
Daisy membuka aplikasi M-banking dengan helaan nafas panjang. Tabungannya semakin menipis. Karena akhir-akhir ini ia berhenti menerima pekerjaan dari client.
Mual dan pusingnya masih terasa hingga membuatnya sulit fokus yang akhirnya memilih untuk berhenti sejenak mengambil job.
Mau meminta pada Rosa ia ragu. Meski ini memang haknya tapi tetap saja. Pasti tak akan semudah itu.
Akhirnya setelah lama menimbang ia pun berjalan keluar kamar. Mencari Mama mertuanya yang biasanya bersantai di gazebo dekat kolam renang.
Sejenak ia terdiam di pintu samping rumah saat dilihatnya Rosa sedang duduk bersantai dengan Fanya yang sepertinya sedang terlibat obrolan yang menyenangkan.
Hatinya mencelos nyeri terasa. Bagaimanapun juga itulah momen yang begitu ia dambakan.
Ia masih diam sambil menimbang keputusannya untuk meminta nafkah. Pasti akan di iringi tawa mengejek dari Fanya. Apalagi wanita itu teramat senang melihatnya kekurangan.
Setelah lama berdiri akhirnya dia memutuskan untuk kembali. Percuma hanya akan menimbulkan perdebatan yang hanya akan mengiris relung hatinya.
Nanti saja lah ia bisa meminta pada Axel. Fikir Daisy saat itu
***
Daisy tengah tertidur pulas saat Axel membuka pintu kamar. Ia pandani wajah cantik yang hampir satu tahun menjadi miliknya itu.
"Hmmm," Daisy menggeliat saat merasakan sentuhan pada pipi putih dan mulusnya.
"Hai. Aku membangunkanmu, ya.?" Ujar Axel pelan. Tangan kekarnya tetap meneliti setiap inci bagian wajah Daisy.
Daisy diam. Ia menikmati setiap sentuhan penuh kasih sayang yang diberikan oleh Axel.
Luka hati atas sikap Rosa perlahan memudar. Ya. Perhatian dan cinta Axel yang membuatnya dapat bertahan selama ini.
"Tunggu. Mandi dulu." Lirih Daisy saat tiba-tiba sentuhan Axel mulai mengarah ke daerah sensitifnya.
Axel terkekeh pelan lalu mencium kening Daisy dan berlalu menuju kamar mandi.
Daisy termenung di tepi ranjang sembari menunggu Axel keluar dari kamar mandi. Menyiapkan kata agar tak melukai hati suaminya.
"Kenapa? Kok melamun sih?" Ujar Axel tiba-tiba sudah memeluknya dari belakang.
"Mas. Kita menikah sudah hampir satu tahun. Dan kini aku sedang hamil," Pelan Daisy memulai percakapannya.
"Iya." Jawabnya singkat ia bersimpuh di kaki Daisy sambil memijat kakinya pelan. Aaahh tingkahnya memang sungguh manis.
"Aku butuh uang." Lirih Daisy pelan sambil menunduk. Sesaat gerakan tangan Axel terhenti. Lalu menatap Daisy dengan raut muka heran.
__ADS_1
"Oke. Kamu butuh berapa? 500 juta? Atau 1 M? Berapa sebutkan saja." Ucap Axel dengan senyum sombongnya.
"Enggak banyak kok mas. Cuma buat keperluan pribadiku aja." Ucap Daisy setelah sesaat melongo dengan nominal yang di ucapkan Axel.
Axel justu terdiam mengerutkan dahi seperti sedang berfikir serius.
"Kalau kebutuhan kamu kurang, kan kamu bisa langsung bicara sama Mama." Ucapan Axel membuat Daisy mengehela nafas kasar.
"Kurang, Mas? Aku bahkan tak menerima sepeserpun uang darimu.!" Keluarlah keluhan yang selama ini ia simpan.
Rosa pernah berkata didepan Axel dan juga Daisy. Bahwa ia akan memberikan uang setiap satu bulan sekali. Faktanya selama hampir satu tahun ia sama sekali tak menerima uang tersebut.
Daisy hanya diam karena ia sudah lelah berdebat dengan Rosa perkara masalah yang sepele. Apalagi jika membahas uang? Membayangkannya saja ia merinding. Sekarang pun ia meminta karena terpaksa.
"Gausah bercanda sayang. Gak lucu, tau," Axel terkekeh pelan. Lalu segera ia terdiam saat melihat muka serius Daisy.
"Mas.! Aku serius. Aku tak pernah menerima uang sepeserpun darimu atau pun mama," Lagi Daisy berujar dengan dada yang mulai naik turun. Berusaha mengendalikan emosi yang mulai menguasai.
"Tapi, aku selalu menerima laporan dan bukti transfer mama ke rekening atas nama kamu, sayang." Tutur Axel yang membuat darah Daisy seketika mendidih. Ia sudah tahu kemana arah pembicaraan ini. Suaminya pasti akan lebih percaya Rosa daripada dirinya.
"Kenyataannya aku tak pernah menerimanya," Lirih Daisy. Kalah. Ia pasti akan kalah jika lawannya adalah Rosa.
"Yaudah nanti aku transfer kamu aja, sayang. Jangan khawatir. Jaga kesehatan jangan banyak fikiran," Ujar Axel akhirnya yang malah mengalihkan pembicaraan.
"Mama yang melahirkanku. Selama ini aku hidup berkat mama. Mama yang selalu ada saat aku sedih senang maupun susah. Dan… .. "
"Aku lebih dulu mengenal Mama daripada kamu." Sangat lirih Axel mengucapkan kata terakhir yang sebelumnya terputus sejenak.
Daisy menyentak dengan kasar tangan Axel yang tengah memegang lengannya. Dengan langkah tergesa ia keluar dari kamar meski ia sendiri tak tahu akan kemana.
***
Akhirnya Daisy menghentikan langkah tepat di depan pintu rumah yang sudah berbulan-bulan tak ia kunjungi.
Lama ia diam. Sampai sebuah teguran membuyarkan lamunannya.
"Non Daisy?" Sapa Mbok Yem. Art yang dipekerjakan setelah Daisy keluar dari rumah.
Selama tinggal berdua mereka memang tak memakai jasa ART. Hanya ada Mbak inah yang datang pagi hari dan pulang saat pekerjaan rumah telah selesai.
"Ayah ada, Mbok?" Tanya Daisy pada wanita paruh baya itu.
"Tuan belum pulang, Non."
__ADS_1
Daisy cuma tersenyum dan beranjak masuk ke dalam rumah.
Ayahnya menggeluti bisnis di bidang pastry. Dulu juga punya brand pakaian. Tapi, setelah Hera menikah akhirnya dikelola oleh Hera. Ingin menikmati masa tua katanya.
Ia duduk di ruang tamu dengan fikiran berkecamuk.
Bingung, menimbang haruskah bercerita. Tapi rasanya tak mampu bila harus menanggung semuanya sendirian.
Ponsel yang ia taruh di meja berdering beberapa kali. Tertera nama Axel disana. Daisy bergeming tak menggubrisnya. Biarlah ia ingin istirahat sejenak dari drama rumahtangganya.
Malam ini pun ia juga berencana untuk menginap. Terselip rasa ingin tahu, akankah Axel akan menjemputnya? Tapi saat mengingat Rosa pasti akan melarang Axel.
"Assalamualaikum.. " Mata Daisy berbinar saat mendengar salam dari Dani di pintu depan. Segera ia menyambut Ayah dengan sukacita. Melepas rindu yang menyelimuti.
Daisy pun menghambur ke pelukan Dani. Mencari ketenangan disana.
"Axel mana?" Tanya Dani sambil mengelus puncak kepala Daisy pelan.
"Enggak ikut," Jawab Daisy singkat. Lalu beringsut mundur.
"Ayah udah makan?" Tanya Daisy mengalihkan pembicaraan saat melihat dahi Dani yang berkerut heran.
Karena selama ini memang baru pertama kalinya Daisy pulang tanpa ditemani pasangan hidupnya itu.
"Belum. Ayo makan bareng." Merekapu berjalan beriringan menuju meja makan. Terlihat Mbok Yem sedang menyiapkan makan malam.
"Tahu enggak, yah? Aku kesini bawa kabar bahagia buat Ayah. Coba tebak," Ucap Daisy sambil nyengir.
"Heemm. Kamu dapat reward banyak?"
"Salah," Daisy menyilangkan tangan sambil tertawa lepas. Dani pun ikut tersenyum sambil berfikir.
"Dapat hadiah dari Axel?" Kali ini jawaban Dani membuat hatinya nyeri. Bagaimana tidak. Suami yang katanya kaya raya itu bahkan tak pernah membelikan hadiah untuknya.
Segera ia tepis segala rasa yang tiba-tiba menghampiri. Tak mau merusak suasana.
"Ayah… Aku akan jadi Ibu dan Ayah jadi kakek," Ujarnya kemudian sambil menggenggam tangan Dani yang ada diatas meja.
Tanpa kata Dani memeluk putrinya yang masih terduduk. Berkali-kali ia mencium puncak kepalanya dengan penuh sayang. Karena itu kabar yang selalu Dani tunggu beberapa bulan ini.
"Selamat." Ucap Dani singkat dengan netra yang terlihat mengembun.
Aahhhh bagaimana bisa ia merusak suasana hati Dani yang terlihat begitu bahagia?
__ADS_1
Akhirnya ia memutuskan untuk lagi-lagi menyimpan segala drama yang ia alami di rumah besar suaminya. Lebih tepatnya Rosa.