
Daisy segera mengayunkan langkah lebar dengan kaki mungilnya saat mendengar suara deru mobil yang sejak tadi ditunggu.
Jantungnya berdegup menanti kabar dan cerita yang akan di luapkan oleh belahan jiwanya.
Tapi, senyumnya seketika memudar saat melihat seseorang yang tengah mengamati dirinya.
Terduduk santai diatas motor memerhatikan tiap gerak gerik Daisy dan Axel. Meski menggunakan helm yang hampir menutupi seluruh mukanya, Daisy masih bisa mengenalinya dengan jelas.
Ebra.
Axel yang melihat tatapan istrinya terpaku di jalan raya, menggentikan langkahnya. Dan menolehkan kepala. Matanya memicing melihat seseorang yang duduk diatas motor memerhatikan rumah Dani.
Dirasa keberadaannya diketahui, sang pemilik motor pun segera memutar gas. Dan dengan cepat berlalu dari hadapan mereka.
"Kamu kenal?" Axel bertanya saat sudah sampai di hadapan Daisy.
Daisy menerima uluran tangan Axel dan mencium punggung tangannya. Lalu beralih ke pipi kanan dan kiri Axel seolah ingin menyalurkan semua rasa cinta yang ia punya.
"Ebra," Cukup singkat jawaban Daisy tapi tidak untuk Axel. Berbagai pertanyaan tanpa jawaban pun segera masuk ke dalam kepalanya
Axel mengernyit. Detik berikutnya ia segera melangkahkan kaki. Tapi, Daisy dengan cepat menahannya.
"Mau kemana?"
"Mengejar apa yang harusnya sudah lama kau lepaskan." Daisy bisa melihat meski samar. Ada amarah yang tersimpan dibalik tatapan teduh Axel.
"Aku memang sudah melepaskan. Kalau dia menyesal, apakah itu salahku?" Daisy menggerutu mendengar dan melihat tingkah Axel.
Cemburu. Mungkin itulah yang dirasakannya meski gengsi menyelimuti dirinya.
"Tentu saja bukan. Aku hanya ingin memberikan pelajaran untuknya." Lirih Axel berucap. Tatapannya beralih pada jalanan yang ramai.
"Apa jadinya kalau aku telat datang?" Kata Axel lagi. Tatapannya menajam tangannya terkepal kuat.
"Jadinya? Memang apa yang kamu harapkan bakal terjadi?" Daisy menatap heran pada Axel.
"Aku harap kau mengusirnya jauh-jauh, Sayang." Axel menghela nafas berat. Kepala ia rebahkan ke pundak Daisy yang sempit.
"Tak akan terjadi apapun. Selama kamu membersamaiku, aku pun akan tetap bersamamu" Lirih Daisy mantap. Mengelus kepala Axel menyalurkan rasa yang ia rasakan agar bayi besarnya tenang.
"Terimakasih."
"Ayo, masuk. Sampai kapan mau berdiri disini? Aku lelah" Keluh Daisy, mengelus punggungnya pelan yang mulai terasa pegal. Kehamilannya yang semakin besar membuatnya tak bertenaga melakukan aktifitas.
Tanpa kata Axel menggendong Daisy ala bridal style. Membuat Daisy memekik pelan karena terkejut.
Berbarengan mereka menyusuri tangga dan masuk ke dalam kamar. Siang itu juga lagi-lagi Daisy harus pasrah terhadap apapun yang akan dilakukan Axel padanya.
__ADS_1
***
"Sudah semua kan?"
"Iya, Mas. Sudah di mobil kamu semua. Kan tadi pagi udah di masukin mobil" Jawab Daisy yang sibuk dengan layar ponselnya.
"Kamu duluan aja, Mas. Aku mau ke toilet sebentar."
Daisy berbohong. Selepas kepergian Axel, ia sibuk dengan ponselnya.
Terlihat sebuah pesan dari nomor yang sudah lama diabaikan meski masih tersimpan rapi
Berbahagialah. Jika tidak, aku akan kembali merebutmu darinya.
Isi pesan chat yang ditulis oleh orang yang dulu dengan mudah mencampakkannya
Tak habis fikir. Bahagia? Bicara seolah apa yang terjadi beberapa bulan yang lalu hanyalah sekedar mimpi
Daisy berdecak. Ingin marah tapi yang membuatnya marah tak ada disekitarnya
Tanpa fikir panjang Daisy segera menghapus pesannya sekaligus nomer yang mengiriminya pesan
Dengan langkah cepat Daisy melangkah dengan susah payah.
"Jangan lari-lari.!" Suara Axel menggema saat melihat Daisy yang berjalan dengan langkah cepat
Yang ternyata ia masih ada dibawah tangga menunggu istrinya menuruni tangga dengan aman dan selamat
Bagaimana ia tak bahagia jika lelaki yang membersamainya sangat sempurna?
***
"Bagaimana?" Bisik Axel tepat di telinga Daisy. Tangannya sudah melingkar dengan rapi di pinggang Daisy yang mulai melebar karena kehamilan yang semakin membesar
"Bagus. Tapi jauh" Kata Daisy. Beekali-kali menghirup dan mengembuskan nafas untuk menikmati harum oksigen yang terasa jauh berbeda jika dibandingkan dengan di kota
"Makin jauh makin bagus. Jadi kamu enggak bakal di ganggu siapapun" Lirih Axel.
"Terus kamu gimana ngantornya? Ini jaraknya lebih dari 2 jam loh. Makan waktu banget kalau harus tinggal disini." Keluh Daisy. Berbalik dan mengangkat kepala Axel dan menangkupkan kesua tangan Daisy di pipi kiri kanan Axel
"Aku bisa bilang sama Toni buat gantiin. Nanti ngantornya 2 hari atau 3 hari sekali aja."
"Ya jangan.!".
" Kenapa?"
"Jangan terlalu percaya sama orang. Orang itu bisa berkhianat kapanpun apalagi jika ada kesempatan terbuka lebar."
__ADS_1
"Tak akan semudah itu memgkhianatiku" Saat mengatakan itu Daisy bisa merasakan atmosfer yang berbeda. Apalagi saat dirasakannya rahang Axel mengeras di pundaknya.
"Cari rumah aja, Mas. Hidup di kota aja enggak apa-apa. Aku juga bisa deket sama Ayah."
"Baiklah. Nanti kita cari-cari rumah. Sekarang kamu ikut aku dulu, ya?" Pinta Axel ia berdiri dan merapikan rambut yang berantakan oleh tangan Daisy
"Eh. Apa besok aja ya. Udah hampir malem. Denger-denger bumil engga boleh keluar malem?" Celetuk Axel membuat Daisy tertawa. Siapa sangka suaminya tahu mitos yang jarang diketahui banyak laki-laki
"Kok ketawa?" Decak Axel
"Enggak nyangka ternyata pengetahuan suamiku seluas itu. Kukira cuma faham tentang bisnis dan saham." Jawab Daisy mengulum senyum yang membuatnya semakin terlihat manis
Akhirnya atas kesepakatan berdua mereka berangkat pada esok harinya. Apalagi fisik Daisy juga masih lelah.
Mobil Axel membelah jalanan yang masih sepi karena masih pukul 06.00 pagi.
Sengaja Daisy merengek agar Axel mau berangkat lebih pagi. Sudah lama mendambakan udara pegunungan di pagi hari
"Enak banget," Lirih Daisy menikmati setiap semilir angin yang masuk lewat kaca jendela yang ia buka setengah.
Axel marah saat Daisy membuka full kaca karena khawatir akan masuk angin
"Sesuka itu kamu?" Axel membelai lembut rambut Daisy
Daisy hanya mengangguk
Tak lama mobil Axel memasuki area pemakaman tempat Bram beristirahat dengan tenang.
"Akhirnya kita kesini." Ucap Daisy sambil bersiap akan turun. Axel hanya tersenyum
Memang sudah lama sekali ia tak pernah mengunjungi Bram. Semenjak ia menikah baru sekali. Padahal sebelum menikah hampir setiap tahun berkunjung
"Assalamualaikum" Lirih Daisy mengucap salam dengan sangat pelan. Entah mengapa netranya mengembun. Setitik butiran kristal pun lolos
Axel mengusap pundak Daisy. Terlihat seperti memberi kekuatan padahal ia sendiri yang membutuhkan kekuatan dari pundak kecil Daisy
"Hai. Kakak ipar." Celetuk Daisy tertawa canggung menyamarkan tangisnya
"Kenapa nangis?"
"Entahlah." Jawab Daisy singkat. Ia teringat dengan Hera. Saudara satu-satunya.
Membayangkan betapa berat hari yang Axel lalui karena musibah yang menimpa mereka.
Kehilangan saja sudah sangat menyakitkan. Apalagi jika ditambah dwngan tuduhan dan segala rasa bersalah yang ia simpan bertahun-tahun
"Kak Bram pasti iri aku dapet istri cantik kaya kamu." Celetuk Axel sambil tertawa
__ADS_1
Tawa yang sesungguhnya. Bukan hanya tawa yang ia keluarkan hanya untuk menyembunyikan luka.
Ternyata kehadiran Daisy memang mampu memberikan kekuatan padanya. Padahal, Daisy tak punya kelebihan apapun dari segi fisik. Tapi mampu membuatnya kuat dalam menghadapi segala trauma hidup