tanya Queenza.


"Iya," jawab Devan dan Sakira bersamaan.


Tak lama Queenza tertidur di pangkuan Devan.


"Sakira makasih ya sudah bersedia bermain bersama kami," ujar Devan.


"Iya Kak Devan," jawab Sakira.

__ADS_1


Devan ingin bicara serius namun waktunya tak tepat. Dia hanya bisa mengobrol hal yang santai pada Sakira.


__ADS_2