
Ruslan mengendarai mobil membelah jalanan yang mulai padat
"Ke cafe deket sini aja, Pa. Aku ada acara enggak bisa lama-lama." Pinta Axel tanpa berpaling. Matanya fokus menatap jalanan dari jendela mobil.
"Apa yang kau lakukan Axel? Kenapa kau justru memcari gara-gara dengan menyakiti Fanya?!" Hardik Ruslan tanpa basa-basi.
"Menyakiti?" Tanya Axel. Ia menoleh pada Ruslan bingung.
"Iya.! Kini Fanya harus masuk rumah sakit karena luka di kepalanya harus dijahit." Tuduh Ruslan lagi.
"Apa maksud Papa? Aku memang sempat kerumahnya. Tapi sama sekali aku tak melakukan kekerasan padanya.!" Ungkap Axel. Memang benar, kan? Ia hanya menampar. Bukan melemparkannya ke dalam jurang yang sampai harus mendapat jahitan.
"Bian yang bercerita sendiri. Dan kini aku akan mengajakmu untuk menemuinya karena kamu harus meminta maaf pada Fanya dan keluarganya. Jangan mengelak lagi, Axel." Tuduh Ruslan lagi
Axel semakin meradang. Kepalanya pening kembali lagi ia harus dihadapkan pada drama yang diciptakan Fanya.
"Pa. Papa lebih percaya Om Bian daripada aku anakmu?" Sesal Axel.
"Tapi, para pembantu yang bekerja sudah memberikan kesaksian mereka."
"Lalu Papa percaya? Mereka berkuasa. Beruang dan mampu membeli kesaksian siapapun apalagi yang cuma Pembantu rumah tangga." Ucap Axel heran
Ruslan diam tak membantah perkataan Axel.
"Kau harus tetap meminta maaf. Axel." Gumam Ruslan ragu, karena ia tahu kata-katanya tak akan bisa diterima dengan mudah oleh Axel
"Apa?" Pekik Axel tertahan. Ia sampai memutar kepalanya agar bisa melihat ekspresi Ruslan saat mengatakannya.
"Kau tahu, kan. Siapa Papanya Fanya. Bian. Temanku satu-satunya yang dulu mau membantuku saat aku tak punya apapun Axel."
"Cih. Bukan berarti Papa bisa membenarkan segala tingkah lakunya." Ucap Axel berdecih tak percaya dengan sikap Ruslan. Merasa ada yang sedang disembunyikan olehnya.
"Bukan membenarkan. Bian mungkin juga dijebak oleh Fanya."
"Nah. Tugas kita untuk meluruskan, Pa. Bukan membenarkan hal yang sudah jelas salah,"
Ruslan terdiam menepikan mobilnya di pinggir jalanan yang masih ramai lalu lalang kendaraan
Ruslan sangat takut jika terlibat masalah dengan Bian. Berkat Bian-lah ia bisa sesukses sekarang.
Dan bukan isapan jempol belaka jika Ruslan bilang Bian akan dengan mudah merobohkan perusahaannya dengan satu jentikan jari.
__ADS_1
Ia sangat ingat hari dimana Axel dan Fanya meresmikan hubungan mereka. Dua sejoli itu bak bulan dan bintang yang ditakdirkan untuk hidup berdampingan.
Tapi, sayang. Ternyata watak Fanya sangat berbeda jauh dengan Bian ayahnya. Fanya dengan mudah mengencani laki-laki lain saat ia masih menjalin hubungan dengan Axel.
"Baiklah," Ruslan menuruti apa kata Axel.
Dulu, seperti saat ini. Ia pun menolak perpisahan Axel dan Fanya. Dengan alasan yang sama. Bisnis dan tali persahabatan.
Tapi, yang terjadi justru Ruslan dibuat membelalakkan mata melihat semua bukti yang pelan-pelan dikumpulkan Axel.
Axel sengaja mengikuti kemauan Ruslan dan Bian untuk terus menjalin hubungan, hanya untuk mencari bukti.
Mereka berdua sama-sama terdiam sibuk dengan isi kepala masing-masing. Axel menatap jalanan yang kian ramai.
Teringat Daisy yang sedang menunggu kepulangannya. Teringat tentang batalnya niat mereka untuk pindah hari ini.
Ia merutuk pada jalanan yang ramai hingga mobilnya hanya bisa berjalan menyamai orang yang bersepeda.
Akhirnya setelah 2jam berada dijalanan yang macet sampailah mereka di sebuah gedung rumah sakit grade A.
Ruslan menaiki lift. Memencet lantai teratas dimana tempat ruangan-ruangan vvip kelas atas.
"Assalamualaikum" Ucap Axel dan Ruslan kompak memberi salam
Sudah lama ia tak melihat ekspresi Rosa yang seperti ini.
Tanpa sadar Axel tersenyum getir. Berharap keputusannya untuk membawa Daisy kembali akan membuahkan kehidupan yang lebih baik.
Di sudut ruangan tempat sofa mewah bertengger sudah terduduk seorang lelaki paruh baya yang sedang menatap mereka tajam.
Fabian guntoro lantas beranjak dari duduk manisnya. Ia berjalan dengan jumawa kearah Axel dan Ruslan.
"Brengsek.!!!" Hardik Bian lalu dengan satu kali ayunan tangan terkepalnya mampu membuat hidung dan bibir Axel berdarah.
"Berani kau menampakkan wajah mu dihadapanku?!" Bentak nya lagi.
"Tenang Bian.! Kami kesini untuk meluruskan kesalah fahaman." Kata Ruslan masih dengan wajah tenangnya meski terlihat anaknya sudah memegangi pipinya
"Apa yang mesti diluruskan? Kalau mau tobat sana cari ustad di masjid. Bukan disini tempatnya." Bian masih menatap nyalang Axel yang masih berwajah tenang.
"Maaf, Om… "
__ADS_1
Belum selesai Axel mengutarakan maksudnya lagi-lagi Bian melayangkan tinjunya hingga membuat tubuh Axel jatuh terduduk.
Meski usia Bian sudah lebih dari setengah abad tapi tenaga dan staminyanya masih sempurna. Karena selalu menjaga gaya hidup dan olahraga.
"Bawa kembali kata maafmu. Aku tak sudi menerimanya."
"Saya tak ingin meminta maaf atas kesalahan yang tak pernah Saya lakukan, Om." Ucap Axel cepat, menatap Bian tanpa rasa takut sedikitpun
"Apa maksudmu." Tangan Bian kembali melayang. Tapi, kini hanya sampai di udara karena ditahan oleh Ruslan.
"Dengarkan dia dulu, Bian." Pinta Ruslan
"Apa yang harus aku dengarkan dari anak ingusan yang tak tahu dimana harus menempatkan diri." Bian masih menatap Axel nyalang. Matanya memancarkan amarah yang tak pernah Axel lihat sebelumnya.
"Saya minta maaf. Saya memang melakukan kekerasan. TAPI… " Ucapan Axel terpotong dengan layangan tangan Bian kembali.
"Tapi saya hanya menamparnya bukan membuatnya babak belur sampai harus masuk rumah sakit." Axel mengatakan itu sambil terus menatap lamat pada Bian. Sama sekali tak mau menunjukkan rasa takut yang justru akan menimbulkan keraguan.
"Apa!?" Bentak Bian. Suaranya berubah lebih tinggi lagi. Seakan tak percaya dengan apa yang Axel katakan. Atau hanya pura-pura
"Iya Pak. Saya tak pernah melukainya. Saya hanya membuat pipinya memerah. Bukannya menghajar dengan tendangan atau semacamnya." Pandangan Axel beralih pada wanita yang kini terbaring. Fanya sama sekali tak melihatnya. Sibuk dengan suapan demi suapan dari tangan Rosa.
"Fanya.!" Panggil Bian. Suaranya melengking naik beberapa oktaf.
"Iya?" Bukannya takut. Tapi, Fanya justru menatap Bian dengan tatapan yang sulit diartikan. Entah apa yang sedang wanita itu lakukan dan fikirkan.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Bian kali ini matanya beralih menatap Axel.
Axel menceritakan semuanya tanpa ada yang ditambah ataupun dikurangi.
Dan benar dugaan Axel. Bian tak pernah memihak siapapun. Ia hanya memihak siapa yang benar.
"Benarkah begitu?" Bian menatap nyalang kali ini tatapannya beralih pada Fanya yang sedari tadi hanya diam.
Merasa tak ada yang mendukungnya, Fanya menolehkan kepala pada Rosa.
"Sudahlah, Bian. Jangan terlalu kasar. Fanya masih sakit." Bela Rosa yang justru memihak pada Fanya.
Axel terperangah. Menatap tak percaya pada Rosa yang justru melindungi orang yang sudah memfitnahnya. Atau justru mereka bersekongkol?
"Maaf. Pak. Kalau sudah selesai salah fahamnya saya pamit. Istri saya sudah menunggu dirumah." Pamit Axel saat membahas istrinya ia menatap Fanya dan Rosa bergantian.
__ADS_1
"Baiklah. Aku juga minta maaf karena sudah menuduhmu tanpa mendengarkan penjelasanmu." Ucap Bian jumawa. Axel selalu kagum dengan sikap laki-laki paruh baya teman Papanya itu. Yang entah mengapa sangat berbanding terbalik dengan putrinya.