
Berkali-kali Axel mencoba fokus pada layar laptopnya. Tapi nihil. Fikirannya melayang jauh entah kemana.
Harusnya ini masa panting untuk perusahaannya yang sedang tidak baik-baik saja.
Tapi seolah masalah tidak suka melihat ia dan keluarganya baik-baik saja. Daisy. Yang ia kira akan segera pulang, justru makin betah di rumah Dani. Terhitung sudah 4hari ini ia disana.
Daisy pun mengabaikan semua telfon dan chat darinya.
Ia memegang kepala yang mulai pening. Fokusnya terbelah justru saat perusahaan sedang sangat membutuhkan kinerja profesionalnya.
Ingin mengunjunginya, tapi akhir-akhir ini pun ia lebih banyak menghabiskan waktu di kantor. Sibuk.
Sudah ia coba untuk meminta tolong pada Rosa. Tapi tetap saja tak membuahkan hasil.
Ia bukan tak tahu apa masalah yang dialami Daisy. Ia tahu sesekali Rosa memandang tak suka pada Daisy. Tapi yang ia tahu hanya sebatas itu. Bahkan sesekali pun Axel lihat Rosa memperlakukan Daisy dengan baik.
"Apa yang salah?" Gumam Axel lirih bermonolog pada diri sendiri.
"Ya? Bapak bicara sama saya?" Ucap Toni. Sekretaris Axel yang sedang duduk di sofa samping ruangan.
Axel hanya melambaikan tangan.
"Ton." Paggil Axel akhirnya. Setelah beberapa saat menimbang.
"Ya, Pak?" Tanya Toni melihat Bosnya itu hanya menunduk sambil memegang kedua keningnya.
Ia pun sangat tahu dan faham. Entah masalah apa yang dilalui Axel karena beberapa hari ini terlihat kinerjanya menurun.
Axel mendongak. Menatap Toni serius.
"Kalau kamu menikah. Dan uangmu masih di pegang Mama-mu bagaimana?" Ucap Axel.
"Maksudnya pak?" Tanya Toni sejenak bingung dan agak kaget dengan apa yang disampaikan Axel.
"Iya itu maksudnya. Semua uang istriku dipegang Mama." Ungkap Axel akhirnya to the point.
Toni melongo. Bagaimana tidak? Axel yang selalu terlihat pintar karena semua keputusan yang diluar nalar tapi mampu mengangkat nama perusahaan justru menanyakan hal yang menurutnya kurang pantas dilakukan.
"Memang kenapa harus di pegang Bu Rosa pak? Apa ada alasan khusus?" Ujar Toni justru bertanya balik pada Axel.
"Alasan… " Gumam Axel lalu terdiam memimbang. Ia bahkan tak tahu karena hanya menuruti apa kata Rosa yang menurutnya orang pertama yang harus ia patuhi dan bahagiakan.
Toni ikut terdiam ia menggarukkan pulpen di tangannya ke ujung dagu.
"Aku hanya menuruti Mama? Menurutku semua keputusan Mama pasti yang terbaik." Jawaban Axel seketika membuat dahi Toni berkerut heran.
"Lalu? Apa menurut Bapak ini juga yang terbaik buat Ibu Daisy?" Tanya Toni hati-hati.
"Memang itu perlu? Bukannya istriku juga harus berbakti pada Mamaku?" Tanya Axel polos.
Entah polos. Entah anak mama. Toni menimbang-nimbang. Kata-kata apa yang pantas untuk menolak argumen Axel.
__ADS_1
"Maaf, pak sebelumnya." Ujar Toni berdehem.
"Menurut saya, kalau Bapak sudah berniat untuk menikahi seorang gadis. Bapak juga harus memikirkan pendapat dan kebahagiaan gadis tersebut." Ujar Toni sambil menarik nafas dalam dan menghembuskan pelan. Saat terlihat Axel hanya diam dan mendengarkan, ia pun melanjutkan kata-kayanya.
"Menurut saya ya, Pak. Sekali lagi saya minta maaf bila ada kata yang kurang berkenan. Karena Bapak sudah membina rumah tangga. Seharusnya orang luar dilarang ikut campur. Termasuk orangtua Bapak." Toni menjawab sambil menunduk. Takut bila kata-katanya akan menyinggung perasaan atasannya.
"Begitu?" Ucap Axel singkat sambil menggaruk dagu yang tidak gatal.
"Iya, pak. Saya memang belum menikah. Tapi, setidaknya sedikit banyak saya sudah belajar dari kakak saya yang sudah berumahtangga selama 10 tahun." Ujar Toni seraya mengangguk.
"Apalagi Kakak saya juga sering memberikan wejangan. Termasuk tadi yang saya utarakan ke Bapak." Lanjut Toni. Terlihat muka bingung Axel.
"Kakakmu perempuan, kan?" Tanya Axel setelah beberapa saat terdiam.
"Iya, Pak." Jawab Toni sambil mendongak dari layar laptopnya.
"Oke oke," Ujar Axel sambil mengangguk.
"10 menit lagi kita ada meeting dengan klien, pak. Bisa kita bersiap sekarang?"
Axel mengangguk. Ia memakai jas yang di taruh di atas kursi dan berjalan beriringan dengan Toni di belakangnya.
Entah Axel paham atau tidak. Tapi urusan rumah tangga bukan urusan Toni.
***
Sementara di rumah Dani. Daisy tengah menyibukkan dirinya dengan hobi-hobi lama yang beberapa bulan ia tinggalkan.
Membuat berbagai macam eksperimen cake dan cookies.
"Itu di biarin dulu 15 menit, Mbok. Tutup aja pake plastik wrap." Ucap Daisy sambil mengintip adonan cookie yang ia panggang di oven.
Karena nanti sore katanya Hera dan Aurora akan pulang ke rumah. Jadilah Daisy hari ini membuat agak banyak cookie. Demi memanjakan Aurora dan juga Hera.
"Mbok coba deh." Daisy menyerahkan satu keping cookie pada Mbokyem untuk dicicipi. Sementara mulutnya sendiripun sudah sibuk mengunyah sejak tadi.
Selain hobi membuat ia memang hobi menikmati.
"Enak, Non." Ucap Mbokyem sibuk mengunyah.
"Ambil lagi, Mbok." Balas Daisy menyodorkan satu loyang penuh cookie pada Mbokyem.
"Semua Non?" Ucap Mbokyem sambil tersenyum simpul menggoda Daisy.
"Jangan sekarang, Mbok. Ini khusus buat keponakan manisku." Ujar Daisy tertawa renyah.
"Kalau Mbokyem mau besok aku buatin," Ujarnya lagi sambil.
"Aduh, Non. Jangan." Celetuk Mbokyem nyengir mendengar penuturan Daisy. Sementara Daisy sibuk menata cookie yang di loyang ke dalam toples yang sudah dia siapkan.
"Eh. Kak Hera sudah datang? Katanya baru berangkat." Tukas Daisy saat mendengar bel pintu di pencet.
__ADS_1
"Saya bukain pintu dulu, Non." Pamit Mbokyem.
"Jangan, Mbok. Biar aku aja. Ini nanti Mbok lanjut cetak sama masukin oven ya." Sela Daisy sambil melepas celemeknya.
Dia pun segera berjalan ke pintu depan.
"Kak Hera kok…" Tak mampu Dia lanjutkan kata-katanya saat melihat yang di depan pintu justru sosok yang amat dia hindari kini.
Wajah yang akhir-akhir ini tak ingin ia lihat. Tapi juga sangat ia rindukan. Sosoknya datang di depan mata. Meski ia menutup mukanya dengan satu buket besar bunga Daisy, tentu saja Daisy tetap amat sangat mengenal sosok dibaliknya.
"Baaa… " Celetuk Axel sambil menyingkirkan buket bunga yang sedari tadi sengaja ia tutup di depan mukanya.
"Kok enggak kaget, sih. Peluk kek apa kek." Ujar Axel sambil memegang pipi Daisy dan mencubitnya pelan.
"Kaget, kok. Siapa bilang enggak," Timpal Daisy tetap diam tanpa memberi respons apapun.
Akhirnya Axel memeluk Daisy sambil mengusap kepalanya pada bahu kecil Daisy.
"Kangen tahu." Ucapnya manja.
Daisy diam tak menanggapi. Ia lalu menarik Axel pelan agar masuk ke dalam rumah.
Dia pun duduk di kursi ruang tamu. Sementara Axel masih saja bergelayut manja tetap menempelkan kepalanya pada bahu Daisy.
"Udah ya ngambeknya." Rayu Axel sambil memegang kedua tangan Daisy dan menatapnya sendu.
Daisy paling tak bisa dengan mata itu. Mata yang membuatnya terkesima lupa akan segala masalah yang terjadi antara dia dan Rosa.
"Aku gak marah, Mas." Ujar Daisy.
"Gak marah tapi sampai 4 hari engga pulang kerumah?" Sindir Axel.
"Cuma pengen nenangin diri aja kok mas." Ujar Daisy.
Ia beranjak. Mengambil buket yang teronggok diatas meja dan mencium wanginya sejenak. Lalu mengambil vas bunga yang ada di lemari ruang tamu.
"Jadi, dirumahku gak tenang?"
"Mas. Kamu gak tahu atau pura-pura gak tahu?"
"Tahu apa, Daisy. Kalau kamu gak cerita sama aku gimana aku bisa tahu?"
"Bukan aku yang enggak mau cerita tapi kamu yang gak mau mendengarkan, mas.!" Cibir Daisy. Hampir saja ia meninggikan suaranya. Tapi sekuat tenaga ia tahan.
"Jadi, masih tentang Mama? Padahal Mama dengan senang hati menjemput waktu kamu tiba-tiba pulang ke sini."
Daisy menggenggam kuat jari-jari tangannya menahan segala gejolak dan amarah di dada. Bagaimana mungkin ia bisa bercerita tentang keburukan seorang ibu di depan anaknya sendiri?
"Sayang… Pulang, ya. Aku rindu." Axel memegang pelan tangan Daisy yang terkepal kuat saat melihat Daisy yang masih saja diam.
Tapi, Daisy sungguh tak ingin kembali. Ia rindu dengan suaminya. Tapi tidak dengan keadaan rumah yang dihuni oleh Rosa.
__ADS_1
"Aku mau pulang kerumah kita. Bukan kerumah orang tua kamu." Lirih Daisy pelan. Sangat pelan sampai Axel hampir tak mendengarnya.
Sementara Axel mengacak rambutnya sendiri dengan gusar. Memikirman bagaimana cara membuat istrinya betah dirumah orangtuanya.