
Pagi yang berkabut kini berganti dengan cuaca cerah yang menghangatkan. Matahari sudah hampir sampai di puncak kepala, tapi hebatnya cuaca masih terasa sejuk
Dua insan saling mencintai itu masih terlelap dengan damainya dalam peraduan. Setelah lelah saling melepaskan hasrat selepas menunaikan kewajiban shubuh hari merekapun melanjutkan dengan mewajiban suami istri
Daisy menguap. Meregangkan tubuh sesaat tapi tetap berbaring dengan mata mengerjab menyesuaikan cahaya yang tiba-tiba masuk pada retina mata
Sesaat hanya terbengong sambil menatap langit-langit yang terasa asing
Keasingan yang telah lama ia dambakan. Suasana rumah dimana bisa bebas melakukan apa saja. Bangun dan tidur sesukanya
Tanpa sadar senyumnya merekah. Lalu menoleh pada Axel yang masih memejamkan mata. Terlihat sangat menggemaskan bagi Daisy
Entah sadar atau tidak. Daisy mengangkat lengan kekar Axel. Dan reflek menggigit dengan sekuat tenaga.
Gemas.
Axel masih terpejam. Meringis sesaat lalu melingkarkan lengan pada tubuh Daisy
Daisy meringis sendiri saat melihat beberapa bekas gigitan yang tertinggal.
"Nggak sakit?" Tanya Daisy. Tangannya terulur mengelus pipi Axel yang bersih dari rambut. Karena memang Daisy selalu menyuruhnya untuk rutin membersihkannya. Geli rasanya.
"Kaya di gigit nyamuk" Bibirnya bergerak tapi tetap dengan mata yang terpejam
"Laper" Lirih Daisy
Dengan tubuh yang tanpa sehelai benangpun Daisy beranjak ingin segera membersihkan diri yang rasanya sudah sangat lengket
Sementara Axel masih tetap terpejam. Bahkan menarik selimut kembali menutup seluruh tubuhnya
Enggan beranjak. Cuaca gunung memang membuat orang yang terbiasa hidup di tengah terik matahari sepertinya jadi selalu nyaman dengan kasur dan selimut
Axel baru membuka mata saat dengan kasar Daisy menarik selimutnya
"Ish. Laper sayang.!! Kasian nih dedek" Ucap Daisy kesal
Dengan langkah berat akhirnya Axel beranjak dari tempat ternyamannya
Mereka baru turun bersamaan saat Axel selesai membersihkan diri
Ya. Daisy bisa dengan tenang menunggu Axel di kamar. Tak ada lagi teriakan dan ketukan pintu yang memekakkan telinga
Bisa bersantai kapanpun Daisy mau. Tanpa diatur oleh siapapun. Menjadi ratu dirumahnya sendiri. Dan yang terutama bisa memegang keuangan nya sendiri
__ADS_1
Dia menatap tak percaya pada kartu debit yang diserahkan oleh Axel beberapa hari lalu, tak tahu berapa isinya. Intinya berapapun itu, tentu sangat membuatnya tenang dan bahagia
Sari dengan tergesa menyiapkan makan siang saat dilihatnya tuan dan nyonya turun dari arah lantai dua
Axel menahan tangan Daisy saat hendak melangkah membantu Sari
"Disini aja. Udah waktunya kamu istirahat" Axel berucap sembari menunjuk perut Daisy
Daisy menurut. Sepertinya memang ia harus beristirahat sejenak dari kegiatan rumah tangga
"Junior Papa betah banget ya di dalem perut Mama" Pelan Axel mencium perut Daisy yang terbalut dress selutut
"Masih 2 bulan lagi, Sayang. Sabar. Kalau keluar sebelum waktunya nanti malah prematur dong" Protes Daisy
Axel meringis.
Mereka melanjutkan acara makan dengan mesra dan diselingi canda,
Daisy bahagia. Sangat bahagia. Semoga kebahagiaan selalu menyertai keluarga kecilnya. Doa Daisy dalam hati
***
Di rumah Ruslan. Rosa masih terus membujuk Ruslan agar mengancam Axel dengan mengeluarkannya dari perusahaan
"Jangan sembarangan, Ma.!" Geram Ruslan masih menahan emosi agar tak meninggikan suara
Fanya yang sedang menyaksikan perdebatan itu duduk dengan tenang seolah tak terjadi apapun
Sedang Rosa berdiri dengan gusar. Berusaha untuk terus meyakinkan Ruslan.
"Keputusan Papa nggak akan berubah, Ma. Perusahaan butuh Axel. Mengancam Axel dengan situasi sekarang justru berisiko membuat perusahaan rugi dan kemungkinan bangkrut. Mama mau?" Kini Ruslan berkata dengan agak lembut. Ia memegang kedua pundak istri yang sudah berpuluh tahun mendampinginya
"Kita membangun ini dengan susah payah, Ma. Mama ingat kan?" Sambung Ruslan lagi. Berharap Rosa segera mengerti
Rosa meringis saat mendengar ancaman Ruslan. Tahu benar bagaimana rasanya hidup serba terbatas hingga kini ia bisa merasakan kemewahan yang sudah diperoleh sang suami dengan susah payah
Kepala semakin dalam menunduk. Harga dirinya dipertaruhkan. Segala perlakuan buruk orang-orang disekitarnya saat terpuruk membuatnya gelap mata hingga membuat tak mau ada sedikitpun celah di hidupnya. Ia tak mau orang menjadikan Daisy sebagai objek kelemahannya
Ruslan berlalu setelah sesaat memeluk istrinya dengan penuh cinta
Semoga kamu segera sadar, Ma. Batin Ruslan perih
Fanya hanya menatap kepergian Ruslan dengan tak percaya
__ADS_1
Ia kira Ruslan akan setuju dengan usulannya. Ya. Usulan Rosa berkat segala hasutan yang ia berikan
"Sekarang kita harus bagaimana, Ma?" Rengek Fanya. Tak mau jika calon Mama Mertuanya itu hilang fokus dan beralih menyetujui hubungan Daisy dan Axel
"Mama belum ada ide lagi, Fanya." Lirih Rosa. Melangkah pelan menuju kursi saat dirasa kepalanya mendadak pening
"Aku juga tak bisa membujuk Papa, Ma. Entah pelet apa yang dipakai wanita itu sampai semua laki-laki bersikap lembut padanya." Geram Fanya tak tahu diri
Padahal orang-orang disektarnya menyukai Daisy karena memang Daisy yang selalu menebarkan aura positif dimanapun berada
Fanya menyeringai. Terlintas ide yang amat ekstrim di otaknya
Ia diam. Tak mau meminta pendapat Rosa karena ia tahu pasti Rosa tak akan setuju
Aku harus mendapatkan apapun yang kumau! Bagaimanapun caranya! Batin Fanya
***
Ardina terperangah dengan sebuah dokumen yang baru saja dilemparkan oleh Ebra.
Meneliti setiap kata. Meski beberapa ia tak mengerti. Tapi, satu hal yang pasti. Hubungan rumah tangganya sedang di ujung tanduk
"Aku pergi. Kamu hanya perlu menunggu surat pengadilan dengan tenang." Gumam Ebra penuh penakanan. Tatapan nyalang ia tunjukkan pada manusia yang beberapa bulan lalu masih ia pedulikan.
Tapi, kini untuk menatapnya saja rasanya enggan
"Dengerin penjelasan aku dulu, Mas." Pinta Ardina memelas dengan mata yang mulai mengembun
Hubungan yang sudah ia perjuangkan dengan susah payah harus terancam berantakan
"Apa?"
"Aku… hari itu kita memang melakukannya, Mas. Tapi, memang sebelum itu aku juga melakukannya dengan temanku," Lirih Ardina terbata. Berkali-kali ia merutuki diri sendiri kenapa tak menyiapkan cara untuk menghadapi situasi seperti ini
"Lalu? Kenapa aku yang kau suruh bertanggung jawab" Hardik Ebra dengan nada suara yang meninggi
"Dia kabur. Nggak mau tanggung jawab. Yang penting kan kita sudah berhubungan intim. Jadi, wajar kalau aku meminta pertanggung jawabanmu." Ujar Ardina yang mulai mengusai diri berusaha untuk tetap tenang dan santai.
"Aarghh sial.!!! Kau tahu?! Keputusanmu itu menghancurkan aku. Bahkan sahabat baikmu. Daisy.!!" Bentak Ebra yang justru makin tersulut emosi dengan setiap kata yang didengar
"Kau kan belum pernah berhubungan dengan Daisy. Jadi, aku yang lebih berhak" Racau Fanya
"Kenapa kamu yakin sekali kalau aku sudah menggaulimu? Bahkan selama kita menikah kau tak pernah kujamah."
__ADS_1
"Kita bangun dalam keadaan hanya memakai pakaian dalam. Apa itu belum cukup?"
"Belum. Aku tak sadar. Aku mabuk terakhir yang kuingat hanya samar-samar kau melepas kemejaku. Setelah itu aku tertidur. Bagaimana mungkin manusia yang tidur bisa melakukan aktifitas seksual?" Bentah Ebra. Keluar sudah segala statement yang telah lama ia pendam dalam-dalam.