Istri Sang CEO Yang Tak Diberi Nafkah

Istri Sang CEO Yang Tak Diberi Nafkah
Tuduhan tak berdasar


__ADS_3

Entah setan mana yang merasuki Axel. Baru saja datang sepulang bekerja ia menarik kasar tangan Daisy yang tengah menyiapkan makan malam. 


Bahkan Hana pun melirik heran sekaligus khawatir. 


Beberapa kali Daisy berusaha sekuat tenaga mengimbangi tubuhnya agar tak terjatuh, karena Axel menariknya dengan kasar naik menuju lantai dua kamarnya. 


Otot tangan Axel terlihat di tangan putihnya. 


"Kamu harus menjelaskan apa yang selama ini kamu lakukan," Desis Axel pelan saat berhenti sejenak di depan pintu kamar. 


Tapi detik berikutnya ia kembali menarik Daisy dengan lebih kasar. Lalu menghentakkan tangan Daisy begitu kuat hingga Daisy terjatuh di lantai. 


Daisy menatap bingung Axel sambil memegangi tangannya yang ngilu karena cengkraman tangan kekar Axel. 


"Mas.!" Sentak Daisy tertahan. 


Axel berdiri dengan mata merah menahan amarah. Entah apa yang dialaminya di kantor sampai ia jadi seperti ini. 


"Aarrgh.!!!" Teriak Axel sekuat tenaga. Daisy yang kaget pun reflek menutup telinganya, takut. 


Ia melihat mata Axel yang menatapnya penuh kebencian. Sampai membuatnya gemetar ketakutan. 


Tak pernah Daisy mengalami perlakuan kasar dari siapapun. Termasuk Dani.


Axel mengacak rambutnya terlihat sangat frustasi. 


"Apa kurangnya aku?" Hardik Axel masih menatap Daisy penuh kebencian. Bahkan sesaat ia terlihat jijik padanya. 


"Apa maksudmu, Mas? Kamu kenapa?" Geram Daisy mulai tersulut emosi. 


"Kamu bahkan mengambil 500 juta perbulan apa itu kurang?!" Bentak Axel lagi. 


"Terserah kamu mau percaya sama aku atau enggak mas.! Tapi, aku tak pernah menerima sepeserpun uang darimu.!" Lirih Daisy. Netranya memanas. Dan sedetik kemudian air matanya lolos begitu saja dari sudut matanya


Axel yang terlihat sangat emosi pun tak menghiraukannya. Ia justru memalingkan mukanya ke arah lain. 


"Tak usah berpura-pura dengan airmata palsumu," Cemooh Axel masih dengan amarahnya yang memuncak dan tangan yang mengepal kuat. 


"Aku tak mengerti maksudmu, Mas. Apa maksudmu. Ada apa denganmu." 


"Kalaupun aku menunjukkan salahmu aku ragu kau akan jujur padaku." 


Daisy diam. Ia masih tergugu dengan tangisnya yang semakin menjadi-jadi. 

__ADS_1


"Setelah bersandiwara kau bahkan tega mengkhianatiku," Rintih Axel. Ia lalu beringsut terduduk di sofa yang ada di ujung kamarnya. 


"Sandiwara apa maksudmu, mas?" Ujar Daisy dengan suara parau. 


"Apa kau puas tidur dengan Ebra?" Tuduh Axel tiba-tiba. Yang membuat jantung Daisy seketika berpacu dengan cepatnya. 


Bagaimana bisa nama yang bahkan sudah hampir ia lupakan kini justru keluar dari mulut sang suami? 


"Kenapa? Kau heran bagaimana aku bisa tahu?"


"Bukan. Aku heran bagaimana bisa kamu menuduhku seperti itu tanpa bukti, Mas.!"


"Oooh bukti. Iya. Bagaimana bisa aku justru menghamburkan bukti itu dan meninggalkannya begitu saja."


"Bukti? Bagaimana itu mungkin?" Lirih Daisy tak percaya dengan apa yang diucapkan Suaminya. 


"Bagaimana itu bisa tidak mungkin? Kau bahkan pernah kabur selama 4 hari dari rumahku. Siapa yang tahu kau justru ke hotel dengan Ebramu itu?" Racau Axel sembari menatap Daisy sinis. 


"Aku bahkan meragukan anak di perutmu itu anakku atau bukan." Lagi. Axel mengucapkan hal yang amat sangat membuat Daisy terluka harga dirinya. 


Entah apa yang telah dilakukannya di kantor. Sampai ia pulang membawa kabar yang menyesatkan seperti ini. 


Daisy  yang tak tahan pun berdiri dan melayangkan tangannya sekuat tenaga pada pipi kanan Axel. 


"Jangan pernah coba-coba kau menghina Mamaku."


"Kau bahkan menghina anakmu sendiri. Darah dagingmu.!"


Daisy merintih saat perutnya terasa sakit dan kram. Ia  jatuh terduduk dan memegangi perutnya. Kepalanya terasa berputar dan akhirnya gelap dan ia pun kehilangan kesadaran. 


Hal terakhir yang ia lihat bukan tatapan khawatir Axel. Tapi justru tatapan mengejek seolah ia hanya lah wanita yang pandai bersandiwara. 


***


Daisy terbangun tepat saat adzan shbuh berkumandang. Saat menoleh tak ia temukan wajah suami yang biasanya masih tertidur pulas di sebelahnya. 


Sesaat ia masih menerka-nerka apa yang sebelumnya terjadi. Detik berikutnya airmata nya kembali lolos. Perutnya pun kembali terasa kram. 


Ia berusaha terduduk agar mengurangi rasa kram di perutnya. 


Lama hening sampai akhirhya ia seperti mendengar suara rintihan seseorang. Sangat jelas dan ia sangat mengenal suara itu. 


"Mas Axel" Lirih Daisy matanya mencari ke berbagai sudut kamar. 

__ADS_1


Sampai akhirnya saat ia akan berdiri terlihat tubuh kekar itu tengah meringkuk dibawah kakinya yang menggantung di pinggir ranjang. 


"Astaghfirullah, Mas." Ucap Daisy yang kaget. 


Axel tertidur tanpa alas apapun. Tubuhnya berkeringat deras. Masih dengan menahan nyeri di perutnya ia beringsut untuk turun dan melihat Axel. 


"Aargh." Rintih Axel lagi. 


Daisy mencoba memegang kening Axel mencoba memastikan apakah ia demam. Tapi dengan cepat Axel menepis tangan Daisy dengan kasar. 


"Jangan sentuh aku.!" Hardik Axel yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya. 


Wajah yang biasanya terlihat berwibawa itu kini terlihat letih bahkan kantung matanya menghitam. Mukanya sembab dengan mata bengkak. 


Tak berbeda jauh dengan muka Daisy saat ini. 


Orang yang kau hormati dan patuhi justru tega membuatmu seperti ini, Mas. Batin Daisy 


Ia yang awalnya menahan amarah pun sedikit mereda melihat keadaan Axel saat ini. 


Mereka sama-sama korban. Meski Daisy menyayangkan sikap Axel yang tak mencoba mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu. 


"Aku tak tahu apa yang kau lihat dan dengar, Mas. Tapi tolong cobalah untuk kali ini percaya padaku dan cari tahu semua kebenarannya," Lirih Daisy. Ia terduduk lemas di depan Axel yang sama sekali tak melihatnya. 


"Kau kan punya banyak orang terpercaya dan kompeten, mas. Kenapa tak coba suruh mereka mencari tahu kebenarannya?" Pinta  Daisy lagi. Axel masih saja tak bergeming. 


Karena tak mendapat respons apapun akhirnya dengan tertatih ia bangkit. Sampai akhirnya ia hampir limbung lagi. Reflek Axel pun memegangi tubuhnya dan memapahnya duduk di tepi ranjang. 


"Mas… "


"Aku hanya membantumu karena sifat kemanusiaanku." Ucapnya datar


"Kenapa Mas Axel tidur dibawah?"


"Bukan urusanmu." Jawab Axel tak acuh. Ia lalu merebahkan tubuh lelahnya di ranjang dan menarik selimut sampai menutup seluruh tubuhnya.


Daisy pun berjalan ke kamar mandi ingin segera mandi dan berwudhu dan melaksanakan sholat shubuh. 


Hatinya terenyuh saat melihat Axel yang masih terbaring. 


Biasanya meski Axel sehabis sholat selalu tertidur lagi, tapi mereka selalu sholat berjamaah berdua. 


Tak menghiraukan perasaanya, Daisy pun melanjutkan sholatnya dengan khidmat. Hingga sampai pada rokaat terakhir ia tergugu menangis dengan hebatnya. 

__ADS_1


Mengapa ujian rumah tanggaku seberat ini ya Allah batin Daisy lirih 


__ADS_2