
Daisy sedang menyiapkan makan malam bersama Hana di dapur saat mendengar derap langkah kaki melangkah semakin dekat. Yang sepertinya lebih dari satu orang. Apalagi Ia juga seperti mengenal pemilik suara.
"Kita mau masak apa, Ma?" Tanya Fanya saat sudah hampir sampai di pintu dapur.
Daisy mengernyit heran. Tak menyangka tamu yang diundang oleh Rosa itu masih belum juga beranjak dari rumahnya.
"Kamu kan paling jago masak dendeng. Masak itu aja buat malam ini. Pasti Axel senang." Mertuanya itu masuk ke dalam dapur dengan tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Siapa dia sampai harus menyenangkan suaminya? Dia hanya orang luar ! Dia bukan tamu. Dia racun. Racun yang bisa menghancurkan rumah tangga Daisy kapan saja.
Sambil menghela nafas panjang Daisy memotong kacang panjang diatas telanan dengan kasar. Berharap mereka mendengar sindiran suara yang Daisy keluarkan.
"Kalo kerja itu pelan-pelan.! Semua barang dirumah ini itu aku yang beli, bukan kamu.!" Bentak Rosa seketika membuat Daisy diam sambil menatap wanita paruh baya itu nanar. Ingin rasanya melawan, tapi hati nuraninya tak mampu.
Sementara Fanya tersenyum sinis sambil mendorong Daisy menjauh. Mengambil alih kacang yang tadi ingin Ia potong.
"Sudah, Mbak. Masuk ke kamar saja biar aku yang masak. Kan enak tiduran di kamar." Ucap Fanya kemudian.
"Ma?" Panggil Daisy lirih. Mencoba mencari akankah masih ada sedikit kepedulian Rosa padanya.
"Apa? Sudah. Masuk. Kan kamu suka di kamar?" Sindir Rosa berjalan dari hadapan Daisy, sambil menabrak bahu Daisy sampai ia sedikit oleng.
Daisy mematung dari tempatnya berdiri. Setitik kristal bening jatuh dari netra indahnya yang berwarna kecoklatan. Sementara Hana menatap nanar nona kesayangannya. Daisy memang amat sangat baik padanya.
Akhirnya dengan langkah cepat Daisy melangkah menjauh dari dapur. Percuma Ia berada disini. Hanya akan menambah luka hatinya.
Tak berapa lama terdengar ketukan pintu kemudian terdengar pintu dibuka. Daisy masih diam menutup muka sembabnya dengan bantal. Ia tahu siapa yang datang.
"Sayaaaanggg." Ucap Axel berhambur menindih Daisy yang berbaring telentang. Ia memeluk Daisy erat, sementara Daisy masih diam mengatur nafas agar isakan tangisnya berkurang.
"Daisy?" Ucap Axel saat mendengar isakan dan nafas Daisy tak tidak teratur. Ia kemudian menarik bantal yang masih di cengkeramnya. Tentu saja Daisy kalah.
"Kenapa?" Tanya nya lagi terdengar panik meski sedikit. Ia segera menarik Daisy agar terduduk dan memeluk serta mengelus punggung Daisy pelan.
Sementara Daisy yang tadinya hampir tenang justru kembali menangis tersedu-sedu. Axel masih menenangkannya sambil diam sesekali menepuk pelan punggungnya.
__ADS_1
"Kenapa sayang? Aku salah apa? Kamu minta apa?" Lagi, Axel mencoba mengajak Daisy berbicara saat Ia sudah hampir tenang.
"Aku mi-minta kita pindah rumah, mas. A-aku mau hidup berdua sama ka-kamu." Jawab Daisy sambil terisak. Nafasnya masih belum teratur.
Axel tak menanggapi. Ia diam sambil terus memeluk Daisy dalam dekapannya.
Sejenak Ia terdiam. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan Ia melihat Daisy menangis seperti ini.
Ketukan di pintu kamar membuyarkan lamunan mereka berdua. Axel segera beranjak dari duduknya dan membuka pintu. Terlihat Hana berdiri sambil menunduk.
"Maaf, Tuan. Makan malam sudah siap. Nyonya Rosa menunggu dibawah." Ucap Hana hati-hati.
"Bilang sama Mama aku makan di kamar. Sekalian nanti bawain makannanya kesini, ya."
"Baik."
Axel lalu kembali pada Daisy yang sudah tenang. Dirinya duduk ditepi ranjang sambil memandang wajah cantik dan manis itu kini sembab dan basah oleh airmata.
Axel mengelus puncak kepala yang masih tertunduk itu dengan penuh sayang. Entah apa yang membuatnya menangis. Tapi hatinya ikut sakit melihat mata yang biasanya berseri-seri itu kini sendu dan sembab.
"Kamu turun aja, mas. Biar aku makan sendiri disini. Ada tamu spesial kamu menunggu kamu dibawah." Lirih Daisy sambil tetap menunduk.
"Tamu? Tapi Mama gak bilang apa-apa sama aku. Biasanya kalau ada tamu penting Mama pasti telfon."
"Ada, Mas. Kamu lihat aja dulu," Daisy beranjak dari kasur dan berjalan ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
Karena penasaran, akhirnya Axel berjalan keluar kamar. Ia berpapasan dengan Hana yang hendak mengantarkan makan malam mereka.
"Taruh aja di meja kamar, ya." Ucapnya sambil berlalu.
Sesampainya di bawah, akhirnya Ia tahu kenapa Daisy sampai menangis tersedu. Meski Ia rasa respons Daisy terlalu berlebihan. Karena Ia sama sekali tak punya perasaan spesial pada siapapun, termasuk tamu yang dimaksud oleh Daisy.
"Ma." Panggil Axel membuat wanita yang telah membesarkannya itu menoleh.
"Duduk sini, sayang." Bukannya menjawab, Rosa malah menyuruhnya untuk duduk.
__ADS_1
"Axel makan diatas aja deh, Ma. Kasian Daisy sendirian." Ucap Axel sambil melirik sekilas wanita masa lalunya yang menunduk malu-malu. Tak Ia hiraukan Rosa yang memanggilnya berkali-kali.
Daisy terduduk di pinggir tempat tidur sambil menatap nanar makanan yang sudah tersaji didepannya. Ia masih tak bergeming saat Axel menarik kursi kecil dan duduk di depan Daisy. Mengambil beberapa suap makanan dan menyodorkannya ke mulut mungil Daisy.
Daisy menggeleng pelan.
"Sayang. Dia kan cuma masa lalu. Memang apa yang dia bilang sampai kamu jadi menangis seperti ini.?"
Seketika Daisy menoleh pada Axel. Perasaan yang tadi sedih berubah jadi amarah tatkala Axel seperti meremehkan apa yang Ia rasakan sekarang.
"Mas. Kamu tahu? Aku Istrimu. Harusnya, kalau memang Mama masih menghargai aku sebagai menantu Ia tak akan sampai hati mengundang orang yang akan menuangkan racun untukku, mas." Ucap Daisy dengan dada naik turun menahan amarah.
"Dan. Wanita yang kamu sebut masa lalu itu dengan mudah merendahkanku seolah aku tak pantas untukmu dan hanya Dia yang pantas." Air mata yang baru saja berhenti kini kembali mengalir deras dari netra indahnya. Tak kuat menahan marah dan benci yang menyeruak di dalam dada.
"Tetap saja. Mau bagaimanapun Ia tetap kamu pemenangnya, sayang. Kamu yang memenangkan hatiku." Axel beranjak dari kursinya dan menghampiri Daisy seraya memeluknya hangat. Mencoba menenangkannya dan mengalirkan cinta yang selama ini telah terbangun.
"Aku mau pindah, mas. Asal mas tahu aja. Dia diundang Mama. Jangan paksa aku disini bila memang Mama tak mengkehendaki kehadiranku, mas. Kumohon." Masih dengan isak tangisnya Ia memohon pada satu-satunya lelaki yang kini mendampinginya.
Axel menghembuskan nafas kasar. Bingung harus mengatakan apalagi. Yang dikatan Daisy memang benar. Ia pun tak ingin melukai hati Daisy. Hanya saja, meminta izin Rosa untuk pindah sama saja meminta izin untuk melupakan Axel adalah anaknya.
Sedangkan rasa sayangnya begitu besar pada orang yang telah melahirkan dan membesarkannya itu. Tapi, ia juga sangat menyayangi wanita yang kini sedang terluka oleh Rosa.
Tentu saja jika harus memilih Ia tak akan pernah bisa. Baginya restu orangtua diatas segalanya. Ia merasa tak akan bisa menjalani hidup dengan baik tanpa restu Rosa.
"Makan dulu, ya? Kita bahas nanti aja kalau kamu sudah lebih tenang." Ucap Axel kemudian menyuapkan sesuap nasi pada mulut mungilnya. Meski sesaat menggeleng akhirnya dengan terpaksa Daisy mengunyah nasi yang terasa sangat hambar baginya.
Axel terus menyuapi Daisy sampai wanita itu akhirnya menolak setelah menghabiskan separuh nasi yang telah Ia ambilkan.
"Aku akan tetap meminta kamu pindah, Mas. Atau kamu kirim aja aku kerumah Ayah. Aku engga betah disini kalau harus mendengar cacian setiap hari." Ucap Daisy lirih yang membuat Axel mengacak rambut gusar. Tak tahu harus bagaimana.
Ia tak tahu perlakuan seperti apa yang di maksud Daisy. Karena selama ini yang Ia lihat Rosa cukup memperlakukan Daisy dengan baik. Bahkan sesekali mengambilkan makan atau minum untuknya.
"Bukannya Mama sudah memperlakukan kamu dengan baik? Harus baik yang bagaimana lagi Daisy?" Pertanyaan Axel sontak membuat Daisy menoleh dan menghela nafas panjang.
"Berkali-kali aku bilang sama kamu, Mas. Tapi kamu tak pernah menanggapi. Ingat, Manusia pandai menyembunyikan sesuatu yang bisa merugikan mereka." Ucap Daisy kecewa sambil menarik selimut dan merabahkan badan meringkuk membelakangi Axel yang menatap penuh tanya.
__ADS_1
Ia cerna kembali kata yang terucap dan fikirannya melayang saat beberapa minggu setelah mereka melangsungkan pernikahan. Daisy mengeluh kalau katanya Rosa menjelek-jelekkan Ia di depan teman-temannya. Tapi Axel tak acuh. Ia hanya percaya apa yang Ia lihat, daripada apa yang diucapkan oleh orang yang bahkan baru beberapa minggu Ia nikahi.