
Daisy menguap saat mendengar alarm yang dia pasang.
"Sayang… " Panggil Daisy lirih ia memiringkan tubuhnya dan menatap wajah teduh Axel yang sedang terlelap
"Bangun, Sayang.. " Panggil Daisy lagi kali ini dengan lebih keras. Tangannya mengguncang bahu dari manusia yang amat berarti untuknya
"Ehhmm… " Lengan kekar Axel justru malah melingkar dan menindih Daisy.
"Bangun. Shubuhan dulu, yuk?" Ajak Daisy
"Iyaaaa" Gumam Axel perlahan mengerjapkan mata mencoba meringankan mata yang rasanya begitu berat untuk terbuka
Merasa imamnya sudah membuka mata, ia pun mengambil handuk dan bersiap untuk mandi terlebih dahulu
"Ish. Tidur lagi dia. Masss.!!!" Pekik Daisy. Ia terheran melihat Axel yang justru kembali meneruskan mimpi yang sempat tertunda.
"Mas.!!!" Panggil Daisy lagi, kali ini lebih keras. Tangan mungilnya menggoyangkan tubuh besar Axel.
Bukannya bangun, Axel malah mengerang dan kembali menarik selimutnya.
"Katanya kita mau lihat villamu hari ini?" Bisik Daisy
"Kaya nya kalau kita melakukannya di dapur pasti seru.!" Melihat tak ada pergerakan Daisy pun kembali berbisik kali ini suaranya dibuat lebih manja
Daisy terkekeh saat melihat Axel yang langsung terduduk. Ia menggaruk kepalanya dan menguap lebar-lebar.
"Nah… ayo. " Ujar Daisy ia mengedipkan sebelah mata seraya menggoda Axel. Padahal ia sudah siap melakukan kewajiban diawal waktunya dengan mengenakan mukena lengkap.
"Hoaahm."
Axel beranjak dengan matanya yang masih setengah sadar. Langkahnya sempoyongan hingga hampir menabrak pintu kamar mandi.
"Ngajak gelut nih pintu." Hardik Axel sambil memukul pintu pelan.
Daisy menggeleng senyumnya mengembang.
Meski pemandangan ini sudah ia saksikan hampir setiap pagi tapi tetap saja selalu menjadi hiburan tersendiri untuknya.
Selesai melaksanakan sholat merekapun bersalaman. Daisy mencium punggung tangan suaminya dengan haru.
Sudah berkali-kali ia mengucap syukur sejak saat Axel kembali padanya.
Padahal bisa saja Axel lebih percaya Rosa, tapi ternyata ia benar-benar mencari bukti sendiri.
"Masih ngantuk." Keluh Axel ia merebahkan dirinya kebelakang bersandarkan kaki Daisy
Masih lengkap dengan peralatan sholat mereka.
Daisy mengelus kepala Axel penuh kasih seraya merapalkan doa agar rumahtangga mereka senantiasa diberi kekuatan agar bisa kuat menghadapi segala ujian.
"Mas. Janji ya Mas harus selalu mempercayai aku?" Tanya Daisy lirih
Axel diam ia memejamkan mata. Tapi, Daisy tahu ia masih terjaga dalam dekapannya.
__ADS_1
"Tentu… " Ucap Axel, ia memegang tangan Daisy. Menikmati setiap sentuhan lembut Daisy yang membuatnya tenang dan damai.
Mereka baru beranjak dari posisinya saat matahari mulai menunjukkan sinar jingganya.
Daisy ingin berlama-lama menikmati setiap detik kebersamaan mereka tapi, ia harus bangun dan menyiapkan amunisi pagi untuk Axel dan Dani.
"Aku mau membuat sarapan dulu, Mas." Pamit Daisy.
Dengan gerakan lambat Axel beranjak. Berkali-lali ia menguap dan menggeliat menikmati setiap rasa kantuk yang masih dirasakannya.
Axel terduduk di samping tempat tidur. Tatapannya kosong. Khas orang yang masih merindukan alam mimpi
Daisy melengkungkan bibirnya melihat tingkah Axel.
"Ayo bangun. Nanti rejekinya di patok ayam, lho." Bisik Daisy tepat di telinga Axel.
Ia meninggalkan kecupan mesra pada bibir manis suaminya, lalu melenggang pergi meninggalkannya begitu saja
Axel melotot merasakan hasrat yang tiba-tiba meninggi
"Sial" Umpatnya pelan. Dengan berat hati ia memfokuskan diri untuk melakukan segala kegiatannya pagi ini.
***
"Kalian jadi pindah hari ini?" Tanya Dani saat mereka baru saja menyelesaikan rutinitas makan pagi.
"Baru mau lihat dulu, Yah." Jawab Daisy.
Karena Daisy pernah berkata bahwa ia menyukai suasana alam yang terlukis indah
Meski dengan begitu ia harus merelakan waktu beberapa jamnya karena jarak vila dan kantornya yang lumayan jauh.
"Lagipula vilanya jauh, Yah. Kasian Mas Axel kalau harus bolak-balik vila-kantor," Ucap Daisy
"Disini dulu juga enggak apa-apa Daisy. Sambil cari-cari rumah yang cocok,"
Axel memang tak pernah berinisiatif untuk membeli rumah. Karena sejak sebelum ia menikah pun Rosa tak pernah membiarkannya hidup mandiri.
"Kalau Daisy sih terserah Mas Axel aja, Yah." Tutur Daisy, ia melirik pada Axel yang masih sibuk dengan nasi dan daging empal. Makanan kesukaannya.
"Sementara di villa dulu aja. Nanti kalau memang aku kerepotan ya kita kesini." Ungkap Axel membuat senyum Daisy merekah.
Ia masih takut jika saja Axel masih memintanya untuk tingal bersama Rosa.
Mereka pun segera bersiap. Daisy hanya membawa dua buah koper besar. Satu koper miliknya dan satu lagi berisi barang-barang Axel.
"Kamu ngapain sih, sayang. Kasian tauk Adeknya kamu ajak angkat-angkat gitu." Seru Axel melihat Daisy mencoba mengangkat satu kopernya.
"Sini.!!!" Pinta Axel. Daisy hanya bisa meringis. Ia memang terbiasa melakukan semuanya sendiri meski kegiatan berat sekalipun. Selagi ia mampu ya pasti ia lakukan
Mereka berjalan beriringan. Bersama Dani yang bersiap untuk pergi ke cafe.
Dani memang selalu memantau cafenya. Ia tak lantas melepaskan cafe begitu saja hanya karena sudah punya pekerja.
__ADS_1
Suara deru mobil terdengar memasuki halaman saat Daisy dan Axel baru saja ingin memasuki mobil.
Dani sudah pemit sejak tadi.
"Papa… " Lirih Axel, ia mengernyit melihat mobil yang biasa di pakai Ruslan.
Mereka urung melanjutkan perjalanan. Dan memilih untuk menyambut kedatangan Ruslan.
Daisy segera menghampiri Ruslan yang berjalan menghampiri mereka. Tapi, kejadian selanjutnya justru membuat tubuh Daisy seketika mematung diam.
Ruslan hanya meliriknya sekilas dan berjalan melewati Daisy.
"Kita harus bicara" Ucap Ruslan singkat
"Bicara apalagi, Pa?" Tanya Axel geram
"Sudah, Mas. Kita masuk saja dulu."
"Tak sudi aku masuk ke dalam rumahmu.!" Hardik Ruslan tiba-tiba yang membuat Daisy tersentak kaget.
Ia menghela nafas lalu menghembuskannya perlahan. Ia harus berani agar tak terus-terusan di tindas oleh mereka
"Maaf, Pa. Harusnya Papa lebih bisa menjaga sikap karena Papa sedang bertamu." Ucap Daisy setelah mengumpulkan keberaniannya.
"Apa?" Sentak Ruslan yang tak percaya menantu yang dulunya hanya diam saat di cerca Rosa, kini berani membantahnya.
"Perempuan seperti ini yang kau bela hingga hubungan yang sudah kujalin lama dengan Bian kini terancam rusak.!" Serang Ruslan. Ia menunjuk Axel dengan geramnya.
Tanpa kata Axel menggandeng tangan Daisy memasuki rumah.
"Axel.!!!" Teriak Ruslan semakin marah melihat Axel justru berjalan masuk.
"Tunggu disitu jangan buat keributan dirumah orang, Yah." Ucap Axel santai.
Daisy menurut. Ia mengayunkan kaki menyamakan langkah dengan Axel.
"Maaf. Aku akan menemui Papa dulu diluar. Deket cafe sini aja biar Papa gak buat keributan di rumah." Ujar Axel saat mereka sudah sampai di teras rumah Dani.
"Kamu hutang banyak penjelasan sama aku." Lirih Daisy.
"Iya. Tenang aja. Apapun yang terjadi aku bakal tetep sama kamu." Terang Axel.
Daisy mencium punggung tangan Axel. Ia memejamkan mata mencari ketenangan saat Axel mengecup dahinya pelan
"Hati-hati," Ucap Daisy saat Axel sudah mulai melangkahkan kakinya.
Axel mengangguk. Melangkah mantap menghampiri Ruslan. Tanpa kata menaiki mobil Ruslan. Sementara sang pemilik mobil sudah berada di dalam sejak tadi.
"Lindungi pernikahan kami ya Allah." Lirih Daisy mengusapkan kedua tangan pada mukanya.
Tak mengerti apa yang sedang terjadi. Dulu, Rosa memang bersikap tak baik padanya. Tapi tak pernah sekalipun Ruslan menghardiknya keras seperti hari ini.
Ruslan bahkan sesekali menasihati Rosa saat dirasa tindakannya terlewat batas.
__ADS_1