Istri Sang CEO Yang Tak Diberi Nafkah

Istri Sang CEO Yang Tak Diberi Nafkah
Dilema


__ADS_3

Meski Axel masih  meragukan anak di dalam kandungan Daisy adalah anaknya. Tapi selama belum ada bukti ia akan tetap berusaha untuk menjaga anaknya. 


Ujang segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat. 


"Cepetan, pak. Tadi Daisy kesakitan perutnya. Takut anaknya kenapa-napa ini." Ucap Axel panik. Ia memegang tangan Daisy erat. 


Sementara Ujang tak menghiraukan ucapan majikannya. Ia fokus menyetir karena dengan kecepatan tinggi butuh fokus yang lebih agar bisa menyetir dengan selamat. 


Beruntung karena hari masih terlalu pagi jadi jalanan lenggang. 


Axel segera membopong Daisy menuju UGD saat mobil sudah sampai di pelataran rumah sakit. 


Ujang pun memanggil doktee dan suster meminta tindakan dan agar dibawakan brangkar. 


Dengan sigap suster menyuruh Axel untuk menaruh Daisy di brangkar. 


"Maaf, pak. Kronologinya bagaimana kenapa bisa pingsan?" Tanya dokter yang sedang memeriksa Daisy. 


"Istri saya sedang menelfon seseorang, dok. Tapi tiba-tiba ia seperti kesakitan perutnya dan jatuh pingsan. Istri saya sedang hamil,dok." Ucap Axel. Ia mengusap rambutnya dengan gusar. 


"Baik. Tolong tunggu di depan ya pak." 


Beberapa suster pun menuntun Axel  agar menjauh dari ruang rawat ugd. Dengan pasrah Axel menurut. 


Ia menunggu dengan gelisah di depan ruang UGD. Sementara Pak Ujang tengah mengurus administrasi. 


"Dengan keluarga Ibu Daisy?" Tanya Dokter yang sudah keluar dari ruangan. 


"Saya, Dok." Axel pun tergopoh bangun dari duduknya. 


"Bu Daisy baik-baik saja. Dijaga kesehatan mental dan fisiknya ya, Pak. Ibu hamil enggak boleh terlalu banyak fikiran apalagi stres." Ujar dokter mengingatkan. Axel menghembuskan nafas lega. 


Seketika fikirannya melayang saat tadi malam ia dan Daisy bertengkar hebat. Pertengkaran terhebat mereka berdua. 


Apakah gara-gara itu? Batin Axel


"Baik, dok. Terimakasih." 


"Baik. Saya permisi,"


Saat berjalan mengantar Daisy ke ruang rawat ia mulai berfikir semua yang telah dikatakan oleh Daisy. 


Tentang uang nafkah yang tak sampai di tangannya. Tentang Rosa yang selalu menghinanya. Tentang fitnah atas semua bukti yang membuktikan perselingkuhannya. 


Apa mungkin itu yang membuat Daisy sampai akhirnya drop. Ataukah ia takut hubungannya dengan Ebra -selingkuhannya- akan terganggu karena Axel sudah mengegahui semuanya. 


"Saya tinggal dulu ya, Pak. Silahkan beritahu kami jika terjadi apa-apa," Ucapan ramah suster membuyarkan lamunan Axel. Ia hanya mengangguk dan menutup pintu rapat. 


Menatap nanar pada brangkar tempat Daisy kini terlelap. 

__ADS_1


Ia beringsut pelan, lalu duduk di samping kursi brangkar Daisy. 


Tak dipungkiri rasa sayangnya masih begitu besar untuk Daisy. Ia tak mau kehilangannya tapi juga tak rela melihat pengkhianatan di depan matanya. 


"Kenapa?" Lirih Axel dengan suara parau. Ia mengelus pelan pipi putih Daisy. 


Ia terus memandangi wajah cantik Daisy. Hidung mancung dan mulut mungilnya terlihat begitu indah. Daisy seperti putri tidur yang sedang beristirahat. 


"Cantik… " Gumam Axel lagi. 


Tiba-tiba saja jari lentik Daisy bergerak pelan. 


"Ayah.!" Teriak Daisy tiba-tiba. Ia menoleh kekanan dan kiri dengan muka panik. Menatap sekilas Axel yang sedang menatapnya heran. 


"Aku dimana?" Tanya  Daisy dengan panik. Matanya gelisah menatap sekitar. 


"Rumah sakit." Jawab Axel singkat. Gengsi.


"Astaghfirullah Ayah. Aku harus ke ruangan Ayah." Lirih Daisy ia dengan panik dan tangan bergetar berusaha melepas jarum infus yang menancap di tangannya. 


"Hey… hey… tenanglah. Bicara pelan-pelan." Axel dengan sigap mencegah tangan Daisy yang hendak melepas infusnya. 


"Ayah kecelakaan, Mas. Sekarang dirumah sakit." Lirihnya. Lagi-lagi netranya mengeluarkan airmata untuk kesekian kalinya. 


"Tenanglah Daisy. Kau tahu? Kau  hampir membuat bayi kita dalam bahaya karena tingkah panikmu ini." Ucap Axel santai. 


Mata Daisy seketika membulat mendengar kata-kata Axel. Apakah ia sudah mengakui anaknya lagi? 


"Pelita, Mas. Mas mau kemana?" 


"Tenang, aku enggak akan ninggalin kamu. Aku cari kursi roda dulu nanti kita cari ruangan Ayah." Ucap Axel. Ia pun meninggalkan Daisy yang terheran dengan sikap Axel yang ramah seperti biasa. Agak dingin memang. Tapi, setidaknya tidak mengamuk seperti tadi malam. 


Beberapa saat kemudian Axel datang dengan kursi rodanya. 


Ia pun mengangkat Daisy pelan dan mendudukkannya di atas kursi roda. 


"Terima kasih." Lirih Daisy pelan


"Sama-sama"


Mereka pun berjalan dalam diam. 


"Mas sudah tau dimana ruangannya?" Tanya Daisy memecah keheningan saat mereka berdua telah masuk di dalam lift. 


"Sudah," 


"Mas maafin Daisy."


"Untuk?"

__ADS_1


"Yang mungkin kehadiranku justru membuat hubungan Mas dan Mama jadi tidak baik." Ujar Daisy tulus. 


Axel hanya diam. Tak mengucapkan sepatah kata apapun. 


Sampai  mereka melihat Gio, Suami Hera sedang duduk di depan sebuah ruangan. Gegas ia berdiri saat melihat kehadiran Daisy dan Axel. 


"Hey, Bro." Ucap Gio menyalami Axel dengan sapaan khas laki-laki. 


"Mas. Ayah gimana?" Tanya Daisy khawatir. Ia ingin mendorong kursi rodanya sendiri saat Axel berhenti. Tapi seketika ditahan oleh Axel. 


"Ayah enggak apa-apa. Lukanya juga tidak terlalu parah. Kamu masuk aja dulu." 


Axel pun segera mendorong kursi roda Daisy masuk ke dalam. 


Di dalam terlihat Hera yang sedang mengupaskan apel duduk di samping Ayah. 


"Ayah." Daisy menghambur ke pelukan Ayahnya saat telah sampai di samping brangkar Dani. 


"Lho. Kamu sakit apa,?"


"Mungkin karena shock, Pa. Tapi kata dokter enggak apa-apa. Hanya perlu istirahat dan jangan terlalu banyak fikiran." Axel yang menjawab pertanyaan Dani. 


"Jaga diri baik-baik ya nak. Ingat ada 2 nyawa dalam tubuh kamu." Nasihat Dani pada Daisy. 


"Iya, Pa." Jawab Daisy singkat. 


Entah apa yang akan dilakukan Dani jika saja ia tahu apa yang sudah keluarga Axel lakukan pada Daisy. Akankah Dani akan tetap menyapa Axel dengan hangat? 


"Padahal aku berniat mau membawa Aurora pulang. Malah kamu ikutan sakit." Protes Hera pada Daisy. 


"Ih. Kak Hera adiknya sakit bukannya dirawat dikasi semangat malah ngomel." Tukas Daisy 


"Lagian mikir apa coba. Suami ganteng dan kaya raya. Anak juga udah punya. Kurang apalagi?" Cetus Hera tiba-tiba. 


Diam-diam Daisy tersenyum getir menatap Axel yang sibuk bercengkrama dengan Dani. 


Beruntung Axel masih mempedulikannya. Ia pun salut dengan sikap Axel yang masih memperhatikannya meski rumah tangganya di ambang kehancuran. 


Kalau saja ia tak mendapat kabar Dani kecelakaan, pasti kini Hera dan Dani sudah mengetahui keadaan rumah tangganya. 


"Yasudah. Daisy kamu kembali ke kamar saja. Istirahat, jangan sampai bayi mu kenapa-napa. Sudah ada Hera yang kagain Ayah." Ujar Dani terlihat khawatir. 


"Apa enggak bisa kita sekamar aja, yah?" Pinta Daisy pada Dani. Tapi matanya justru menatap Axel dengan penuh harap. 


"Jangan. Sudah cepet kembali sana."


"Iya. Iya." Ucap Daisy seraya mengembungkan pipinya. 


"Kek bocah." Celetuk Hera tiba-tiba yang langsung mendapat tabokan dari Daisy. 

__ADS_1


"Saya permisi, Yah. Semoga lekas membaik." Ucap Axel tulus sembari mencium punggung tangan Dani dengan takzim. 


"Hati-hati," Hera berucap sambil menerima uluran tangan Axel untuk bersalaman. 


__ADS_2