
Setelah puas dengan doa yang disertai tangisnya Daisy beranjak dari sajadahnya.
Saat berbalik terlihat Axel yang tengah tertidur pulas. Saat ia mengahampiri Axel pelan terdengar dengkuran yang biasanya membuat tenang hati Daisy.
"Apa kita memang ditakdirkan tak berjodoh, mas? Aku tak kuat kalau harus menjalani ini sendiri. Tolong kuatkan aku, mas. Kuatkan aku saat Mama selalu menjatuhkan aku. Yakinkan aku kalau kamu tak lagi mencintai Fanya. Tolong,Mas…" Lirih Daisy sembari memegang pipi Axel dengan pelan dan lembut. Takut Axel terbangun.
Lagi-lagi ia tergugu dalam diam. Tangannya memegang tangan Axel.
Sampai saat kram perutnya kembali datang, barulah ia berusaha untuk menenangkan diri. Takut jika terlalu larut dalam masalah justru akan membuat bayinya dalam masalah.
Akhirnya ia turun. Berniat untuk menyibukkan diri dengan membuat sarapan.
"Selamat pagi, Mbak." Ucap Daisy pada Hana yang sedang sibuk menyiapkan sarapan.
"Eh, Non. Selamat pagi Non… " Sapa Hana terlihat agak terkejut saat berhadapan dengan Nona kesayangannya, yang telihat letih dengan mata bengkak
"Non Daisy sehat? Bagaimana keadaan kehamilannya, Non?" Tanya Hana terlihat khawatir. Bagaimana tidak, muka Daisy kini telah sembab dengan mata bengkak dan memerah.
"Allhamdulilah, Mbak… " Jawab Daisy singkat. Mood nya sudah berantakan dan tak ingin berinteraksi lebih jauh.
Merekapun segera melaksanakan kegiatan rutin setiap pagi yang biasa mereka kerjakan.
Daisy yang sejak tadi terdiam, tertegun sejenak saat mendengar suara orang mengobrol disertai dengan langkah kaki.
Mengingat apa yang dilakukan Axel kemarin malam pasti karena mereka. Ia harus menanyakan itu langsung pada Rosa dan Fanya.
"Kamu ngapain masih disini?" Tanya Rosa sembari menarik bahu Daisy dari belakang sampai ia berbalik menghadap Rosa.
"Tentu aku harus disini, Ma. Aku istri Mas Axel." Ungkap Daisy yang terlihat ragu.
"Apa? Kamu fikir aku akan tetap membiarkanmu disini setelah apa yang kamu lakukan di belakang Axel. Ha?" Hardik Rosa. Ia bahkan menunjuk kepala Daisy sampai ia terhuyung sedikit ke belakang.
"Usir aja, Ma. Parasit memang harus dibuang. Bukan dipelihara," Ujar Fanya menimpali. Ia tersenyum licik di belakang Rosa.
"Aku tahu ini ulah kamu Fanya.! Pasti kamu, iya kan?!" Bentak Daisy tanpa ampun.
Karena amarah yang memuncak Daisy dengan berani melangkah maju menghampiri Fanya yang berlindung di balik punggung Rosa.
__ADS_1
Tapi segera Rosa menepis dengan kasar bahu Daisy. Ia bahkan sampai terhuyung dan menabrak dinding dapur.
"Berani kamu berbuat onar dirumahku?" Tantang Rosa yang kini sudah berdiri menatap nyalang pada Daisy.
"Apa benar Mama dan Fanya yang sudah memfitnahku?" Rintih Daisy pelan. Dalam setiap ucapannya tersimpan amarah yang begitu besar.
"Kalau iya memang kau bisa apa. Ha? Kau kan cuma wanita pengangguran yang numpang hidup dengan hasil jerih payah anakku. Sudah saatnya kau sadar diri." Sindir Rosa menatap Daisy tak kalah sengit.
"Mama tega, ya? Padahal tindakan Mama ini justru melukai hati anak kesayangan Mama yang sudah bucin sama aku." Cibir Daisy ia tertawa mengejek. Memang benar ia sakit hati. Tapi ia tahu pasti bahwa Axel tak kalah sakit hati dari nya.
"Cinta cinta. Makan tu cinta. Lihat aja nanti, jangankan mengatakan cinta. Tak lama lagi pasti Axel akan mengusirmu dengan tangannya sendiri. Tak perlu aku ikut mengotori tanganku dengan tubuh bau mu." Elak Rosa.
"Iya, Ma. Dia gak tahu aja kalau Axel dalam waktu dekat pasti akan kembali denganku. Mengejar-ngejarku seperti dulu." Ujar Fanya bangga.
"Setiap apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Ingat, Ma. Setiap perbuatan ada timbal balik yang harus diterima."
"Sungguh aku tak pernah rela dan tak akan pernah melupakan kejahatan kalian berdua." Gerutu Daisy.
Fanya dan Rosa justru tertawa terbahak dengan kerasnya. Rosa bahkan sampai mengeluarkan airmata di sudut netranya yang sudah mulai keriput dimakan usia.
"Jangan sok bijak kamu perempuan kampung." Ucap Fanya lagi yang lagi-lagi ingin menoyor kepala Daisy. Tapi dengan secepat kilat Daisy menampik tangannya dan meremas jari-jarinya sekuat tenaga.
Sementara Fanya sudah merintih kesakitan karena remasan tangan Daisy pada jari tangannya yang seperti akan patah dibuatnya.
"Daisy.!!! " Bentak Rosa keras. Tangannya sudah melayang dengan keras di pipi mulus Daisy, sampai meninggalkan jejak tangan kemerahan.
"Akhirnya Mama manggil namaku. Bukan ejekan perempuan kampung." Senyum Daisy sinis ditujukan untuk Rosa.
"Mama bilang aku kampungan? Padahal selama ini siapa yang justru menggelapkan uang nafkah ku? Hem? Mama lupa?" Sindir Daisy.
"Bahkan tanpa uang nafkah yang tak seberapa itu aku masih bisa hidup dan berdiri diatas kakiku sendiri tanpa mengemis nafkah darimu ataupun anak kesayanganmu.!" Sambung Daisy dengan bentakan yang tak kalah keras. Hilang sudah sifat hormat yang masih dipertahankannya karena posisi Rosa sebagai orangtuanya.
Hatinya kacau sudah. Remuk redam karena sikap mereka yang sudah tak menganggapnya sebagai manusia.
"Tanpa Mama atau Mas Axel usir aku akan pergi dari sini dengan kakiku sendiri.!" Sambung Daisy lagi.
"Sudah, Ma. Tak usah pedulikan dia. Ayo kita segera menyiapkan makanan dan bersiap menjemput Papa. Bukannya papa akan pulang hari ini?" Cetus Fanya sembari menenangkan Rosa dengan mengelus pelan kedua pundaknya.
__ADS_1
Karena kini nafas wanita paruh baya itu tak beraturan akibat kegaduhan yang justru disebabkan oleh dirinya sendiri.
Daisy pun segera menjauh tanpa sepatah kata apapun lagi.
"Pergi dan jangan pernah menginjakkan kakimu lagi di rumah ini." Geram Rosa yang masih terdengar di telinga Daisy yang kini tengah berjalan menaiki tangga.
Sedari tadi perutnya pun terasa kram. Tapi sekuat tenaga ia tahan.
"Bertahanlah, Nak. Kita pergi ya ketempat yang akan menerima kita dengan baik." Lirih Daisy pelan.
Baru saja ia masuk ke dalam kamar. Ponsel yang sedari tadi ia taruh di saku celananya berdering.
Tertulis nama Hera disana.
"Halo, Mbak." Sapa Daisy pelan. Ia berjalan masuk dan mengambil koper. Bersiap untuk mengemas barang-barangnya agar bisa segera pergi dari tempat terkutuk ini.
"Daisy kamu dimana?" Tanya Hera di seberang telfon.
"Dirumah mbak. Ada apa?" Tanya Daisy heran mendengar suara Hera yang terdengar panik.
"Tenangin diri dulu sebentar, ya." Ucap Hera kali ini terdengar isakan kecil yang tertahan dari seberang telfonnya.
"Ada apa si mbak. Ngomong aja langsung." Tanya Daisy gemas karena Hera tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Kamu kerumah sakit pelita sekarang, ya." Pinta Hera. Kening Daisy pun berkerut heran.
"Siapa yang sakit, mbak. Jangan berbelit-belit dong." Sentak Daisy gemas. Fikirannya mulai kalut. Dan tiba-tiba kram perutnya pun mulai terasa lagi.
"Ayah kecelakaan. Kamu yang tenang. Ayah masih… "
Degh.!
Jantung Daisy serasa dipacu dengan kuat secara tiba-tiba sampai sesak. Tangannya terkulai lemas, tak lagi mendengarkan kalimat Hera. Ponsel yang ia pegang terjatuh begitu saja disertai dengan kram perut yang semakin hebat.
Sementara Axel yang tadi tertidur, terbangun saat mendengar bunyi benda jatuh. Saat membuka mata ia dikejutkan dengan Daisy yang menahan sakit di perutnya dan detik berikutnya terkulai lemas.
Ia pun segera beranjak dari tidurnya. Tergopoh ia membopong Daisy keluar.
__ADS_1
"Ujang.!!! Ujang.!!!" Teriaknya frustasi sambil menuruni tangga dengan Daisy dalam gendongannya.
Tak ia hiraukan Fanya dan Rosa yang sedang bertanya padanya. Ia bahkan menabrak Fanya hingga jatuh terduduk dan berlari sekuat tenaga ke depan, agar bisa segera membawa Daisy ke rumah sakit.