
Hari ini akhirnya Ayah sudah bisa pulang ke rumah setelah seminggu dirawat.
Daisy sudah keluar dari rumah sakit lebih dahulu. Ia hanya dirawat 2 hari.
"Hati-hati, Yah." Tutur Daisy saat melihat Axel memapah Dani dengan begitu hati-hati kekursi roda.
"Nah… sudah. Ayo kita pulang," Ujar Axel
Mereka pun berjalan keluar ruangan sembari mengobrol ringan.
Hera dan Gio sudah pulang lebih dulu. Mereka berdua memang hanya menjaga Dani beberapa waktu, karena Gio harus bekerja sedang kan Hera harus menjaga Aurora.
Axel dan Daisy lah yang menjaga Dani dengan sepenuh hati.
Hubungan Daisy dan Axel masih belum membaik. Tapi Axel selalu bersikap baik di depan Dani. Mereka masih berpura-pura bersikap biasa di depan Dani
Tapi, saat mereka hanya berdua Axel mendadak berubah menjadi sosok orang yang tak dikenal Daisy.
Ia begitu dingin. Axel yang dulu begitu memperhatikan Daisy kini sangat dingin padanya.
Mobil mereka akhirnya memasuki halaman rumah Dani.
Aurora dengan tingkah riangnya berlari keluar sedangkan Hera menyusul di belakangnya.
Kaki mungilnya mengayun cepat dengan begitu bersemangat. Terlihat sangat menggemaskan.
Dengan hati-hati Axel memapah Dani, karena tulang kakinya patah jadi masih belum bisa berjalan dengan normal.
"Mbaahhh." Panggil aurora sambil merentangkan tangan menghadang Axel dan Dani yang berjalan memasuki rumah.
"Jangan dulu ya, sayang. Mbah masih belum bisa gendong Rora." Daisy dengan sigap mengangkat Aurora lalu memberi pengertian padanya.
"Kenapa?" Tanya Aurora dengan muka polosnya. Matanya berkedip meminta penjelasan. Si kecil itu memang sangat dekat dengan Dani, meski mereka hanya sesekali bertemu.
"Karena kaki mbah masih sakit. Kan, Mbah abis kecelakaan." Jawab Daisy. Ia mencubit gemas hidung mungil Aurora.
"Yaudah. Semoga Mbah cepat sembuh, ya." Doa Aurora dengan tulus. Ia mengusap muka dengan kedua tangan membuat orang yang melihat tertawa gemas.
"Mas Gio sudah balik, Mbak?" Tanya Daisy saat sudah duduk di ruang tamu.
Sementara Axel memapah Dani sampai ke kamarnya.
"Sudah balik ke malang kan harus kerja sambil ngurus butik,"
"Terus yang ngurus cafe Ayah?"
__ADS_1
"Biasalah Farel. Dia bisa diandalkan kok. Mbak juga kemarin sesekali berkunjung."
"Coba kalau buka cabang kayaknya enak itu mbak. Kan cafe Ayah selalu rame."
"Kan sejak dulu Ayah yang enggak mau. Sudah tua katanya. Maunya istirahat aja dirumah. Kalau kamu bisa ngurusnya ya enggak papa."
Ucapan Hera membuat Daisy merenung. Sepertinya memang ia harus meminta Ayah buat membuka cabang cafe.
Fikirannya sudah melayang jauh. Ia takut jika rumah tangganya benar-benar tak bisa diselamatkan itu artinya ia harus membesarkan anaknya sendirian.
Ia memang sudah lancar dengan usaha freelance nya tapi tetap saja. Kebutuhan anak tidak sedikit. Jadi, ia ingin mencoba segala peluang yang ada. Agar bisa memberikan fasilitas terbaik untuk anaknya kelak
"Mas Axel mana, ya?" Tanya Daisy saat beberapa lama Axel masih belum terlihat.
Hera cuma mengedikkan bahu sesaat sambil sibuk dengan layar gawainya.
Akhirnya ia pun berdiri, berjalan ke kamar Dani.
"Ayah. Kok enggak tidur." Ucap Daisy yang sudah berada di ambang pintu kamar Dani.
Ia melihat Ayahnya tengah membaca buku.
"Istirahat dulu, Ayah… " Tegur Daisy
Ia mengambil buku yang sedang ada di tangan Dani.
"Bagaimana kabar cucu Mbah" Tanya Dani seraya mengusap pelan perut Daisy dengan penuh sayang
"Allhamdulilah sehat, Yah."
"Kamu sama keluarganya Axel gimana? Akrab?" Tanya Dani yang seketika Membuat Daisy tertegun.
Entah karena ikatan batin antara Ayah dan anak. Atau memang sekedar pertanyaan basa-basi.
Sampai saat ini, baik Daisy maupun Axel masih bungkam. Tak menceritakan masalah mereka pada siapapun apalagi keluarga Dani.
"Ayah… " Panggil Daisy lirih. Sudut netranya meneteskan airmata pelan.
"Ada apa? Sini cerita." Dani pun segera menarik buah hatinya kedalam pelukannya.
"Sebenarnya Mama tak menyukai Daisy, Pa." Lirih Daisy pelan. Ia bingung bagaimana harus bercerita. Harus mulai darimana.
Dani masih diam. Tangannya menggenggam lembut tangan Daisy seolah ingin memberinya kekuatan untuk bercerita.
"Mama selalu baik jika saat ada Mas Axel. Tapi, saat Mas Axel tidak ada, pasti sikapnya akan langsung berubah," Ucap Daisy. Ia mendongak saat merasakan airmata nya kian mengalir deras.
__ADS_1
"Enggak papa. Keluarkan aja semua." Tutur Dani.
Akhirnya Daisy justru menangis tergugu dipelukan Dani. Ia tak kuat mengatakan sepatah katapun. Lidahnya kelu. Dadanya sesak.
Ia tumpahkan semua sesak yang selama ini ia tahan demi menjaga marwah suaminya.
Ia tak mau jika Dani berfikiran buruk tentang Rosa dan Axel. Tapi, cukup sudah. Sudah cukup ia menahan segala sesuatunya sendiri. Toh, setelah inipun tak ada kejelasan akankah hubungannya bertahan atau terpecah.
Lama Daisy tergugu. Tanpa Daisy dan Dani sadari sedari tadi ada sepasang telinga yang sedang mendengarkan percakapan mereka.
Axel berdiri di depan pintu yang terbuka dengan tangan kanan memegang segelas jus jambu. Ia berdiri mematung. Masih mencerna apa yang barusan ia dengar.
Apakah Daisy hanya berpura-pura agar mendapat simpati dari Dani. Ataukah selama ini benar apa kata Daisy bahwa Rosa tak menerimanya dengan baik.
Beberapa detik kemudian ia tersadar akan sesuatu dan segera mengambil ponsel di saku celananya.
-Cari foto Daisy dengan laki-laki itu di ruanganku. Selidiki apakah foto itu benar atau editan. - Tulis Axel pada aplikasi hijau yang ia tujukan untuk Toni. Asistennya.
Setelah menimbang akhirnya Axel berusaha untuk mencari kebenarannya sendiri. Ia masih tak tahu siapa yang harus ia percaya. Tapi, sungguh tangisan Daisy begitu menyayat hatinya.
"Loh. Axel kamu ngapain disini?" Tanya Hera yang tengah memergoki Axel sedang berdiri di depan kamar Dani.
"Eh. Mbak. Ini mau bawakan jus jambu buat Ayah." Jawabnya berusaha mengurangi rasa kagetnya.
"Masuk aja toh. Ngapain juga cuma berdiri kaya patung pajangan." Kelakar Hera.
"Maaf, Mbak. Mbak mau masuk, kan? Aku nitip ini ya mbak."
"Sama minta tolong kasih tahu Daisy aku pamit dulu ada kerjaan mendadak. Nanti kalau sudah selesai aku bakal langsung pulang, kok." Sambung Axel, dengan tergesa ia menarik tangan Hera dan memaksanya menerima gelas yang tadi ia bawa.
Axel pun segera menjauh dengan langkah cepat ia berjalan kearah pintu keluar.
Sementara Hera yang tak memprediksi tingkah Axel pun cuma melongo.
"Eh eh. Kenapa enggak langsung bilang aja. Tuh Daisy di dalem." Teriak kak Hera pada Axel yang sudah mulai menjauh
"Maaf, kak. Aku buru-buru. Urgent banget ini." Jawab Axel masih dengan berteriak pula.
Hera akhirnya hanya bisa geleng-geleng kepala sampai akhirnya melangkah masuk.
"Aduh.!" Keluh Hera saat tiba-tiba ia menabrak dinding sebelah pintu, karena matanya sibuk memperhatikan Axel.
"Ih. Dasar.!" Ucapnya sambil memukul tembok yang tadi ia tabrak.
"Makanya, kalau jalan pake mata kak. Tembok cuman diem malah disalahin." Seloroh Daisy sambil terkekeh. Ia yang tadi menangis seketika tertawa saat melihat tingkah Hera.
__ADS_1
Daisy sudah sadar keberadaan Axel saat tiba-tiba Hera menyapa Axel. Ia pun juga tahu saat Axel tiba-tiba pamit ke kantor.
Daisy tahu itu hanya alasannya untuk menghindar. Tapi, ia hanya diam. Tak tahu juga harus berbuat apa. Mungkin berpisah sejenak adalah pilihan terbaik. Sambil memikirkan kembali langkah apa yang akan mereka ambil.