
Bukannya takut, Fanya justru tertawa keras. Ia sampai mengelap sudut matanya yang berair karena tawa kerasnya.
"Kau sudah tertipu dengan Mama mu sendiri, Axel" Ucap Fanya masih sambil terkekeh pelan
"Apa maksudmu?!" Hardik Axel.
"Aku memang masih mencintaimu. Aku mengutuk keputusanmu yang memilih untuk menikahi wanita kampung itu. Tapi, yang mengusulkan agar aku mengusik rumahtanggamu dengan selalu bertandang kerumahmu itu adalah usul Tante Rosa. Mama mu Axel.!" Tutur Fanya dengan senyum penuh kemenangan. Ia berhasil membuat wajah yang tadinya menyimpan amarah itu kini menatapnya bingung.
"Tapi, bukan berarti dengan kau menyalahkan Mama, kau bisa membenarkan tindakanmu.!" Geram Axel. Tangannya terkepal semakin kuat sampai kuku jarinya memutih
"Aku salah? Aku hanya memperjuangkan cintaku" Ucap Fanya pelan, dengan cepat ia menarik dagu Axel dan merapatkan kepalanya pada Axel
"Hentikan." Bentak Axel ia menepis tangan Fanya dengan kasar.
Tanpa kata apapun lagi ia segera mengayunkan langkahnya untuk keluar dari hadapan Fanya
"Dasar sint*ng" Maki Axel saat ia sudah berada di dalam mobil. Ia melihat Rosa dari dalam jendela mobil sedang tersenyum penuh kemenangan.
"Datang lagi ya, Sayaang" Teriak Fanya. Ia melambaikan tangan dan memberikan kiss by untuk Axel, yang seketika membuat Axel merasa mual
Ia pun segera tancap gas. Tak mau berlama-lama menghadapi penghuni rumah yang mulai gila sepertinya.
***
Daisy duduk dengan gelisah di taman samping rumahnya. Fikirannya kalut. Belum selesai masalahnya dengan Axel kini ia ia terus-terusan mendapat pesan dari Ebra.
Ebra tau tentang semua masalahnya dengan Axel. Dan mungkin karena itu jugalah Ebra beberapa kali menghubunginya dan mengajaknya untuk bertemu.
Tentu saja Daisy menolak. Bagaimana mungkin ia bertemu dengan laki-laki lain saat hubungan pernikahannya tengah tidak baik-baik saja.
Saat ditanya ada urusan apa, Ebra selalu menjawab hanya akan meluruskan kesalahpahaman antara Axel dan Daisy.
Untuk itu Daisy perlu Axel juga ikut. Tapi sejak ia menerima pesan terakhir Axel, Daisy tak lagi menghubungi nya lagi. Ia ingin Axel menyelesaikan sendiri masalah Rosa dan Fanya lalu pulang memjemput Daisy dengan kabar baik.
Karena hari sudah hampir maghrib, Daisy pun beranjak dari duduknya dan berdiri mengayunkan langkah untuk masuk ke dalam rumah.
Pamali katanya kalau ibu hamil masih diluar rumah saat hari sudah menjelang maghrib.
Baru akan membuka pintu ia dikejutkan dengan suara deru mobil memasuki halaman rumah sederhananya. Rumah Daisy memang lebih sederhana dibanding dengan Axel.
Sebuah mobil mewah perlahan masuk ke halaman rumahnya yang di kelilingi berbagai macam tanaman bunga.
"Axel… " Lirih Daisy. Jantungnya seketika berdegup kencang. Bagaimana tidak? Orang yang paling ia harapkan kini benar-benar datang.
Daisy diam mematung menyaksikan mobil itu terparkir rapi di halaman rumahnya, tak lama keluarlah seseorang yang ia rindukan beberapa hari terakhir.
Axel keluar dengan senyum merekah membuat hati Daisy yang diselimuti kegelisahan perlahan tenang.
Semoga saja pujaan hatinya itu datang membawa kabar baik. Batin Daisy
__ADS_1
"Hai… " Sapa Axel. Tanpa banyak kata ia merengkuh tubuh mungil Daisy kedalam pelukan.
"Masuk, mas. " Lirih Daisy pelan ia melepaskan pelukannya dan mengajak Axel untuk masuk.
"Argh. Lupa aku! " Geram Axel tiba-tiba. Membuat Daisy mengernyitkan dahi heran.
Dengan secepat kilat Axel berlari kecil kembali pada mobil mewahnya. Lalu membuka pintu mobil dan mengeluarkan dua buket besar. Satunya buket mawar. Satu lagi buket uang seratus ribuan yang entah seberapa banyak. Ia mengeluarkan semua dengan susah payah.
Lalu kembali menghampiri Daisy dengan kedu buket di tangan kanan dan kirinya.
Daisy menatap haru. Ini yang selalu ia rindukan. Tingkah manis Axel yang selalu bisa membuatnya melayang diatas awan.
Tak terasa sebutir kristal bening perlahan mengalir. Menyusul beberapa kawannya yang lain yang menyeruak membanjiri pipi mulusnya.
Axel berjalan dengan susah payah karena pandangannya terhalang oleh buket besar yang dibawanya.
Tatapannya terkejut saat melihat Daisy sudah sesenggukan. bingung celingukan mencari tempat untuk menaruh buketnya
Melihat tingkah Axel yang kebingungan justru membuat Daisy terkekeh pelan.
"Taruh sofa aja mas, pelan-pelan. Ntar rusak aku ngamuk, lho." Kelakar Daisy
"Susah ini." Keluh Axel
Axel menyerah dan berjalan merangsek masuk pada rumah sederhana Daisy.
"Mbok. Boleh tolong bawain ini satu?" Pinta Axel saat melihat Mbokyem di dapur.
Daisy hanya geleng-geleng kepala melihat keduanya kesusahan membawa kedua buket naik ke kamar Daisy. Ia hanya duduk diam menunggu Axel di ruang tamu.
Daisy sengaja tak mengikuti Axel masuk. Karena ingin menyambut Dani yang biasanya selalu pulang sebelum adzan maghrib berkumandang.
Tak berapa lama yang ditunggu Daisy pun akhirnya datang.
"Assalamualaikum." Terdengar suara salam dari Dani di pintu masuk.
Daisy segera berdiri, menyalami dan mencium punggung tangan Dani.
"Ayah, gimana? Cafe rame?" Tanya Daisy, ia mengambil jaket Dani dan membawanya ke ruang laundry.
"Allhamdulilah… " Puji syukur Dani ucapkan.
"Itu di depan mobil Axel?" Tanya Dani menunjuk mobil yang masih terparkir rapi dihalaman.
"Iya, Yah. Barusan aja pulang. Sekarang masih di kamar." Jawab Daisy.
"Yaudah. Ayah mau mandi ganti baju dulu." Pamit Dani lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Iya, Yah."
__ADS_1
Daisy mengangguk dan ia pun berjalan menyusul Axel ke kamarnya.
Jantungnya berdetak tak karuan. Ia berjalan sambil memegangi dadanya.
"Benarkah Axel sudah mengetahui fakta sebenarnya?" Ujar Daisy bermonolog pada diri sendiri.
Daiay menyunggingkan senyum bahagianya saat berpapasan dengan Mbokyem. Semenyara Mbokyem tersenyum simpul ikut bahagia dengan kebahagiaan nonanya.
Dengan jantung berdebar Daisy membuka pintu kamarnya pelan. Pemandangan pertama yang dilihat adalah pahatan sempurna kreasi sang pencipta. Mata sipit Axel melengkung saat sang empu menarik bibir untuk tersenyum manis. Sangat manis.
Tanpa kata apapun lagi Axel segera merengkuh tubuh mungil Daisy ia memeluk Daisy erat sangat erat sampai Daisy merasa sesak kesulitan nafas.
"Ugh. Sayang" Lirih Daisy saat merasakan nafasnya tercekat di tenggorokan, merasakan pelukan erat yang hampir menghambat jalan pernafasannya
Daisy langsung terbatuk tepat saat Axel melepas pelukannya.
"Maaf. Maaf. Aku engga sengaja." Ucap Axel panik. Dengan senyum canggung menepuk nepuk punggung Daisy pelan.
"Lain kali jangan gitu. Kukira kamu dateng buat ngebunuh aku." Sarkas Daisy menatap Axel lekat.
Axel melotot. Ia kembali memeluk Daisy kali ini lebih lembut.
"Maafkan aku." Lirih Axel
"Buat apa?" Pancing Daisy memastikan
"Semuanya. Aku udah tahu foto kamu ternyata cuma editan. Bodoh banget aku bisa percaya cuma gara-gara itu." Ucap Axel hatinya terasa tercabik-cabik saat mengicapkannya. Ia sungguh lelaki terbodoh
"Lalu?"
"Tentang keluhan kamu soal Mama. Maaf juga karena aku cuma ngebela Mama."
"Maaf… sungguh." Ucap Axel lagi saat Daisy melepas pelukannya dan memegang kedua pipi Axel. Ia sampai harus berjingkat karena perbedaan tinggi mereka yang terlalu jauh.
"Janji kamu bakal selalu memprioritaskan aku?" Tanya Daisy. Ia sudah gemas dengan ekspresi Axel terlihat seperti anak anjing yang sedang tersesat.
"Janji." Ucap Axel ia menyodorkan jari kelingking. Matanya menatap sendu pada Daisy.
Daisy terkekeh menerima uluran tangan Axel.
Kembali Axel merengkuh Daisy dalam pelukan. Melepaskan semua penat beban kesalah pahaman yang hampir membuat mereka berpisah.
Sampai akhirnya mereka melakukan ritual pasangan suami istri yang sudah lama tidak mereka lakukan.
"Kita harus segera mandi dan turun kalau tak mau telat makan malam." Canda Daisy saat mereka telah selesai bergumul dengan mesra
"Pengennya kaya gini terus."
"Ayah pasti nyariin kamu nanti."
__ADS_1
"Yaudah. Mandi bareng terus sekalian sekali lagi, ya?" Pinta Axel dengan mata berbinar.
Daisy melotot. Tapi tetap saja ia hanya menurut saat Axel kembali merengkuhnya dalam pelukan dan menggendongnya ke kamar mandi.