
Gemilang yang saat itu sedang melajukan mobilnya pulang ke rumah merasa curiga dengan mobil yang berada tak jauh dari mobilnya. Entah mengapa ia merasa mobil tersebut mengikutinya sejak beberapa saat yang lalu. Merasa curiga, Gemilang lantas mencoba menaikkan kecepatan mobilnya. Ia juga melewati jalanan yang berbeda untuk menguji kecurigaannya dan benar saja, mobil itu mengikuti kemanapun mobil Gemilang melaju.
Gemilang menghela nafasnya. Saat di jalanan yang luas dan cukup sepi, Gemilang memutar mobilnya dengan cepat membuat mobil di belakangnya mengerem mendadak. Kini kepala mobil mereka saling berhadapan. Gemilang menggeber-geber mobilnya sehingga menimbulkan bunyi yang begitu memekakkan telinga.
Tak lama kemudian, mobil di depannya pun balas menggeber-geber mobilnya dan dalam hitungan detik mereka menabrakkan mobil mereka ke mobil Gemilang. Gemilang pun berusaha mengendalikan mobilnya agar tidak sampai terdorong apalagi terpelanting sehingga terjadilah aksi beradu kambing di jalanan tersebut.
Melihat lawannya tak mau mengalah, Gemilang lantas menyeringai. Ia pun menekan pedal gas sekencang mungkin hingga mobil lawannya terdorong dan terpelanting.
Brakkk ...
Mobil itu pun terbalik hingga menimbulkan asap yang cukup pekat. Tak lama kemudian keluar percikan api dari dalam kap mesin. Gemilang memacu mobilnya menjauh. Dari kejauhan ia bisa melihat kepulan asap yang membumbung tinggi. Ia yakin, mobil tadi pasti telah terbakar. Entah siapa yang menyuruh orang-orang itu. Yang ia yakini, tujuannya sudah pasti untuk menghabisinya. Tapi apa alasannya? Gemilang belum bisa menebaknya.
...***...
"Apa sih isi paper bag itu? Mas Elang juga mana? Aku kan penasaran. Mama juga aneh-aneh aja, ngasi hadiah tapi dibukanya harus sama mas Elang. Apa aku buka aja ya?" Mazaya nampak menimbang sambil memperhatikan paper bag berwarna merah maroon tersebut. Tangannya berkali-kali terulur untuk membuka lalu ia tarik kembali. Ia ulur lagi, terus tarik lagi. Tampak ragu, tapi rasa penasaran kian menggebu.
Mazaya lantas melirik jarum jam di kamarnya, sudah hampir jam 10 malam, tapi tak ada tanda-tanda suaminya akan pulang. Mazaya menghela nafas, "sebenarnya siapa yang telepon mas Elang tadi sih? Kok kayak tegang sekaligus panik gitu? Apa itu Carla? Kalau iya, bukannya mereka sudah putus? Kenapa pula harus menghubungi mas Elang lagi? Awas aja kalau mereka balikan, aku nggak akan kasi mas Elang maaf. Biar tau rasa," gerutu Mazaya yang sudah bersungut-sungut kesal.
Lantas tanpa berpikir lagi, ia pun membuka paper bag pemberian Anika itu tanpa menunggu Gemilang lagi. Mungkin rasa kesalnya dapat terobati dengan melihat isi paper bag itu.
"Baju?" gumam Mazaya saat melihat isi di dalam paper bag itu.
Lantas Mazaya pun mengeluarkan isinya dan dalam hitungan detik mata Mazaya pun terbelalak. Ia benar-benar terkejut dengan isi dari paper bag tersebut. Isinya 3 potong pakaian yang bentuknya sangat aneh. Ketiga pakaian itu berwarna merah marun, hitam, dan peach. Ukurannya sangat mini dan juga transparan. Nyaris tak ada bagian yang tertutup sempurna. Bahkan pada pakaian tersebut cenderung menonjolkan dan memamerkan bagian sensitif di tubuh. Bahkan bikini pun masih kalah seksi dengan pakaian itu.
__ADS_1
Mazaya menelan ludahnya kasar, bagaimana bisa ia mengenakan pakaian ane itu? Apa yang akan dipikirkan Gemilang bila ia mengenakannya?
Mazaya mengangkat tinggi-tinggi ketiga baju aneh itu, membandingkan antara satu dengan lainnya. Lantas ia mengambil baju berwarna hitam dan menyimpan kedua baju lainnya. Mazaya masuk ke dalam ruang ganti dan mencoba pakaian itu. Setelah selesai, ia berputar -putar di depan cermin sambil menggigit bibirnya.
"Astagaaaa, apa itu aku? Aku sudah seperti perempuan penggoda saja. Apa yang akan mas Elang katakan kalau melihat aku seperti ini? Pasti dia akan menilaiku perempuan yang ... "
"Cantik dan seksi," ucap seseorang tiba-tiba di telinga Mazaya membuat gadis itu menegang seketika. Apalagi saat tangan laki-laki itu merayap dari samping pinggangnya dan berhenti di depan perutnya, pun hangat nafas yang menerpa lehernya memberikan sensasi yang tak biasa pada tubuhnya.
"M-mas Elang," cicit Mazaya merasa malu tepergok saat memakai pakaian aneh itu. Ingin rasanya ia membenamkan dirinya atau bersembunyi di dalam palung terdalam.
"Hmmm ... " Gemilang hanya bergumam sebab bibir dan lidahnya sedang asik merayap di leher Mazaya sembari memberikan kecupan-kecupan lembut dan hisapan yang dalam membuat Mazaya mendesis karena kegelian sekaligus merasakan gelenyar yang sama seperti yang dilakukan Gemilang saat mereka di butik.
"Mas, ngapain"? cicitnya seraya mendesah karena tangan Gemilang sudah merayap ke bokong Mazaya dan merematnya.
"Mas ingin kamu, sayang, boleh?" Gemilang meminta izin terlebih dahulu. Ia tak ingin memaksa bila istrinya belum mengizinkannya.
Melihat keraguan dalam diri istrinya, Gemilang lantas membalikkan badan Mazaya menghadapnya.
"Kau masih meragukan, mas?" tanya Gemilang lirih. Tatapan Gemilang begitu dalam. Ada pancaran kekaguman di dalamnya. Sorot matanya telah mulai terselimuti kabut gairah. Penuh harap dan damba.
Berbanding terbalik dengan sorot mata Mazaya yang memancarkan keraguan, ketakutan, dan kekhawatiran.
Dapatkan Gemilang meyakinkan Mazaya?
__ADS_1
Sementara itu, di rumah besar kediaman Guntara dan Anika. Sepasang suami istri itu kini sedang duduk bersantai di ruang keluarga. Guntara baru pulang setelah melakukan perjalanan bisnis beberapa hari di negeri singa.
"Bagaimana keadaan Elang dan menantu kita, ma? Apakah hubungan mereka sudah
mulai ada kemajuan?" tanya Guntara setelah meletakkan cangkir kopinya kembali ke atas meja.
Anika tersenyum lebar, "kemajuan pesat, Pa. Papa tahu, akhirnya Elang memutuskan hubungannya dengan perempuan ular itu. Bahkan Elang mengatakan pada mama kalau ia sudah mencintai Zaya. Zaya benar-benar hebat. Mama benar-benar nggak menyangka Zaya bisa menaklukkan putra kita yang kepala batu dan sekaku tembok Cina itu dalam waktu yang cukup singkat. Mama pikir bakal butuh waktu lama, eh ternyata nggak butuh waktu berbulan apalagi bertahun, Elang udah jatuh cinta aja sama Zaya." Papar Anika penuh kekaguman dan bahagia.
"Mama serius?" tanya Guntara masih belum yakin 100 persen.
"Mama serius, Pa. Tapi sayang, Zaya kayaknya masih memasang tembok tinggi dalam hubungan mereka. Sepertinya Zaya masih ragu dengan kesungguhan Elang. Apa mesti turun tangan ya, Pa?"
"Turun tangan? Maksud mama turun tangan bagaimana? Jangan sampai karena terlalu ikut campur dalam hubungan mereka justru membuat hubungan yang baru mulai bersemi jadi berantakan." Guntara yang memang tak suka ikut campur urusan orang lain termasuk dengan anak-anaknya sendiri khawatir justru mengacaukan hubungan mereka.
"Nggak lah, Pa. Pasti Elang bakal senang dan mengucapkan makasih sama kita."
"Memangnya mama mau melakukan apa?" Akhirnya Guntara ikut penasaran juga.
"Mereka kan belum lama saling mengenal satu sama lain, belum lagi intensitas pertemuan mereka masih cukup minim karena kesibukan masing-masing. Bagaimana kalau kita berikan mereka waktu untuk menikmati kebersamaan mereka dengan memberikan mereka paket bulan madu? Bagaimana? Papa setuju kan dengan ide mama?" Anika tersenyum lebar sambil menaikkan alisnya.
Guntara terkekeh lalu mencubit pelan pipi istrinya, "good ide. Papa setuju. Itu benar-benar ide yang bagus."
Anika tersenyum lebar mendengar persetujuan suaminya.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...