
Sudah 1 minggu Daisy diboyong ke rumah Axel. Selama itu pula ada banyak sekali adat dan tatacara pernikahan yang sama sekali tak Ia mengerti.
Baru hari ini ia bisa sedikit bersantai. Karena sampai saat ini pun masih ada beberapa tamu undangan. Belum lagi setiap malam Ia masih harus memenuhi kewajibannya sebagai pengantin baru.
"Kamu sakit? Kok pucat si." Axel memegang dahi Daisy yang terduduk lemas di samping ranjang kamarnya.
"Iya. Panas. Istirahat aja di kamar udah. Engga usah ikut ke ruang tamu gapapa. Nanti aku bilang Mama." Axel beranjak menuju kotak obat yang ditaruh Daisy di meja rias yang baru kemarin mereka beli.
"Bener ngga papa?," Tanya Daisy memastikan. Kini ia bisa merasakan apa yang dirasakan Hera dulu. Sungkan. Takut. Akhirnya malah jadi salah tingkah.
"Iya, sayang. Yaudah aku kebawah ya." Axel mencium kening Daisy lalu membaringkannya di ranjang. Ia pun berjalan keluar kamar meninggalkan Daisy yang akhirnya tertidur karena kelelahan.
Daisy terbangun saat mendengar suara ribut di luar kamar. Terdengar 2 orang seperti sedang berbincang diluar kamar.
"Daisy sakit, Ma. Badannya panas banget tadi aku cek." Terdengar suara Axel sedang berbicara sepertinya dengan Mamanya.
"Iya, tapi ada tamu nyariin gimana. Ini kan hari penting." Ucap seseorang yang sepertinya Mama.
"Kan kasian, Ma.." Ucap Axel memelas.
Akhirnya dengan tubuh berat dan kepala pusing Daisy menguatkan diri untuk berdiri. Setelah mempoles sedikit wajahnya dengan make up tipis ia pun keluar.
"Kan juga nanti cuma duduk… " Ucapan Rosa terpotong saat Daisy perlahan membuka pintu kamar.
"Sayang? Kok bangun."
"Aku ndak papa mas. Ayuk nemuin tamu," Ucap Daisy singkat sambil menggandeng lengan Axel. Dengan ekor matanya ia melihat Rosa memutar bola mata. Ahhh semoga cuma perasaanya saja.
Merekapun segera berjalan menuju ruang tamu. Terlihat beberapa orang sedang duduk disana.
Daisy duduk setelah menyapa dan berjabat tangan dengan mereka yang sepertinya ada 5 orang. Daisy cuma duduk dan menunduk menahan sakit kepala dan nyeri disekujur tubuhnya.
"Pantas saja Axel tiba-tiba minta nikah. Ternyata calonnya cantik sekali ini kaya artis." Ucap salah seorang dari mereka yang tadi dikenalkan oleh Rosa.
__ADS_1
"Iya. Padahal sudah mau aku kenalkan sama anak temenku si Fitri. Dia pengusaha bisnis skincare yang sukses padahal masih muda. Tapi Axel menolak katanya belum mau menikah. Tapi sama nak Daisy baru 2 kali ketemu sudah ngajak nikah kata Papanya." Ungkap Rosa panjang lebar yang membuat dahi Daisy berkerut heran. Semoga perasaan tak enak ini cuma perasaanya aja.
"Eh iya, loh. Anak si Fitri itu emang pinter banget. Bisa banget dia ngurus usaha yang sekarang sudah buka puluhan cabang." Lanjut Reta.
"Apalagi anaknya cantik banget. Tinggi langsing kaya model." Tambah Rasta.
Daisy yang mendengar percakapan mereka seketika makin merasa pusing. Yang dibahas para rentetan wanita-wanita muda yang sukses dan cantik diusia muda.
Daisy jadi membandingkan dirinya. Ia hanya seorang freelance yang tentu saja meaki hasilnya lumayan tetap tak akan terlihat oleh mereka. Padahal satu bulan gajinya kadang bisa sampai 2digit.
"Kalau nak Daisy ini kerjanya apa?" Tanya salah seorang dari mereka yang seketika membuat Daisy menegakkan badan.
"Eh. Saya freelance, Bu." Jawabnya sopan. Sambil berusaha tersenyum semanis mungkin meski rasanya Ia tahu pasti akan diremehkan.
"Pekerjaannya ngapain itu? Kok aku baru dengar, ya." Ungkap Rasta.
"Iya, bu. Nulis-nulis buat blog atau design. Bisa apa aja, bu. Tergantung minat dan kemampuan aja."
"Walah.. Gitu, toh."
Daisy membenarkan duduknya dengan kikuk. Ia hanya bisa diam dan menunggu Axel yang tadi pamit akan menyusul Ruslan dan meninggalkannya sendiri disini bersama para ibu-ibu yang seperti siap menerkamnya.
Setelah mengobrol panjang lebar mereka pun akhirnya berpamitan. Daisy yang sejak tadi hanya menunggu dan diam pun seketika lega.
Tapi kelegaannya hanya bertahan sementara. Saat tiba-tiba Rosa sudah berdiri di depannya yang tengah meminum segelas jus.
Rosa hanya diam sambil memandangnya dari atas sampai bawah, tapi dengan tatapan tak suka. Ia kemudian berjalan meninggalkan Daisy yang menarik nafas lega.
Ia memang belum terlalu mengenal Rosa. Lebih tepatnya tidak mengenal Rosa. Ia hanya bertemu sekali waktu lamaran dan kedua kali waktu akad. Saat itu tatapan Rosa lembut. Tak seperti tadi yang terlihat garang.
Entah mungkin karena ternyata Daisy tak sesuai ekspektasinya. Atau karena mungkin tadi Daisy salah bicara. Tapi yang jelas ia tahu. Bahwa Rosa tak seramah yang Daisy kira.
Daisy langsung berjalan ke kamar saat semua tamu sudah pulang. Karena Axel ditunggu pun tak datang-datang.
__ADS_1
Saat sedang melewati dapur terlihat Rosa sedang sibuk entah membuat apa Ia tak tahu, tapi sekarang Ia hanya ingin istirahat. Bahkan matanya mulai berkunang-kunang saat berjalan.
***
Daisy terbangun saat sebuah tangan mengelus keningnya pelan sambil memanggilnya "Sayang… "
Pelan ia membuka mata. Entah sudah berapa jam ia tertidur, tapi pening di kepalanya masih juga belum hilang.
"Ya?" Tanya nya pelan sambil berusaha bangun. Tapi tertahan saat tiba-tiba kepalanya pusing dan matanya gelap.
"Hati-hati." Ucap Axel lagi sambil menbantunya duduk bersandar di sandaran kasur.
"Demam mu makin tinggi. Kita ke dokter, ya?" Tanya Axel khawatir.
"Udah jam segini. Minum paracetamol aja, mas. Siapa tahu besok sembuh." Ungkap Daisy sambil melihat jam di dinding yang ternyata sudah jam 9 malam.
"Yaudah sini aku suapin."
Tapi Daisy berhenti di suapan ke empat. Ia menggeleng pelan saat Axel menyodorkan sendok berisi bubur nya.
"Ayoo dong."
"Aku mual, mas."
Axel menghela nafas sambil menaruh sendok dan mangkok buburnya di meja samping tempat tidur. Ia lalu lanjut menyuapi Daisy dengan obat dan segelas air putih.
"Udah. Istirahat lagi aja."
"Sini." Manja Daisy sambil mengulurkan kedua tanganya minta peluk. Axel tertawa. Tapi tak urung juga ia menuruti keinginan Daisy.
"I love you." Ungkap Axel.
"Love you tooo," Balas Daisy sambil memeluk suaminya erat. Nyaman sekali. Ternyata senyaman ini punya pundak untuk bisa bersandar. Punya dada bidang yang bisa ia peluk. dan punya bibir yang bisa ia kecup kapan saja.
__ADS_1
Jujur Ia masih sesekali mengingat Ebra. Bohong jika ia bilang sudah melupakan Ebra sepenuhnya. Tapi ia pun tak bisa berbohong bahwa ia nyaman berada dekat dengan suami barunya.
Bahagia. Ia bahagia meski ingatannya tercampur dengan kenangan Ebra, setidaknya ia tak lagi menangis di tengah dinginnya malam.