Istri Pajangan CEO Alergi Wanita

Istri Pajangan CEO Alergi Wanita
Tidak Bisa


__ADS_3

Almira bangun jam 4 pagi untuk memasak,


mencuci piring, mencuci baju, menyapu dan mengepel. Dia belum punya cukup uang untuk menyewa asisten rumah tangga. Apalagi sekarang ibunya sakit, tabungannya digunakan untuk pengobatan ibunya. Untung saja Almira sudah mulai bekerja, setidaknya bulan depan dia akan mendapatkan gaji untuk mencukupi semua kebutuhannya. Setelah itu Almira membangunkan ibunya dan Sakira untuk sarapan. Mereka sarapan bertiga, selesai makan Almira mandi dan berganti pakaian lalu bersiap untuk berangkat bekerja. Almira dan Sakira berjalan bersama ke depan rumahnya. Ada Rey yang sudah menunggu Almira di depan jalan rumahnya.


"Kak Almira kita hari ini berangkat di antar Kak Rey ya, kemarin Sakira yang minta Kak Rey mengantar kita pagi ini," pinta Sakira.


"Kakak naik bus saja," tolak Almira.


"Kak gak enak sama Kak Rey, aku dah bilang iya, ayolah. Kak Rey udah meluangkan waktunya untuk ke sini pagi-pagi loh," bujuk Sakira.


Almira masih berpikir. Sebenarnya dia tidak mau, tapi tidak enak juga menolak sesuatu yang sudah dijanjikan, walaupun itu bukan dari mulutnya.


"Sekali ini aja ya," ucap Sakira memohon pada kakaknya sambil menyatukan kedua tangannya ke di depan dada.


"Oke, tapi kali ini aja," jawab Almira.


Sakira mengangguk. Mereka berdua berjalan menuju ke mobil milik Rey. Di depan mobil, Rey sudah berdiri menunggu mereka. Dia terlihat senang bisa bertemu Almira. Senyumannya terpancar dari wajah tampannya. Sakira yang berniat mencomblangkan mereka, merasa ini awal yang baik untuk hubungan ke depannya.


"Selamat pagi Almira, Sakira," sapa Rey.


"Pagi," sahut Almira dan Sakira secara bersamaan.


"Ayo Kak Rey bukakan pintu mobilnya untuk Kak Almira di depan," usul Sakira.


"Oke," sahut Rey.


"Sakira apaan sih." Almira berbisik pada Sakira.


Rey membukakan pintu depan mobilnya untuk Almira, segera Almira masuk ke mobil dan duduk di kursi depan. Sedangkan Sakira duduk di kursi belakang. Mobil itu mulai melaju menuju tujuan. Diperjalanan Rey mengajak Almira berbincang.


"Almira sudah sarapan?" tanya Rey.


"Sudah," jawab Almira.


"Sarapan sama apa?" tanya Rey.


"Sarapan roti bakar," jawab Almira.


"Kak Rey roti bakar buatan Kak Almira enak loh."


Sakira memuji makanan buatan kakaknya agar Rey semakin tertarik mendekatinya.

__ADS_1


Almira hanya diam dan sesekali menjawab pertanyaan Rey saat menanyakannya sesuatu.


"Kak Rey antarkan dulu aku ke kampus ya," pinta Sakira sengaja supaya Almira berduaan dengan Rey.


"Oke," jawab Rey. Dia mengantarkan Sakira ke kampusnya dulu, lalu mengantarkan Almira menuju perusahaan tempatnya bekerja.


"Almira, Ibuku mengundangmu makan malam. Apa kau bersedia datang?" tanya Rey.


Almira bingung harus menjawab apa, dia tidak enak menolak jika itu permintaan ibunya Rey.


"Baik, tapi bolehkah aku mengajak Sakira juga?" tanya Almira.


"Boleh, yang penting kau mau datang," jawab Rey.


"Iya," sahut Almira.


"Nanti jam 6 malam aku jemput ke rumahmu,"


ucap Rey.


Almira hanya mengangguk.


"Rey terimakasih sudah di antar sampai sini," ucap Almira.


"Ya sama-sama Almira," sahut Rey.


Almira berjalan masuk ke perusahaan. Beberapa karyawan di perusahaan itu memberi salam padanya. Mereka juga menyapa Almira, sepertinya pengumuman yang dilakukan Evander membuat para karyawan di perusahaan itu jadi segan dan menghormati Almira.


Maya masuk ke dalam perusahaan dengan baju ketat, belahan dada terbuka, dan rok yang mini. Make up nya lebih menor dari hari biasanya. Dia berjalan dengan pede-nya. Beberapa karyawan heran melihat Maya yang seperti itu. Karyawan laki-laki pada melongo melihatnya berpenampilan seperti itu ke kantor. Ada juga yang memberi siulan pada Maya saat dia lewat di depan karyawan laki-laki. Maya tidak mau buang-buang waktu, dia langsung menuju ke ruangan CEO sambil membawa berkas-berkas yang harus ditandatangani Evander. Maya berdandan lagi sampai benar-benar menor berharap Evander nanti tergoda.


Evander berada di ruangan kerjanya, dia mengecek semua data yang masuk di laptopnya. Maya mengetuk pintu ruangan kerja Evander.


Tok!tok!tok!


Mendengar suara ketukan pintu Evander langsung menyuruh masuk.


"Masuk!" perintah Evander.


Maya langsung masuk ke dalam dengan senyumannya yang paling manis dan gaya berjalannya yang berlengok-lengok bak model dadakan. Dadanya dibusungkan setinggi mungkin biar terlihat besar dan seksi di mata Evander, tapi sayangnya Evander hanya fokus ke laptopnya dan tidak melihat ke arah Maya.


"Evan, ini berkas-berkas yang harus kau tanda tangani," ucap Maya.

__ADS_1


"Taruh saja di meja! lalu keluarlah!" perintah Evander.


"Sialan, Evander kenapa tak menatapku sama sekali, padahal aku mengajaknya bicara," batin Maya. Dia mencari cara agar Evander melihat penampilannya dengan mendekat ke meja dan memegang tangan Evander.


"Evan ...," ucap Maya dengan nada menggoda dan manja.


"Singkirkan tanganmu!" perintah Evander menampik tangan Maya.


"Evan bisa tidak kalau kau bicara tatap wajahku," pinta Maya.


Evander akhirnya menatap wajah Maya. Dia melihat penampilan yang dikenakan Sasa pagi ini. Maya sengaja senyum totalitas biar Evander tergoda.


"Maya ini kantor, bukan klub malam. Kamu niat kerja atau mau menghibur laki-laki kesepian. Bukan sudah jelas peraturan di perusahaan ini, semua karyawan harus berpenampilan rapi dan sopan," ujar Evander. Matanya dingin menatap Maya. Bukannya Evander tergoda justru terlihat kesal dan memarahi Maya.


"Evan, aku berpenampilan seperti ini untukmu," ucap Maya.


"Untukku? bukannya sepanjang perjalanan dari lobi sampai ruangan kerjaku kau sudah memperlihatkannya pada semua orang," ungkap Evander.


"Evan, aku cuma mau kau sedikit memperhatikanku saja, jangan Almira terus yang kau perhatikan. Lagian dia itukan cuma mantan. Dan juga masih lebih cantik dan seksi aku dari dia," ujar Maya.


"Mau aku memperhatikan Almira atau tidak itu urusanku, dan harus kau ingat, Almira jauh lebih baik darimu. Dia bukan wanita murahan yang mengumbar kecantikan tubuhnya untuk sembarang orang," ujar Evander.


"Evan kenapa sih, kau tak pernah mau menerimaku. Padahal aku sudah berusaha selama ini menunggumu dari dulu," ucap Maya.


"Maya yang harus kau tahu, perasaan tidak bisa dipaksakan. Lebih baik kau cari orang lain yang bisa menerimamu apa adanya. Dan kalau kau masih mau kerja di sini berpakaianlah yang rapi dan sopan mulai besok. Kalau kau tidak mau mengikuti aturan, silahkan keluar! masih banyak orang di luar sana yang bersedia menggantikanmu. Keluar dari ruanganku sekarang!" tegas Evander.


Maya hanya diam dan kesal lalu keluar dari ruangan Evander. Dia benar-benar marah besar, rencananya untuk menggoda Evander gagal total. Malah jadi dimarahi dan diancam oleh Evander. Maya menemui Lina di ruangan HRD.


"Maya kamu kemana pakai baju begitu, mau ke undangan?" tanya Lina.


"Aku niatnya mau menggoda Evan, tapi malah disembur habis sama Evan," jawab Maya.


"Ya iyalah, inikan kantor. Lagi pula Presdir itu orangnya dingin dan tertutup pada wanita, mana bisa digoda. Kalau bisa digoda mah, udah dari dulu kali sebelum kamu kerja di sini. Karyawan di sinikan cantik-cantik, tapi Presdir itu tak pernah tuh tergoda. Sikapnya selalu dingin dan tertutup pada semua wanita, bahkan semua orang di kantor ini. Dia itu hanya bicara seperlunya saja kalau penting. Percuma deh kalau kamu mau menggoda Presdir," ujar Lina.


"Gimana ya caranya supaya Evan bisa jatuh kepelukanku?" tanya Maya.


"Maaf ya aku gak mau ikut campur. Aku gak masalah kamu curhat sama aku, tapi aku gak bisa bantu. Kamu pikir saja sendiri caranya gimana. Aku mau kerja dulu ya," jawab Lina.


"Iya," sahut Maya kesal.


Evander memang sangat dingin dan tertutup karena trauma di masa lalunya. Satu-satunya wanita yang pernah hadir dihidup Evander adalah Almira. Jika Evander jatuh cinta dengan Almira, dia adalah cinta pertamanya.

__ADS_1


__ADS_2