
3 hari kemudian perhiasan pesanan Daisy pun sudah siap diambil. Daisy jadi ragu karena ia belum bercerita apapun kepada Axel.
Daisy mengambil ponsel yang tergeletak di atas ranjang. Lalu mencari nomer Axel dan menuliskan chat untuknya.
"Sayang. Aku izin keluar dulu, ya. Ini mau kerumah temen." Tanpa menunggu balasan dari Axel Ia lalu bersiap-siap.
Setelah siap Ia segera berjalan keluar rumah. Tapi sesampainya di gerbang tak terlihat Pak Ujang sopir yang katanya siap sedia untuk mengantar Daisy kemanapun. Di garasi juga hanya terparkir mobil milik Dani yang mungkin berangkat berkerja bersama Axel.
Akhirnya setelah menimbang-nimbang ia pun memesan taksi.
Sesampainya di cafe tempat temannya menunggu ia segera turun. Setelah beberapa saat mencari terlihat sesorang sedang memainkan ponsel di salah satu sudut cafe.
"Hi." Sapa Daisy sambil duduk dan menaruh tas nya disebelah kirinya.
"Eh. Istri sang CEO nih." Goda Rika yang membuat Daisy mencubit lengannya gemas.
"Hush." Sungut Daisy yang masih membenarkan posisi duduknya.
"Hahaha. Emang iya, kan. Sampai sekarang aku masih kagum sama acara pernikahan kamu yang waahhh." Puji Rika lagi.
"Kita kesini buat jual beli. Bukan buat bahas acara pernikahan,"
"Iya. Iyaaa. Nih." Rika menyerahkan sebuah kotak besar berisi satu set yang terlihat berkilauan.
"Cantik, ya." Gumam Daisy kagum.
Setelah selesai ber transaksi Daisy pun segera pulang ke rumah. Tapi kali ini Ia di antar oleh Rika. Sambil tak hentinya Rika meracau tentang istri CEO masa naik taksi.
Daisy tak menanggapi. Ia hanya diam. Hanya sesekali menanggapi candaan Rika.
"Gak mampir?" Ajak Daisy saat Rika memberhentikan mobilnya di depan gerbang.
"Gausah. Aku masih ada urusan. Next time, ya." Jawab Rika.
"Oh. Yaudah.. Duluan, ya. Ati-ati dijalan. Terima kasih tumpangannya."
Daisy pun turun dari mobil dan melambaikan tangan pada Rika yang melajukan mobilnya.
Daisy berjalan masuk ke dalam gerbang. Sambil menyapa satpam gerbang.
Langkah kakinya tiba-tiba menjadi berat saat terlihat Rosa sedang berdiri didepan pintu rumah sambil menyilangkan tangan didepan dada. Dadanya bergemuruh hebat.
Daisy memberanikan diri dengan tetap berjalan tanpa rasa takut. Ia tegapkan badannya. Mantapkan langkahnya. sambil terus menarik nafas dan mengeluarkan perlahan agar debar jantungnya sedikti berkurang.
"Darimana kamu?" Ucap Rosa tanpa basa-basi sambil terus menyilangkan tangannya.
"Ketemu sama temen, Ma." Jawab Daisy
__ADS_1
"Tapi kata Axel kamu gak pamitan sama dia. Istri macam apa yang keluyuran tanpa izin suami?" Cecarnya lagi kentara sekali sedang menahan marah.
"Daisy udah izin, Bu. Mungkin Mas Axel belum sempat membaca chat dariku," Sanggah Daisy tetap mencoba terlihat tenang. Ia tak mau ikut tersulut emosi.
"Makanya, Telfon jangan cuma chat."
"Iya. Maaf, Ma. Daisy takut ganggu soalnya kan Mas Axel masih kerja. Besok-besok kalau izin aku telfon Mas Axel dan nyari Mama dulu." Ucap Daisy. Rosa langsung berbalik badan sambil menghentakkan kaki dan meninggalkan Daisy.
Daisy menghela nafas berat. Harus bagaimana ia agar bisa mengambil hati Mama mertuanya?
Terdengar suara mobil masuk ke dalam gerbang saat Daisy akan membuka pintu rumah. Rupanya mobil Axel. Dahi Daisy berkerut heran. Tak biasanya Axel jam segini sudah pulang. Pasalnya sekarang masih jam makan siang.
"Mas." Daisy mengulurkan tangan untuk berjabat dan mencium tangan Axel. Axel menyambutnya hangat dan menariknya dalam pelukan.
"Kok udah pulang?" Tanya Daisy kemudian.
"Iya. Kata Mama kamu keluar tanpa izin? Jadi, aku langsung pulang khawatir." Jawab Axel.
"Kan aku udah chat sayaang. Lagian kan bisa kamu telfon aku,"
"Coba kamu lihat ponsel kamu dulu." Ucap Axel sambil lalu dan berjalan masuk ke dalam yang membuat Daisy segera membuka ponsel yang sejak tadi ada di dalam tasnya.
Benar saja. Ada beberapa missed call dari Axel dan Rosa. Pantas saja tadi Rosa langsung keluar begitu tahu Daisy sudah masuk gerbang.
Dengan perasaan berat Daisy masuk mengikuti Axel yang ternyata sudah ada di meja makan tentu saja dengan Rosa.
Axel hanya mengangguk dan tersenyum. Lalu menarik kursi untuk Daisy agar Daisy bisa duduk. Sementara Rosa masih sibuk menyendokkan nasi lalu di taruh di depan Axel.
Selesai makan Axel dan Rosa masih berbincang ringan. Rosa menceritakan tentang kegiatannya dalam group arisan dan yoga.
Daisy duduk dengan gelisah. Beberapa kali ia ingin membuka tas tapi urung ia lakukan. Dia berkali-kali menghembuskan nafas mencari keberanian.
"Ma." Panggil Daisy yang membuat Rosa menoleh padanya begitu juga Axel.
"Ini, ma. Mungkin tidak seberapa tapi semoga Mama suka. Anggap aja hadiah perkenalan dari Daisy ya, Ma." Ucap Daisy sambil menghadiahkan senyum termanis yang Ia bisa. Ditengah ke gugupannya.
Rosa tak mengatakan apapun. Ia hanya diam sambil mengulurkan tangan mengambil sebuah kotak perhiasan yang sudah Daisy hiasi dengan pita kecil berwarna merah.
Sesaat Daisy melihat ekspresi Rosa berubah senang. Tapi beberapa detik kemudian langsung datar.
"Terima kasih, ya. Bagus ini." Ucap Rosa sekilas sambil menutup dan menaruh kotaknya di meja sebelahnya.
Axel menatap Daisy bangga. Ia lalu diam-diam memeluk pinggang Daisy yang ada dibawah meja.
"Tapi. Sebaiknya kurangi hal tidak penting kaya gini, ya." Ujar Rosa lagi seketika membuat Daisy menghela nafas kecewa.
"Meski Axel seorang CEO tapi biaya untuk hidup kita juga tidak sedikit. Apalagi jika nanti kalian punya anak."
"Untuk kedepannya sebaiknya keuangan Mama yang pegang aja. Kamu bisa bilang Mama kalau ada keperluan. Toh sebelum kamu menikah juga Mama yang pegang keuangan dan kebutuhan rumah." Seketika Daisy terdiam membeku di kursinya. Tak menyangka dengan ucapan Mama mertuanya.
__ADS_1
"Bukan apa-apa. Jadi, nanti Mama bisa memilih dan memilah mana yang penting dan tidak penting." Lanjutnya lagi yang membuat Daisy semakin terdiam. Berharap Axel akan menolak tawaran Mamanya itu.
"Yaudah, Ma. Gapapa. Iya, kan sayang?" Cetus Axel yang membuat Daisy seketika membatu. Fikirannya kalut. Bagaimana bisa Axel dengan mudah menyetujui hal yang tentu akan merepotkan istrinya. Istri kesayangannya.
"Maaf, Ma. Mas Axel kalau mungkin aku lancang. Tapi perhiasan itu Daisy beli dengan uang pribadi Daisy." Ujar Daisy menahan sesak.
"Daisy pamit ke kamar dulu ya, Mas. Ma." Pamit Daisy segera berjalan cepat menuju kamarnya.
"Gak sopan. Orangtua masih duduk, Ia sudah pamit duluan."
"Sudahlah, Ma.. "
Masih Ia dengar samar-samar percakapan terakhir Axel dan Rosa. Daisy menguatkan hati. Tak mau menangisi hal tidak penting.
"Sayang." Panggil Axel saat Daisy sibuk mengerjakan tugasnya.
"Hmm,"
"Kok cuek."
"Ada apa, Mas. Daisy sibuk maaf ya."
"Kamu gausah kerja lagi gapapa sayang."
"Kalau gak kerja aku gak akan bisa beli skincare."
"Kan ada aku."
"Kan uangmu ada di Mama. Emang bisa ngasih ke aku? Jangan, Mas. Eman nanti habis." Ucapan Daisy membuat Axel mengerut heran. Rupanya gara-gara itu istrinya merajuk.
Axel berjalan menuju kursi yang diduduki oleh Daisy. Ia memeluk Daisy dari belakang sambil mencium pipi Daisy mesra.
"Mama kan Mama kamu juga. Gapapa sayang kamu minta aja segala kebutuhan kamu sama Mama. Kalau perlu bikin laporan sekalian." Ucap Axel sambil terkekeh yang membuat Daisy semakin dongkol. Sama sekali tidak lucu.
Daisy diam. Ia tak menanggapi Axel dan terus fokus pada layar laptopnya. Ia harus mengembalikan uang tabungan yang habis terpakai untuk perhiasan Rosa.
Axel melepas pelukan dan merebahkan diri diatas kasur. Beberapa kali ia memanggil Daisy tapi akhirnya Daisy luluh juga karena bagaimanapun keadaanya Ia harus melayani Axel yang sudah SAH menjadi suaminya.
Ia sampai terfikir, apakah keputusannya untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi ternyata salah. Ia memang bahagia. Tapi kebahagiaannya terasa tak sempurna karena campur tangan Rosa. Bukan masalah materi. Tapi disini ia seolah tak dianggap dan tak dihargai. Bahkan Axel, Suaminya menyutujui begitu saja tanpa perlawanan sedikitpun.
Axel tertidur pulas setelah selesai melepaskan hasratnya. Tinggallah Daisy termenung sendiri. Tanpa sadar ia jadi teringat Ebra yang memenuhi apapun kebutuhannya. Bahkan saat sebelum menikah Ebra sudah mentransfer sejumlah uang yang ia dapatkan dari kerja part time nya. Padahal saat itu Ebra pun masih kuliah. Untuk tabungan masa depan katanya kala itu.
Akhirnya karena pikirannya mulai tak karuan Daisy beranjak. Berjalan ke meja kerjanya dan mengerjakan tugas yang deadline nya padahal masih lama.
Tapi nyatanya Ia sama sekali tak bisa fokus. Fikirannya berjalan entah kemana. Dan tanpa Ia sadari sebutir kristal bening perlahan jatuh. Awalnya hanya satu. Tp perlahan berjatuhan tanpa bisa ia cegah dan tahan.
Selama ini ia paksa diri untuk kuat. Untuk tegar. Untuk segera melupakan. Pun sudah berbulan-bulan Ia berhenti menangis.
"Kenapa.. Kenapa.. Udah stop Daisy. Kamu udah nikah.. Stop.. " Rintih Daisy yang segera berjalan ke kamar mandi agar suara tangisnya tak didengar oleh Axel yang tengah terlelap.
__ADS_1