
Dengan bergandengan tangan, Gemilang dan Mazaya masuk ke ruang makan. Setibanya di sana, mata Gemilang terbelalak, sedangkan mata Mazaya menyipit bingung.
"Kakak," seru seorang gadis muda. Ia bangkit dari tempat duduknya dan segera berlari ke pelukan Gemilang. Mazaya masih belum mengenali gadis itu. Lalu dari kursi satunya, seorang pemuda yang wajahnya begitu mirip dengan Gemilang berjalan menuju suaminya dengan wajah datarnya. Ibarat kata, laki-laki itu merupakan Gemilang versi lebih muda, tapi tetap terlihat sangat tampan. Yang membedakannya hanya tingkat kedewasaan, tapi entah dalam hal pola pikir. Terkadang wajah dan usia boleh lebih dewasa, tapi kelakuan justru kekanakan, sebaliknya ada seseorang yang dalam hal usia sangat-sangat muda, tapi sikapnya bahkan lebih bijak dan dewasa dari orang-orang dewasa lainnya.
"Pita," seru Gemilang riang. Ia pun menyambut pelukan Gempita, adik bungsunya itu dengan perasaan bahagia.
"Hai kakak ipar, salam kenal?" sapa pemuda tadi kepada Mazaya membuat Mazaya kikuk sendiri. Apalagi pemuda itu menyapanya sambil tersenyum manis. 'Uh, manisnya! Kayak gulali.'
"Ah, ha-hai. Kamu?" Sahut Mazaya kikuk. Menyadari istrinya seperti sedang salah tingkah karena ulah adik keduanya membuat Gemilang menekuk wajahnya. Ia lantas melepaskan pelan pelukannya dari Gempita dan merengkuh pinggang Mazaya posesif.
"Erhan," tegur Gemilang datar.
"Gerhana," ucap Gerhana sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Mazaya.
"Ma-zaya." Baru saja tangan Mazaya terulur untuk bersalaman, tangan Gemilang justru lebih dahulu mengambil alih membuat sang adik berdecak. Gempita dan kedua orang tuanya terkekeh melihat itu.
"Sepertinya kakak ipar sudah berhasil meruntuhkan batu jarang satu ini," kekeh Gerhana membuat Gemilang mendengkus.
"Kakak, ayo duduk sama Pita. Pita kangen banget sama kakak. Eh, sekarang kakak duduk sama kakak ipar ya? Yah, Pita jadi ada saingan nih!" seloroh Gempita membuat Gemilang tersenyum lebar.
"Nggak ada saing-saingan dek, kalian itu sama-sama perempuan yang sangat berarti bagi kakak. Ya udah, ayo kita duduk!" ajak Gemilang.
Mereka semua pun segera duduk di tempat masing-masing.
"Oh ya, kapan pulang? Kok bisa kompak gini?"
"Gimana nggak kompak, kami marah tau. Masa' kakak nikah diem-diem nggak ngasi tau kami lagi. Untung aja kayaknya kakak iparnya ini baik. Mana cantik banget juga jadi nggak masalah. Coba aja si ular keket itu yang jadi kakak ipar Pita, Pita nggak jamin bakal balik lagi ke sini. Ogah punya kakak ipar kayak dia. Iuh ... "Ucap Gempita seolah bergidik jijik.
"Kakak gimana caranya bisa terlibat skandal itu? Yang ada di kandungan perempuan itu bukan anak kakak kan?" Tanya Gerhana dengan mata menyipit.
"Bukan." Tegas Gemilang tanpa keraguan. "Dia bukan anak kakak. Kakak aja nggak pernah sentuh dia selain peluk atau gandengan tangan." Jawabnya lugas tanpa ia sadari wajah Mazaya yang duduk di sampingnya seketika masam.
Gempita yang menyadari lantas menyenggol lengan sang kakak. Gemilang lantas menoleh, lalu Gempita menunjuk ke arah Mazaya dengan ujung dagunya. Gemilang pun mengikuti arah yang dituju Gempita. Gemilang tiba-tiba salah tingkah sendiri. Merasa bersalah karena melakukan hal yang tak seharusnya pada perempuan lain meskipun hal tersebut masih dalam tahap wajar.
"Zayang, kamu marah?" tanya Gemilang.
"Nggak." Jawab Mazaya datar membuat Gemilang was-was.
"Mas nggak pernah meluk dia sengaja, Zayang. Justru dia yang duluan peluk-peluk mas, kalo mas nggak pernah sama sekali. Gandeng pun gitu. Dianya aja kayak nenek-nenek takut tersesat jadi gandeng tangan mas terus kalau lagi berdua."
"Tapi mas suka kan? Buktinya mas biarin aja dia kayak gitu."
__ADS_1
"Ng-nggak gitu. Mas cuma ... cuma ... "
Gempita tergelak melihat kakaknya yang sudah seperti suami-suami takut istri.
"Wah, Kakak ipar hebat bener, bisa buat kak Elang sampai ketakutan tersebut. Pake ilmu apa sih kak? Bisa bagi sedikit nggak ilmunya? Pita mau nakhlukin seseorang," seloroh Gempita yang langsung dihadiahi toyoran oleh Gemilang.
"Fokus kuliah dulu, baru pacar-pacaran."
"Ah, kakak nggak asik. Kalau dia keduluan ditikung orang gimana?"
"Ya cari yang lain."
"Tapi Pita maunya cuma sama dia."
"Siapa sih laki-laki yang bisa buat anak papa sampai kayak gini? Sepertinya dia sangat istimewa." Ucap Guntara tak mau ikut menghakimi.
Wajah Gempita mesem-mesem. Lalu dia melirik Gemilang yang juga menatapnya penasaran.
"A-ada. Ka-kalian kenal kok." Jawab Gempita membuat semua orang makin penasaran.
"Kami kenal? Siapa? Seingat mama kamu nggak pernah bawa teman cowok ke rumah apalagi ngenalin?" timpal Anika yang juga penasaran.
"Dia ... "
"JENDRA?" Pekik semua orang terkejut, kecuali Gerhana.
"Nggak, pokoknya kakak nggak setuju." Ucap Gemilang tegas. Bukan tanpa alasan ia menolak sebab ia sangat tahu Jendra itu seorang playboy. Selain itu, ia juga sangat tahu, sudah sejak lama Jendra menyukai istrinya. Ia harap, Jendra sudah dapat move on jadi ia tidak perlu was-was lagi ke depannya.
Setelah sarapan sambil berbincang berlalu, kini keenam orang itu pun mulai membahas permasalahan yang menimpa Gemilang dan Mazaya. Kedua adik Gemilang pulang pun karena khawatir dengan permasalahan yang menimpa sang kakak pun merasa penasaran dengan istrinya yang dinikahi secara dadakan.
"Jadi apa yang akan kau lakukan, Lang?" tanya Guntara.
"Bagaimana kalau kakak melakukan konferensi pers?" Gempita ikut bicara.
"Konferensi pers memang bagus, tapi bukan untuk saat ini sebab kita tidak memiliki bukti. Kita akan dianggap mencoba membela diri bila tak ada bukti."
"Lantas kau akan diam saja?" timpal Anika.
Gemilang menggeleng, "bagaimana kalau test DNA?"
"Mas, test DNA pada wanita hamil hanya bisa dilakukan saat usia kandungan minimal 16 Minggu, apa kandungan Carla sudah berusia 16 Minggu?"
__ADS_1
"Mas juga tak tahu." Ucap Gemilang. "Ah tunggu sebentar. Aku akan meminta Juna mencari tahu usia kandungannya di rumah sakit tempat ia dirawat tempo hari." Gemilang pun bergegas menghubungi Juna. Setelahnya ia pun kembali duduk di samping sang istri.
"Sudah."
"Oh ya, papa juga sudah meminta orang kepercayaan papa untuk memata-matai siapa saja laki-laki yang dekat dengan perempuan itu."
"Apa sudah ada hasilnya?" tanya Anika.
Guntara menggeleng, "sejauh ini belum ada. Tak ada satupun laki-laki yang dekat dengannya. Hanya ayahnya yang sesekali menyambanginya di apartemen perempuan itu. Sudah sejak seminggu yang lalu ia meninggalkan kediaman orang tuanya." Jelas Guntara membuat semua orang menghela nafas.
"Kalau dia tidak dekat laki-laki manapun, jadi anak siapa yang dia kandung? Anak itu benar-benar bukan anak kakak kan? Atau jangan-jangan anak itu benar anak kakak tapi kakak lupa sudah melakukannya." Ucap Gempita polos membuat semua mata melotot ke arahnya.
"PITA! JANGAN ASAL BICARA!" Hardik Gemilang kesal karena sang adik secara tak langsung menuduhnya telah menghamili Carla.
"Ja-jangan marah kak! Kan aku ... aku hanya ... "
"Sudah, sudah, mama yakin 100% kakak kamu takkan melakukan hal itu. Dengan istrinya yang cantik begini saja dia butuh waktu lama buat melakukannya, apalagi perempuan yang bukan istrinya. Itu nggak mungkin." Tutur Anika membuat Guntara, Gerhana, dan Gempita menoleh ke arahnya.
"Wah, be-."
"Pa, papa kan kenal lama dengan papanya Zaya, apa papa tahu papa Narendra memiliki teman bernama Antonio?" tanya Gemilang memotong perkataan Gempita.
"Siapa? Eh, tunggu, tinggu, apa Zaya sudah ... "
Gemilang mengangguk, "iya pa. Elang sudah tahu. Bahkan sebelum Zaya cerita. Jadi bagaimana pa, apa papa kenal dengan Antonio? Dia papanya Carla."
"Apa? Antonio? Papa nya Carla? Tidak. Setahu papa Rendra tidak memiliki teman bernama Antonio. Mengapa kau menanyakan itu?"
Gemilang lantas menoleh ke arah Mazaya. Mazaya menarik nafas dalam, setelahnya mulai menceritakan perihal pertemuannya dengan Antonio beberapa saat yang lalu.
"Zaya pernah ketemu dengan Antonio Pa saat sedang menghadiri meeting. Dia bilang dia mengenal papa dengan baik dan dia merupakan salah seorang teman dekatnya. Dia bilang papa orang yang baik dan juga tegas sehingga ia tak tanggung-tanggung menghukum orang-orang yang berbuat curang di belakangnya tanpa peduli alasannya."
Guntara mengerutkan keningnya, "papa mengenal baik papamu dan papamu itu termasuk laki-laki introvert. Papa tidak yakin dia memiliki teman lain karena kesehariannya hanya diisi dengan belajar, bekerja, dan setelah menikah, ia fokus dengan keluarga kecilnya. Terlebih saat kau lahir."
"Lantas, bagaimana bisa ia bisa mengenal papa?" gumam Mazaya.
"Sepertinya kita harus menyelidiki siapa Antonio sebenarnya. Benarkah dia teman Om Narendra atau jangan-jangan dialah dalang yang sebenarnya?" ucap Gerhana yang akhirnya angkat bicara.
Semua orang terkejut. Setelah dipikir-pikir, bisa saja hal itu benar. Gemilang dan Mazaya hanya bisa menghela nafas panjang, sepertinya pekerjaan mereka akan benar-benar berat kali ini.
...***...
__ADS_1
....HAPPY READING. 🥰🥰🥰...