Istri Sang CEO Yang Tak Diberi Nafkah

Istri Sang CEO Yang Tak Diberi Nafkah
Kedatangan Fanya


__ADS_3

Dengan malu-malu Daisy berjalan ke ruang makan. Axel masih saja menggandeng tangan Daisy kuat. Saat ia mencoba melepaskannya dengan sigap Axel menarik tangannya kembali dalam genggaman. 


Mereka tertawa puas. Binar kebahagiaan kembali terlihat di wajah ayu dan ganteng. Terlihat sangat serasi. 


Benar saja, mereka sampai saat Dani hampir menghabiskan makanannya. 


"Maaf ya, Yah. " Ujar Daisy malu-malu. Ia menunduk tak berani menatap mata Dani. 


"Maaf?" Tanya Dani berpura-pura tak mengerti. 


"Ayah… Selamat malam." Axel menyela lebih dulu. 


"Heem.. Selamat malam" Balas Dani masih fokus pada makanannya. 


"Ngapain? Ayo makan keburu dingin. " Tutur Dani saat melihat anak dan menantunya hanya diam berdiri kikuk di sebelah meja makan. 


Mereka kompak tersenyum canggung. Daisy segera duduk dan menyendokkan nasi serta lauk untuk dirinya dan suaminya. 


Sementara Axel menggaruk kepalanya yang tak gatal kemudian duduk. 


"Nak Axel," Ucap Dani membuka percakapan saat mereka telah selesai makan


"Iya, Yah." Jawab Axel ia mengubah posisi duduknya dengan gelisah. 


Wibawa Dani yang pendiam namun tegas mampu membuat nyalinya seketika menciut. 


"Apa Kamu sudah menemukan apa yang kamu cari setelah hampir seminggu kamu meninggalkan Daisy disini?" Tanya Dani tanpa basa-basi


"Maaf, Yah. Axel salah." Sesal Axel tanpa menjawab pertanyaan Dani. 


"Permintaan maaf dan penyesalan tak akan ada gunanya jika kau tak mampu mencari solusi jalan agar Daisy tenang hidup bersamamu." Tutur Dani penuh penekanan


"InsyaAllah, Yah. Aku akan berusaha meyakinkan Mama agar Aku dan Daisy bisa pindah ke rumah yang akan kami tempati berdua." Ucapan Axel tentu mampu membuat hati Daisy seketika berbunga-bunga. 


"Bukan Ayah enggak mau kamu tinggal serumah dengan Mama mu. Tapi, baiknya berumah tangga memang susah dan senang harus dijalani berdua"  Tutur Dani 


"Iya, Yah." Ujar Axel. 


"Yasudah. Kalian lanjutkan aja berdua, Ayah mau istirahat. Udah tua jadi gampang sekali lelah" Kelakar Dani ia beranjak bangkit dan meninggalkan Daisy dn Axel berdua di meja makan. 


"Haruskah kita lakukan disini?" Ucap Axel tiba-tiba saat Dani sudah tak terlihat


"Ha?" Daisy menanggapi dengan melongo. Ia menatap bingung. Tapi sedetik kemudian pipinya bersemu merah layaknya kepiting rebus. 


"Ish. Nyebelin banget." Protes Daisy sambil memanyunkan bibir nya 


"Tapi, Mas. Mas yakin bisa membujuk Mama?" Tanya Daisy memastikan. Ia tak mau hanya berharap tapi akhirnya diruntuhkan dengan pahitnya kenyataan


"Membujuk? Aku tak butuh meyakinkan siapapun. Kita akan tinggal berdua. Hanya kamu dan aku." Ucap Axel


Seketika mata Daisy membulat. Ia terkejut dengan penuturan Axel. 


"Mas?" Daisy memegang dahi Axel dengan tatapan bingung, menempelkan tangan mungilnya pada dahi Axel. 


"Kenapa? Aku sehat, kok." Ucap Axel ia terkekeh pelan dengan tingkah Daisy

__ADS_1


"Aku enggak salah denger?" Tanya nya lagi. 


"Enggak, sayang. Kita akan tinggal berdua hanya kita." Axel menyentuh kedua pipi Daisy, seketika pipi Daisy tenggelam oleh tangan besarnya. 


Daisy diam. Tapi perlahan buliran bening membasahi pipi putihnya. 


"Lho kok malah nangis, kenapa? Atau kamu mau kita tinggal di sini?"


"Enggak. Aku enggak nangis. Aku bahagia." Tutur Daisy


Axel mengusap pelan pipi Daisy yang basah dan mendaratkan kecupan manis di bibir mungilnya. 


"Aku enggak nyangka kamu bisa berubah dan berpihak padaku, Mas." Lirih Daisy


"Maafkan aku, ya? Harusnya aku melakukan ini sejak dulu." 


Dan Daisy pun menumpahkan semua lara hatinya di pelukan Axel


Sementara Dani yang melihat dari kejauhan pun ikut senang terharu dengan kebagiaan anak perempuannya. 


"Semoga kamu selalu bahagia, Nak." Batin Dani 


Kemudian kembali masuk ke kamarnya dengan perasaan lega dan bahagia. 


***


Daisy sedang merebahkan dirinya setelah tadi sempat membantu Mbokyem untuk menyiapkan sarapan dan mengantar Axel yang akan berangkat bekerja


Perutnya yang mulai membesar membuatnya gampang lelah. 


Apalagi perasaannya jadi jauh lebih baik karena memang memasak adalah salah satu hobinya. 


Tok


Tok


Tok


Suara ketukan pintu terdengar saat ia hampir memejamkan matanya. Dengan berat hati ia pun kembali mengangkat tubuh lelahnya. 


"Ada apa, Mbok? Tanya Daisy 


"Maaf,Non. Itu di depan ada tamu yang nyariin Non Daisy." Jawab Mbokyem merasa tak enak sudah menganggu jam istirahat Daisy


"Siapa, Mbok?"


"Kurang tau, Non. Mbokyem belum pernah lihat."


"Yaudah bentar lagi aku turun, Mbok." 


Mbokyem pun segera pamit. Daisy mengenakan kembali hijab yang tadi sudah ia lepaskan. 


Meski belum tahu tamunya laki-laki atau perempuan. Tetap saja ia yang sudah terbiasa menemui tamu dengan jilbabnya merasa tak enak jika tak memakai jilbab. 


Matanya membeliak saat melihat siapa yang sedang duduk di ruang tamu. 

__ADS_1


Daisy segera memegang pundak Mbokyem saat melihat Mbokyem datang membawa nampan berisi makanan dan minuman. 


"Mbok. Tolong telfon Mas Axel, Fanya main kesini ya." Ujar Daisy


"Eh. Iya non."


"Sini, biar aku aja yang bawa." Daisy pun menerima nampan yang ada di tangan Mbokyem. 


Dengan perasaan kesal berjalan pelan sambil menyiapkan mental dan tenaga untuk menghadapi musuh yang masuk dalam selimutnya


"Diminum, Mbak." Ucap Daisy seraya menaruh makanan tadi di atas meja di depan Fanya. 


Dengan susah payah mendudukkan dirinya di sofa yang ada di hadapan Fanya


"Enggak punya pembantu ya? Kasian banget sampai harus bikin dan nganter minuman sendiri." Sinis Fanya


Dahi Daisy berkerut heran. Sudah lelah sekali rasanya dan tak punya tenaga jika harus berdebat lebih jauh lagi. 


"Maaf. Aku tak punya waktu buat basa-basi. Maumu apa dateng kesini?" Ucap Daisy tak kalah sinis. 


"Padahal tadinya aku mau bicara baik-baik. Tapi ternyata kamu gabisa diajak bicara, ya?" Sarkas Fanya lagi. 


Daisy diam menatap nyalang pada Fanya. 


"Jauhi Axel." Ucap Fanya. Matanya melotot tajam seolah akan keluar dari kelopak matanya


"Aku istrinya. Apa hakmu memintaku menjauh?" Sindir Daisy


"Tentu saja aku berhak.! Aku yang dulu selalu ada saat Axel terpuruk. Aku yang menyembuhkan luka batinnya waktu tak ada siapapun yang menggubrisnya. Dan kamu.!" Fanya menunjuk Daisy dengan tatapan tajam


"Kamu bukan siapa-siapa lalu tiba-tiba datang dan merusak hubunganku dan Axel.!" Hardik Fanya


"Oh ya? Bukankah hubungan kalian sudah rusak jauh sebelum aku datang?"


"Apa?!" Bentak Fanya mendelik tajam. 


Mungkin ia tak menyangka kalau Daisy sedikit banyak tahu seluk beluk kisahnya dan Axel. 


"Lebih baik sekarang kamu pulang. Jangan bikin keributan, jangan mencoba jadi racun dalam hubungan orang lain." Tutur Daisy. Ia meremas jemari tangannya menahan amarah. 


"Racun? Kan kamu yang menebarkan racun dalam hubunganku dan Axel." Hardik Fanya lagi. 


Matanya tak hentinya melotot tajam dengan kemarahan yang meluap


Daisy menghela nafas berat ia terheran-heran bagaimana mungkin Axel pernah menjalin hubungan dengan wanita semacam Fanya. 


"Fanya. Sadar. Kamu cuma masa lalu. Dan kamu yang membuat masa lalumu sendiri hancur." 


"Kau yang menghancurkannya.!"


"Fanya.!!!“ Bentak Axel yang kini sudah berdiri di depan pintu. 


Fanya yang kaget dengan kedatangan Axel bukannya menciut. Ia malah makin melotot tajam pada Daisy. 


Daisy sampai takut jika tiba-tiba bola mata itu terjatuh tepat di depannya. Tapi, diam-diam ia tersenyum senang

__ADS_1


__ADS_2