
Axel terperangah dengan apa yang dilihatnya. Dokumen yang diserahkan oleh Toni itu seketika jatuh berhamburan ke lantai.
"Pak? " Tanya Toni memastikan keadaan bosnya.
"Jadi, selama ini Daisy hanya difitnah?" Tanya Axel masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Tak habis fikir dengan jalan yang sedang Rosa buat. Untung saja firasatnya selalu mengatakan untuk mencari petunjuk sendiri. Hatinya tak tenang dan selalu memikirkan Daisy.
Apa jadinya jika ia masih mempercayai Rosa. Hatinya nyeri dan sesak ketika ingatannya sampai pada saat dimana ia memaki Daisy tanpa ampun. Amarah yang jarang sekali ditunjukkan pada keluarga malah justru menyakiti pendamping hidupnya.
"Iya, Pak. Terbukti Fanya beberapa kali bertemu dengan Ardina," Ungkap Toni yakin.
Toni memandang tak tega pada Axel. Sudah bertahun-tahun mengabdikan hidup pada Axel membuatnya faham dengan apa yang sedang dialami oleh atasannya itu. Terlebih eksprei frustasi yang ditunjukkan Axel sekarang.
"Ardina?" Axel mengangkat sebelah alisnya meminta penjelasan
"Istri Ebra sekaligus teman masa kecil Bu Daisy, Pak." Jawab Toni mengingatkan. Ia memang sudah tahu banyak tentang Ebra ataupun Ardina. Karena sebelum menikah Toni lah yang bertugas untuk mencari tahu.
"Baiklah. Kau bisa pergi." Ucap Axel lemah. Ia merebahkan punggung pada sandaran kursi dan menutup matanya dengan sebelah lengannya, ingin mencoba menghalau netra yang mulai berembun.
Terselip rasa sesal dalam relung jiwanya ketika lagi-lagi ia ingat bagaimana ia memperlakukan Daisy dengan kasar dihari saat ia menerima bukti palsu dari Rosa.
Masih tak percaya dengan tingkah Rosa. Bagaimana mungkin orang yang paling ia percaya justru menusuknya.
Axel ingat. Sangat ingat awal ia memaksakan diri untuk selalu mematuhi apapun perintah Rosa. Bahkan jika saat itu Rosa berkata agar ia bunuhdiri, tentu akan ia lakukan saat itu juga.
Flashback On
Semua berawal saat Axel dan Bram -kakaknya- sedang bermain-main di area belakang villa keluarga. Saat itu Axel masih berusia 10 tahun. Dan Bram 18 tahun.
Axel terpukau dengan jernihnya air yang ada di sungai. Itu kali pertama Axel melihat air sungai yang mengalir kecil dan jernih. Karena memang hanya terjadi saat musim kemarau tiba.
"Kak.! Lihat deh sungainya jernih banget. Berenang yuk.!" Ajak Axel kala itu. Ia menunjuk sungai dengan girang.
"Bahaya tau. Nanti kalau airnya tiba-tiba meluap gimana?" Tanya Bram mengingatkan. Ia yang saat itu sudah dewasa paham tentang bahayanya.
"Bilang aja kakak takut." Ejek Axel sambil menjulurkan lidahnya.
"Udah ah. Jangan aneh-aneh." Kilah Bram masih tak mau.
"Yah kak. Cuma main-main doang." Keluh Axel.
__ADS_1
Bram yang memang sudah diberi pesan dari Rosa sejak awal untuk tidak bermain di sungai pun jadi bimbang.
"Gini aja. Aku izin Mama, ya." Usul Axel yang tentu saja ditolak oleh Bram.
"Jangan.! Kena marah nanti kamu. Tadi Mama udah pesen gaboleh main di sungai bahaya." Sergah Bram
Bram memang tipikal anak yang selalu menurut apa kata Mamanya. Tidak ada paksaan hanya saja ia merasa tenang saat segala kegiatannya mendapat persetujuan dari sang Mama.
"Yaudah kalau kakak enggak mau. Aku berangkat sendiri aja." Seloroh Axel langsung melepaskan kaos yang dipakainya. Sedang bersiap-siap merasakan segarnya gemericik air yang mengalir
Bram melotot kaget. Hampir berteriak. Tapi beberapa saat kemudian tersadar bagaimana sikap Axel, yang jika sudah punya kemauan harus mendapatkannya bagaimanapun caranya.
Akhirnya ia mengalah. Ikut melepaskan kaos yang sedari tadi dipakainya. Sadar diri lebih baik mengalah dengan menemaninya. Daripada jika terus mengekang justru akan membuat Axel nekat berenang sendirian tanpa sepengetahuan siapapun.
Setidaknya Bram bisa sekaligus menjaga adiknya fikir Bram kala itu. Tanpa diketahui jika keputusannya akan membawa bencana dalam hidup keluarganya.
"Yeeyy. Kakak ikut," Seru Axel kegirangan.
"Ssttt. Nanti ada yang denger. Udah ayo cepet. 5 menit aja ya." Ucap Bram memperingatkannya agar tidak membuat keributan.
Mereka asyik berenang dan bermain air tanpa sadar bahaya yang sedari tadi mengintai. Axel menikmati setiap aliran air yang menyentuh kulitnya. Dingin. Tapi menyegarkan.
Air yang tenang tak selamanya aman. Air yang jernih tak selamanya menghilangkan dahaga. Hingga beberapa jam kemudian bencana mulai berdatangan. Air yang tadinya jernih berubah keruh karena ditimpa oleh aliran yang menggila di depan mata
Benar saja. Setelah lebih dari 2 jam mereka bermain, air tiba-tiba meluap. Rute sungai yang berkelok-kelok membuat keduanya tak melihat jika ombak besar tengah menghampiri.
Saat itu Bram sedang beristirahat di pinggir sungai. Sedang Axel masih asyik berenang. Ia mendengar suara air mengalir dengan deras seketika mengernyit heran.
Tapi, saat ia sadar akan bahaya yang sedang mengintai bahaya tersebut justru sudah ada di depan mata.
"Axel.!!! " Bram berteriak dengan sekuat tenaga melihat Axel terjebak di sebuah batu besar. Beruntung ia bisa menghindar dari gulungan air yang datang tiba-tiba.
Bram mondar-mandir dengan gelisah. Harus bagaimana agar ia bisa menyelamatkan Axel.
Fikirannya kalut. Akhirnya ia menerjang bahaya dengan menceburkan diri ke sungai. Sampai akhirnya ia kewalahan dengan derasnya air sungai.
Tapi ia tetap berusa menyeimbangkan arus air yang deras. Ia tak melawan. Hanya mencoba berenang ke tengah agar bisa menghampiri Axel yang tengah berdiri ketakutan.
Beruntung ia sempat melihat beberapa postingan yang berkata jika terjebak arus sungai jangan melawan. Tapi tetaplah ikuti arus sambil berusaha menepi perlahan.
Bram juga menceburkan diri agak jauh agar bisa menjangkau Axel tanpa melawan arus.
__ADS_1
Setelah beberapa saat terombang-ambing Bram pun bisa menjangkau Axel. Meski hampir saja terlewat. Tapi dia selamat.
"Denger. Pegang pinggang kakak jangan sampai lepas. Tak usah melawan arus. Kita ikuti arus sambil berusaha pelan-pelan menepi." Ucap Bram mengingatkan dengan nafas terengah. Beristirahat sejenak karena nafas yang memburu dan jantung yang seperti tengah ditimpa batu besar.
Setelah ia yakin Axel mendengarkannya dengan baik. Mereka bersiap untuk menantang bahaya agar bisa selamat.
"Bissmillah. Selamatkan kami. Selamatkan adikku ya Allah." Lirih Bram disela kepanikannya ia berdoa dengan khusyuk memohon perlindungan.
Byurr.
Mereka kembali menerjang derasnya arus. Axel melakukannya dengan baik. Untung saja mereka sudah mahir dalam berenang.
Naas. Saat sedikit lagi sampai ke tepian kepala Bram terhantam batu dengan keras. Ditengah kesakitannya ia masih sempat melepaskan pelukan Axel di pinggangnya. Mereka akhirnya terpisah. Bram tenggelam tak lagi bisa menyeimbangkan tubuhnya diatas sungai.
Axel panik. Tapi beruntung ia berhasil menepi. Sayangnya tidak dengan Bram.
"Kaakkkkk. Kakakkk. Kakakkk.!!!! " Teriak Axel histeris. Ia menyusuri pinggir sungai dengan panik. Tapi tetap saja Bram tak terlihat sama sekali.
Syok. Hingga akhirnya jatuh terduduk. Menangis tergugu memeluk lututnya erat. Tak tahu harus berbuat apa. Sesaat ia ingin menyelami air sungai itu lagi, tapi ayunan kakinya tertahan oleh tepukan kasar tangan seseorang di bahunya
Axel yang kaget segera memalingkan muka, secercah harapan muncul.
"Nak. Ada apa, Nak?" Tanya seorang warga sekitar yang saat itu sedang mencari rumput.
"Tolong, pak. Tolong kakak saya, dia tenggelam" Teriak Axel histeris sambil menarik baju yang dipakai si Bapak.
"Innalilahi. Ya Allah." Ucap Bapak itu kaget. Segera berlari meminta pertolongan pada warga sekitar
Axel masih tergugu di pinggir sungai.
Beberapa saat kemudian beberapa warga datang berbondong-bondong mendatangi Axel.
Pun ada ibu-ibu yang dengan baik hati memberikannya handuk untuk mengeringkan tubuh dan segelas teh hangat.
Axel menolak dengan keras saat ada petugas ambulans hendak memeriksa dan membawanya ke puskesmas
Beberapa orang ada yang menyusuri tepi sungai. Mencoba mencari jika saja Bram terlihat.
Tapi nihil. Bram menghilang. Sampai akhirnya tim SAR dan anggota kepolisian pun ikut serta dalam pencarian.
.
__ADS_1