Istri Sang CEO Yang Tak Diberi Nafkah

Istri Sang CEO Yang Tak Diberi Nafkah
Tekanan


__ADS_3

"Auroraaaaa" Panggil Daisy pada keponakan manisnya. 


Tapi yang dipanggil tak menanggapi. Ia justru sibuk menata mainan legonya menjadi persis seperti sebuah rumah. Lalu memasukkan boneka barbie ke dalamnya. 


"Hayooo. Kalau di panggil itu jawab doong." Ujar Daisy gemas ia memeluk tubuh mungil Aurora dan merebahkan dirinya, yang membuat Aurora pun ikut rebahan. 


"Aduh tantye. Awas awassss. Lego ku rusak kena kaki tante." Pekik Aurora karena jarak mereka hanya beberapa centi dari lego yang berdiri kokoh. 


Sedang Daisy justru tertawa terbahak melihat keponakannya yang sudah cemberut hampir menangis. 


Sampai akhirnya Hera datang yang membuat Aurora pun seketika berlari kearahnya. 


"Seru amat. Ikut, dong." Tukas Axel yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Daisy. 


"Gamau.! Tante jahat. Om jahat.! "


"Loh. Om salah apa? "


"Karena om yang biasanya selalu nempel sama tante, " Ucapan Aurora tentu membuat mereka kembali tertawa melihat tingkah gemas Aurora. 


"Kali ini om bakal cubit tante. Kamu mau tante di cubit yang mana?" Tanya Axel menautkan jari jempol dan telunjuknya di depan Aurora. 


"Tangannya.!" Seru Aurora. 


Dia pun tertawa keras saat melihat Axel benar-benar mencubit Daisy yang lalu pura-pura menahan sakit. 


"Mah.. Minta susu," Ujar Aurora yang sudah lelah bermain dengan para orang dewasa. 


"Okay… ayo kita istirahat dulu tidur siang, ya." Hera pun segera mengangkat Aurora dalam gendongannya. 


"Dadah om tante… nanti main lagi, ya. Om sama tante juga sana bobok siang." Ucap Aurora dibalik punggung Hera yang berjalan menjauh. 


Daisy dan Axel pun kompak tersenyum dan membalas lambaikan tangan Aurora. 


"Nah… Mas Axel kok pulang lagi?" Tanya Daisy heran. Pasalnya Axel tadi pagi sudah berangkat untuk ke kantor. Tapi belum tengah hari Ia malah sudah pulang lagi. 


"Mau jemput kamu." Jawabnya singkat yang seketika membuat kening Daisy berkerut heran. 


"Kita pulang. Tolong… Please. Demi kebaikan rumah tangga kita." Pinta Axel menangkupkan kedua tangan di depan dada dengan tatapan memelasnya.


Ini dia kelemahan Daisy selama ini. Axel justru terlihat seperti anak anjing yang tersesat. 


"Pulang ke rumah kita?" Lirih Daisy pelan sambil tersenyum kecut. Ia tahu jawaban Axel. Tapi entah pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut mungilnya. 

__ADS_1


"Pertanyaan yang sama dengan jawaban yang sama." Jawab Axel yang terdengar lebih tegas dari biasanya. 


Daisy menghela nafas kasar. 


"Baiklah. Nanti sore." Ucapnya singkat kemudian berlalu dari hadapan Axel yang berdiri mematung. Menyayangkan sikap istrinya yang menurutnya kurang pantas. 


Apa salahnya tinggal sama Mama? Batin Axel tanpa rasa bersalah. 


Ia pun menyusul Daisy yang tengah berjalan menuju kamarnya. 


"Kamu masih nerima job?" Tanya nya heran melihat Daisy sedang sibuk membuat design dari laptopnya. 


Kedua tangannya ia lingkarkan pada pinggang ramping Daisy. Sementara Daisy cuma diam sambil meneruskan pekerjaannya. 


"Iya."


"Kamu istri CEO loh sayang… "


"Istri CEO yang tak pernah diberi nafkah." Cibir Daisy tersenyum kecut. 


"Kan nafkahmu sudah aku titipin ke Mama,"


"Berarti kamu menafkahi Mama bukan aku."


"Kalaupun aku bilang Mama gak pernah ngasih apa kamu akan percaya, Mas?" Sindir Daisy. Netra nya yang sedari tadi menatap layar kini beralih menatap Axel dengan nyalang. 


"Bukan gak percaya. Tapi mana mungkin? Mama bukan orang yang kekurangan sampai harus mengambil hak orang lain." Cecar Axel tak mau kalah. 


Lagi. Daisy cuma bisa diam dengan ucapan suaminya. Entah harus dengan cara apa lagi ia bisa membuka mata Axel kalau orang yang di agung-agungkannya itu selalu merendahkan meremehkan dan kini mengambil haknya. 


***


Ditempat lain Rosa sedang duduk di depan ruang keluarga sembari memainkan ponselnya. Beberapa kali ia terlihat uring-uringan dan merebahkan diri dengan kasar pada sandaran kursi. 


Kling 


Ia segera menegakkan badannya saat mendengar bunyi notifikasi ponselnya. 


"Belum, Ma. Nanti kalau dapat aku hubungin Mama ya."


Ini yang sedari tadi ia tunggu. Ia pun menghela nafas berat saat ternyata hasilnya tak sesuai dengan keinginannya. 


Ia ingin sekali memisahkan Axel dan Daisy. 

__ADS_1


Ia tak tahu kalau sebesar itu rasa cinta Axel pada Daisy. Baru tadi siang Rosa menghampiri Axel di kantornya. Meminta untuk segera pulang meski dengan atau tanpa Daisy. 


Tapi tak ia sangka untuk pertama kalinya Axel hampir membentaknya karena berdebat. Hanya karena perempuan kampung itu. Batin Rosa. 


Meski Axel berjanji akan membawa Daisy pulang, tapi tak juga bisa menenangkan hatinya yang terbakar amarah. 


Dia tak mau Daisy pulang.! 


Yang dia mau Daisy angkat kaki dari rumah hasil jerih payah Ruslan. Dan juga pergi dari kehidupan Axel. 


Akhirnya ia pulang dengan keadaan dongkol setengah mati. Matanya memerah menahan amarah. 


Ia bahkan membentak Diah yang menurutnya terlalu lama membuatkannya minum. Padahal belum 5 menit sejak Diah berlalu menuju dapur. 


Lama Rosa merebahkan diri. Sampai sayup-sayup terdengar suara salam seorang yang amat sangat ia kenal. 


Axel dan Daisy. 


Mereka masuk ke dalam rumah. Menghampiri Rosa. 


"Assalamualaikum, Ma." Ucap mereka hampir bersamaan. Axel mencium punggung tangan Mamanya dengan takzim. Begitu juga dengan Daisy. Tapi saat ia mengulurkan tangan, Rosa justru menarik tangannya. Yang membuat tangan Daisy mengawang di udara.


"Kamu itu jangan terlalu memanjakan istrimu, Axel.!" Bukannya menyambut, Axel dan Daisy justru mendapat omelan dari sang mertua. 


"Tapi, Ma… "


"Mama gamau tahu.! Kaya bocah aja kabur-kabur an. Istri salah itu dikasih pelajaran. Bukannya malah dimanjakan." Belum selesai Axel meneruskan ucapannya Rosa sudah meluncurkan kembali kata-kata pedasnya. 


"Kalau kamu gak bisa ndidik istrimu biar Mama yang ndidik.!" Tiba-tiba tangan Rosa melayangvke arah pipi Daisy. Dengan sigap Axel menahan tangan Rosa. 


"Mama!" Untuk pertama kalinya Daisy melihat Axel menatap nyalang sang Mama. Terdapat api kemarahan yang membara pada mata elangnya. 


"Berani kamu bentak Mama cuma gara-gara perempuan jal*ng ini." Bentak Rosa. 


"Maaf, Ma. Tolong jangan terlewat batas." Ujar Axel menahan amarah. 


Sementara Rosa cuma diam. Amarahnya masih menyala-nyala terlihat dari matanya yang masih melotot dan memerah. 


"Aku menghormati Mama lebih dari siapapun. Tapi bukan berarti Mama bisa menyakiti Daisy. Tolong untuk kali ini. Maafkan Daisy." Ucap Axel lagi. Kini amarahnya sedikit mereda. Ia menggenggam erat tangan Daisy, mencoba memberi kekuatan. 


Rosa terdiam. Ia lalu menghentakkan kakinya dan berlalu dari hadapan mereka berdua. 


Netra Daisy memanas. Ia yang sedari tadi hanya terdiam ternyata menyimpan sakit hati yang dalam. 

__ADS_1


Satu demi satu buliran bening menetes dari netranya. Ia tergugu. Axel yang mengetahui Daisy menangis pun segera memeluknya dan menggendong. Ia bawa Daisy ke dalam kamar. 


__ADS_2