
Sudah beberapa hari berlalu. Dan Axel masih diam. Tak ingin dan tak mau membahas apapun tentang keinginan Daisy untuk membangun mahligai berdua. Ya. Hanya berdua di istana mereka dan keluarga kecilnya.
Karena sudah tak tahan akhirnya, saat makan malam Ia -setelah susah payah mengumpulkan keberanian- berusaha untuk menannyakan kembali. Tentu saja Rosa juga tengah duduk diantara mereka berdua.
"Mas. Bagaimana? Kita jadi pindah kemana? Meski rumah kecil juga gak apa-apa kok, mas." Ucap Daisy tiba-tiba yang membuat Axel seketika terbatuk. Dengan terburu-buru Rosa memberikan minum untuk anak laki-laki kesayangannya.
"Daisy.! Jangan coba-coba kamu menghasut Axel untuk pergi dari rumah ini.! " Daisy tersenyum samar melihat Rosa menunjukkan kemarahan untuk pertama kalinya di depan Axel. Karena selama ini Ia cuma baik saat Axel tak ada.
"Ma. Sudah kewajiban seorang Suami memberikan Istri tempat tinggal yang layak," Ucap Daisy.
"Dan sudah kewajiban Axel untuk berbakti padaku. Ibunya.!" Hardik Rosa menatap Daisy penuh kebencian.
Daisy diam. Ia melirik pada Axel yang masih diam. Entah apa yang dipikirkannya.
"Mama sehat. Masih ada papa. Ada beberapa pekerja yang membantu mama juga. Apa salahnya saya dan Axel tinggal dirumah sendiri, Ma?" Tanya Daisy kali ini dengan nada pelan yang terdengar menyakitkan. Berusaha menunjukkan betapa tersiksanya Ia harus ada dirumah Mertua yang sama sekali tak menghargainya.
"Mama tetap gak setuju.! Kamu orang lain. Sedangkan aku Mama nya. Orang yang telah membesarkannya melahirkannya. Dan kamu. Orang yang baru dikenalnya beberapa bulan berani memisahkanku dan anakku?" Kata-kata Rosa seketika membuat ulu hati Daisy terasa nyeri. Sangat nyeri sampai Ia meremasnya pelan.
"Benar kata Mama, Daisy. Kita tetap disini aja, ya? Nanti aku ajak stay cation kalau memang kamu bosan." Ucap Axel sambil meremas tangan Daisy pelan. Mencoba mencari pengertian.
Sementara Daisy cuma diam. Ia menatap nanar Suami yang diyakininya akan melindungi dan membahagiakannya. Tapi siapa sangka musuh nya ternyata ada di dalam selimut yang mereka pakai?
"Aku sudah selesai, mas. Aku ke kamar duluan, ya?" Ucapnya beranjak dari duduk. Ia tinggalkan Ibu dan Anak yang tak terpisahkan itu.
Masih terngiang di dalam kepalanya saat dengan mudahnya Rosa berkata bahwa Ia hanya orang luar yang dibawa masuk ke dalam rumah. Serendah itukah? Lalu, untuk apa sebenarnya Axel mempersuntingnya? Dan untuk apa pula Rosa menyetujui pernikahannya?.
Tak berapa lama Axel menyusulnya. Dan dengan ketidak pekaannya Ia dengan mudah memeluk dan mencium Daisy. Memintak hak yang selalu Daisy berikan hampir setiap hari.
Ia tak menolak. Tapi tak juga Ia lakukan seperti biasa. Jika biasanya Ia akan membalas penuh cinta. Kini Ia hanya diam tak melakukan apapun. Bagai kerbau yang di cucuk hidungnya.
Dan dengan tampang tak berdosanya Axel langsung terlelap. Tak mengatakan sepatah katapun meski sekedar untuk menenangkan. Setidak peka kah itu Ia sampai tak tahu bahwa kata-kata Rosa amat melukainya? Atau menolak untuk peduli?
Daisy merenung. Ia tak seberani itu untuk berlalu pulang ke rumah Dani. Tapi juga tak sekuat itu jika harus bertahan dalam neraka yang diciptakan oleh Rosa.
***
Pagi harinya saat Axel masih terlelap, Daisy sedang gelisah di dalam kamar mandi. Ia memegang kertas kecil panjang di tanganya dan mengumpulkan kekuatan jika memang hasilnya tak sesuai harapan.
Ia terbangun dengan perasaan campur aduk saat mengingat bahwa jadwal rutin bulanannya sudah telat tiga minggu. Ia sampai lupa karena kedatangan tamu tak di undang yang mengacaukan hati dan fikirannya.
__ADS_1
Dengan debar jantung yang semakin bertalu-talu Daisy menunggu sambil memegang tespack dengan tangan sedikit gemetar. Ia membayangkan jika Rosa mungkin saja akan luluh jika Ia bisa menghadirkan malaikat kecil ditengah hubungan mereka yang tidak baik.
Dua menit berlalu garis merah melintang mulai terlihat. Daisy menghela nafas kecewa saat melihat hanya satu garis merah yang keluar. Ia lempar tespack begitu saja di atas closet yang tertutup. Dan berjalan keluar kamar bersiap akan memasak sarapan.
Axel mengerjapkan mata beberapa kali saat melihat Daisy akan keluar kamar.
"Sayaaanng. Sini." Panggil Axel sambil merentangkan kedua tangan.
"Aku sibuk. Nanti aku telat masak malah di sindir-sindir lagi.!" Sungut Daisy. Kali ini Ia mulai terang-terangan jujur akan sikap Rosa. Ia mulai jengah dan kehabisan akal. Semoga saja Axel akan segera memahami bahwa tidak akan pernah bisa ada dua ratu dalam satu istana.
Perlahan Daisy berjalan menuruni tangga. Entah karena terlalu banyak fikiran atau memang sedang kelelahan. Daisy merasa mual dan kepala seolah berputar. Daisy menghentikan langkah sambil berpegangan pada pinggiran tangga.
Setelah dirasa agak mendingan ia mulai menuruni tangga dengan hati-hati.
"Mbak." Sapa Daisy pada Hana yang tengah sibuk mencuci sayur. Dan betapa terkejutnya Ia saat melihat Fanya tengah sibuk memotong daging di samping Hana.
Ya Allah.. Kuatkan Hamba. Doa Daisy dalam hati. Sesaat sakit kepala nya terasa lebih parah hingga Ia hampir terhuyung ke belakang. Untung saja Hana dengan sigap menbantu Daisy berdiri.
"Non? Non Daisy sakit? Istirahat…" Belum sempat Hana menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba Daisy mual. "Hooek" Ia memegangi perut yang isi ya seakan sudah mendesak di tenggorokan.
Gegas Daisy berlari menuju kamar mandi lantai satu yang berada tak jauh dari dapur. Dan benar saja. Daisy mengeluarkan banyak cairan karena Ia belum makan apapun pagi ini.
"Aduh, Non istirahat aja ya? Bibi anter ke kamar." Ucap Hana sambil menempelkan bantal hangat itu ke perut Daisy.
Daisy cuma diam terkulai lemas bersandarkan punggung kursi. Tak lama kemudian Rosa datang. Ia cuma menatap Daisy sekilas lalu menyapa Fanya ramah dengan senyum termanisnya.
"Pagi-pagi udah bikin heboh. Udah tidur aja sana. Axel udah ada yang masakin, kok." Rosa berkata sambil mengupas bawang. Daisy diam. Bukan karena sengaja mengalah. Tapi memang tak punya tenaga untuk melampiaskan emosinya.
"Hana.! Ayo bantu masak,!" Bentak Rosa.
Sementara Hana menatap khawatir pada menantu majikannya yang masih duduk sambil terpejam. Daisy kemudian mengangguk menyuruhnya untuk segera menuruti kata Rosa.
Baru juga Daisy beranjak dari kursinya terdengar derap langkah orang berlari dari tangga. Daisy menatap heran pada Axel yang berlari dengan senyum lebarnya ke arah dapur.
"Bisa banget bikin orang shock pagi-pagi." Ucap Axel terdengar bahagia sambil memeluk Daisy erat.
"Ada apa, Mas?" Tanya Daisy melihat tingkah aneh suaminya.
"Kok ada apa, sih. Ya jelas bahagia dong. Kita ke dokter nanti, ya?"
__ADS_1
"Ngapain mas? Kamu sakit?"
"Kamu serius gak tahu atau pura-pura gak tahu?"
"Tahu apa, Mas?"
Pertanyaan Daisy dijawab dengan sodoran benda panjang yang tadi dia buang di atas closet. Daisy mengeryit heran. Ngapain suaminya membawa tespack yang tadi jelas-jelas negatif. Atau jangan-jangan…
Daisy meraih benda tipis itu dari tangan Axel sembari menatapnya lekat. Satu garis merah terlihat jelas. Tapi, ternyata ada satu garis samar yang luput dari perhatiaannya tadi.
"Mas ini?" Tanya Daisy memastikan apa yang Ia lihat. Ia terduduk kembali di kursi karena lututnya tuba-tiba gemetar. Jadi, ini alasan kenapa tadi Ia tiba-tiba mual.
"Iya, sayang. Anak kita," Ucap Axel mantap. Dan lagi, memeluk Daisy yang netranya menitikkan buliran kristal bening. Akhirnya kini Ia bisa menangis bahagia haru. Setelah penantiannya yang hampir satu tahun.
Sementara di sudut dapur dua pasang mata memandang sepasang suami istri itu dengan perasaan tak suka. Mereka justru tak suka dengan kebahagiaan yang diperoleh oleh Daisy. Selama Daisy ada dirumah ini mereka tak akan pernah rela Daisy tersenyum bahagia.
"Ma. Jadi dia tidak jadi mandul?" Ucap Fanya pelan. Sangat pelan karena di depannya sedang ada Axel yang harus ia jaga perasaannya.
"Kamu takut, ya? Tak apa. Mama akan selalu ada dipihakmu. Sampai kapanpun Mama gak akan pernah anggap dia menantu. Kamu menantu Mama satu-satunya." Lirih Rosa menjawab.
Mereka pun ikut berpelukan. Bedanya mereka seolah saling menguatkan karena kabar yang baru saja mereka dengar akan menghalangi segala rencana untuk menendang Daisy dari samping Axel.
Daisy melirik mereka dibalik punggung Axel. Melihat pemandangan yang seketika meruntuhkan harapannya. Ia kira Rosa akan bahagia dengan kabar kehamilannya. Tapi Rosa malah memeluk Fanya. Bukannya Ia yang sedang mengandung benih dari anak kesayangannya.
"Mas. Aku pusing. Anter ke kamar ya?" Pinta Daisy mengendurkan pelukannya. Bisa Daisy lihat tatapan penuh cinta dari netra tajam Axel. Semoga saja cintanya tak akan pernah ternoda oleh kebencian yang ditujukan Rosa untuknya.
"Siap. Tuan putri." Ucap Axel mengacak pelan rambut Daisy.
"Mbak Diah, Nanti antar sarapan Daisy ke kamar aja, ya."
"Baik. Tuan." Balas Diah.
"Aduh." Keluh Daisy saat Ia akan berdiri. Axel yang melihat itu pun segera mengangkat Daisy. Ia menggendong Daisy dan berjalan ke kamar. Sementara Daisy diam dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya.
Sesampainya di kamar, Ia rebahkan Daisy dengan amat sangat hati-hati.
"Enggak siap-siap ke kantor, Mas? Aku siapin baju dulu ya?" Tangan kekar Axel dengan sigap menahan bahu Daisy saat Ia akan berdiri.
"Mas gak ke kantor, Sayang. Kan kita mau ke dokter." Ucap Axel. Ia usap lembut rambut Daisy penuh dengan sayang.
__ADS_1