
"Kau berkelit pun sudah percuma Fanya. Bukti dihadapanmu sudah cukup mengungkap semua niat busukmu" Axel geram. Sudah salah masih juga tak mengucapkan kata maaf sedikitpun
Tersenyum sinis. Menatap Ardina dari atas sampai bawah berakhir pada box bayi yang menampakkan bayi tengah tertidur lelap
Bohong kalau dibilang ia sama sekali tak ada rasa pada bayi itu. Beberapa bulan bersama dan merawatnya menumbuhkan sebuah rasa yang menggelitik
Ia hanya bayi tak berdosa yang tak bisa memilih harus lahir dari rahim perempuan mana
Ebra berjalan pelan lurus kedepan yang seketika membuat senyum Ardina merekah
Tapi betapa terkejutnya Ardina saat Ebra justru melewatinya begitu saja dan menghampiri box bayi dibelakangnya
"Baik-baik ya nak. Sekarang aku bukan lagi Papa mu. Tapi sampai kapanpun kamu akan menjadi keponakanku" Lirih Ebra mencium sekilas pipi kiri dan kanannya, dan melakukan tos dengan mengepalkan tangan dan mengarahkan pada tangan mugil bayi yang pernah ia adzani itu.
"Aku pergi." Pamit Ebra.
"Tungu" Ucap Ebra menghentikan langkah sejanak lalu berbalik. Menatap Ardina yang sudah tergugu
Banyak yang telah dilalui hari-hari kebersamaannya dengan Ardina dan tentu saja juga Daisy
Sesampainya di mobil Ebra justru terdiam. Menatap nanar pada kediaman yang belum lama ditempati
Kediaman yang diberikan oleh Ferdi -Ayah Ardina- sebagai hadiah pernikahan mereka
Entah apa yang akan dikatakan oleh Ferdi jika tahu anaknya telah ditinggalkan oleh Ebra
Ebra menelungkupkan kepala pada stir mobil. Meresapi segala rasa sakit yang terasa menyesakkan
Terlalu banyak kenangannya bersama Ardina dan Daisy. Mereka telah bersahabat bersama sejak lama
Meski memang niat awalnya bukan teman. Tapi, ia yang langsung tertarik pada Daisy. Alih-alih menawarkan cinta ia menatap ngeri pada beberapa laki-laki yang ditolak oleh Daisy. Hingga memutuskan untuk mendekatinya pelan dengan status teman
"Ebra. Kumohon jangan gini. Kasian Satria" Ardina datang dan langsung memukul kaca mobil Ebra dengan brutal
"Aku sayang sama kamu. Kembali ayolah. Aku akan melakukan apapun untukmu" Racau Ardina dengan lelehan air mata yang sudah membanjiri muka dan bahkan membuat bajunya basah
Sesak. Sesak rasanya melihat seseorang yang sudah ia anggap sahabat menjadi sangat hancur. Tapi, dirinya pun tak kalah hancur
"Sayangmu terlalu besar sampai menyakitiku Ardina" Ebra bergumam masih dengan kepala tertunduk
Setelah dirasa agak tenang, Ebra mendongak. Menatap Ardina tergugu bahunya berguncang hebat.
Pemandangan yang membuat semakin sesak. Akhirnya Ebra membutakan mata atas apa yang ia lihat dan langsung menekan gas dalam-dalam yang membuat Ardina jatuh tersungkur
__ADS_1
Terlihat jelas di kaca spion Ardina yang terduduk dan berteriak memanggil namanya
"Berfikirlah sebelum bertindak, Ardina. Semoga kau segera menyadari bahwa tindakanmu adalah kesalahan terbesae yang bahkan tak pantas mendapatkan maaf dariku ataupun Daisy" Ebra berkata pada dirinya sendiri. Kuda besinya melaju kencang membelah udara malam yang semakin dingin
***
Wanita yang biasanya menghabiskan waktu dengan shoping dan kegiatan kelompok sosialitanya itu kini lebih banyak terdiam di kamar dengan tatapan menatap nanar pada pemandangan berbagai bangunan dari kamarnya yang ada di lantai 2.
Lagi-lagi menghembuskan nafas kasar. Lelah memikirkan semua rencana yang nyatanya harus gagal total
Ia bahkan harus dengan sukarela menerima hukuman dari Papanya dengan menyita semua kartu debit dan credit card
Membuatnya harus berakhir dengan mengenaskan di kamar yang menyesakkan
Beberapa kali kenalannya menghubungi dan mencarinya. Sudah lama pula ia beralasan dengan kecelakaan beberapa waktu lalu
Ya. Kecelakaan yang ia buat karena kelalaiannya hingga terjatuh dari atas tangga, demi mendapat simpati dari Axel
Yang faktanya malah harus membuatnya berada dalam situasi sulit tanpa bisa melakukan apapun termasuk berbelanja
Memang hukuman yang diberikan Papa tak terlalu lama. Tapi, bagi Fanya yang terbiasa dengan kemewahan dan shoping pasti akan amat terasa perubahannya
Fanya menghela nafas kasar. Obsesinya pada Axel terlalu besar. Sudah terbiasa mendapatkan apa yang dimau hingga membuat gelap mata rela melakukan apapun
Tak ada rasa hormat pada yang lebih tua. Yang ada justru rasa ingin dipatuhi oleh Rosa
Sayangnya ia terlalu tinggi hati untuk menyadari setiap kesalahan yang dibuat
Ponsel yang tergeletak di meja sampingnya diraih. Dengan cekatan mengetik beberapa kata yang baginya biasa, tapi mengerikan bagi sebagian orang
Lakukan sekarang. Pastikan kecelakaannya parah. Ia harus menghembuskan nafas terakhir dengan tenang tanpa rasa sakit. Tulis Fanya pada pesan di salah satu aplikasi
Yang langsung dibalas dengan emoticon gambar jempol.
Setelah itu ia masih bisa dengan santai menyeruput pelan teh yang mulai mendingin.
***
Ruslan menambah kecepatan kendaraannya saat merasakan 3 sepeda motor dan 2 mobil mengikutinya dari belakang
Mulai dari saat ia masih ada di kota sampai hampir separuh perjalanan menuju villa tempat Daisy dan Axel menginap, Ruslan baru merasa aneh dengan mereka
Mereka melakukannya dengan hati-hati hingga membuatnya lengah
__ADS_1
Dengan sedikit panik Ruslan menginjak pedal gas dalam-dalam dengan cuaca yang mulai mendung dan jalan yang berliku, membuat keadaan kian genting
Ruslan merutuki diri sendiri dengan keputusannya untuk menyetir sendiri. Padahal ada sopir yang sudah siap siaga mengantarnya kemanapun dan kapanpun
Tapi naas. Penyesalan tak bisa membuatnya selamat
Takdir sudah menghampirinya. Takdir untuk beristirahat dengan tenang dalam dekapan Tuhan
Salah satu mobil di belakangnya dengan satu kali injakan gas menabrak mobilnya dari belakang membuatnya seketika jatuh terperosok ke jurang yang dalam
Mereka lalu dengan cepat meninggalkan tempat kejadian setelah melihat situasi aman dari saksi mata
Dalam keadaan setengah sadar terkahir yang Ruslan ingat adalah anak dan menantunya
***
"Aku ikut ya?" Rengek Daisy tiba-tiba saat Axel akan berangkat ke kantor
Rencananya untuk mengambil libur beberapa hari harus tertunda karena Ruslan tak ada di tempat dan tak bisa dihubungi
Sedang meeting harus berjalan kurang dari 2 jam. Dan ditengah kepanikannya Daisy justru merengek ingin ikut
"Baiklah… tapi kamu harus nunggu di ruanganku sendirian nggak papa? Aku harus meeting" Axel berucap dengan mengelus pelan puncak kepala Daisy yang tengah menempel padanya
Tidak ada jawaban, Daisy melepas pelukan dan menarik bibir dikedua sisi dengan lebar. Mengukir tawa merekah yang membuat Axel semakin gemas
"Se suka itu?" Tanya Axel ikut tertawa dengan tingkah kekanakan dari wanita hamil di depannya
"Banget! Aku ambil tas sebentar ya" Axek menahan tangan Daisy saat ia akan melangkah
"Aku yang ambil. Kamu tunggu di mobil" Ucap Axel membuat Daisy makin tertawa kegirangan
Axel hanya geleng-geleng kepala saat melihat Daisy melangkah dengan riang sambil mengayunkan kedua tangan layaknya anak-anak
Terimakasih dan maaf buat yang sudah mau menunggu novel ini UP. :')
Karena saya masih fokus buat kesembuhan Suami yang masuk rumah sakit. 🙏
__ADS_1