Istri Sang CEO Yang Tak Diberi Nafkah

Istri Sang CEO Yang Tak Diberi Nafkah
Diujung Jurang


__ADS_3

"Kau berkelit pun sudah percuma Fanya. Bukti dihadapanmu sudah cukup mengungkap semua niat busukmu" Axel geram. Sudah salah masih juga tak mengucapkan kata maaf sedikitpun


Tersenyum sinis. Menatap Ardina dari atas sampai bawah berakhir pada box bayi yang menampakkan bayi tengah tertidur lelap


Bohong kalau dibilang ia sama sekali tak ada rasa pada bayi itu. Beberapa bulan bersama dan merawatnya menumbuhkan sebuah rasa yang menggelitik


Ia hanya bayi tak berdosa yang tak bisa memilih harus lahir dari rahim perempuan mana


Ebra berjalan pelan lurus kedepan yang seketika membuat senyum Ardina merekah


Tapi betapa terkejutnya Ardina saat Ebra justru melewatinya begitu saja dan menghampiri box bayi dibelakangnya


"Baik-baik ya nak. Sekarang aku bukan lagi Papa mu. Tapi sampai kapanpun kamu akan menjadi keponakanku" Lirih Ebra mencium sekilas pipi kiri dan kanannya, dan melakukan tos dengan mengepalkan tangan dan mengarahkan pada tangan mugil bayi yang pernah ia adzani itu. 


"Aku pergi." Pamit Ebra. 


"Tungu" Ucap Ebra menghentikan langkah sejanak lalu berbalik. Menatap Ardina yang sudah tergugu


Banyak yang telah dilalui hari-hari kebersamaannya dengan Ardina dan tentu saja juga Daisy


Sesampainya di mobil Ebra justru terdiam. Menatap nanar pada kediaman yang belum lama ditempati


Kediaman yang diberikan oleh Ferdi -Ayah Ardina- sebagai hadiah pernikahan mereka


Entah apa yang akan dikatakan oleh Ferdi jika tahu anaknya telah ditinggalkan oleh Ebra


Ebra menelungkupkan kepala pada stir mobil. Meresapi segala rasa sakit yang terasa menyesakkan


Terlalu banyak kenangannya bersama Ardina dan Daisy. Mereka telah bersahabat bersama sejak lama


Meski memang niat awalnya bukan teman. Tapi, ia yang langsung tertarik pada Daisy. Alih-alih menawarkan cinta ia menatap ngeri pada beberapa laki-laki yang ditolak oleh Daisy. Hingga memutuskan untuk mendekatinya pelan dengan status teman


"Ebra. Kumohon jangan gini. Kasian Satria" Ardina datang dan langsung memukul kaca mobil Ebra dengan brutal


"Aku sayang sama kamu. Kembali ayolah. Aku akan melakukan apapun untukmu" Racau Ardina dengan lelehan air mata yang sudah membanjiri muka dan bahkan membuat bajunya basah


Sesak. Sesak rasanya melihat seseorang yang sudah ia anggap sahabat menjadi sangat hancur. Tapi, dirinya pun tak kalah hancur


"Sayangmu terlalu besar sampai menyakitiku Ardina" Ebra bergumam masih dengan kepala tertunduk


Setelah dirasa agak tenang, Ebra mendongak. Menatap Ardina tergugu bahunya berguncang hebat. 


Pemandangan yang membuat semakin sesak. Akhirnya Ebra membutakan mata atas apa yang ia lihat dan langsung menekan gas dalam-dalam yang membuat Ardina jatuh tersungkur

__ADS_1


Terlihat jelas di kaca spion Ardina yang terduduk dan berteriak memanggil namanya


"Berfikirlah sebelum bertindak, Ardina. Semoga kau segera menyadari bahwa tindakanmu adalah kesalahan terbesae yang bahkan tak pantas mendapatkan maaf dariku ataupun Daisy" Ebra berkata pada dirinya sendiri. Kuda besinya melaju kencang membelah udara malam yang semakin dingin


***


Wanita yang biasanya menghabiskan waktu dengan shoping dan kegiatan kelompok sosialitanya itu kini lebih banyak terdiam di kamar dengan tatapan menatap nanar pada pemandangan berbagai bangunan dari kamarnya yang ada di lantai 2.


Lagi-lagi menghembuskan nafas kasar. Lelah memikirkan semua rencana yang nyatanya harus gagal total


Ia bahkan harus dengan sukarela menerima hukuman dari Papanya dengan menyita semua kartu debit dan credit card


Membuatnya harus berakhir dengan mengenaskan di kamar yang menyesakkan


Beberapa kali kenalannya menghubungi dan mencarinya. Sudah lama pula ia beralasan dengan kecelakaan beberapa waktu lalu


Ya. Kecelakaan yang ia buat karena kelalaiannya hingga terjatuh dari atas tangga, demi mendapat simpati dari Axel


Yang faktanya malah harus membuatnya berada dalam situasi sulit tanpa bisa melakukan apapun termasuk berbelanja


Memang hukuman yang diberikan Papa tak terlalu lama. Tapi, bagi Fanya yang terbiasa dengan kemewahan dan shoping pasti akan amat terasa perubahannya


Fanya menghela nafas kasar. Obsesinya pada Axel terlalu besar. Sudah terbiasa mendapatkan apa yang dimau hingga membuat gelap mata rela melakukan apapun


Tak ada rasa hormat pada yang lebih tua. Yang ada justru rasa ingin dipatuhi oleh Rosa


Sayangnya ia terlalu tinggi hati untuk menyadari setiap kesalahan yang dibuat


Ponsel yang tergeletak di meja sampingnya diraih. Dengan cekatan mengetik beberapa kata yang baginya biasa, tapi mengerikan bagi sebagian orang


Lakukan sekarang. Pastikan kecelakaannya parah. Ia harus menghembuskan nafas terakhir dengan tenang tanpa rasa sakit. Tulis Fanya pada pesan di salah satu aplikasi


Yang langsung dibalas dengan emoticon gambar jempol. 


Setelah itu ia masih bisa dengan santai menyeruput pelan teh yang mulai mendingin.


***


Ruslan menambah kecepatan kendaraannya saat merasakan 3 sepeda motor dan 2 mobil mengikutinya dari belakang


Mulai dari saat ia masih ada di kota sampai hampir separuh perjalanan menuju villa tempat Daisy dan Axel menginap, Ruslan baru merasa aneh dengan mereka


Mereka melakukannya dengan hati-hati hingga membuatnya lengah

__ADS_1


Dengan sedikit panik Ruslan menginjak pedal gas dalam-dalam dengan cuaca yang mulai mendung dan jalan yang berliku, membuat keadaan kian genting


Ruslan merutuki diri sendiri dengan keputusannya untuk menyetir sendiri. Padahal ada sopir yang sudah siap siaga mengantarnya kemanapun dan kapanpun


Tapi naas. Penyesalan tak bisa membuatnya selamat


Takdir sudah menghampirinya. Takdir untuk beristirahat dengan tenang dalam dekapan Tuhan


Salah satu mobil di belakangnya dengan satu kali injakan gas menabrak mobilnya dari belakang membuatnya seketika jatuh terperosok ke jurang yang dalam


Mereka lalu dengan cepat meninggalkan tempat kejadian setelah melihat situasi aman dari saksi mata


Dalam keadaan setengah sadar terkahir yang Ruslan ingat adalah anak dan menantunya


***


"Aku ikut ya?" Rengek Daisy tiba-tiba saat Axel akan berangkat ke kantor


Rencananya untuk mengambil libur beberapa hari harus tertunda karena Ruslan tak ada di tempat dan tak bisa dihubungi


Sedang meeting harus berjalan kurang dari 2 jam. Dan ditengah kepanikannya Daisy justru merengek ingin ikut


"Baiklah… tapi kamu harus nunggu di ruanganku sendirian nggak papa? Aku harus meeting" Axel berucap dengan mengelus pelan puncak kepala Daisy yang tengah menempel padanya


Tidak ada jawaban, Daisy melepas pelukan dan menarik bibir dikedua sisi dengan lebar. Mengukir tawa merekah yang membuat Axel semakin gemas


"Se suka itu?" Tanya Axel ikut tertawa dengan tingkah kekanakan dari wanita hamil di depannya


"Banget! Aku ambil tas sebentar ya" Axek menahan tangan Daisy saat ia akan melangkah 


"Aku yang ambil. Kamu tunggu di mobil" Ucap Axel membuat Daisy makin tertawa kegirangan


Axel hanya geleng-geleng kepala saat melihat Daisy melangkah dengan riang sambil mengayunkan kedua tangan layaknya anak-anak




Terimakasih dan maaf buat yang sudah mau menunggu novel ini UP. :')



Karena saya masih fokus buat kesembuhan Suami yang masuk rumah sakit. 🙏

__ADS_1


__ADS_2