
Daisy menatap tak percaya pada layar monitor yang menampilkan rahimnya yang masih berisi kantong.
"Cantik apa ganteng ya dok benihku." Axel terkekeh mencairkan suasana saat Daisy cuma diam sambil mengusap pelan sudut netranya yang mengembun.
"Belum terlihat, pak." Ucap dokter sambil tertawa menanggapi ucapan Axel.
"Ini diminum rutin ya pak vitaminnya." Ucap dokter lagi menyerah kan resep yang harus ditebus nanti.
Mereka melangkah dengan hati gembira di lorong klinik. Daisy bergelayut manja di lengan kekar Axel.
Sampai tiba-tiba Daisy terdiam. Ia menatap lekat sosok yang tengah berjalan berlawanan arah dengannya. Mencoba memastikan dengan mengerjap beberapa kali.
Daisy diam sampai Ebra berjalan cepat melewatinya begitu saja. Terlihat seseorang yang sedang didorong diatas bed rumah sakit itu tampak kesakitan dengan beberapa kali memekik tertahan.
"Sayang. Ada apa? Ada yang sakit?" Tak Ia hiraukan Axel yang bertanya disampingnya.
"Sayang?" Tanya Axel lagi sambil mengelus tangan Daisy lembut.
"Daisy.!" Lagi. Axel memanggilnya yang diam dengan tatapan mata kosong.
"Eh. Iya mas. Ada apa?" Daisy menjawab sambil gelagapan. Saat Axel menyentak tangannya agak kasar agar Daisy segera sadar dari lamunannya.
Axel mengernyit heran. Menatap arah pandang Daisy yang menoleh pada seorang suami yang sedang menemani istrinya yang sepertinya akan melahirkan. Sejenak tatapan mereka berdua beradu dengan sosok laki-laki itu saat tiba-tiba Ia menoleh.
Daisy mengalihkan pandangan dan menarik Axel untuk segera berjalan. Sementara masih Axel lihat dengan ekor matanya nampak laki-laki itu menatap mereka dengan raut muka yang shock.
"Kamu kenal mereka?" Tanya Axel sambil mengikuti Daisy yang tengah menariknya untuk segera menjauh.
"Enggak, mas."
"Mau mampir dulu? Enggak apa-apa kalau mampir nemenin lahiran."
"Hoeekk." Tiba-tiba Daisy tertunduk sambil memegangi perutnya. Sementara Axel dengan sigap mengangkat Daisy dan segera menggendongnya ke kamar mandi.
"Kamu bisa sendiri?" Tanya nya khawatir. Terpaksa ia turunkan Daisy, tak mungkin Ia ikut masuk ke toilet perempuan. Daisy cuma mengangkat tangan sebentar dan berjalan cepat ke kamar mandi.
__ADS_1
Disana Ia tumpahkan semua nasi yang baru beberapa jam lalu Ia makan.
"Sudah?" Tanya Axel khawatir melihat Istrinya yang sedang hamil muda tengah melangkah gontai dari pintu toilet.
Daisy cuma bisa mengangguk. Ia pasrah saat Axel mengangkatnya lagi. Khawatir melihat muka Daisy yang pucat. Dan mereka pun segera berlalu dari rumah sakit yang meninggalkan rasa yang membingungkan untuk Daisy.
Apakah hatinya selama ini sedang membohonginya? Setelah beberapa bulan Ia baik-baik saja. Setelah kabar gembira yang baru saja Ia terima, kenapa terselip rasa tak menyenangkan untuknya. Yang Ia sendiri tak tahu apa kenapa dan bagaimana.
Ia menatap nanar Axel yang tengah sibuk menyetir dengan satu tangan. Sementara tangan yang satunya memegang tangan Daisy.
"Kenapa?" Tanya Axel melihat Daisy tengah menatapnya.
Daisy hanya diam dan berbalik menatap jalanan yang tampak ramai meski weekday. Sampai hari ini Axel sama sekali tak tahu tentang Ebra atau Ardina. Ia simpan sendiri semua nya. Pun dengan semua rasa sakitnya.
"I love you." Ucap Daisy lirih.
"Tumben?" Senyum bahagia tersungging di bibir Axel saat mendengarnya.
"Yaudah gak jadi." Daisy memonyongkan bibirnya dan menatap jendela mobil yang dibuka sedikit olehnya.
Tawa renyah Axel terdengar begitu mempesona untuknya. Sesaat meyakinkan perasaan yang mulai diselimuti keraguan.
Sampai dirumah Axel langsung berpamitan karena ada pekerjaan yang mewajibkan kedatangannya.
"Hati-hati, ya. Jangan lari-lari. Perhatikan langkah waktu naik tangga." Ucap Axel mencium kedua pipinya dan kening dengan penuh cinta.
"Aku cuma dirumah, mas. Yang harusnya hati-hati itu kamu." Jawab Daisy menyentil pelan hidung tinggi Axel.
"Tetap aja. Kehamilan kamu masih muda. Harus hati-hati. Aargh. Gamau pergi." Axel menaruh kepala pada bahu kecil Daisy yang membuatnya harus menelengkan kepala karena tak muat.
"Mas. Udah ya. Aku udah capek, pusing, mau masuk. Yaa?" Ujarnya sembari mengelus pelan kepala Axel. Akhirnya dengan langkah berat Axel melangkah masuk ke dalam mobil.
Daisy berbalik ingin segera istirahat. Tetapi suara seseorang bercengkrama membuatnya menghentikan langkah. Ia berdiri di ruang tamu yang menghubungkan taman samping.
"Gimana ini, Mah. Axel kaya nya emang beneran sayang sama istrinya. Apalagi tadi waktu tahu Daisy hamil, terlihat banget mata dia berbinar bahagia."
__ADS_1
"Tenang, Sayang. Selama ada Mama. Kamu gausah meng khawatirkan apapun. Mama akan melakukan segala cara agar Axel dan Daisy segera bercerai."
Jantung Daisy bergemuruh seketika mendengar penuturan Mamanya. Ia segera berpegangan pada sandaran kursi saat kakinya tiba-tiba tak mampu menumpu tubuh. Mulutnya tak henti ber istighfar agar diberi perlindungan sekaligus menenangkan hati dan juga fikirannya.
Daisy terduduk lemas di kursi. Sedangkan tawa renyah Fanya dan Rosa masih terdengar jelas di ingatannya.
Padahal Daisy ingin menikahi Axel bukan karena harta semata. Ia bahkan tak tahu kalau profesi suaminya kini adalah CEO. Tapi malah dia disalahpahami menikah atas dasar harta.
Ia memang terbiasa hidup sederhana karena Ayahnya hanya seorang owner coffeshop dan toko oleh-oleh. Tapi sungguh Ia tak pernah kekurangan suatu apapun. Meski Ia sekarang hanya bekerja freelance, tapi ia lulusan S2 meski bukan kampus luar negeri, tapi termasuk kampus terbaik di kotanya.
Bagaimana caranya agar Rosa tahu kalau dirinya tulus mendayung mahligai rumah tangga bersama Axel? Atau memang kriteria menantu terbaiknya adalah yang berpangkat?
"Andai bayi itu gak ada, Ma. Kita pasti dengan mudah menghasut Axel."
"Kamu benar. Tapi mau bagaimana lagi?"
Lagi. Daisy mendengar suara yang begitu menyakitkan hati. Tanpa sadar ia mengelus pelan perut nya yang tentu saja masih rata. Tiba-tiba berbagai fikiran buruk hadir dalam benaknya.
Akhirnya Daisy memilih untuk meninggalkan mereka dengan segala niat jahat dan fikiran buruknya. Sebelum sakit kepala dan mualnya malah akan semakin parah.
"Mbak.? Minta tolong bawain jahe anget ke kamar, ya?" Ucap Daisy saat melihat Hana sedang membersihkan lemari kaca.
"Siap, Non. Non Daisy bisa jalan sendiri,? Sini aku bantu, Non." Jawab Hana sambil menghampirinya yang sudah ada di ujung tangga.
" Ndak usah, Mbak." Daisy berjalan pelan sambil melambaikan tangan.
Lemah. Ia tak tahu fisiknya bisa selemah ini. Karena selama ini Daisy jarang sekali sakit.
"Mbak. Bikinin jus alpukat sama jeruk, ya." Daisy mendengar samar suara Rosa saat Ia sudah sampai di tengah-tengah tangga.
"Iya, Nyah. Ini saya mau bikin jahe buat Non Daisy dulu ya, Nyah,"
"Udah gausah. Manja banget gitu aja minta dibikinin. Suruh bikin sendiri. Yang bayar kamu saya bukan dia.!" Hardik Rosa tiba-tiba. Daisy melihat Hana ditunjuk oleh Rosa saat Ia menoleh. Sementara Hana cuma menunduk. Sesaat Hana melirik pelan Daisy. Yang terlihat dibalik punggung Rosa.
Dengan lemah Daisy menggeleng. Sambil mengucap tak usah tanpa suara lalu lanjut berjalan menuju kamar.
__ADS_1
"Baru hamil aja manja.! Gimana nanti melahirkan. Awas aja kau minta caesar. Aku gak akan pernah mengizinkan."
Masih Ia dengar suara Rosa yang menggelegar ke seluruh penjuru rumah besar yang justru terasa menyesakkan untuknya.