Istri Sang CEO Yang Tak Diberi Nafkah

Istri Sang CEO Yang Tak Diberi Nafkah
Restu?


__ADS_3

Daisy sedang makan malam sambil bercengkrama dengan hangat bersama keluarganya. 


Ditempat lain Rosa sedang uring-uringan begitu melihat sopir Axel pulang bukannya membawa anak serta menantunya tapi justru diperintah untuk mengambil beberapa barang Axel untuk dibawa kerumah Dani. Besannya. 


Ia menghempaskan diri dengan kasar kembali ke kursi makan. Masih bersama dengan Fanya yang datang saat waku jam makan malam. 


"Ada apa, Ma?" Tanya Fanya heran melihat Rosa yang mukanya sudah merah padam menahan marah. 


"Si sialan Daisy itu. Malah menghasut Axel buat pindah ke rumah Dani.!" Sungut Rosa tak terima. 


Padahal Axel tidak pergi kemanapun. Ia hanya menginap di rumah Dani yang tidak lain adalah Ayah Mertuanya. 


"Ujang.!!" Panggil Rosa pada Ujang yang masih menunggu di ruang tamu. 


"Ya, Nyah?" Tergopoh-gopoh Ujang menghampiri Rosa.


"Kamu balik ke rumah Dani.! Urungkan niatmu buat membawa barang Axel. Bilang sama dia. Saya gak setuju dia menginap di rumah Dani.!" Cecar Rosa. 


"Baik, Nyah." Ucap Ujang sambil menunduk. Tak ingin menambah amarah Rosa. Karena ia tahu bagaimana majikannya itu saat sedang marah. 


Rosa masih diam sambil mengatur nafas yang sudah naik turun karena amarahnya. Sementara Fanya mengelus pelan punggung Rosa mencoba menenangkannya. 


"Sabar, Mah." Lirih Fanya hampir tak terdengar. Lagaknya ia juga takut melihat Rosa marah. 


"Akan ku pastikan. Axel bakal membenci dia seumur hidup.!" Racau Rosa sambil meremas jemari tangannya sampai memerah. 


Susah payah selama Rosa memilih dan memilah jodoh untuk Axel. Beberapa kali pula Rosa mencoba untuk menjodohkannya.


Tapi Axel justru menolak semua calon wanita hebatnya hanya demi Daisy yang menurutnya tak berprestasi sama sekali. Apalagi ekonomi keluarganya juga jauh dibawah jika dibandingkan dengan Rosa. 


Sementara Rosa tak kuasa untuk menolak permintaan anaknya, Karena Axel anaknya satu-satunya, ia hanya takut dibenci oleh anaknya sendiri. 


Mengingat ada salah satu anak teman arisannya yang ditinggal kawin lari oleh anaknya sendiri karena dipaksa untuk dijodohkan. Yang akhirnya berujung pada pemutusan silaturahmi anak dan orangtua. Dia tak ingin itu terjadi padanya dan Axel. 


"Nanti Fanya bantu buat memisahkan mereka ya, Mah. Fanya yakin Mas Axel masih mencintai Fanya." Ujar Fanya


"Sudah seharusnya begitu, Fan. Kamu yang mengenal Axel sejak kecil. Kamu yang selalu ada buat Axel buat Mama. Apalagi perusahaan juga berhutang budi dengan papamu." Lirih Rosa tak bertenaga. 


Ia sudah terlanjur nyaman dengan Fanya. Apalagi jika mengingat kedua orangtuanya yang dulu begitu baik pada keluarga Rosa. 


Beberapa puluh tahun yang lalu kedua keluarga Fanya dan Axel memang bertetangga. Papa Fanya juga yang membantu dan mengajarkan agar bisnis Ruslan bisa berkembang. 

__ADS_1


Rasanya ia masih tak terima jika hubungan Fanya dan Axel harus berakhir. Dulu sebelum Axel menikah, sudah beberapa kali Rosa mencoba untuk menyatukan mereka kembali tapi gagal. Puncaknya Axel justru meminta menikahi perempuan lain yang tak lain adalah Daisy. 


"Aku juga akan menyelidiki Daisy lewat orang suruhanku, Mah. Aku yakin perempuan itu bukan perempuan baik-baik," Ungkap Fanya. Mereka sudah tak lagi melanjutkan makan malamnya. Rasanya sudah tak berselera. 


"Mama juga berfikir begitu. Tak habis fikir sama Axel. Ninggalin kamu yang sudah kenal selama puluhan tahun demi wanita yang baru dikenalnya beberapa bulan," Tukas Rosa berapi-api. Tak tahu fakta jika Fanya lah yang meninggalkan Axel dengan berselingkuh.


“papa Ruslan belum pulang, Ma? Kok lama enggak keliatan," Tanya Fanya


"Kemarin pulang sebentar. Tapi sudah berangkat lagi. Katanya ketemu klien lagi."


Fanya cuma mengangguk pelan. 


***


Ditempat lain, Axel terheran-heran melihat Ujang balik ke rumah Daisy tanpa membawa apapun. 


"Maaf, Den. Kata Nyonya Den Axel enggak boleh nginep disini. Dan disuruh pulang segera." Ucap Ujang masih di ambang pintu. 


Axel menghela nafas pelan. 


"Yasudah, Pak. Pak Ujang mau nginep disini sekalian apa pulang? Tapi besok pagi-pagi jemput kesini lagi, Pak." Tanya Axel akhirnya. 


"Ikut nginep aja, Den." Lirih Ujang yang sebenarnya takut dia kalau tiba-tiba pulang dan di omeli habis-habisan sama Rosa. 


"Loh, Mas. Mana baju ganti dan berkas kerjanya?" Tanya Daisy heran melihat Axel kembali duduk tanpa membawa apapun. 


"Enggak jadi" Jawab Axel seadanya sambil tertawa nyengir. 


Daisy cuma mengernyit heran tapi tak bertanya apapun. 


"Oh ya. Ujang ikut nginep disini engga papa ya, Yah?" Tanya Axel pada Dani yang sibuk memangku Aurora yang sedang mengunyah apel.


"Iya. Ini kan rumahmu juga, Nak. Tak usahlah tanya hal yang sudah jelas jawabannya." Jawab Dani jumawa. 


Axel cuma tersenyum senang. 


Setelah beberapa lama berkumpul Hera pum berpamitan untuk menidurkan Aurora. Begitu juga dengan Gio dan Ayah. 


Kini tinggallah Daisy dan Axel di depan tv. Segera Axel berpindah posisi merebahkan kepalanya dipangkuan Daisy. 


"Pak Ujang kenapa balik tanpa bawa apa-apa, Mas?" Tanya Daisy yang masih penasaran. Ia sudah menerka-nerka pasti itu ulah Rosa. Tapi tetap saja ia ingin memastikannya sambil melihat reaksi Axel. 

__ADS_1


"Kata Mama aku gaboleh nginep disini." Jawab Axel yang terdengar seperti rengekan anak SD bagi Daisy. 


"Padahal kan ini juga udah jadi rumah kamu semenjak kamu mengucap ijab untukku,"


"Aku udah bilang kan, sayang. Mama itu sayang banget sama aku. Takut aku tinggal sendirian. Mungkin Mama takut kalau aku bawa barang kesini nanti aku malah jadi tinggal disini,"


Daisy menghela nafas pelan. Axel cuma mengelus pipi mulus Daisy. 


"Mas. Kita sudah menikah. Tak seharusnya Mama selalu ikut campur urusan rumah tangga kita," Ucap Daisy lagi-lagi membujuk suaminya agar tau mana yang harus di prioritaskan kali ini. 


"Aku tahu. Tadi Toni bilang sama aku. Katanya tak seharusnya orang luar ikut mencampuri urusan rumah tangga kita."


"Lalu?" Tanya Daisy gemas. Moodnya sudah mulai hilang. Ingin sekali ia menampar pipi suaminya sekali saja asalkan ia cepat tersadar dari kekeliruannya. 


"Mama bukan orang luar. Mama yang sudah membesarkanku, tanpa Mama aku gak mungkin bisa se sukses sekarang. Tanpa Mama pun aku gak akan menikahi kamu."


"Maksudnya?"


"Iya.. Mama kan yang merawat… "


"Tunggu. Enggak. bukan. Kamu bilang tanpa Mama kamu gak akan nikahi aku?"


"Iya. Mama sudah berbaik hati merestui pernikahan kita. Padahal selama ini aku selalu menolak perjodohan dari Mama. Tanpa restunya mungkin aku gak akan bisa menikahi kamu,"


Seketika kepala Daisy terasa berputar. Ia memijat kedua pelipisnya sambil memejamkan mata. 


"Sayang? Kenapa? Sakit.?" Tanya Axel terlihat panik melihat reaksi tiba-tiba Daisy. 


Daisy cuma mengangkat tangannya di depan Axel lalu berjalan meninggalkan nya sendirian. 


Restu? Mama mu merestui. Tapi ia juga menyiksa batin menantunya ini. Batin Daisy perih. 


Apalah arti restu jika tak bisa memperlakukan menantu dengan baik. Justru itu hanya akan merusak atau bahkan membunuh mental seseorang secara perlahan. 


Jikapun Rosa tak merestui, Daisy tak akan pernah memaksa Axel untuk menikahinya. 


Axel mengekor di belakang Daisy. Ia mencoba untuk memapah Daisy saat ia akan naik ke tangga. Tapi lagi-lagi Daisy mengangkat tangannya di depan muka Axel tanda tak ingin di bantu. 


Tapi, Axel tak kehabisan akal. Ia pun segera meraih tubuh Daisy dan mengangkat lalu menggendongnya. 


Daisy sempat ingin melawan tapi ia takut justru akan terjatuh. Akhirnya ia cuma bisa pasrah sambil tetap diam. 

__ADS_1


__ADS_2