
Axel terbangun saat matahari sudah hampir menyelesaikan tugasnya. Rona kemerahan telah menghias langit yang tadinya berwarna biru.
Perlahan ia membuka mata. Ia mengerjap beberapa kali saat merasakan pusing yang teramat sangat di kepalanya.
Karena tak sanggup membuka mata akhirnya ia kembali memejamkan mata. Ia mengangkat lengan kirinya untuk menutupi mata, mencoba menetralisir cahaya yang mendorong masuk.
Sementara tangan kanannya sibuk meraba ke sembarang arah, mencari-cari ponsel yang entah dimana. Terakhir ia ingat sepertinya hanya di lempar di atas ranjang kamarnya.
"Daisy… " Gumamnya pelan saat tak juga menemukan benda pipih tersebut.
Dadanya kembali sesak saat mengingat semua yang di alaminya kemarin.
"Kak Bram… " Bibirnya kembali mengeja satu nama yang sudah lama tak ia ucapkan.
Akhirnya ia menguatkan diri untuk segera bangun dan bersiap agar bisa mengunjungi Bram.
Dengan langkah tertatih ia melangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk bebersih diri.
Bau alkohol menguar dari seluruh ruangan dan tubuhnya.
Dunia seolah tak suka melihatnya baik-baik saja hingga saat ia merasa sudah baik-baik saja, ia justru kembali dihantam dengan berbagai permasalahan hidup.
Apalagi kali ini lagi-lagi tentang pasangan dan kasih sayang.
Setelah ia berusaha untuk melupakan segala kesakitan yang diakibatkan oleh pengkhianatan Fanya. Kini ia juga didera dengan masalah yang serupa.
Ya. Pengkhianatan.
Axel fikir Daisy adalah wanita baik yang selama ini ia cari. Sungguh sosoknya seperti malaikat yang mampu menguatkan jiwa rapuhnya.
Daisy selalu mampu membuatnya kembali bagkit. Entah itu tentang masalah perusahaan, kawan atau bahkan Fanya.
Karena ia merasa benar-benar terbebas dari kesakitannya saat bertemu dengan Daisy.
Selesai mandi ia memandang ke segala arah. Tatapannya terhenti tepat di pojok ranjang tempatnya tidur. Dimana akhirnya ia menemukan benda yang sedari tadi ia cari.
"Maaf. Beri aku waktu. Aku akan menjemputmu setelah menyelesaikan semuanya. Termasuk apakah foto yang kuterima itu benar atau hanya rekayasa." Jari-jari Axel sibuk mengetik pada ponsel di aplikasi hijaunya. Setelah selesai ia pun segera menekan tombol send pada nomer Daisy.
Setelah menaruh ponselnya di nakas ia segera bersiap.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian mobil Axel sudah melaju dengan santai pada jalanan penuh tanjakan yang ada di daerah villanya.
Jalanan yang sepi dan gelap tak membuatnya ragu untuk terus melanjutkan perjalanannya.
Ia pun berhenti di sebuah tempat Bram beristirahat dengan tenang.
Bram Fernico Wijaya
Axel mengambil buket dan sekeranjang bunga tabur yang tadi ia beli. Tak lupa ia sematkan kacamata hitamnya.
Langkahnya terayun pelan. Sembari mengumpulkan kekuatan agar tak lagi-lagi meneteskan airmata.
"Hai Bro, " Lirih Axel berucap pada batu nisan di depannya.
Axel menaruh buket bunga yang sedari tadi ia bawa pada batu nisan. Dan menabur bunga yang ia bawa dalam keranjang.
Ia kemudian membaca doa dengan khusyuk.
Lama ia hanya duduk bersila di samping makam. Ia segera mengusap muka dengan kasar saat merasakan netranya memanas.
"Sial. Kenapa si kamu mesti pergi ha? Sengaja ya biar aku kesiksa sama rasa bersalah kaya gini," Ujarnya bermonolog sendiri.
Butuh waktu bertahun-tahun sampai akhirnya Rosa dapat kembali pulih dan menjalani kehidupan dengan normal tanpa obat dan kontrol.
"Sial. Capek banget aku. Boleh enggak aku nyusul aja."
"Aaah. Tapi ada tanggung jawab yang harus aku selesaikan. Aku udah punya anak. Meski enggak tahu juga anak kandungku apa bukan." Ucap Axel tertawa miris.
"Semoga saja dia anak kandungku. Aku pasti akan membesarkan dia dengan baik, agar hidupku juga membaik." Ujarnya lagi.
"Sudahlah, aku pamit. Aku pasti akan membawa keponakan dan adik iparmu main kesini kalau memang benar dia anak kandungku." Pamit Axel ia melepaskan tangannya yang sedari tadi memegang batu nisan bertuliskan nama Bram.
Ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Tepat pukul 8 malam. Suasana sangat sepi dan gelap. Hanya ada suara jangkrik dan kodok yang mengiringi setiap ayunan langkahnya.
Sesampainya di villa ia melihat mobil sport yang biasa dipakai oleh Ruslan sudah terparkir di halaman.
"Ayah?" Gumamnya pelan dan segera masuk.
__ADS_1
Saat memasuki villa ia tak langsung menemukan Ruslan. Ia pun berjalan menyusuri villa.
"Ayah." Panggil Axel saat melihat Dani yang sedang berdiri di samping kolam renang.
"Oh. Darimana kamu?" Jawab Ruslan dingin saat Axel menyalami tangannya dengan takzim.
"Berkunjung ke makam Kakak," Ucap Axel singkat saat melihat nada Ruslan yang dingin. Tatapannya masih lurus ke depan.
"Aku sudah dengar dari Mamamu. Lebih baik turuti apa mau Mama. Orangtua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Dan Daisy bukan yang terbaik untukmu." Ucap Ruslan penuh penekanan.
"Apa Papa tahu dari awal Mama sebenarnya tak menyukai Daisy?" Tanya Axel tak mengindahkan kata-kata Ruslan.
"Apa maksudmu? Mama mu dengan senang hati mau menerimanya" Ucap Ruslan kali ini ia menatap Axel tajam.
"Coba Papa tanya sama Mama sendiri." Ucap Axel ia hendak pergi meninggalkan Papanya, tapi dengan sikap dicegah oleh Ruslan.
"Axel. Mama mu mengancam akan mencabut hak mu jadi penerus kalau kamu terus seperti ini. Sudahlah turuti Mama mu. Demi kebahagiaannya."
"Aku tak peduli, Pa. Toh posisi penerus bukan sepenuhnya hakku. Bukankah Papa dan Mama sejak dulu selalu mengedepankan Kak Bram? Kembalikan saja semuanya pada Kak Bram" Ejek Axel.
"Axel.! Apa susahnya menurut. Toh wanita itu cuma wanita murahan yang berselingkuh padahal sudah diberi kemewahan yang memunjang hidupnya." Geram Ruslan.
"Papa tahu apa? Aku yang setiap hari bertemu Daisy saja masih ragu. Sudahlah pa. Biarkan aku menyelidiki semuanya dulu nanti kita bicara lagi." Kilah Axel. Ia berkelit dari genggaman tangan Ruslan.
Sedangkan Ruslan matanya menyipit heran melihat tingkah anaknya.
"Ada apa sebenarnya." Gumam Ruslan. Ia memijat pelan kepalanya yang pening.
Belum selesai masalah perusahaan yang down. Sekarang harus dihadapkan dengan istri dan anaknya yang mulai tak akur.
Padahal selama ini Axel yang dulunya pembangkang jadi amat sangat penurut.
Ia pun kembali mengendarai mobil mewahnya saat tak mendapat jawaban. Ia akan mencari tahu besok di kantornya.
Toni sekretaris Axel pasti tahu sesuatu.
Sementara Axel yang sudah berbaring di ranjang menghela nafas panjang saat tak melihat satupun notif chat dari Daisy.
Sejujurnya dia mengharapkan satu saja balasan meski singkat. Tak dipungkiri ia sangat merindukan Daisy.
__ADS_1
Biasanya saat lelah dengan semua pekerjaannya hal yang selalu ia lakukan berbaring di pangkuan Daisy. Dan belaian dari tangan lembut Daisy mampu membuat segala kegundahannya seketika berkurang.