
Daisy yang sedang berjalan menuruni tangga seketika terdiam sesaat.
Dia melihat perempuan ular itu masih saja bertandang kerumahnya. Ehm. Rumah Rosa. Tapi, tetap saja. Ia juga tinggal disini. Jadi, bukankah ia punya hak untuk mengusir tamu tak di undang tersebut?
Dia pun melanjutkan langkah pelan. Kehamilannya sudah memasuki trimester kedua. Jadi mualnya sudah mulai berkurang.
Jadi, ia bisa dengan leluasa mengenyangkan perut suaminya dengan masakan terbaiknya. Tapi lagi-lagi malah harus terganggu dengan kedatangan ular liar.
"Mbak. Ada uler kok engga di usir keluar?" Sindir Daisy saat sudah memasuki dapur.
"Eh, Non? Mana ulernya non?" Balas Hana yang tak mengerti maksud perkataaan Daisy.
"Eh kurang ajar kamu ya.!" Pekik Fanya saat tersadar dia lah yang di maksud dengan ular.
"Kamu kurang pendidikan, Mbak. Cantik-cantik kok ngejar suami orang." Sinis Daisy
"Yang ngerebut Axel itu kamu.! Coba aja kamu enggak menggoda dia. Pasti aku udah bisa balikan.!" Hardik Fanya yang kini sudah berkacak pinggang di belakang Daisy yang sibuk membolak balik bumbu.
"Maaf? Orang cantik gak perlu sibuk menggoda sudah banyak yang antri," Daisy memalingkan badannya menatap Fanya tak kalah sengit. Ia menyunggingkan senyum sinisnya mengejek Fanya.
Tiba-tiba tangan Fanya sudah mengawang di udara ingin menamparnya. Tapi dengan sigap Daisy menangkisnya dan menghempaskan tangan Fanya sampai ia jatuh terduduk di lantai.
Hana yang sedari tadi hanya mengamati pun tersenyum puas melihat Fanya terjerembab di lantai yang keras.
"Ada apa ini?" Sentak Rosa yang tiba-tiba sudah ada di pintu dapur. Ia pun dengan sigap membantu Fanya berdiri.
"Dia sudah mulai berani kasar sama Fanya, Mah. Padahal aku cuma mengingatkan kalau Mas Axel engga suka kalau masakannya terlalu manis. Tapi dia malah mendorongku, Ma." Rintih Fanya yang memulai sandiwaranya.
Daisy dan Hana pun hanya bisa melongo menatapnya.
Pintar sekali dia memutar balikkan fakta batin Daisy
"Heh! Baru sehari pulang kamu sudah bikin keributan. Dasar gak tahu diri kamu.!" Bentak Rosa sambil mendorong bahu Daisy. Ia pasti sudah terjatuh jika saja tak ada Hana di belakang yang dengan sigap membantunya tetap berdiri.
"Sadar, Ma. Siapa yang seharusnya Mama bela. Aku atau dia ?!" Lirih Daisy pelan tapi penuh dengan penekanan.
"Tentu saja Fanya.!" Geram Rosa sambil menatap Daisy dengan tajam. Sementara Fanya yang sedari tadi berlindung di balik punggung Rosa terlihat sedang tersenyum penuh kemenangan pada Daisy
"Cuma Fanya menantuku. Baik dulu sekarang atau kapanpun. Kamu jangan mimpi bisa diterima di rumah ini." Lanjut Rosa, seketika membuat jantung Daisy berdebar kencang.
__ADS_1
Akhirnya ia diam. Lalu berusaha tak acuh dan melanjutkan kegiatan memasaknya.
"Lihat, Ma. Semakin kurang ajar dia. Diajak ngomong sama Mama Mertua malah cuek aja." Ucap Fanya lagi. Ia masih terus berusaha mengompori Rosa.
"Lihat aja nanti. Aku akan buat kalian pisah. Bagaimanapun caranya." Sungut Rosa yang membuat spatula yang di pegang Daisy terjatuh.
"Astaghfirullah, Ma." Lirih Daisy
Fanya tersenyum senang. Sementara Hana sudah sedari tadi melanjutkan memasaknya karena hari sudah semakin siang.
Sarapan berlalu begitu saja. Dengan Axel yang sedang bercengkrama hangat dengan Rosa. Tanpa pernah tahu apa yang sudah dialami oleh Daisy akibat Mama dan mantan pacarnya itu.
Sepanjang mengunyah Daisy cuma diam. Andai saja dia tidak sedang hamil pasti dia lebih memilih puasa daripada harus memakan makanan yang terasa hambar karena moodnya yang seketika hilang.
"Sayang… Nambah lagi dong ayamnya. Biar anak kita sehat disana," Ucap Axel dengan senyum manisnya sembari mengelus pelan perut Daisy dibalik meja.
Daisy masih diam. Kata-kata Axel yang seolah tak terjadi apapun malah membuat hatinya semakin sakit.
"Sayang… ?" Panggil Axel lagi setelah Daisy cuma terdiam.
"Sini aku yang tambahin." Fanya berujar dengan senyum manisnya. Ia mengambil sepotong ayam lalu menaruh nya di piring Daisy.
"Aduh. Engga jadi makan deh. Takut ada racunnya" Sengit Daisy sambil tersenyum sinis.
"Apa? Padahal kan kamu sendiri yang masak. Jadi, kamu taruh racun di masakanmu kah?" Ejek Fanya.
"Iya aku yang masak. Tapi aku gak mau makan makanan yang udah kamu sentuh. Kamu kan jelmaan ular beracun." Celetuk Daisy santai. Ia lantas beranjak dari tempatnya duduk.
Axel mengikuti Daisy. Andai saja Fanya bukan tamu Rosa pasti sudah ja usir. Lama-lama jengah ia harus melihatnya ada di meja makan setiap hari.
"Aku berangkat dulu, ya." Pamit Axel setelah mengambil tas kerja yang sudah Daisy siapkan.
"Gausah di anter. Kamu istirahat aja di kamar. Aku takut kamu di patok ular." Kelakar Axel sambil mencium kening Daisy lembut.
Daisy melongo sejenak tapi kemudian tertawa pelan.
"Nah. Gitu dong. Kamu cantik kalau ketawa," Ujar Axel lagi-lagi mencium semua bagian wajah Daisy.
"Jadi, cantiknya cuma pas ketawa?" Balas Daisy. Ia mulai kuwalahan dengan tingkah Axel yang menciumnya tanpa henti.
__ADS_1
"Tetep cantik. Tapi kalau tertawa cantiknya nambah berkali-laki lipat.
" Gombal. Udah ayok aku anter enggak apa-apa." Daisy mengamit lengan Axel dan mengajaknya keluar, tapi langkahnya tertahan saat Axel tetap diam di tempatnya berdiri.
"Katanya takut uler?" Canda Axel lagi.
"Ih. Ngapain takut. Enggak tuh."
"Kalau di gigit gimana?"
"Dia uler, aku harimau. Sekali hap ilang dia di mulut besarku." Ujar Daisy seraya mengangkat tangan menirukan cakar harimau dan mengaum pelan.
Axel malah tertawa terpingkal dibuatnya.
Mereka lalu berjalan berbarengan menuruni tangga. Daisy mengapit erat lengan Axel ingin menunjukkan pada dunia bahwa Axel adalah suaminya. Miliknya.
Ia sudah bertekad tak akan melepaskan Axel apapun yang terjadi. Kecuali jika Axel sendirilah yang memilih untuk pergi.
Ia selalu berdoa di sepertiga malam agar dibukakan pintu hati Mama Mertua dan agar ia bisa selalu sabar teguh menjalani setiap ujian rumah tangganya.
Saat melewati meja makan tak dilihatnya lagi Rosa dan Fanya. Entah ada dimana mereka.
Tanpa sadar Daisy menghela nafas lega. Ia sudah lelah dengan semua drama yang disebabkan oleh mereka berdua.
Setelah mengantar kepergian Axel, Daisy pun segera masuk ke dalam.
Saat sampai di ruang keluarga ia sayup-sayup mendengar suara dua orang sedang berbincang. Hanya tak begitu jelas.
Saat celingukan ia melihat Rosa dan Fanya sedang bercanda berdua di pinggir kolam renang.
Keduanya asyik berbincang yang entah apa sampai Rosa tertawa lepas. Matanya terlihat berbinar bahagia.
Melihat pemandangan pagi itu seketika membuat dada Daisy ngilu. Itu yang selalu ia harapkan. Itu yang selalu ia impikan.
Mempunyai Mama mertua pun adalah mimpi ibunya. Berkali-kali Daisy mendengar kalau ibunya selalu berdoa semoga kedua anaknya mendapatkan mertua yang selalu memuliakan menantunya dan menganggap mereka anaknya sendiri.
Setetes buliran bening jatuh dari sudut netranya. Tak mau berlama-lama sakit hati ia pun segera berlalu.
Lebih baik kali ini ia fokus mandiri dan menghasilkan uang sendiri.
__ADS_1