
Daisy tersenyum menang. Bukan berarti ia takut sampai harus memanggil Axel. Tapi, memang lawan yang seharusnya dihadapi Fanya ya Axel bukan dia. Karena masalah bermula dari mereka.
Dan Daisy hanyalah orang baru yang datang dan dipanggil dalam kehidupan Axel.
"Selesaikan apa yang harus kalian selesaikan disini hari ini." Geram Daisy.
"Apa? Kau yang harus menyelesaikan hubunganmu dengan Axel.!" Ucap Fanya kini entah mengapa suaranya merendah. Tak lagi lantang seperti tadi
"Fanya.! Aku sudah bilang padamu.! Jangan lagi kau ganggu aku dan Daisy.!!!" Bentak Axel keras. Daisy sampai berjingkat karena kaget. Ia mengelus perutnya pelan takut bayinya pun kaget.
"Maaf, sayang. Aku mengagetkanmu ya?" Tanya Axel kembut. Ia menghampiri Daisy dengan khawatir.
"Iya enggak apa-apa"
"Kamu istirahat aja dikamar, ya?" Pinta Axel lembut.
"Enggak. Enggak akan aku biarin kamu berdua dengannya. Nanti kalau dipatok kan bahaya?" Seloroh Daisy masih sempat bercanda dengan Axel. Ia terkekeh pelan melihat mata Fanya yang lagi-lagi melotot.
"Mbak. Awas matanya jatoh." Ejek Daisy pada Fanya
"Heh.!! Tahu diri dong." Bentak Fanya
"Fanya!!! Harus dengan cara apa aku bicara sama kamu? Kita sudah selesai. Aku tak akan pernah kembali padamu. Aku sudah muak padamu." Hardik Axel. Ia memeluk erat pinggang Daisy berharap Fanya segera mengerti bahwa kehadirannya tak dianggap disini.
"Pasti kamu dipelet, ya sama dia. Iya kan!? Ngaku kamu wanita murahan.!" Tuduh Fanya.
Daisy bergeming. Merasa jika berdebat dengan Fanya hanya akan menguras habis emosinya.
Masalahnya Fanya tipe orang yang selalu ingin menang sendiri dan tak pernah merasa salah sedikitpun.
Axel menghela nafas kasar. Sepertinya ia sudah sangat frustasi dengan perempuan ular di depannya itu.
"Fanya.!! Kita putus kau tahu? Kau mengerti tidak arti putus? Bahkan kita putus sudah hampir 3 tahun.!" Geram Axel. Suaranya merendah meski masih dipenuhi dengan amarah
"Jangan pernah ganggu aku lagi. Aku sudah bahagia dengan Daisy dan anak yanh di kandungnya." Ucap Axel. Kini suaranya benar-benar melunak. Ia menekankan kata bahagia berharap Fanya mengerti dan akan merelakannya bahagia dengan wanita lain.
"Sampai kapanpun aku tak akan pernah merelakanmu.!" Pekik Fanya.
Daisy dan Axel saling berpandangan dan menatap satu sama lain. Tapi, Axel justru dibuat terkejut dengan Daisy yang malah terkekeh pelan.
"Kamu sempurna sekali ya, Mas? Sampai ada ular yang tak berhenti mengejarmu." Ucap Daisy. Ia sengaja mengelus pipi Axel yang mulai ditumbuhi jambang halus.
"Yaa begitulah. Kamu beruntung, kan? Dicintai laki-laki sesempurna aku?" Balas Axel ia membenamkan kepala pada pundak ramping Daisy.
Daisy pun tak menyia-nyiakan kesempatan dengan mengelus rambut Axel dan melingkarkan lengannya memeluk Axel.
Axel melepas pelukannya. ia melirik sejenak Fanya yang memelototi mereka dengan tangan terkepal.
__ADS_1
Dan dalam hitungan detik bibir Daisy sudah dikecup pelan oleh Axel. Axel bahkan ******* bibir Daisy tanpa ampun.
Daisy dibuat kelabakan eh Axel, ingin melepaskan ciuman tapi justru Axel semakin membenamkan kepalanya semakin dalam.
Brakk!!!
Fanya menggebrak meja dengan keras. Dari sudut matanya Daisy melihat Fanya berdiri dan menghentakkan kaki dan keluar dari rumahnya lengkap dengan suara pintu dibanting.
Sekuat tenaga Daisy mencoba melepaskan pelukannya dari Axel yang malah semakin mengganas.
Daisy meringis karena ia malah termakan oleh jebakannya sendiri.
Ia memang sengaja memuji dan hendak membuat Fanya semakin panas dengan melihat adegan kemesraan mereka.
Axel dengan sigap mengerti apa keinginan Daisy dan melakukan sandiwaranya dengan baik. Tapi, malah justru kelewat baik. Ya kelewatan.! Sampai Daisy kewalahan karena Axel terus meraba dan menciumi area sensitifnya.
"Axel.!!!" Niat Daisy untuk membentak malah menjadi lirihan pelan karena ia yang terbuai dengan sentuhan Axel.
Akhirnya karena Axel sudah mulai melewati batas, Daisy pun dengan sigap menggelitik pinggang Axel kuat-kuat.
"Sayang.!!! " Teriak Axel tak terima kegiatan menyenangkannya terusik.
"Apa? Kamu mau apa?!" Tanya Daisy masih dengan nafas yang masih terengah.
"****." Daisy melotot. Masih ia dengar umpatan Axel meski pelan.
***
"Sayang. Ambilin ayamnya, dong." Pinta Axel pada Daisy
Sementara Daisy dengan kasar mengambil ayam dan hampir melemparnya di piring Axel.
"Daisy!!" Tegur Dani saat melihat sikap kasar Daisy.
"Maaf" Lirih Daisy takut.
Sementara Axel sedari tadi menahan agar tak mengeluarkan suara tawa karena melihat Daisy yang sejak tadi memonyongkan bibirnya
Dani menggelengkan kepala melihat tingkah anak dan menantunya.
"Baru juga berbaikan." Celetuk Dani
"Eh. Udah baikan kok, Yah." Tutur Axel.
Daisy masih sibuk mengunyah. Pipinya mendadak tembam karena ia menggembungkannya dan memenuhinya dengan makanan.
Axel semakin dibuat gemas karena tingkahnya.
__ADS_1
"Oh ya. Daisy kamu jadi buka cabang cafe?" Tanya Dani yang seketika membuat dahi Axel berkerut heran
"Buka cabang? Sayang?" Tanya Axel bingung
"Iya, yah." Jawab Daisy singkat tak mengacuhkan pertanyaan Axel
"Yasudah. Ayah bakal mulai sekarang. Nanti kamu tinggal meneruskan saja. Tunggu anak kamu lahir dan agak gede aja biar kamu enggak repot." Tutur Dani
"Maaf, Ayah. Kenapa Daisy enggak bilang dulu sama aku?" Tanya Axel
"Lho Daisy kamu belum izin?"
Daisy menggeleng. Dani menghela nafas
"Daisy katanya mau buka cabang cafe, Nak." Terang Dani pada Axel.
"Biar punya pegangan dan enggak cuma jadi Ibu rumah tangga." Tutur Dani lagi saat Axel hanya diam
"Memangnya kenapa dengan ibu rumah tangga, Daisy? Menurutku Ibu rumah tangga itu enggak cuma loh. Dari didikan seorang ibu lah lahir anak yang pintar baik dan berguna bagi sekitar." Ujar Axel. Bukan tak menyetujui tapi ia takut jika Daisy justru tak bisa fokus dalam mendidik dan merawat anaknya
"Bukan begitu, Mas. Apa salah kalau aku jadi wanita berpenghasilan?"
"Bukan salah. Tapi memang kodratnya wanita hamil melahirkan dan menyusui. Bukan mencari nafkah." Tutur Axel berusaha untuk selembut mungkin agar tak membuat Daisy tersinggung dengan kata-katanya.
"Urusan nafkah memang urusanmu, Mas. Tapi aku tak ingin terlalu bergantung pada siapapun." Lirih Daisy ia menunduk fokus dengan suapan demi suapan yang kini terasa hambar.
Axel terdiam. Berfikir sejanak. Namun beberapa saat kemudian saat ia teringat dengan beberapa rekan bisnisnya yang istrinya juga mempunyai bisnis sendiri
"Baiklah… tapi jangan sampai kamu keteteran ya. Jaga kesehatan jangan sampai kecapean." Tutur Axel. Ia mengelus pucuk kepala Daisy pelan.
"Terimakasih, Mas." Ucap Daisy lega.
Jujur saja ia sebenarnya ingin melakukannya diam-diam karena takut dengan respon Axel.
Tapi syukurlah kalau Axel menyetujui keinginannya
"Freelance kamu gimana?" Tanya Axel lagi
"Masih kukerjain, Mas."
"Yakin? Bisa bagi waktunya?" Tanya Axel dengan raut muka khawatir
"Iya, Mas tenang aja."
"Pokoknya kalau sampai kamu kecapean, kamu harus ninggalin salah satunya," Axel berucap tegas.
Daisy mengangguk dan menyuapkan nasi terakhir yang ada di piringnya.
__ADS_1