
Hingga hari ke 3, Bram baru ditemukan. Jasadnya tersangkut pada sebuah batu besar dengan kondisi mengenaskan karena sudah 3 hari tenggelam dalam sungai.
Rosa menangis histeris. Pupus sudah harapannya. Ia kehilangan nyawa yang paling ia harapkan kehadirannya. Apalagi sejak awal sudah kentara sekali kasih sayang antara Axel dan Bram yang seringkali dibedakan.
Semenjak kejadian itu seringkali Rosa merasa bahwa Bram masih ada disekitarnya. Ia selalu memasak makanan kesukaan Bram. Dan selalu berbicara sendiri. Saat ditanya ia selalu menjawab ia sedang berbicara dengan Bram.
Hampir setiap hari ia tidur di kamar Bram. Dan setiap pagi selalu memasak air untuk dipakai Bram mandi. Pun dengan baju-baju Bram. Sering ia membantak dan memarahi Hana karena tak mencuci baju-baju Bram.
"Kau.! Pembunuh!!! " Ucapan menyakitkan itulah yang kerap kali keluar dari mulut Rosa saat ia melihat wajah Axel meski hanya sekilas.
Beberapa detik kemudian Rosa akan berteriak ketakutan sembari berlari dan meminta bantuan setiap orang.
Sampai akhirnya dokter menyarankan agar Rosa dijauhkan dulu dari Axel. Tentu saja itu membuat batin Axel kian terluka.
Ia pun berjanji akan selalu menuruti apapun yang dikatakan Rosa, asalkan Rosa bisa sehat dan menjalani hari-harinya dengan normal.
Hampir saja ia ingin menyudahi saja segala rasa sakit yang dirasa. Tapi, saat itulah Fanya selalu ada untuknya. Saat semua orang abai dengan keadaan fisik dan batinnya.
Ia juga selalu meyakinkan diri. Inilah yang Bram mau. Inilah yang Bram perjuangkan. Nyawa dan hidupnya. Jadi, bagaimana bisa ia merenggut sendiri nyawa yang telah Bram perjuangkan dengan susah payah.
Flashback off.
Axel menekan gas mobilnya dalam-dalam. Seolah sedang meluapkan emosinya yang bahkan tak bisa ia jabarkan dengan kata-kata.
Dadanya bergemuruh hebat terasa sesak. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ingin marah. Ingin melampiaskan amarahnya. Tapi, mana bisa ia marah pada Rosa?
Tanpa sadar karena dikuasai emosi ia membanting stir hingga membuat mobilnya oleng dan hampir menabrak pembatas jalan.
"Tenang. Axel. Kau harus tenang. Jangan sampai nyawamu terenggut di tanganmu sendiri" Gumam Axel menenangkan diri sendiri.
Ia menghela nafas pelan berusaha untuk menenangkan diri.
Setelah dirasa agak tenang ia mengambil ponselnya. Mencari-cari nomer yang sudah lama tak ia hubungi.
"Halo, Kau dimana?" Tanya Axel singkat saat mendengar suara sapaan balasan dari Fanya.
Setelah mendapat jawaban dari orang yang dihubungi Axel pun dengan segera melanjutkan perjalanannya. Kini ia sudah punya tujuan akan ia bawa kemana kuda besinya.
Axel kemudian memutar stir kemudinya pada sebuah rumah mewah yang tak kalah megah dari rumahnya.
__ADS_1
Ia segera memarkirkan kendaraannya dan melangkah masuk.
Fanya memandangi Axel dengan muka sumringah. Ia tersenyum lebar menyambut kedatangan Axel.
"Kangen, ya? Aku juga kangen banget." Ucap Fanya seraya melingkarkan lengannya pada pinggang Axel.
Axel mematung. Tangannya mengepal kuat. Ia biarkan Fanya menikmatinsisa kebahagiaannya sebelum nanti ia akan mematahkan perasaannya.
Dulu, pelukan inilah yang membuatnya melupakan kesakitannya kehilangan Bram.
Tapi tidak lagi. Sudah cukup ia memberi Fanya berkali-kali kesempatan. Tapi memang yang namanya watak yang sudah mendarah daging, bagaimana bisa diubah?
"Lepas." Geram Axel.
"Kenapa? Kok kamu diem, sih." Keluh Fanya. Ia menuruti Axel menjauhkan tangannya dari pinggang Axel.
"Kenapa? Kenapa kau bilang?" Hardik Axel. Ia melemparkan map yang sedari tadi ada di tangannya tepat di muka Fanya.
Fanya yang kaget pun memandang Axel dengan bingung. Dengan rasa penasaran yang tinggi ia pun memungut map yang dilemparkan Axel.
Matanya membulat seketika saat ia membuka map itu.
"Bisakah Anda jelaskan sekarang, Nona Fanya yang terhormat?" Sarkas Axel matanya nyalang menatap Fanya dengan penuh kebencian.
Benar kata pepatah. Jika kau ingin merawat hubungan, jangan sesekali menyakiti pasangan. Apalagi berkali-kali.!
"Aku cuma pengen kamu ninggalin Daisy. Dia itu bukan wanita baik-baik.!" Tuduh Fanya.
"Jadi, Baik menurutmu itu seperti kamu yang berselingkuh berkali-kali?" Sindir Axel tanpa ampun.
"Aku sudah meminta maaf. Saat itu kamu terlalu sibuk sama pekerjaan kamu jadi… "
"Aku tak butuh penjelasanmu.!!! " Teriak Axel memotong ucapan Fanya
"Aku masih mencintai kamu, sayang. Tolong maafin aku." Lirih Fanya. Sudut netranya mengeluarkan setitik cairan bening.
"Huh. Aku kesini bukan untuk membahas masalalu. Apalagi tentang kita."
"Aku dan kamu sudah berakhir semenjak kamu menyia-nyiakan kesempatan terakhir yang pernah aku berikan." Sambung Axel. Ia menghela nafas mencoba menetralisir setiap amarah yang mencoba menguasainya.
__ADS_1
Sungguh. Jika saja ia tak berperasaan sudah ia hentikan nafas Fanya saat ini juga dengan tangannya sendiri.
Ia lelah dengan segala drama yang telah perempuan itu buat. Ia memang menyelamatkan. Tapi juga menorehkan luka yang semakin dalam
"Aku tahu kamu masih sayang aku. Aku enggak akan lagi nyakitin kamu. Lihat. Sudah berapa tahun kamu meninggalkanku dan aku? Aku masih sendiri hingga kini." Racau Fanya tak tahu diri.
"Bagaimana aku bisa percaya ucapan buaya yang sedang menghalalkan segala cara agar bisa menangkap mangsanya?" Sindir Axel
"Axel! Tolonglah… "
"Aku yang akan meminta tolong padamu Fanya. Tolong jangan lagi usik hidupku dan istriku. Jangan lagi mendekati Mama hanya demi ambisimu." Ucap Axel penuh penekanan.
"Ambisi? Ambisi kau bilang? Aku bahkan hampir gila karena terus merindukanmu.! " Teriak Fanya.
Axel menghela nafas berat. Bagaimana caranya agar perempuan ini segera sadar bahwa yang dirasakannya kkini bukan cinta tapi ambisi?
"Rindu…? " Ucap Axel lirih. Ia terkekeh pelan. Terkesan merendahkan Fanya yang kini mulai terisak.
"Ya.! Aku merindukanmu. Aku mencintaimu. Aku gila membayangkan tubuhmu di jamah perempuan jal*ng itu.!" Hardik Fanya.
Axel menghempaskan tangan Fanya saat tiba-tiba gadis itu menariknya kuat ke dalam rumah, hingga gadis itu hampir jatuh jika saja tangannya tak cepat menemukan sandaran di dinding tembok rumah mewahnya.
"Sadar Fanya sadar.! " Teriak Axel frustasi. Sepertinya gadis di depannya kini memang sudah gila.
"Aku sadar. Aku ditakdirkan untuk menjadi milikmu. Ayo. Puaskan aku." Lirih Fanya dengan tatapan menggoda. Ia perlahan menurunkan lengan bajunya hingga pundak mulusnya terlihat jelas. Bahkan belahan dadanya kini semakin turun.
"Bukankah kau belum pernah merasakan sentuhanku? Aku ini mahir lo dalam memuaskan… " Belum selesai Fanya berucap, tangan Axel sudah reflek melayang di depan muka cantiknya.
Plaakkk
Karena emosi yang semakin memuncak, tanpa sadar tangan Axel sudah melayang tepat di pipi mulus Fanya.
Meski beberapa detik kemudian ia sedikit menyesal karena telah melakukan kekerasan pada perempuan. Tapi, biarlah. Semoga dwngan tamparan itu bisa membuat Fanya sadar.
"Aku akan melupakan kejadian yang kau lakukan hari ini." Desis Axel.
Fanya terus memegangi pipinya yang terasa panas. Tapi, lebih dari sakit pipinya aakit hatinya terasa lwbih dalam. Pria yang begitu ia puja justru melayangkan tamparan padanya.
"Kuperingatkan sekali lagi. Jauhi Aku dan Daisy. Biarkan kami hidup tenang. Jika memang yang kau rasakan itu cinta, kau pasti akan merelakan aku bahagia. Bukan semakin mengahancurkan aku dengan belenggu yang menyakitkan itu." Ancam Axel.
__ADS_1
"Aku tak akan tinggal diam jika nanti kau kwmbali membujuk Mama dan mengajaknya untuk melakukan sandiwara sampah semacam ini lagi." Hardik Axel. menendang map yang sedari tadi sudah berserakan di lantai