
Bak diterpa angin segar yang menyejukkan melihat sikap Axel yang mulai memberikan penolakan pada kehadiran Fanya.
"Dari kemarin, kek." Gumam Daisy.
"Apa?" Tanya Axel disela aktifutasnya menyendok lauk dan nasi.
"Yaaa tadi. Kamu nyindir Fanya. Kemarin-kemarin kamu kayak malah suka dia disini,"
"Cemburu?" Axel mengangkat sebelah alis dengan senyum penuh kemenangan.
"Terus Mas maunya aku diem-diem aja gitu?" Ungkap Daisy kesal sambil memonyongkan bibirnya.
"Kemarin aku cuma menghargai Mama. Kan katanya dia kesini karena permintaan Mama. Kukira memang Mama kangen, karena mereka dari dulu dekat." Ujar Axel yang membuat Daisy tersenyum getir mengingat perlakuan-perlakuan Rosa selama ini.
"Meskipun dia masih punya tempat di hati mama. Dihatiku tetap kamu yang pertama dan terakhir, sayang." Lanjut Axel saat melihat Daisy hanya diam.
Daisy menggigit bibir bawahnya kikuk. Menimbang-nimbang seperti ingin mengatakan sesuatu. Sementara Axel menunggu dengan diam sambil mengangkat kedua alis tebalnya.
"Mas."
"Ya?"
"Apa mas Axel tetap gak mau mempertimbangkan keinginanku untuk tinggal berdua?" Daisy menatap lekat manik mata Axel. Dengan penuh harap telapak tangannya memegang punggung tangan Axel yang masih sibuk dengan sendok dan garpunya.
"Aku harap ini kali terakhir kita membahas ini." Ucapan Axel seketika membuat Daisy menunduk. Dia melepas tangannya dan memainkan jari-jarinya di atas pangkuan.
"Aku tidak bisa melakukan apapun tanpa restu Mama. Maaf… " Lirih Axel sendu menatap Daisy yang menunduk diam.
Daisy mengangguk pelan. Memang dia bisa apa?
"Aku mungkin akan mengusahakan untuk sesekali berbicara sama Mama. Tapi tetap saja. Tanpa restunya aku gak bisa, Daisy." Ujar Axel penuh penekanan.
"Lalu, kenapa Mama merestui kita?"
"Tentu saja karena ingin aku bahagia."
"Hanya kamu?"
Axel menghela nafas kasar. Entah bagaimana lagi caranya mendekatkan Daisy dan Rosa. Padahal dulu saat Ia mengenalkan Fanya, Rosa dengan mudah menerimanya tanpa pamrih tanpa protes. Merekapun dengan cepat bisa akrab bahkan seringkali berbelanja berdua.
"Jadi, Kamu akan selalu menuruti keinginan Mama. Apapun itu?" Tanya Daisy lagi.
__ADS_1
"Tentu saja."
"Lalu, bagaimana jika tiba-tiba Mama meminta kamu untuk menceraikan aku, Mas?"
"Jangan bicara hal yang tidak akan mungkin terjadi, Daisy." Kini raut muka Axel mulai menatap tak suka. Jengah dengan pembicaraan yang seolah menyudutkan orang yang paling utama dalam hidupnya. Rosa.
"Mama akan bahagia selama aku bahagia. Makanya bahagiakan aku. Jangan pernah membuatku kecewa. Apalagi bermain dibelakangku." Desis Axel.
Daisy menunduk. Setetes buliran bening jatuh tak tertahan. Melakukan pembicaraan yang seolah tak pernah mementingkan kebahagiaannya.
Melihat airmata yang luruh membuat Axel melunak. Ia lantas memeluk Daisy dan mengusap punggungnya pelan.
Bukannya tenang, tangis Daisy justru semakin pecah. Segala tekanan yang Ia tahan selama ini ia keluarkan seiring dengan airmata yang semakin deras mengalir.
"Sudah… i love you. Selama kamu setia, aku akan tetap ada di samping kamu." Ucap Axel mencoba menenangkan.
Tapi tangis Daisy semakin pecah. Akhirnya pelan Axel menarik Daisy dalam gendongan dan berjalan menuju kamar.
***
Pagi hari kali ini Daisy memaksakan untuk bangun. Ia tak ingin mendengarkan kata-kata yang hanya akan merusak mood aktifitasnya hari ini. Sementara Axel masih tertidur pulas.
Lagi. Ia melihat Fanya tengah asik memasak di dapur.
"Pagi, Mbak." Sapanya pada Hana dengan senyum manisnya. Sementara terlihat dari ekor netranya Fanya tengah meliriknya sinis.
"Eh, Non Daisy. Selamat pagi, Non. Non Daisy sehat?" Hana yang tengah mencuci sayur pun sejenak menghentikan aktifitasnya sejenak dan menyapa Nona mudanya.
"Allhamdulilah Mbak."
Daisy beruntung karena tak terlihat Rosa disini. Bukan takut, tapi memang ia diajarkan untuk menghormati orang yang lebih tua. Apalagi ini Mama mertua.
Sesekali Daisy bercanda dengan Hana. Sementara Fanya hanya diam.
Sampai acara memasak hampir selesai masih tak Daisy lihat Rosa. Dalam hati memang ia senang. Tapi tetap saja ia penasaran.
"Nyonya kemana, Mbak?" Tanya Daisy akhirnya.
"Enak, ya. Engga ada Mama jadi bisa bebas ngapain aja." Sindir Fanya setelah sekian lama terdiam.
"Lo ini kan rumahku ya wajar dong. Yang engga wajar itu tamu tak diundang yang tanpa tahu malu masih aja kekeh dateng."
__ADS_1
"Heh.! Berani kamu sama aku?! " Bentak Fanya sambil menatap Daisy tajam.
"Aku enggak takut siapapun. Selama ini aku diam cuma karena menghargai Mama. Bukan karena takut sama kamu." Hardik Daisy tak kalah sengit. Ia acungkan spatula yang sedari tadi ada di genggaman tangan.
"Kamu tuh enggak diharapkan di rumah ini, jangan sok jadi Nyonya. Lihat aja sebentar lagi akan kurebut semua hal yang sudah kamu ambil dariku."
Daisy geleng-geleng kepala sambil memegang kepalanya yang lagi-lagi mulai berputar-putar.
"Ada apa ini?" Dan ya. Orang yang tadi dipertanyakan tapi tak diharapkan kedatangannya tiba-tiba sudah berdiri di depan ruangan dapur.
"Ini, Ma. Dia kegirangan karena Mama enggak ikut masak," Ujar Fanya yang membuat netra coklat Daisy membulat seketika.
Rosa menatap Daisy. Tak ada kata yang terucap tapi cukup untuk membuat hati Daisy sakit, karena terlihat kebencian yang mendalam dari manik mata Rosa.
"Salahku apa, Ma,?" Akhirnya terucap juga pertanyaan yang selama ini hanya ia simpan dalam diam.
"Kau bertanya karena benar-benar tak tahu?" Bukan menjawab Rosa malah balik bertanya terlihat kedua tangannya yang terkepal penuh amarah.
Daisy diam. Netra nya memancarkan kesedihan yang mendalam. Rosa yang ia fikir bisa menjadi pengganti Ibunya yang telah lama tiada justru menorehkan luka teramat dalam untuknya.
"Kau tahu kau tak sebanding dengan Axel. Denganku. tapi kenapa kau malah menerima lamarannya dan dengan berani menikahinya?"
"Lalu? Kenapa Mama memberi restu?" Buliran bening mengalir dari netranya yang sudah tak tertahan.
"Karena Axel anakku.! Aku ingin dia bahagia. Hanya dia. Bukan kau.!" Gertak Rosa.
"Hana.! Ayo. Segera siapkan makanan di meja. Dan kau, kalau kau masih mau menjadi istri yang baik. Panggil Axel untuk sarapan sekarang.!"
"Ma. Aku aja , Ma," Tiba-tiba Fanya berkata di samping Rosa dan segera berjalan ke arah kamar Daisy dan Axel.
Daisy menatap kepergian Fanya dengan geram. Hatinya kalut. Ia mematung terdiam menyaksikan dua orang yang tengah menikmati penderitaannya.
Akhirnya ia membantu Mbak Hana menata makanan yang telah selesai mereka masak. Lalu duduk di kursi tanpa kata apapun lagi.
Sesaat kemudian Fanya benar-benar turun mengiringi Axel yang berjalan didepan.
"Selamat pagi, Ma," Sapa Axel pada Rosa. Ia memang selalu begitu setiap hari. Yang disapa kali pertama pasti Rosa bukan dia.
"Hai, sayang. Pagiiii. Gimana kabar dedek bayi?" Sapa Axel pada Daisy sambil mengelus perut Daisy pelan. Daisy cuma diam dan mengangguk tanpa sepatah katapun.
Dan detik berikutnya ia menyesali sikap Axel yang acuh dengan diamnya Daisy. Ia malah langsung terlibat obrolan serius dengan Rosa dan Fanya pun sesekali ikut menyahut.
__ADS_1
Rumah tangga macam apa yang sedang kujalani kini, Tuhan? Batin Daisy perih. Dengan terpaksa ia menyuap sarapannya yang terasa hambar.