
Daisy segera memakai pakaian yang sudah berserakan di lantai kamarnya.
Meski hatinya masih sakit tapi tetap saja. Ia melayani suaminya dengan senang hati.
Karena Daisy masih belum ingin pulang ke rumah Rosa, akhirnya Axel memutuskan untuk sementara waktu ikut menginap di rumah Dani.
"Mas istirahat aja dulu. Aku mau nyiapin makan malam." Ujar Daisy pada Axel yang masih berbaring dengan berpangku tangan pada dagunya dan memandangi Daisy lamat.
"Masaknya biar Mbokyem aja. Temenin aku dulu, ya?" Pinta Axel penuh harap. Dia tiba-tiba beranjak dari tempatnya dan melingkarkan lengan kekarnya pada pinggang Daisy.
Daisy memekik tertahan. Bagaimana tidak, Axel spontan berdiri tanpa sehelai benang pun di tubuhnya.
"Mas. Udah. Inget anak kita.. " Ucap Daisy lirih karena Axel mulai lagi menciumi leher jenjangnya.
"Haahhhh." Axel hanya bisa menghela nafas panjang lalu beranjak dari tempatnya dan beralih ke kamar mandi.
Daisy pun segera menyiapkan makan malam. Ditemani Mbokyem yang sudah memulai duluan sejak tadi.
Daisy hampir saja memukul Axel dengan centong sayur yang berisi kuah mendidih saat tiba-tiba lengan kekar Axel sudah melingkar pelan di pinggang rampingnya.
"Mas.! Hampir aja lo kamu kusiram kuah panas." Pekik Daisy kaget.
"Jangan, dong. Nanti wajah ganteng suamimu ini jadi jelek gimana," Seloroh Axel dan membenamkan kepalanya pada pundak sempit Daisy.
Sementara Mbokyem cuma tersenyum kikuk sambil mengalihkan pandangannya. Dan memfokuskan diri untuk segera menyelesaikan tugas memasaknya.
"Mbok ke dalem aja, biar aku yang bantuin istriku." Ucap Axel mengusir Mbokyem.
Sementara Daisy melotot. Tak habis fikir dengan usulan yang baru ia sampaikan.
Masuk dapur aja enggak pernah. Lah ini mau masak? Batin Daisy.
Mbokyem melirik Daisy meminta persetujuan dari Nona rumahnya. Karena tentu saja dengan kepergian Mbokyem pasti pekerjaan Daisy akan lebih berat. Tapi untung saja masakannya sudah hampir selesai.
Daisy cuma mengangguk tanda setuju. Penasaran juga dia apa yang bisa dilakukan Axel di dapur mungilnya yang tentu saja tak ada apa-apanya dengan dapur di rumahnya.
Bersamaan dengan itu terdengar suara bel di pencet di pintu depan. Mbokyem pum segera beranjak dari tempatnya.
"Yakin Mas bisa bantu? Ini aku masak agak banyak, loh. Soalnya Kak Hera katanya mau main kesini." Ujar Daisy . Tangannya masih sibuk menyiapkan masakannya.
"Iya, dong. Gini-gini aku pernah pelatihan jadi chef." Jawab Axel pongah.
__ADS_1
Tak lama kemudian terdengar suara imut Aurora yang memanggil nama Daisy.
"Hallo sayaaangg…" Sapa Daisy keluar dari area dapur dan menyambut keponakan satu-satunya itu dengan merentangkan tangannya lebar-lebar. Dia terduduk demi bisa menyamakan tinggi dengan Aurora.
"Tantyeee kangen." Ucap Aurora sambil memeluk Daisy erat.
"Sama Om enggak kangen?" Ujar Axel yang sudah berdiri di belakang Daisy.
Aurora pun dengan senang hati memeluk Axel. Meski mereka jarang bersama karena jarak, tapi Aurora mudah sekali akrab, apalagi Axel tipe laki-laki yang suka dengan anak-anak. Dan sering membawakan Aurora mainan serta jajanan saat bertemu.
"Om. Mainannya mana?" Tanya Aurora dengan wajah polosnya.
"Ih. Dateng-dateng itu tanya kabar, sayang. Bukan mainan." Ujar Hera yang sudah berdiri di belakang Aurora lalu mengacak pelan puncak kepala Aurora dengan gemas.
"Nanti, ya. Aurora mandi dan ganti baju dulu."
"Bener ya, Om."
"Iya, sayang." Balas Axel dengan gemas.
Aurora pun berlari kegirangan menuju lantai atas kamarnya dan Hera jika sedang berada di rumah Dani.
Daisy lalu melanjutkan memasaknya dengan Axel. Yang diluar dugaan. Benar saja. Axel bisa melakukan tugasnya dengan baik. Bahkan Daisy hampir saja tak kebagian tugas memasak.
Axel tak menanggapi. Dia hanya diam dan tersenyum bangga dengan membusungkan dadanya dan menepuknya beberapa kali.
Daisy yang melihat itu hanya tersenyum bangga.
"Daisy. Ayah bawain martabak telor kesukaan kamu," Ujar Dani tiba-tiba sudah berdiri di depan dapur dengan menenteng 2 bungkus makanan kesukaannya.
"Ayaah," Jawab Daisy senang. Ia pun berlari menghampiri Dani lalu menyalami tangan Dani dengan takzim.
Axel pun mengikuti Daisy ikut menyalami Ayah mertuanya itu.
"Nak Axel sudah lama?" Tanya Dani sopan.
Meski ia sudah menduga penyebab putrinya pulang beberapa hari karena masalah rumah tangganya. Tapi tetap saja ia tak akan ikut campur selama Daisy tak meminta pendapatnya.
Dan melihat kehadiran Axel hari ini membuat hati Dani tenang. Apalagi raut muka Daisy yang beberapa hari terlihat murung, kini sudah terlihat senang.
"Baru tadi siang, Yah." Jawab Axel ramah.
__ADS_1
"Ayah. Kenapa bisa kebetulan sekali. Padahal tadi aku berniat nyuruh Mas Axel buat beli martabak. Tapi malah tiba-tiba Ayah bawain." Ujar Daisy sambil menerima bungkusan dari tangan Dani.
"Ayah cuma beli karena melihat kamu akhir-akhir ini agak murung." Ucap Dani sambil menekankan kata murung, berharap Axel segera sadar bahwa sadar atau tidak dia sudah melukai hati anaknya.
"Terimakasih, Ayah. Babynya pasti seneng dapet oleh-oleh dari mbahnya." Ungkap Daisy sambil mengelus perutnya.
Dani ikut memegang perutnya sejenak lalu berpamitan untuk membersihkan diri agar bisa segera makan malam bersama.
Daisy pun menyuruh Mbokyem untuk memanggil Hera. Dia dan Axel duduk duluan di meja makan sambil menunggu anggot keluarganya untuk berkumpul.
"Aku bakal nemenin kamu sampai puas disini. Nanti kalau udah puas kita pulang, ya? Aku sudah menyuruh Ujang buat ngambil beberapa baju dan dokumenku di rumah." Celetuk Axel.
"Terus, yang nyiapin barang-barang Mas Axel siapa?" Ungkap Daisy.
"Kan ada Hana?"
Sesaat Daisy ingin membahas perihal rumah. Tapi ia urungkan. Entah kenapa ia merasa tak akan bisa menang melawan Rosa.
"Kamu jangan khawatir. Aku sudah minta Mama buat baik-baik sama kamu biar kamunya betah. Aku juga udah suruh Hana buat mantau kalau Mama bertingkah yang gak baik kusuruh buat lapor ke aku segera."
"Bahkan, Kamu lebih percaya Hana daripada aku, Mas." Lirih Daisy pilu.
"Bukan begitu sayang. Argh." Keluh Axel hampir frustasi.
"Lalu? Intinya kamu percaya omongan Hana tapi tidak denganku."
"Aku cuma pengen melibatkan orang ketiga yang bisa kupercaya, sayang."
"Kamu istriku. Tapi Mama juga orang yang melahirkanku. Selama ini Mama selalu baik sama aku."
"Jujur saja akhir-akhir ini aku benar-benar lelah dengan masalah kita dan Mama. Apalagi perusahaan juga sedang tidak baik-baik saja."
"Jadi, tolong. Setelah kamu tenang dan puas berada disini, segera bilang ke aku dan kita pulang, ya?"pinta Axel.
Tangannya menggenggam erat kedua tangan Daisy.
"Baiklah. Tapi aku gak akan pulang dengan hitugan hari, mas. Bisa jadi bulan bahkan tahun."
"Tahun? Ayolah, sayang."
"Setidaknya sampai kandungan aku sudah baikan, Mas. Apalagi akhir-akhir ini waktu disini mual dan pusingku berkurang drastis. Bahkan enggak pernah. Cuman sesekali waktu bangun tidur. Itupun cuma sebentar."
__ADS_1
Axel tertegun sejenak, namun akhirnya ia hanya bisa mengangguk pasrah. Sudahlah yang penting ia sudah berusaha untuk membujuk Daisy. Nanti tinggal bagaimana ia akan berbicara dengan Mama.