
"Aku harus ke kantor. Kamu ditemenin Hana aja ya." Ucap Axel ia mengambil benda pipihnya di saku, hendak menghubungi Hana.
"Pengen ditemenin dulu," Pinta Daisy penuh harap.
Tapi ia justru menatap ke arah lain. Matanya masih tak berani melihat Axel dengan sorot dinginnya. Ia tak mampu.
"Aku sibuk." Ucap Axel tak acuh sambil masih sibuk dengan layar ponselnya.
"Mas. Kamu benar-benar enggak percaya sama aku? Tidakkah ada sedikit rasa percayamu untukku?" Lirih Daisy. Yang perlahan mulai meruntuhkan pertahanan Axel.
Ia mempunyai alasan tersendiri mengapa ia begitu mengelukan Mama dan begitu mempercayainya lebih dari siapapun.
Tapi tetap saja. Rasa cintanya yang begitu besar untuk Daisy mulai membuatnya ragu mana yang harus ia percayai.
Axel menggeleng. Sekali lagi ingatan menyakitkan masa kecilnya begitu mengganggunya yang kemudian membuatnya seketika kembali men dewa kan Rosa.
"Aku akan meminta pendapat pada Mama. Haruskah aku ceraikan kamu sekarang, atau nanti saat anak di kandunganmu lahir." Ucap Axel lagi.
Degh.!
"Ugh." Rintih Daisy saat lagi-lagi merasakan sakit tak tertahan di perutnya bersamaan dengan detak jantung yang bergemuruh hebat.
Ia memejamkan mata. Mencoba menahan segala rasa sakit yang entah kenapa tak ingin ia tunjukkan pada Axel.
"Kenapa?" Tanya Axel saat ia sudah menengadahkan mukanya menatap Daisy yang diam dengan mata terpejam.
"Daisy." Gumam Axel yang mulai memegang tangan Daisy saat Daisy tak menjawab pertanyaannya.
"Jangan terus-terusan mengagetkanku dengan ucapan mu kalau kamu mau anak ini selamat, Mas." Lirih Daisy
"Aku akan tunggu di luar. Sebentar lagi Hana datang." Ucap Axel tak berperasaan.
Daisy mengangguk pelan. Ia mengangkat tangannya dan menutupi mukanya dengan tangan kirinya.
"Aku harus apa agar rumah tanggaku bertahan ya Allah." Rintih Daisy pelan.
Tak berapa lama Hana pun datang.
***
"Axel.!" Panggil Rosa, saat melihat Axel yang baru saja keluar dari mobil mewahya.
"Ngapain kamu masih saja peduli dengan Daisy, sih." Sambung Rosa saat Axel hanya diam dan melanjutkan langkahnya.
Tak ia hiraukan Rosa yang mengikutinya. Dan Fanya yang duduk dengan tatapan memuja padanya.
"Axel.!!!" Panggil Rosa lagi dengan suara yang lebih keras.
__ADS_1
"Nanti dulu, Ma. Aku mau mandi. Gerah." Ucap Axel sambil berlalu dan melambaikan tangannya.
Rosa cuma bisa menghetakkan kakinya dan merebahkan diri di sofa dengan kasar. Sementara Fanya mengelus punggungnya pelan.
"Sabar, Ma." Ucapnya pelan yang masih bisa didengar Axel.
Axel menikmati setiap tetesan air yang mengalir dari shower kamar mandinya.
Fikirannya berkecamuk. Rasa cintanya untuk Daisy membuatnya ingin percaya pada belahan jiwanya. Tapi di sisi lain traumanya menyuruhnya untuk selalu percaya dan mematuhi apa kata Rosa
Tapi ia juga tak suka atas sikap Mamanya yang tiba-tiba selalu membawa Fanya untuk berkunjung ke rumah hampir setiap hari.
"Axel… " Lirih Rosa saat dilihatnya Axel sudah menuruni tangga dan berjalan ke arah Rosa dan Fanya.
Fanya menegakkan bahunya seraya rersenyum semanis mungkin. Axel berpaling menatap ke arah lain dan beringsut duduk di ujung sofa samping Rosa.
"Mama mau kamu ceraikan Daisy, Axel.!" Ucap Rosa tanpa basa-basi.
"Daisy hamil, Ma. Axel ingin memastikan apakah benar itu anakku atau bukan."
"Jangan gila, Axel. Kamu tahu apa yang sudah dilakukan Daisy, kan?" Hardik Rosa saat melihat Axel masih saja percaya pada Daisy
"Mama enggak mau memastikan? Bukankah kalau itu anak Axel, dia juga berarti cucu Mama. Bagian dari keluarga kita." Ungkap Axel berusaha untuk meyakinkan Rosa
"Aku tak akan pernah mengakuinya sebagai cucu. Dia cuma wanita murahan. Mama bahkan enggak tahu sudah berapa pria yang dia tiduri." Ucap Rosa jijik.
"Benar itu, Axel. Kamu berhak mendapat yang lebih baik dari wanita murah itu." Cetus Fanya tiba-tiba yang entah mengapa membuat Axel naik pitam
Fanya yang melihat kata dengan amarah itupun menunduk. Tak berani menatap netra Axel yang penuh dengan kebencian.
"Jangan kasar sama Fanya Axel." Gertak Rosa
"Sudahlah, Ma. Kenapa Mama selalu membela dia." Keluh Axel.
"Tentu saja karena Mama sayang sama Fanya."
"Sudah jangan mengalihkan pembicaraan. Pokoknya Mama mau kamu secepatnya mengurus berkas perceraian dengan Daisy."
"Kalau aku menolak bagaimana Ma?" Tampik Axel dengan santainya.
"Kamu harus menurut sama Mama kalau enggak mau kejadian yang sama terulang." Ucap Rosa dengan penuh penekanan
Axel tersenyum miring. Ia mengusap mukanya dengan kedua tangan dengan kasar.
"Lalu. Bagaimana kalau benar janin itu anakku, ma?" Gumam Axel dengan suara parau.
Ia memang selalu lemah jika diingatkan dengan kenangan buruk itu. Kenangan yang selalu menghantuinya.
__ADS_1
"Mama tak mau mengakuinya. Tak akan pernah." Tegas Rosa.
Tanpa kata Axel beranjak dari duduknya. Ia melangkah dengan cepat keluar rumah.
"Axel.!!! Axel.!!!" Tak ia hiraukan Rosa yang memanggilnya dengan suara lantang
Ia tetap masuk ke dalam mobil yang masih terparkir di depan rumah. Lalu menginjak gas dengan kuat.
Adin penjaga gerbang pun tergopoh membuka gerbang saat mendengar deru mobil yang berjalan dengan kencang.
"Astaghfirullah.. Hampir copot jantungku takut Den Axel nabrak gerbang." Gumam Adin dengan mengelus dada dan menggeleng pelan.
Ia pun segera menutup gerbang.
Pertahanan Axel seketika goyah melihat sikap Rosa. Biar bagaimanapun, meski telah terbukti Daisy berselingkuh, bukan berarti Daisy sudah berhubungan badan.
Ia memang belum lama mengenal Daisy. Tapi entah mengapa ia mulai meragukan semua bukti yang diberikan padanya.
Apalagi melihat Fanya yang akhir-akhir ini terlihat seperti begitu nafsu padanya.
Fanya bahkan berani masuk ke dalam kamarnya saat Daisy sedang pulang ke rumah Dani.
Saat itu Axel sedang bersiap untuk berangkat ke kantor seperti biasa. Saat ia baru saja selesai mandi. Tapi, begitu terkejutnya ia saat melihat Fanya sudah berdiri dengan tatapan menggoda padanya yang hanya menggunakan handuk di bagian perut kebawah.
"Kau? Ngapain kau masuk ke kamarku.!" Bentak Axel saat itu.
"Eh… Enggak aku cuma mau ngajak kamu sarapan." Jawab Fanya gelagapan.
"Keluar.!!!" Hardik Axel dengan suara yang sangat keras. Sengaja, karena tak suka privasinya terganggu.
"Axel…" Lirih Fanya yang sepertinya enggan untuk mengindahkan perintah Axel.
"Kubilang keluar.!!! Jangan sampai aku menyeretmu keluar dari sini." Geram Axel.
"Baiklah. Tapi akan kupastikan kau jatuh dalam pelukanku lagi nanti." Goda Fanya dengan mengerlingkan sebelah matanya.
***
Hana seketika terduduk dari tidurnya di sofa saat perlahan ia rasakan ada yang menggoyangkan tubuhnya.
"Kamu pulang sama Ujang, ya. Biar aku disini." Ucap Axel
"Baik, Den." Hana pun segera beranjak dari duduknya dengan mata yang masih mengantuk. Ia menguap beberapa kali dan tertegun saat melihat jam tangannya.
Jam 1 malam.
Axel pun langsung duduk di sebelah brangkar tempat Daisy terlelap.
__ADS_1
"Aku harus bagaimana," Lirih Axel.
Ia menelungkupkan kepala di atas kedua lengan kekarnya. Padahal hari-harinya sangat bahagia jika saja tak ada kabar yang mengejutkan itu.