Istri Pajangan CEO Alergi Wanita

Istri Pajangan CEO Alergi Wanita
Bersaing Sehat


__ADS_3

Evander dan Almira berjalan menuju ke parkiran di mana mobil Evander diparkirkan. Evander berinisiatif membukakan pintu mobil depan untuk Almira. Dia mempersilahkan mantan istrinya duduk di depan bersampingan dengannya. Saat dalam perjalanan mereka berbincang.


"Almira memangnya Queenza sakit apa?" tanya Evander.


"Sakit tipes," jawab Almira.


"Kalau begitu gimana kalau kita beli buah-buahan untuk dibawa ke sana sekalian mampir makan di restoran, kamu pasti sudah lapar," usul Evander.


"Apa tidak merepotkan Evander?" tanya Almira.


"Tidak, kebetulan aku sengggang," jawab Evander.


"Jangankan mengantar beli buah atau ke restoran, menikahimu hari ini juga aku mau Almira," batin Evander. Dia berusaha mencari cara biar bisa berduaan terus dengan mantan istrinya. Cinta harus dimulai dari kebersamaan yang diulang-ulang, memupuk kenyamanan dan membuat satu sama lain membutuhkan. Dengan begitu akan mudah untuk Evander mengajak rujuk Almira. Peluangnya akan lebih banyak dari ketiga rival lainnya. Apalagi Almira satu kantor dengannya, tingkat kebersamaan mereka akan lebih sering dari yang lainnya. Evander takkan menyia-nyiakan kesempatan yang tak datang dua kali. Menikahi Almira adalah tujuan hidupnya sekarang, dia ingin membina kembali rumah tangga yang dulu pernah hancur, dan membuat keluarga kecil baru yang penuh kebahagiaan.


Mobil berhenti di depan toko buah. Almira dan Tristan keluar dari dalam mobil, berjalan masuk ke dalam toko tersebut. Sore itu penuh pengunjung yang memadati toko buah. Mereka semua memilih, membawa dan membayar buah yang akan dibeli.


Evander mengajak Almira ke bagian buah yang ada di sudut kanan, di sana lumayan sepi. Mereka memilih buah-buahan yang akan dibeli.


"Almira lebih baik beli yang satuan, jadi kita bisa memilih sendiri buah yang masih bagus dan segar dari pada yang sudah dikemas," usul Evander.


"Iya ya, kau benar," sahut Almira.


"Kemarilah! apel ini besar-besar dan segar," ajak Evander.


Almira mendekat ke tempat Evander berada.


Mereka memilih-milih apel, jeruk, anggur, dan pisang. Tak sengaja Almira dan Evander mengambil apel yang sama. Tangan mereka hampir bersentuhan tanpa disengaja. Jantung Evander berdebar tak karuan. Dia begitu malu dan canggung saat menatap mata Almira yang melihatnya. Ada perasaan yang mendalam yang kini dia rasakan, ingin memiliki dan bersama Almira selamanya.


"Almira," ucap Evander.


"Evander," ucap Almira.


"Eeeee ..., apa sudah cukup buahnya?" tanya Evander.


"Ya sepertinya sudah cukup," jawab Almira.


Mereka pun menuju kasir untuk membayar buah-buahan itu, karena mengantri panjang, Evander meminta Almira menunggunya duduk di kursi.

__ADS_1


"Almira kau duduk di sana, biar aku yang mengantri dan membayarnya di kasir," ujar Evander.


"Apa tidak apa-apa Evander?" tanya Almira.


"Tidak, kau tunggu aku di sana," jawab Evander.


"Oke," ucap Almira. Dia duduk di kursi sambil menunggu Evander mengantri. Dia melihat mantan suaminya rela mengantri panjang dan membiarkannya duduk nyaman. Sesekali Evander melirik ke arah Almira, dia tersenyum, kali ini Evander benar-benar jatuh hati pada Almira, perasaan itu mulai tumbuh. Rasanya dia ingin segera mengajak Almira rujuk tapi terlalu buru-buru juga tidak baik, setidaknya Evander harus membuktikan dulu usahanya agar Almira yakin dan mau menerimanya.


Sekian lama akhirnya Evander selesai membayar. Dia mengajak Almira untuk makan di restoran yang dulu pertama kali mereka bertemu saat kencan aplikasi. Evander memesan menu yang sama seperti dulu saat mereka makan di situ begitupun Almira. Pesanan datang mereka pun makan bersama. Setelah makan Evander mengajak Almira berbicara.


"Almira kau masih ingat dulu saat pertama kita bertemu di sini?" tanya Evander.


"Ya aku masih ingat," jawab Almira.


"Almira maafkan semua kesalahanku di masa lalu padamu. Aku tahu pasti kamu terluka atas semua sikapku di masa lalu. Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya," ujar Evander.


"Aku sudah memaafkanmu Evander dari dulu, aku melihat kau yang sekarang sudah berubah, tidak tertutup seperti dulu lagi," ucap Almira.


"Terimakasih Almira," kata Evander.


Selesai makan, Evander dan Amira keluar dari restoran. Mereka naik mobil lagi menuju ke rumah Devan. Setengah jam perjalanan akhirnya sampai di rumah Devan.


"Evander kau yakin akan ikut masuk?" tanya Almira.


"Iya," jawab Evander.


Mereka berdua berjalan menuju pintu rumah Devan. Di depan pintu, Almira mengetuk pintu rumah itu.


Tok!tok!tok!


Tak lama pintu rumah terbuka, Devan berdiri di depan pintu melihat Almira. Dia senang Almira akhirnya datang, Queenza putrinya sudah menunggu dari tadi, kedatangan Almira sangat penting untuk menyemangati Queenza untuk sembuh.


"Almira," ucap Devan.


"Selamat malam Mas Devan," sapa Almira.


"Malam," sahut Devan. Dia menatap Almira yang begitu cantik mengenakan hijab berwarna toska muda dan baju kerjanya berwarna toksa tua. Almira terlihat anggun dan sopan. Khas seorang muslimah.

__ADS_1


"Aku datang untuk menjenguk Queenza," ucap Almira.


"Terimakasih Almira," ucap Devan.


"Iya sama-sama," jawab Almira.


Tak disangka Almira ternyata datang bersama seseorang, mata Devan menatap lelaki di belakang Almira, dia mantan suami keduanya.


"Evander," ucap Devan.


"Kedatanganku ke sini mengantar Almira menjenguk Queenza," ujar Evander.


"Tadinya aku ingin pendekatan dengan Almira, ternyata ada Evander juga, sepertinya hari ini aku harus mengalah dan menunggu hari esok yang lebih baik," batin Devan.


"Ooo ..., masuklah ke dalam Almira! Queenza ada di kamarnya, tinggal masuk belok kiri, pintu kamar Queenza warna pink. Aku mau bicara dengan Evander sebentar," ucap Devan.


"Oke," sahut Almira. Dia masuk ke dalam rumah Irfan menuju ke kamar Queenza. Sementara Evander dan Devan berada di teras. Mereka masih berdiri, saling menatap. Kedua duda itu harus bersaing untuk mendapatkan mantan istrinya.


"Duduklah Evan!" Devan menawari Evander duduk.


"Iya," jawab Evander.


Mereka berdua duduk di kursi yang berada di teras rumah. Mereka merasa harus bicara satu sama lain mengenai persaingan untuk mendapatkan hati Almira, agar tidak terjadi pertengkaran, kecurangan dan perkelahian yang merugikan.


"Aku sudah tahu tentangmu dari Almira saat menikah denganku dulu. Apa sekarang kau sedang mendekati Almira lagi?" tanya Devan.


"Iya, aku memang sedang berusaha mendekati Almira lagi," jawab Evander.


"Berarti kita sama, aku juga sedang berusaha mendekati Almira lagi. Almira wanita yang baik dan penyayang. Hanya Almira yang bisa mengerti Queenza anakku," ujar Devan.


"Aku tidak akan mundur, meskipun kau memiliki anak yang membutuhkan Almira," ucap Evander. Dia tidak peduli Devan memiliki anak yang begitu menyayangi Almira, karena sejatinya Almira membutuhkan orang yang mencintainya bukan karena sekedar membutuhkannya.


"Baik, mari kita bersaing secara sehat. Siapa yang akan dipilih nanti itu terserah Almira," tantang Devan.


"Baik ku terima tantanganmu," jawab Evander.


Mereka akhirnya sepakat untuk bersaing sehat untuk mendapatkan Almira. Mereka berdua sama-sama menginginkan Almira kembali seperti dulu bersama mereka.

__ADS_1


__ADS_2