
Daisy mengantar Suaminya untuk berangkat bekerja setelah seminggu cuti. Ia menenteng 1 tas kecil berisi bekal yang sudah ia siapkan tadi pagi.
"Aku berangkat, ya." Ucap Axel berpamitan seraya mengecup kening dan kedua pipi Daisy.
"Iya. Hati-hati."
"Gitu doang?"
"Iyaa harus gimana?" Tanya Daisy membuat pipinya bersemu merah saat melihat Axel menunjuk pipinya sendiri. Ia belum terbiasa dengan ini.
"Masss. Nanti aja dikamar, ya."
"Aku maunya sekarang"
Akhirnya Daisy mengalah dengan secepat kilat mencium pipi Axel. Lalu menunduk malu-malu dengan menautkan kedua jari-jarinya salah tingkah.
Tapi beberapa saat kemudian Axel masih diam. Ia malah menunduk lagi mensejajarkan pandangannya dengan Daisy lalu menunjuk pipi kanannya.
"Yang ini belom." Ucapnya manja sambil nyengir kuda.
Daisy pun lalu melakukan hal yang sama membuat Axel tersenyum puas dan mengacak puncak kepala istrinya dengan gemas.
"Tunggu nanti malem, ya. Kan dari kemarin udah absen karena kamu sakit." Bisik Axel lagi lalu tertawa terbahak sambil berjalan ke arah mobil. Lalu meninggal kan Daisy yang mukanya sudah seperti kepiting rebus. Merah menahan malu.
Daisy masuk ke dalam. Karena tak tahu mau ngapain, akhirnya ia masuk ke dalam kamar dan membuka laptop kesayangannya.
Setelah beberapa jam terlena dalam kesibukannya Daisy akhirnya keluar kamar saat jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Ia lalu keluar kamar dan berjalan menuju dapur. Berniat untuk membuat makan siang.
Dilihatnya di dapur sudah ada Hana dan Rosa sedang sibuk mempersiapkan bahan masakan untuk siang nanti. Daisy pun mempercepat langkahnya karena khawatir ternyata ia sudah keduluan Rosa.
"Hi, Ma.. " Sapa Daisy saat ia masuk ke dalam dapur.
Ternyata keadaan tak sesuai ekspektasi Daisy. Rosa hanya diam. Ia hanya melirik sekilas. Lalu sibuk dengan tempe yang sedang Ia potong kecil-kecil. Daisy akhirnya berjalan kikuk menghampiri Ayu.
"Ngapain aja, Nduk. jam segini baru keluar kamar? Masih kurang kemarin istirahat sampai 3hari?" Sindir Rosa tiba-tiba yang seketika membuat jantung Daisy berdetak kencang sampai terasa nyeri.
"Maaf, Ma. Tadi ngerjain pesanan klien sebentar." Masih dengan tangan tak henti membolak-balik ikan agar tak gosong, Daisy menjawab. Bisa bayangkan tidak kalau tiba-tiba itu ikan gosong ditangan Daisy.
__ADS_1
Membayangkannya saja membuat Daisy begidik ngeri.
Rosa diam. Ia lalu keluar dapur saat telah selesai merajang bumbu diatas telanan.
"Emang begitu non kadang Bu Rosa." Ujar Hana menenangkan Daisy.
"Aduh, Mbak. Takut aku." Cetus Daisy sambil tertawa ringan. Tapi emang jujur ia takut. Bingung harus bagaimana mengambil hati Rosa.
"Dibawa santai aja, non." Hana nyengir.
"Mbak Hana sudah menikah belum?"
"Hehe. Belum, Non."
"Yaaah. Padahal baru aja mau minta tips meluluhkan hati ibu mertua." Ungkap Daisy jujur lalu merekapun tertawa. Yang membuat perasaan Daisy jadi agak lebih tenang. Meski ia masih tidak tahu harus apa agar Rosa mau menerimanya.
"Eh, Mbak. Mama biasanya suka apa, ya? Barangkali aku bisa kasih sogokan," Ujar Daisy lagi sambil nyengir. Tapi memang Ia serius. Tiba-tiba aja ide itu terlintas dalam benaknya.
"Wah kurang tahu ya Non. Kalau barang, sih udah semua barang bisa Beliau beli." Sahut Hana.
"Apa aku kasih tas branded ajaa ya. Yaudah deh nanti aku tanya Kak Hera." Gumamnya pelan lebih ke untuk diri sendiri.
Selepas makan siang Ia kembali ke kamar karena bingung harus apa. Ia juga sudah menghubungi Hera meminta pendapat, tapi katanya Ia hanya memberi kado ringan seperti tas baju atau perhiasan.
Akhirnya pilihan Daisy jatuh pada perhiasan. Dia akan memesan design dari designer kenalan temannya nanti.
Meski akan sangat menguras tabungan yang sudah lama Ia kumpulkan. Tak apalah, demi mengambil hati Ibu Mertua.
"Sayang?" Terdengar suara ketukan pintu dan tak berapa lama pintu terbuka lalu terdengar suara Axel memanggil.
"Haaiiii." Ucap Daisy bahagia langsung memeluk tubuh kekar yang sudah sejak tadi ia rindukan.
"Ngapain aja seharian ini?" Tanya Axel mengelus lembut puncak rambut Istri kesayangannya. Daisy mendongak agar ia bisa melihat Axel karena perbedaan tinggi mereka yang jauh.
"Tiduran doang.. Bosen," Keluh Daisy sambil mengerucutkan bibirnya. Membuat Axel tersenyum samar.
Tiba-tiba Daisy merasa tangan Axel yang memeluknya perlahan mulai keatas. Lalu dengan secepat kilat Axel mencium bibir mungilnya yang mendongak.
__ADS_1
"Eemhh. Sayang."
"Yaa?" Jawab Axel sambil terus menciumnya ganas dan tangannya bergerilya ke daerah sensitif nya.
"Makan malem dulu," Ucap Daisy lagi sambil mendorong tubuh laki-laki kekar itu pelan. Tapi Axel justru semakin mengeratkan pelukannya lalu perlahan berjalan menabrak tembok sampai tak ada lagi jarak diantara Ia dan Daisy.
"Aku maunya makan kamu. Sekarang." Ujar Axel parau.
"Aku mau makan daging. Ini. Daging kenyal." Lanjutnya.
Daisy akhirnya pasrah. Ia tak akan bisa melawan kehendak Axel seperti yang sudah terjadi berhari-hari lalu. Semenjak menjadi pengantin baru rasanya tubuhnya letih tak terkira. Tapi tak dipungkiri ia juga menikmatinya.
Selesai mandi Daisy keluar kamar bersama Axel untuk makan malam yang terlambat. Karena mereka sibuk melakukan ritual.
Saat sampai di meja makan Rosa dan Ruslan telah selesai makan. Tapi mereka masih duduk berdua berbincang disana. Daisy yang melihat Rosa begitu ramah dan bahagia saat bersama Ruslan.
Hatinya jadi terasa nyeri mengingat perlakuan dan kata-kata Rosa tadi siang. Tapi, ia bisa apa selain menerima semua dengan lapang dada. Bagaimanapun Rosa sudah menjadi Ibunya.
Meski tak dipungkiri ia ingin sekali akrab dengan Rosa. Bayangannya saat menikah dan tinggal bersama orangtua Axel ia akan merasakan lagi kasih sayang seorang ibu yang telah lama tak ia rasakan. Tapi ternyata tidak semudah itu.
Setidaknya Rosa masih bersikap baik saat bersama Axel dan Dani. Ya perlakuannya sungguh jauh berbeda. Lihatlah sekarang Rosa bahkan menyuruhnya duduk dengan ramah dan menyendokkan se centong nasi dan lauk untuk Daisy.
"Makan yang banyak sayang." Ujar Axel sambil memegang tangan Daisy yang ada di atas meja dengan lembut.
Daisy tersenyum sambil menyuapkan sendok demi sendok ke dalam mulutnya. Mereka bertiga membahas bisnis yang entah tak dimengerti Daisy. Daisy yang sejak awal tak berminat dunia bisnis sama sekali tak tahu dan tak mau tahu.
Selesai makan Axel pamit untuk ke kamar lagi. Daisy pun mengikuti Axel yang menggandeng tangannya menuju kamar lantai atas.
"Mas. Kamu tahu enggak? Sepertinya Mama gak suka sama aku." Ucap Daisy. Sementara Axel sibuk mencium i leher belakangnya. Mereka sedang santai di balkon, Daisy berdiri di pagar dan Axel memeluknya dari belakang.
"Masa? Tadi aja Mama ngambilin kamu makan," Timpal Axel ragu. Ia sampai berhenti mencium Daisy dan membalik tubuh mungil itu menghadap padanya.
"Iya, Mas. Tapi memang sikap Mama saat ada dan tidak ada kamu itu jauh berbeda."
"Aku takut, mas." Sambungnya lagi.
Bagi Daisy orangtua Axel sama dengan orangtuanya yang harus Ia hormati dan kasihi. Ia takut kelepasan membalas dan melukai hati Rosa dan tentu saja Axel pasti akan ikut sakit hati.
__ADS_1
"Iyaudah nanti aku bantu buat ngambil hati Mama, ya. Sekarang kita sambung lagi episode yang tadi." Axel mulai menciuminya lagi. Ia menggendong Daisy yang seketika memekik saat Ia tiba-tiba sudah melayang diatas lantai.
Ia nikmati setiap sentuhan dan pelukan dari Axel. Entah sejak kapan tubuh Axel menjadi candu baginya yang selalu haus sentuhan dan perhatiannya yang membuatnya seketika melupakan apa yang sudah terjadi di masalalu.