
Daisy sedang sibuk me mixer adonan saat terdengar suara pintu rumah diketuk.
Tergopoh Mbok Yem masuk ke dalam rumah. Mungkin yang datang tamu penting.
"Bilang aja, Mbok. Ayah enggak dirumah. Aku malas keluar Mbok.." Ucap Daisy mematikan mixernya.
"Tapi, Non. Katanya nyari Non Daisy" Ucap Mbok Yem yang membuat Daisy menghentikan aktifitasnya.
Sambil berjalan ke ruang tamu ia mengira-ngira. Mungkinkah Axel?
Netranya membulat seketika saat melihat wanita yang duduk dengan tegap di ruang tamu. Ia mengipaskan tangannya seolah sudah gerah berada dirumah ini. Padahal menurut Daisy pun engga panas sama sekali.
"Mama." Sapa Daisy sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Rosa. Rosa cuma mengangguk mengacuhkan tangan Daisy yang masih terulur di depannya.
Lama mereka diam. Daisy hanya duduk sambil menatap keluar rumah. Sedangkan Rosa tak hentinya meneliti setiap sudut rumah dengan tatapan meremehkan.
Kemana aja dia selama ini? Kenapa baru sekarang? Bukankah sejak awal harusnya Ruslan dan Rosa sudah tahu keadaan rumah dan ekonomi Ayahnya.
"Aku tahu kalau keadaan kamu dan keluarga memang kurang baik. Tapi aku tak tahu kalau sebegini parah ya ternyata." Ucap Rosa tiba-tiba seketika membuat jantung Daisy berdegup kencang.
"Maaf, Ma. Bukan kurang baik. Tapi sangat baik. Kami hidup tanpa kekurangan satu apapun termasuk etika," Daisy menjawab dengan penuh penekanan. Selama ini Ia diam direndahkan. Tapi ia tak akan diam jika Dani yang direndahkan.
"Kamu.! Apa maksud kamu ha?!" Hardik Rosa.
"Maaf, Ma. Sekali lagi Daisy minta maaf karena sudah menyakiti hati Mama." Ingin sekali Daisy menatap wanita ini dengan tatapan menantang. Tapi ia hanya menunduk. Menahan segala gejolak kemarahan yang mulai meradang.
"Harusnya kamu tahu posisi kamu sekarang." Gertak Rosa.
"Aku tahu, Ma. Sangat tahu. Tapi, jangan pernah menghina keluargaku." Netra Daisy menatap tajam. Mencoba memberi pengertian pada Rosa bahwa apa yang dilakukan sudah melewati batas.
"Aku bicara kenyataan. Kenapa hatimu sensitif sekali sampai berkata bahwa aku menghina" Ujar Rosa tanpa dosa masih dengan tatapan sinisnya.
"Maaf, Ma. Ada urusan apa Mama yang terhormat datang ke rumah kumuh ini?" Ucap Daisy sarkas. Sementara Rosa justru tersenyum jumawa sambil mengangkat dagunya lebih tinggi.
Tanpa kata Rosa melemparkan amplop coklat di depan meja.
Daisy cuma menatap nanar amplop itu menunggu kata yang akan terucap dari mulut sombong Mama mertuanya.
__ADS_1
"Ambil.!" Bentak Rosa dengan intonasi yang lebih tinggi.
Mendengar suara tinggi yang bahkan tak pernah diucapkan Ayahnya itu membuat Daisy mematung.
"Kenapa diam? Bukankah itu yang kamu inginkan? Uang bukan?"ujar Rosa menunjuk amplop yang teronggok itu dengan dagu.
"Atau mau ku tambah dengan nominal yang besar? Mudah bagiku. Sebutkan berapa yang kau minta? Asal dengan satu syarat. Kau harus meninggalkan putraku. Axel Adinata.!" Desis Rosa. Yang seketika membuat netra Daisy memanas. Ia mendongak. Sekuat tenaga agar tak mengeluarkan air berharganya hanya demi wanita angkuh didepannya.
"Ini uang apa, Ma?" Tanya Daisy akhirnya sekuat tenaga menahan getar di dada.
"Uang yang kau minta-minta dari suamimu, kan? Apalagi?"
"Minta?" Daisy mengulang kata yang terucap dari mulut mulia Rosa. Ia tersenyum sinis.
"Bukankah memang kamu yang minta? Makanya kalau gak punya uang itu kerja.! Bukan minta-minta.!"
"Ma.! Yang kuminta adalah hakku.! Nafkahku.! Justru Mama lah yang harusnya sadar sudah merampas hakku dari Mas Axel. Ingat, Ma. Axel Suamiku. Tangggung jawab Axel menafkahiku. Bukan Mama.!" Hardik Daisy geram.
"Kamu yang tak pandai mencari uang kenapa meminta Axel.? Makanya kalau mau dapat uang itu kerja.! Bukan ngemis."
"Lalu? Kamu berharap aku menganggap anak yang kau kandung itu cucuku? Jangan mimpi.!" Hardik Rosa membuat hati Daisy makin tercabik-cabik.
Rosa bahkan begitu tega dengan darah dagingnya sendiri. Seketika harapannya runtuh saat berharap rumah tangganya akan terasa tenang dengan kehadiran malaikat kecilnya. Namun semua sirna hanya dengan beberapa patah kata yang diucapkan Rosa.
"Sudahlah. Aku pulang.! Pulanglah. Dan katakan pada Axel kau akan segera meninggalkannya. Nanti akan aku beri sisanya. Berapapun yang kamu minta." Hardik Rosa dan berjalan keluar rumah masih dengan langkah angkuhnya.
Daisy diam. Sama sekali tak berniat untuk mengantarkan tamu terhormatnya.
Ia menatap nanar amplop tebal di depannya. Karena benda itu ia dihina. Hanya karena meminta nafkah yang adalah haknya ia justru di maki-maki.
Harus bagaimana lagi? Harus dengan cara apalagi? Harus melakukan apalagi? Semua pertanyaan yang tiada jawabnya.
***
Sayang… kamu di rumah Ayah kan? Aku jemput, ya. Aku kangen loh…
Tulis Axel di pesan chat yang Daisy baca. Hati Daisy melengos. Bahkan Axel tak mengucapkan satupun kata permintaan maaf.
__ADS_1
Kembali Daisy membaca novel yang ada ditangannya. Tapi tetap saja ia tak bisa fokus. Sejak kemarin sore Rosa bertandang kerumah, Daisy sama sekali tak bisa tenang.
Padahal niatnya pulang ke rumah Dani adalah tenang. Ketenangan yang sangat sulit ia dapatkan saat ada di rumah Rosa.
Masih terngiang segala ucapan menyakitkan yang bahkan tak pernah ia dapatkan di dalam mimpi.
Akhirnya ia menutup buku dan beranjak dari tempatnya duduk.
Saat sampai di bawah tercium bau harum masakan Mbok Yem. Entah. Semenjak disini justru mual dan pusing berkurang. Termasuk saat mencium bau masakan.
"Hai, Mbok. Masak apa?" Tanya Diasy.
"Eh. Ini Ayam kare permintaan Tuan Dani, Non." Jawabnya sambil memasukkan santan dan mengaduk pelan. Bau harumnya tiba-tiba membuat Daisy kelaparan.
"Baunya enak banget, Mbok. Mbok pinter masak, ya."
"Aah enggak Non. Emang karena kebiasaan dulu pernah kerja jadi tukang masak di Taiwan, Non."
"Waah. Seriusan? Hebat dong, Mbok. Aku aja belum pernah kesana." Ucap Daisy nyengir.
"Aduh, Non. Kesana juga cuma jadi pembantu. Ya enggak bisa dibandingkan sama Non Daisy yang hebat. Punya suami juga hebat." Ucap Mbok Yem. Sesaat membuat Daisy tersenyum kecut.
Tak pernah ada yang tahu bahwa Daisy justru mendapat tekanan yang teramat sangat disana. Jika saja Axel tak memperlakukannya dengan baik, ia pasti sudah lama mengakhiri hubungannya.
"Mbok juga pengen, Non. Punya mantu kaya Tuan Axel ganteng, kaya. Tapi ternyata memang anak Mbok diuji dengan suaminya yang pemabuk judi bahkan terakhir berani nonjok Fira, " Lanjut Mbokyem sendu.
"Loh, Mbok? Terus gimana, Mbok?"
"Yaa itu Non. Tetap bertahan dengan alasan anaknya gaada yang menafkahi, akhirnya tetep Mbok paksa. Biarlah urusan nafkah jadi urusan Mbok. Yang penting anak cucu Mbok bahagia," Ucap Mbok lirih. Terlihat airmata mengalir di sudut netranya yang berkerut termakan usia.
"Semoga Fira segera dapat jodoh yang jauh lebih baik, ya Mbok." Doa Daisy tulus.
Sesaat ia teringat segala perhatian Axel. Terselip sepucuk rindu di relung hatinya. Terlepas dari perlakuan Rosa dan juga uang nafkahnya. Axel adalah suami yang baik.
Tak pernah terdengar bentakan dari mulutnya. Apalagi kata-kata kasar atau perlakuan kasar. Sungguh Axel adalah suami idamannya.
Mungkin memang ini ujian rumahtangganya. Diberi suami dengan ekonomi yang mewah serta paras yang bak pahatan patung. Tapi diuji dengan segala perlakuan sengit Rosa.
__ADS_1