Istri Sang CEO Yang Tak Diberi Nafkah

Istri Sang CEO Yang Tak Diberi Nafkah
Membawa ular ke dalam rumah


__ADS_3

Berkali-kali Daisy mencuci muka dan mengoleskan es batu pada kedua netranya agar tak terlihat sembab dan bengkak. Tapi nihil. Ia pun segera bebersih diri agar bisa ber make up untuk sekedar menutupi bengkaknya. 


Axel terbangun tepat saat Daisy memoleskan bedak taburnya. Sentuhan terakhir agar make up nya terlihat sempurna. 


"Malem-malem make up an cantik mau ketemu siapaa?," Tanya Axel sambil bergelayut manja di belakang Daisy yang masih duduk di depan meja rias. 


"Kan buat kamu sayang," Ucap  Daisy berusaha menyunggingkan senyum termanisnya agar sandiwara bahagianya terlihat nyata. 


"Jadi pengen makan lagi." Axel beringsut pada leher jenjang Daisy dan menggigitnya pelan yang membuat Daisy memekik tertahan. 


"Udah waktunya makan malam, mas. Aku kebawah dulu. Kamu siap-siap gih." Ucap Daisy sambil mendorong Axel pelan agar Ia tak lagi meminta makan. Ya. Makanan yang tak bisa ditelan. 


Axel menurut tapi dengan muka cemberutnya ia berjalan menuju kamar mandi. Daisy melingkarkan handuk pada Axel dan berucap. "Baju gantinya aku taruh di atas kasur ya, mas."


"Aku gak di mandiin?" Ujar Axel lagi merajuk di depan pintu kamar mandi. 


"No.!" Daisy menjawab sambil berjalan keluar kamar. 


Perlahan Daisy menuruni tangga. Benar dugaannya Rosa sudah berada di dapur dan menata beberapa makanan di atas meja makan. 


Sebenarnya ia sudah resah dari tadi. Karena terlarut dalam kesedihannya Ia jadi terhanyut dan lupa waktu. Sampai akhirnya sudah waktunya makan malam yang harusnya ia sudah ada di dapur dan menyiapkan makan malah masih berias di dalam kamar.


Hana yang melihat nona nya berjalan pelan tersenyum getir. Hana yang sudah hafal perlakuan Rosa selama Daisy disini sudah hafal adegan apa yang akan ia tonton sebentar lagi. 


"Jadi perempuan itu harus sigap menyiapkan makan suaminya. Meski punya pembantu ya jangan apa-apa diserahkan ke Art." Sinis Rosa sesuai dugaan Daisy dan Hana. Daisy hanya menunduk berjalan ke dapur dan ikut menyiapkan makan yang sudah matang tinggal menata diatas meja. 


"Enak banget gak kerja seharian di kamar. Turun cuma buat makan."


"Mama mau Daisy ngepel dan nyapu? Tapi, engak yakin sih mas Axel negbolehin apa engga,"


Jawaban Daisy seketika membuat Rosa melotot marah. Tapi segera Ia rubah ekspresinya saat terdengar suara langkah kaki Axel berjalan menuruni tangga. 


Rosa tersenyum sambil menarik kursi untuk anak kesayangannya. Ia lalu menyiapkan piring dan menyendokkan beberapa nasi serta lauk. 

__ADS_1


"Papa belum pulang, Ma," Tanya Axel


"Belum. Masih ada yang harus diurus katanya."


"Kamu gak minta oleh-oleh sayang?" Tanya Axel membuat Daisy mendongak. Daisy hanya menggeleng pelan. 


"Yakin? Banyak barang yang gaada disini lho coklat skincare baju?" Tanya Axel lagi. 


"Gausah, Mas. Yang penting Papa pulang sehat selamat gak kurang suatu apapun," Jawab Daisy. Dan dengan ekor matanya Daisy bisa melihat Rosa yang sedang duduk di depannya mengangkat ujung bibirnya sinis. 


Ya Allah.. Drama apa lagi ini. Batin Daisy seraya menghembuskan nafas pelan. 


Selesai makan, sebelum Rosa beranjak dari meja Daisy lebih dulu berdiri dan mengambil piring serta gelas kotor yang baru mereka pakai. 


"Sayang.. Gausah kan sudah ada Hana." Ucap Axel sambil melambai pada Hana yang masih sibuk di dapur. tergopoh Hana segera menghampiri Daisy dan hendak mengambil nampan ditangan Daisy tapi tentu saja ditolak oleh Daisy. 


"Gapapa, sayang. Biar badan aku gak kaku karena kebanyakan rebahan di kamar." Ucap Daisy sarkas berusaha menyindir kata-kata Rosa. Entah setan mana yang merasuk sampai ia dapat keberanian itu. Yang jelas saat ini hati dan fisiknya sudah benar-benar lelah. 


Dan benar saja. 5 bulan kemudian Axel benar-benar sama sekali tak memberinya nafkah lahir berupa uang. Ia memang hidup tanpa kekurangan, rumah mewah, makanan sehat dan bergizi, Ia tak perlu memusingkan menu apa esok hari. 


Tapi  bagaimana bisa Ia sama sekali tak diberi uang oleh Axel. Padahal nafkahnya bukan hanya tentang makan dan tempat tinggal. Apalagi Axel yang notabene seorang CEO tentu harta kekayaannya diatas rata-rata. 


Akhirnya Daisy membeli semua keperluaannya skincare jajan dan baju dari uang pribadinya. Tak sekalipun Ia mencoba untuk meminta uang pada Rosa. Apalagi sampai hari ini Rosa masih selalu sinis padanya. Entah apa yang harus Ia lakukan lagi. 


Sampai suatu hari saat salah satu teman Rosa bertamu kerumah Daisy tercengang dengan perkataan Rosa yang mengatakan bahwa menantu perempuan satu-satunya hanya seorang pengangguran yang menghabiskan uang suami. 


Ia dengar sendiri bagaimana Rosa merendahkannya sedemikian rupa. Sejak saat itu dunianya runtuh. Apalagi saat Rosa mulai membahas tentang anak. Karena sampai saat ini Daisy memang belum diberi kepercayaan untuk merasakan nikmatnya hamil. 


Daisy sedang bersantai di samping halaman rumah saat mendengar suara seperti orang berbincang yang makin lama makin dekat. Sampai suara itu terdengar sangat jelas. 


"Makasih lo, Ma sudah mengundangku kesini." Ucap seorang wanita yang entah siapa. 


"Aduh sayang. Malah Mama yang harus bilang makasih sama kamu karena mau datang ke sini." Ucap suara yang dikenal Daisy sebagai suara Rosa. 

__ADS_1


Mereka lalu tertawa bersama. Sementara Daisy hanya mematung melihat seorang wanita cantik dengan balutan dres merah selutut. Dress mewah yang sepertinya kurang cocok jika hanya dipakai untuk sekadar bertamu. 


Rosa melihatnya tapi beberapa detik kemudian langsung membuang muka ke arah lain sambil menggandeng perempuan itu mengajaknya berjalan berlawanan arah. 


"Eh. Sebentar, Ma. Dia istri Mas Axel?," Tanya wanita itu. 


"Iya. Udah ayuk. Suasana jadi gaenak kalau ada dia." Jawab Rosa sambil memandang Daisy sinis. 


"Halo, Mbak." Sapa Daisy tiba-tiba sudah berdiri di depan mereka berdua. 


"Hai. Kamu cantik." Ucap wanita itu yang entah kenapa pujiannya terdengar mengerikan di telinga Daisy. 


"Kenalan dulu, Mbak. Saya Daisy Istrinya mas Axel." Ucap Daisy penuh penekanan. Siapa yang tak cemburu melihat Mama Mertuanya datang membawa wanita lain kerumah? 


"Saya Fanya. Mantan pacar Mas Axel," Ucapan wanita yang bernama Fanya itu. Seketika membuat dada Daisy bergetar bergemuruh. 


Apa yang sudah Rosa lakukan? Permainan apa ini. Selain wanita. Ia juga mantan pacar? Itu sama saja seperti Rosa sengaja membawa ular cobra ke dalam rumah. Yang siap memangsa Daisy kapan saja. 


Daisy hanya diam. Matanya memerah menahan marah. Andai saja Rosa bukan orangtua Axel pasti sudah Ia jambak peremuan setengah baya itu. Yang sekarang sedang tersenyum puas. 


"Udah. Jangan lama-lama deket sama orang udik kaya dia." Sambil menggandeng Fanya, Rosa berlalu meninggalkan Daisy yang masih berdiri mematung. 


Hingga beberapa saat kemudian ia berjalan pelan. Sangat pelan yang lama-lama ia percepat secepat irama detak jantung dan air mata yang perlahan mulai berjatuhan.


Di dalam kamar Ia tumpahkan semua gemuruh di dada. Sesak. Sesak sekali. Sampai rasanya Ia sulit untuk menghirup udara bebas. Sakit yang sudah Ia tahan beberapa bulan ini tumpah. 


Tak terhitung berapa kali Rosa mencoba menyakiti hatinya. Tak terhitung berapa kali Rosa merendahkannya. Ia diam. Karena beberapa kali sudah Ia coba bercerita pada Axel, tapi ceritanya hanya dianggap candaan semata. 


Sudah beberapa kalipula Ia membujuk Axel untuk pindah rumah. Agar tak ada lagi yang bisa mencampuri urusannya. Tapi nihil. Ia selalu berasalan kasian Rosa yang harus sendirian dirumah semegah ini. 


Padahal kalau hanya untuk membeli satu rumah pasti hal yang amat sangat mudah bagi keluarganya yang selalu digembar-gemborkan oleh Axel sebagai keluarga miliarder. 


Dengar-dengar dari mulut Axel  juga katanya ia punya beberapa vila dan aset lainnya. Tapi, untuk memboyong Istrinya tinggal di rumah sendiri saja Axel tak mampu. 

__ADS_1


__ADS_2