Istri Sang CEO Yang Tak Diberi Nafkah

Istri Sang CEO Yang Tak Diberi Nafkah
Bertemu


__ADS_3

"Sudah siap?" Tanya Daisy saat melihat Hera sudah keluar dari kamarnya.


"Udah." Ucap Hera singkat. 


Sementara Dani tengah duduk di halaman depan dengan Aurora yang sedang bercerita tentang pengalaman sekolahnya. 


Tahun ini adalah kali pertama balita manis itu masuk ke sekolah. Ia dengan bersemangat menceritakan bagaimana ia berinteraksi dengan banyak teman-temannya. 


"Ayah. Hera pamit dulu, ya." Ucap Hera pada sang Ayah. 


"Iya, hati-hati." Ujar Dani menerima uluran tangan Hera untuk bersalaman. Begitu juga dengan Daisy. 


"Mbah enggak ikut?" Tanya Aurora dengan muka polosnya saat melihat mereka bergantian berjabat tangan. 


"Enggak, sayang. Mbah harus istirahat dulu kan kemarin habis sakit." Ujar Hera sembari mengambil Aurora dari gendongan Dani. 


"Yaaa. Rora bakalan kangen dong." Keluh Aurora. ia melengkungkan bibir mungilnya kebawah. 


"Padahal Rora juga pengen waktu sekolah di anterin mbah. Kaya Viona." Cetus Aurora masih dengan wajah sedihnya. 


"Iya. Nanti kalau ada waktu Mbah main kesana ya." Ungkap Dani tak tega melihat muka sedih cucu satu-satunya. 


"Beneran, Mbah?" Tanya Aurora memastikan dengan mata bulatnya yang sudah berbinar senang. 


"Iya, sayang." Ucap Dani. Ia lalu mengecup pelan puncak kepala Aurora. 


"Ayah beneran? Nanti kalau Aurora nagih janji aku gak tanggung jawab yaa." Goda Hera menggoda Ayahnya. Karena ia tahu jarang sekali Dani mau berkunjung ke rumahnya. 


"Tentu." Ucap Dani pongah sambil tersenyum bangga. 


"Yaudah ayok. Nanti keburu telat keretanya." Potong Daisy tak sabar. 


Hera memutuskan untuk kembali. Karena Gio sendirian dirumah. Kasian kalau lama ditinggal apalagi Aurora juga sudah jadwalnya sekolah. 


Sebenarnya Daisy pun ingin ikut hitung-hitung menenangkan diri disana. Tapi, berhubung Dani belum pulih sepenuhnya jadilah ia hanya mengantar Hera ke stasiun terdekat. 


"Axel kemana?" Tanya Hera saat mereka sedang dalam perjalanan. 


"Enggak kemana-mana kok, kak. " Seloroh Daisy sambil tertawa nyengir. 


"Ish. Maksudnya dia tuh kemana kan dua hari ini dia enggak pulang." Tutur Hera. 


"Serius, kak. Dia enggak kemana-mana. Kemarin sempet ngabarin. Dia pengen fokus pekerjaan dulu. Katanya perusahaan lagi down." Jawab Daisy sambil tertawa kecil. Tatapannya masih fokus kedepan. 


"Gitu doang? Enggak ada bahas hubungan kalian ini mau dibawa kemana?" Sindir Hera gemas dengan tingkah saudara dan iparnya yang menurutnya terlalu santai. 

__ADS_1


"Justru karena itu, kak. Dia mau cari tahu dulu perihal masalahku sama Mama. Karena aku gak merasa melakukan salah makanya aku santai. " Jawab Daisy ia lalu memutar stir berbelok ke arah pintu masuk parkiran stasiun. 


Daisy bukan terlalu santai. Ia hanya sudah pasrah apapun yang akan terjadi nanti. Semua keputusannya bergantung bagaimana sikap Axel padanya. 


Jika Axel masih saja mempercayai Rosa dan mengabaikan segala pendapatnya, ia akan dengan senang hati melepas statusnya sebagai istri. 


Bukankah rumah tangga butuh dua kepala untuk saling menyayangi dan menjaga kepercayaan satu sama lain. 


"Sudah? Enggak ada yang tertinggal kan." Ujar Daisy mengingatkan kakaknya. 


"Iya. Sayang salim dulu sama Tante." Ucap Hera mengingatkan Auroa agar berpamitan dengan tantenya. 


"Hati-hati ya sayang. Inget pesan Tante sama Mbah. Di dalem kereta enggak boleh nakal duduk yang manis sama Mama, ya?" Nasihat Daisy pada Aurora. 


Aurora sudah pernah naik kereta beberapa kali, tapi ini pertama kalinya ia naik hanya berdua dengan Hera. 


Daisy dan Dani pun sudah mewanti-wanti Aurora untuk tetap menjaga sopan santun dengan tetap duduk diam bersama Mamanya. Bukan apa-apa, jika ia sibuk berlarian takutnya akan mengganggu penumpang yang lain. 


"Siap Tante." Ucap Aurora dengan mengangkat tangan dan diarahkan ke dahinya memberi hormat. 


"Hati-hati, kak." Ucap Daisy sambil bersalaman dan mencium punggung tangan Hera. 


Setelah terlihat mereka masuk ke dalam gerbong dan tak berapa lama gerbong pun berjalan, ia segera mengayunkan langkah keluar area stasiun. 


Ia mengurungkan niat untuk duduk sejenak lalu melanjutkan langkah nya keluar stasiun menuju area parkir. 


Sebelum menginjak gas ia lebih dulu mengetik pesan untuk Dani jika ingin berjalan-jalan sebentar, agar Dani tak khawatir. 


Ia mengarahkan mobilnya pada jalanan menuju salah satu mall yang ada di dekat stasiun. Hanya butuh beberapa menit dan akhirnya sampai. 


Daisy memang sudah terbiasa kemana-mana sendirian. Apalagi saat setelah ditinggal Ebra dan Ardina. Hampir kemanapun ia selalu sendiri. 


Setelah puas berbelanja kebutuhan rumah dan beberapa stel baju. Langkahnya pun terayun pada foodcourt yang ada di lantai paling atas. 


Ia mengehentikan langkah di depan kounter nasi goreng seafood. Setelah memesan satu porsi ia pun memilih deretan kursi samping. Sesaat mengedarkan pandangan saat merasa ada yang menatapnya. 


Memang benar ada yang menatap dan memperhatikannya sejak saat ia turun dari lift. 


Degh.! 


Jantungnya berpacu kencang saat melihat siapa pemilik sepasang mata yang sedang melihat kearahnya. 


Sepasang mata yang amat sangat ia kenal. Yang dulu sangat ia puja dan kagumi karena keindahannya. 


Tubuhnya membeku. Terasa sulit untuk digerakkan. Tapi beberapa detik kemudian, kembali melangkah. Tak menghiraukan mata yang masih saja mengikuti pergerakannya. 

__ADS_1


Setelah menemukan kursi kosong yang membelakangi manusia tadi, Daisy duduk menghadap ke kaca besar yang di design oleh pihak mall


Beberapa saat menunggu ia akhirnya memutuskan untuk pergi. Dengan cepat melangkah ke kounter nasi goreng yang tadi ia pesan. 


"Mbak. Bungkus aja, ya." Pintanya  pada salah seorang karyawan. 


"Baik".


Dari sudut matanya ia masih merasa tatapan manusia itu masih terarah padanya. 


Berdiri menunggu pesanannya dengan perasaan yang amat sangat gelisah. 


Daisy mengambil dompet dan segera membayar pesanannya dan berjalan menjauh saat pelayan tadi selesai membungkus pesanan


"Terimakasih." Ucapnya singkat. Secepat kilat segera berlalu dari tempatnya berdiri. 


Tapi niatnya untuk melangkah seketika terhenti saat sebuah tangan mencekal pergelangan tangannya. 


Jantung Daisy berdegup kencang. Tanpa melihat pun ia tahu siapa pemilik tangan yang telah mencekal tangannya. 


Dengan cepat Daisy menghempaskan tangan yang mencoba untuk menahan langkahnya


Ia pun berbalik dan menatap Ebra yang kini tengah berdiri di depannya. 


"Hai." Ucap Ebra kikuk. Terlihat salah tingkah saat tak ada keramahan sedikitpun di sorot mata Daisy


"Bukankah kau tahu kalau aku sudah bersuami?" Ucap Daisy tegas. 


Debaran jantungnya murni karena kaget. Bukan ada perasaan apapun. Karena perhatian dan cinta Axel telah mampu membuatnya sepenuhnya melupakan segala rasa yang pernah dirasakannya


"Iya." Ucapnya salah tingkah. Tangannya terangkat keatas menggaruk kepalanya yang tak gatal. 


Daisy memandang Ebra heran.


"Lalu?" Tanya Daisy tak sabar. 


"Aku hanya ingin menyapamu sebentar saja." Lirih Ebra. 


"Kuterima sapaanmu dengan baik. Sudah, kan? Aku pamit ya. Maaf, takut ada yang salah paham," Tukas Daisy seraya melangkahkan kakinya kembali. 


Kali ini Ebra diam. Tak lagi mencekal tangannya seperti tadi. 


Daisy menghela nafas panjang. Ia memang benar-benar takut ada yang salah paham. Apalagi hubungannya dengan Axel sedang tidak baik-baik saja. Dan salah satu penyebabnya juga Ebra. 


Entah apa yang diharapkan Ebra sampai berani menyapa dan menghambat perjalanannya tadi. 

__ADS_1


__ADS_2