Istri Sang CEO Yang Tak Diberi Nafkah

Istri Sang CEO Yang Tak Diberi Nafkah
Tamu Tak Diharapkan


__ADS_3

Brak brak brak ! 


Tergopoh Daisy bangun dari tidurnya. Suara gedoran pintu membuatnya kaget dan seketika terbangun. 


"Ada apa, Ma?" Tanya nya melihat Rosa sudah berdiri di depan pintu dengan berkacak pinggang. 


"Masak.! Jangan tidur aja. Hamil itu ya harus gerak. Jangan jadi alasan buat bermalas-malasan.!" Gertak Rosa tiba-tiba. 


"Tapi, Ma… aku mual kalau nyium bau masakan dan bau bawang, Ma." Keluh Daisy sambil memegangi kepala yang seketika pening. 


"Jangan banyak alasan kamu. Minimal kalau numpang itu ya bantu-bantu jangan bisanya cuma diam dikamar." Hardik Rosa lagi. 


Padahal sebelumnya Dia selalu membantu memasak. Tapi memang semenjak hamil, Daisy gak kuat dengan bau masakan. 


"Ma. Kan sudah ada Mbak Hana," Lirih Daisy pelan sambil memegang kening yang semakin pusing. 


"Istrinya Axel kamu apa hana?!"


"Astaghfirullah Ma… "


Tanpa kata apapun lagi Rosa berbalik sambil menghentakkan kaki. 


"Kalau gabisa nyenengin Suami biar Axel Mama nikahin sama Fanya aja. Punya mantu gak becus nyenengin suami." Ucapnya lagi saat sudah sampai di ujung tangga. 


Akhirnya dengan langkah gontai Daisy menuruti apa kata Rosa. Baru tiga hari Ia istirahat dari kegiatan menyiapkan makan untuk Axel. Tapi Rosa bertingkah seolah Dia sudah bertahun-tahun mengabaikan anak kesayangannya. 


"Ayo, Fanya. Kamu istirahat aja. Biarin dia yang masak. Enak aja jadi istri cuma ongkang-ongkang kaki." Terdengar suara Rosa saat Daisy baru saja turun dari tangga. 


"Tapi, Ma. Aku pengen nyiapin makan biar mas Axel seneng."


"Biar aja. Nanti aku bilang ini masakan kamu."


Mereka berlalu begitu saja dari dapur dan berpindah entah kemana. Sementara Daisy cuma diam sambil geleng-geleng kepala. Entah siapa mantu dan siapa benalu disini. 


"Non. Duduk di situ aja, Non. Enggak apa-apa biar Mbak kerjain semuanya sendiri." Ujar Hana saat Daisy akan memotong wortel. 


"Udah, Mbak. Daripada nanti telingaku panas denger ocehan mereka." 


Sudah hilang rasa hormat Daisy pada Rosa yang merupakan Ibu Mertuanya. Karena berbagai macam perkataan pedas yang selama ini Ia terima. 


Daisy mengerjakan semuanya dalam diam. 


"Mbak. Punya masker, enggak? Aduh engga kuat baunya aku," Daisy membolak-balikkan ayam yang di gorengnya dengan menutup hidung. 

__ADS_1


"Eh. Ada Non. Sebentar." Hana pun segera berlari meninggalkan Daisy menuju kotak p3k yang ada di lemari dekat dapur. 


Daisy segera memakainya dan melanjutkan aktifitasnya. 


"Mbak. Emang Axel sama Fanya dulu pacaran berapa tahun,?" Akhinya Daisy membuka obrolan setelah lama terdiam. 


"Kalau tepatnya saya kurang tahu, Non. Tapi memang kurang lebih dua tahun." Jawab Hana, sementara Daisy cuma mengangguk-angguk. 


"Saya enggak suka sama Dia, Non." Bisik Hana lagi di telinga Daisy. 


Daisy mengangkat kedua alisnya mencari jawaban dari ketidak sukaan Hana. 


"Suka marah-marah, Non. Apalagi denger-denger putusnya karena Non Fanya punya selingkuhan," Lanjut Hana lagi. 


Info yang sangat menarik untuk Daisy. Mungkin suatu saat bisa Ia jadikan boomerang untuk melawan Fanya. 


Selesai sudah. Daisy dan Hana memasak beberapa menu yang terlihat menggiurkan. Lebih tepatnya menu yang telah dipilih oleh Rosa dan Fanya. 


"Sayaaaangg. Kangen." Ucap Axel tiba-tiba melingkarkan lengan kekarnya di pinggang ramping Daisy. Membuatnya yang sedang mencuci tangan di wastafel terlonjak kaget. 


Sementara Hana yang masih ada disitu segera melipir menjauh. Memberikan ruang berduaan untuk kedua majikannya. 


"Baru dateng itu mandi, Mas." Ucap Daisy. Axel malah semakin merapatkan lengannya saat Daisy mencoba melepas pelukannya. 


"Enggak inget apa kata dokter?" Daisy membalikkan badan dan kini mereka berhadapan. 


"Sekali aja masa gaboleh." Jawabnya mengerucurkan bibir dan menyandarkan kepala pada pundak ramping Daisy. 


"Yaudah, lepas. Ayo ke kamar."


Tapi, bukannya melepas pelukan Axel justru mengangkat Daisy kedalam gendongannya. Yang seketika membuat mulut Daisy memekik pelan. 


Sementara di sudut lain rumah megahnya terlihat sepasang mata tajam pada mereka. 


"Lihat saja. Aku pasti akan memisahkan kalian berdua." Ucap Fanya. Tangannya terkepal rapat sampai kuku jarinya memutih. 


"Fanya.. " Rosa mengelus pelan pundak Fanya seolah memberi kekuatan. 


"Harusnya aku, Ma yang menerimaa semua perlakuan manis Axel. Harusnya aku." Ucapnya penuh dendam. Tak ingatkah Dia siapa yang membuat hubungannya dan Axel hancur? 


"Iya, Sayang. Mama ngerti. Mama pasti bantu kamu. Sekarang kita makan, ya." Ucapnya lagi. 


"Biar aku suruh Hana buat manggil mereka, Ma. Aku gak suka mereka berduaan." Gumam Fanya yang langsung menghampiri Hana. 

__ADS_1


Sementara kedua pasutri itu tengah menggosokkan sabun ke badan satu sama lain. 


"Mas. Ada yang ngetuk pintu," Celetuk Daisy saat Axel sibuk menggosok sambil menciumi punggung mulus Daisy. 


"Biarin." Tukas Axel. 


Tapi ketukan itu terus berlanjut hingga membuat Axel geram dan berjalan ke arah pintu lengkap dengan handuk dan rambut yang masih bersabun. 


"Ada apa?!"gerutu Axel saat melihat Hana menunduk dibalik pintu. 


" Maaf, Tuan. Ditunggu nyonya dibawah buat makan malam. Katanya Tuan dan Nona harus makan bareng sekarang."


Axel mengacak rambut dengan gusar. Lalu mengusir Hana dengan hanya melambaikan tangan. 


Saat kembali masuk mood nya semakin buruk saat Daisy justru sudah siap memakai pakaiannya. 


"Siapa yang nyuruh kamu pakai baju?" Tukas Axel. 


"Biar gak masuk angin." Jawab Daisy asal sambil berjalan ke arah meja rias. Namun langkahnya terhenti saat Axel menarik tangannya hingga Ia berbalik dan memeluk dada bidang Axel yang masih tersisa buih sabun. 


"Maass. Kamu gak denger tadi Hana bilang ditunggu Mama?" Lirih Daisy saat lagi. Axel mulai menciumi leher jenjangnya. 


Akhirnya dengan hembusan nafas kasar Axel menghentikan kegiatannya dan segera menyelesaikan mandi yang tadi sempat tertunda. 


Saat Axel dan Daisy sampai, terlihat Fanya yang menatap penuh kebencian padanya. Sambil terus melirik tangannya dan Axel yang sedang bergandengan. 


"Lama banget, Axel. Kan kasian Fanya nungguin kamu lama." Ujar Rosa saat Axel menarik kursi untuk Daisy. 


"Kenapa gak makan duluan aja si, Ma." Gerutu Axel. 


"Kamu beberapa hari ini tuh jarang makan bareng Mama." Tukas Mama tak kalah sengit. 


"Lagian, ngapain juga ini orang kenapa terus-terusan minta makan kesini?" Sontak Daisy tersenyum penuh kemenangan mendengar penuturan Axel. Bagaimana tidak? Sudah beberapa kali Fanya numpang disini tapi Axel selalu diam. 


Sementara muka Fanya terlihat merah padam. Entah menahan malu atau marah. 


"Axel.! Kamu jangan gak sopan gitu. Fanya tamu mama.!" Tukas Mama tak suka. 


"Tamu yang tak diharapkan." Sindir Axel dengan senyum sinisnya. 


"Axel.!!!" Hardik Mama. Fanya tanpa kata apapun langsung berdiri dan meninggalkan meja makan. 


Senyum Daisy makin mengembang saat melihat Mama mengejar Fanya dan Axel dengan tak acuh menyodorkan piring kosong pada Daisy. 

__ADS_1


"Katanya ngajak makan? Mana? Ambilin dong" Rengek Axel kemudian. 


__ADS_2