
Axel tidak pulang ke rumah. Ia menerobos jalanan menuju salah satu vilanya yang ada di area perbukitan.
Ia juga sudah menghubungi Toni untuk beberapa hari menghandle semua pekerjaannya.
Ia hanya ingin menenangkan diri sejenak. Sembari menyiapkan diri untuk kebenaran di depan matanya.
Setelah sampai ia segera memarkirkan mobil mewahnya dengan sembarangan. Lalu melemparkan kunci pada penjaga gerbang yang segera tergopoh menghampirinya.
"Mbak Sari." Sapa Axel melihat perempuan paruh baya yang bertugas menjaga vilanya itu tergopoh menghampirinya.
"Ya, Tuan." Jawab Sari sambil menunduk.
"Stok alkohol masih ada enggak?" Tanya Axel tanpa basa-basi. Ia menyerahkan jaket yang sedari tadi ia kenakan kepada Sari.
"Ada, Tuan."
"Bawakan ke kamar atas." Ucapnya singkat.
Sari menghela nafas lega saat Axel berlalu dari hadapannya.
Axel memang terkenal dengan wajah garangnya. Jadi, untuk para pekerja yang jarang melihatnya pasti ia terlihat menakutkan meski wajahnya rupawan.
Apalagi kali ini memang suasana hatinya sedang tidak baik. Jadi memang kentara sekali jika ia seperti orang yang sedang menahan emosi.
Tok tok tok
Sari mengetuk pintu pelan sambil membawakan 3 botol alkohol permintaan Axel.
"Cuma ini?" Tanya nya memastikan dengan mata memicing.
"Masih ada, Tuan."
"Bawakan 10 botol, ada?"
"Baik."
Sari pun segera berlalu mengambilkan lagi pesanan tuannya.
Axel terduduk di tepi ranjang sambil menengguk satu botol alkohol dengan sekali teguk.
Sudah lama sekali sejak ia terakhir mengonsumsi alkohol. Mungkin tepatnya saat ia mengenal Daisy.
__ADS_1
Entah mengapa wajah teduh perempuan ayu itu begitu menenangkan untuknya.
Ia sudah tertarik dengan Daisy bahkan saat ia pertama kali melihat Daisy turun dari mobil di parkiran pantai saat itu.
Itu juga sebabnya Axel tahu saat Daisy berusaha menenggelamkan dirinya karena sejak memasuki area pantai mata Axel tak lepas dari Daisy.
Ia juga tahu saat itu perempuan itu tengah tidak baik-baik saja. Itulah sebabnya Axel akhirnya mencoba mencari tahu lewat orang kepercayaannya.
Dari situlah ia tahu hubungan Daisy dengan Ebra yang sudah merajut kasih bertahun-tahun.
Sebenarnya ia sudah menunggu saat Daisy akan bercerita. Tapi justru Daisy selalu menghindar saat dirinya mencoba untuk membahas perihal tindakannya di pantai kala itu.
Sampai akhirnya Rosa datang ke kantornya dengan berbagai foto mesra Ebra dan Daisy. Awalnya ia ingin membantah dan mengatakan kalau itu foto lama.
Tapi, saat diperhatikan lagi foto itu jelas berbeda dengan Daisy yang dulu. Karena dulu tubuh Daisy ramping. Namun sekarang terlihat berisi semenjak ia hamil.
Saat itu ia langsung dikuasai oleh amarahnya dan tanpa fikir panjang segera membuang foto itu di kantornya dan berjalan pulang.
Niatnya untuk berbicara baik-baik. Tapi ternyata ia tak mampu menguasai emosi dan rasa cemburunya.
Segala fikiran buruk perlahan mengusai. Sampai ia berfikir mungkin saja Daisy masih mencintai mantan pacarnya itu.
Hingga akhirnya ia lepas kendali dan mencerca Daisy dengan perlakuan dan perkataan buruk.
"Terimakasih" Ucap Axel pada Sari yang masih terus menunduk.
Axel pun melanjutkan kembali minumnya meski badannya sudah sempoyongan.
Ia butuh pelampiasan. Apalagi akhir-akhir ini Rosa terus mengingatkan tentang traumanya yang sudah mulai ia kubur dalam-dalam.
***
Sementara itu di tempat lain Daisy tengah sesenggukan di pangkuan Dani. Ia sudah menceritakan semuanya.
Tentang ketidak sukaan Rosa. Tentang masuknya Fanya. Tentang nafkah yang ditahan. Dan tentang fitnahan Rosa dan Fanya.
Sedari tadi Hera sudah mengumpat berkali-kali. Ia sungguh ingin menghampiri Rosa saat itu juga jika saja tak di halangi oleh Dani.
"Udah tua bukannya tobat ibadah yang banyak, malah bikin hidup orang lain menderita." Geram Rosa sambil menggenggam jemari tangannya erat.
"Hera! Jaga ucapan." Tegur Dani. Ia hanya geleng-geleng kepala mendengar semua perkataan Hera yang sedari tadi mengumpat pada Rosa.
__ADS_1
Rosa terdiam sambil tersenyum canggung dan menggaruk kepalanya pelan. Tak sadar jika kata-katanya sudah melewati batas. Padahal ia sedang satu ruangan dengan Dani.
"Lalu kamu bagaimana Daisy?" Tanya Dani lembut.
"Daisy bingung, yah. Andai Rosa bersikap baik pada Daisy pasti sekarang hidup Daisy sudah amat sangat bahagia." Lirih Daisy
"Axel cuma satu. Tapi laki-laki yang lebih baik dari Axel jelas lebih dari satu." Celetuk Hera.
"Tapi, Kak. Axel selama ini selalu baik sama aku." Bela Daisy. Memang benar nyatanya Axel adalah suami sempurna menurutnya.
"Lalu? Buka mata kamu Daisy. Kamu bilang laki-laki yang selalu bersembunyi di ketiak Ibunya itu baik?" Cecar Hera tak tahan.
"Ceo macam apa yang bahkan tak bisa membedakan mana yang terbaik untuk istrinya."
"Dan. Suami macam apa yang selalu mengkesampingkan keluhan istrinya?." Desak Hera tanpa ampun.
Ia sudah amat gemas dengan Daisy yang terlalu baik dan sabar. Andai jika ia yang ada di posisi Daisy saat ini. Pasti ia sudah lama mencari laki-laki lain.
"Jangan cuma karena kamu disuapi makanan. Sampai akhirnya kamu tak melihat bahwa ia menyuapimu dengan makanan basi," Sambung Hera tanpa ampun.
Daisy menunduk. Mencoba mencerna semua kata dari Hera. Tapi entah karena terlalu cinta atau terlalu baik. Tetap saja Axel terlalu baik dimatanya.
"Yang dikatakan kakakmu memang benar, Daisy. Jadi seorang kepala rumahtangga dan imam itu harus tegas." Kali ini Dani yang sedari tadi hanya mendengarkan ucapan Hera ikut menimpali.
Ia hanya ingin yang terbaik untuk anaknya. Ia membenci perceraian. Tapi, bukan berarti ia akan memaksa Daisy untuk terus menjalani hubungan yang akan membuatnya tertekan.
Daisy yang menjalani, Daisy juga yang harus memutuskannya sendiri
"Daisy butuh waktu Ayah. Tapi sepertinya Daisy tak akan menuntut cerai. Kecuali jika Axel sendiri yang mengucap talak pada Daisy." Ucapnya getir sembari berdoa di dalam hati semoga itu tidak akan pernah terjadi.
"Apalagi Daisy masih belum tahu. Apa yang di gunakan Fanya dan Mama untuk menghasut Axel. Bisa-bisanya Axel langsung percaya begitu saja." Ucap Daisy heran.
"Ya ampun Daisy. Jangan terlalu baik jadi orang, kamu itu harus tegas dek. Biar enggak ditindas kaya gini." Keluh Hera.
"Bukannya terlalu baik, kak. Siapa tahu jika Daisy dan Axel bisa melalui ini dengan baik kami akan dipersatukan sampai maut memisahkan. Salah satu mimpi Daisy ingin menikah sekali seumur hidup, kak. Jadi, selama Daisy mampu akan Daisy hadapi semua ujian yang sedang Allah berikan." Bela Daisy
"Sudah-sudah. Ayo kita makan malam dulu." Ucap Dani menengahi. Tak ingin situasi semakin panas. Apalagi dua kakak beradik itu sejak dulu sering berselisih paham.
"Yaudah, Yah. Ayah makan disini, kan?" Tanya Hera pada Dani.
"Iya"
__ADS_1
"Daisy ke toilet dulu ya, Yah." Pamit Daisy.
"Iya tuh. Cuci muka sana. Mukamu penuh ingus." Ucap Hera sambil mengedikkan bahu sambil mengeluarkan ekspresi jijik.