Istri Sang CEO Yang Tak Diberi Nafkah

Istri Sang CEO Yang Tak Diberi Nafkah
Fakta Ebra


__ADS_3

"Pa.! Kita harus tegas sama Axel.! Mama nggak mau punya menantu kaya Daisy.!" Hardik Rosa pada Ruslan yang baru saja sampai rumah setelah mengantarkan Axel ke rumah Dani 


"Sudahlah, Biarkan Axel memilih jalannya sendiri. Cukup Ma. Jangan ganggu mereka lagi," Keluh Ruslan. 


Sedikit banyak Ruslan sudah mengetahui duduk perkara dari Axel dan Toni. Meski informasi yang dia dapat hampir semuanya dia dapat dari Toni. 


Axel memang kurang terbuka dengan kedua orangtuanya. Bagi Rosa, mungkin Axel terlihat sempurna karena selalu menuruti apa perintahnya


Tapi, tidak dengan Ruslan. Sudah sejak lama Axel berubah menjadi anak yang layaknya boneka. Melakukan apapun yang mereka mau tapi, tak pernah sekalipun mengeluarkan isi hatinya. 


"Mama nggak mau pa.!! Nggak mau titik.!!!" Rosa justru membentak balik Ruslan. Merasa istrinya tak bisa dibantah, Ruslan pun diam. 


"Sejak awal Papa tahu, kan? Aku tak pernah menyukainya. Papa yang selalu mendesak untuk menikahkan mereka." Rosa memegang kepala yang terasa pening. 


"Apa salahnya membiarkan anak yang selama ini sudah mengikuti segala arahanmu, kini memcoba mencari arahnya sendiri?"


"Daisy dan keluarganya nggak sebanding dengan kita, pa.!"


"Lalu? Kau mau Axel kembali pada Fanya?" 


"Iya.!!!"


"Tanyakan dulu pada Axel. Masalah apa yang mereka alami sampai bisa merusak hubungan mereka berdua." Ruslan masih berusaha untuk tetap tenang. Di situasi seperti ini ia memang harus pintar-pintar mengontrol emosi dan memilah kata agar emosi Rosa taj semakin memuncak


"Mereka hanya salah faham. Mama yakin itu,"


"Bagaimana kalau keyakinanmu salah?" Ujar Ruslan mulai frustasi. Heran dengan Axel mengapa tak menceritakan saja kejadian yang sebenarnya agar Rosa tak lagi meminta Fanya untuk menjadi menantunya


"Papa!!!" Merasa kalah berdebat, Rosa hanya bisa berteriak


"Ma. Ingat, Daisy sedang hamil. Tidakkah ada sedikit rasa kasih Mama? Kalau bukan Daisy lihatlah anak yang sedang Daisy kandung."


"Mau bagaimapun Mama menyangkal, mereka sudah menikah dan mempunyai anak. Mau bagaimanapun Mama menolak. Anak Daisy adalah cucu Mama." Sambung Ruslan sementara Risa masih belum bisa tenang. Matanya terlihat gelisah melirik kesana kemari dengan wajah panik. 


Wajar saja. Rencana yang semula ia kira akan berjalan dengan sempurna malah hancur karena ketidakpercayaan Axel yang tiba-tiba muncul. 


Entah bagaimana. Dan entah apa yang terjadi sampai Axel yang tadinya selalu memercayainya menuruti semua perkataannya justru kini mulai melawan. 


Bahkan, Ruslan yang tadinya mengetahui kejadian pun mendukung. Tapi segera berbalik arah saat mengetahui semua rencana jahat Rosa. 


Sudah lelah berdebat akhirnya Ruslan merebahkan dirinya di samping Rosa. 

__ADS_1


Lelah  dengan semua drama yang teejadi. Padahal kondisi perusahaan pun belum membaik. 


Rosa mendengus kesal melihat suaminya justru tertidur pulas. 


***


Flashback on


Lama Ebra hanya memandangi rumah Daisy dalam diam. Sibuk menata kata dan hati, ingin segera masuk tapi fikirannya jauh menerawang pada segala kesalahan yang telah dia perbuat


Rumah bernuansa biru dengan berbagai tanaman bunga itu tampak sepi. Hanya sebuah mobil yang terparkir rapi. 


Ebra tahu siapa pemilik kuda besi yang bertengger itu. Sangat tahu. Siapa lagi kalau bukan Axel Adinata. Suami dari wanita yang hampir membuatnya gila. 


"Kamu sudah bahagia, ya?" Lirih Ebra. Matanya mulai memproduksi buliran-buliran bening hingga mengembun dan menggenang di pelupuk mata


Matanya mengerjap saat dilihat moboil hitam berbelok ke arah rumah Daisy,  tak lama Axel turun dan masuk. Sementara mobil yang ditumpangi langsung melesat meninggalkan pekarangan


Memang sudah beberapa hari ini Ebra selalu berkunjung, dan hanya berakhir di pinggir jalan memandangi rumah Daisy dalam diam


Sesekali ia akan memandang berbinar saat melihat Daisy keluar. Hatinyabtrenyuh melihat Daisy yang sudah susah berjalan karena usia kandungan yang semakin besar


"Awas saja kau Ardina." Geram Ebra tangannya mengepal kuat


Ebra baru memelankan laju kuda besinya saat ia sampai di sebuah rumah sakit. Setelah memarkirkan kendaraan kakinya melangkah cepat melewati lorong rumah sakit 


"Bagaimana?" Tanpa salam tanpa ketukan pintu, Ebra menerobos masuk ke dalam salah satu ruangan


"Lupa sopan santun?" Sindir pemilik ruangan yang terlihat sedang berkutat dengan beberapa lembar kertas ditangannya


"Alah.! Kayak sama siapa aja, kau. Udah cepet hasilnya gimana?" Kata Ebra dengan ketidak sabarannya


"Masalahnya disini aku terbiasa dengan orang yang mengetuk pintu. Kalau gak ngetuk. Biasanya setan yang masuk." Kelakar sang dokter yang ber name tag Tenggara 


"Ck.!! Sialan." 


"Hasilnya tepat seperti perkiraan kamu. Negatif." Tenggara mengabaikan decakan bibir Ebra yang sudah menggerutu kesal. Ia menyerahkan sebuah dokumen


Muka Ebra mulai memerah. Setelah beberapa saat meneliti setiap huruf yang tertulis. Meraup muka dengan gelisah. Menyesali setiap keputusan yang dibuat, tanpa memastikan terlebih dahulu


Fikirannya melayang pada kekasih yang sudah lama dilepaskan. Membayangkan seberapa berat hari yang dilalui mantannya itu saat mengetahui kekasih dan sahabatnya meningkung dari belakang? 

__ADS_1


Dan bagaimana pula perasaannya mengetahui semua justru akal-akalan Ardina yang sudah lama diam-diam menyimpan cinta untuk Ebra


Ada setitik harapan yang terselip dalam doa Ebra yang masih sangat mencintai Daisy


Bodoh memang. Tapi, begitulah kenyataannya. Wajah ayu Daisy dan sikap lembutnya tak mampu membuatnya berpaling pada Ardina meski sudah lama mencoba


Dan saat ia hampir menyerah, ia justru disodorkan dengan fakta bahwa Ardina hanya menjebaknya. 


Fakta  bahwa anak yang selama ini disayanginya dengan sepenuh hati bukan anak kandungnya


Miris. 


Berbagai macam andai-andai berseliweran di benaknya. 


Andai ia tak pergi ke jepang dengan Ardina


Andai ia tak terburu-buru menyetujui pernikahan Ardina


Andai ia tak sepercaya itu dengan Ardina


Ebra menghela nafas kasar. Menyesalpun tiada guna. Daisy sudah berbahagia dengan kehidupan barunya. 


Yang bahkan menemukan laki-laki yang jauh segalanya dari nya. Meski Ebra tahu Daisy tak pernah matrealistis. Tapi, wanita mana yang tak bahagia jika kehidupan rumah tangganya berlimpah ekonomi? 


"Lalu? Apa yang akan kau lakukan?" Pertannyaan Tenggara membuyarkan lamunannya yang masih terdiam dengan kertas ditangan


"Menurutmu untuk apa aku melanjutkan pernikahan sial ini?" Bukan menjawab Ebra justru balik bertannya


"Heemm.. Kalau memang cinta itu tumbuh dengan sendirinya… . "


"Tidak. Aku tidak pernah bisa mencintainya." Potong Ebra menyangkal pernyataan Tenggara


"Tapi, kulihat setiap kau kesini untuk periksa kehamilan ataupun periksa anak. Kalian terlihat bahagia dan serasi.“


" Aku hanya ingin melakukan tanggung jawabku sebagai suami. Tak lebih dari itu," Lirih Ebra menjawab


Tenggara menghela nafas kasar. Lama mengenal pria dihadapannya dan pasti ia sangat tahu apa yang akan dilakukannya


"Usahakan ambil keputusan dengan kepala dingin, Bro." Tenggara berucap dengan menepuk pelan pundak Ebra. 


Sedang Ebra tanpa pamit dan tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia memilih untuk pergi. Meninggalkan ruangan Tenggara yang hanya bisa menggeleng pelan

__ADS_1


Memikirkan nasib rumah tangga sahabatnya yang telah di ujung tanduk


Flashback off


__ADS_2