ISTRI TANGGUH

ISTRI TANGGUH
Kekecewaan seorang ibu


__ADS_3

...Mengapa kau tega mencampakkan ku di saat aku sudah benar-benar mencintaimu....


...Kau bilang kau cinta padaku, tapi ternyata semua hanya palsu. Kau tipu aku. Setelah aku jatuh dengan segala bujuk rayumu hingga rela menyerahkan segenap jiwa dan ragaku, lalu kau dengan mudahnya meninggalkan mu....


...Aku tak menyangka, 2 tahun kebersamaan kita akan hilang tanpa bekas hanya karena kedatangan dia yang baru dalam hidupmu....


...Apa lebihnya dia dibandingkan aku sampai-sampai kau tega membuang ku begitu saja setelah apa yang kita berdua hadapi dan jalani?...


...Tahukah kau luka hatiku begitu dalam. Entah sampai kapan aku mampu bertahan, sedangkan rasanya jiwa ragaku seakan tak bertulang....


...Yang ada dipikiran ku hanya kamu, kamu, dan kamu. Bagaimana caraku melupakan mu, sedangkan di setiap hela nafas dan denyut nadiku hanya ada namamu....


...Semakin hari tubuhku semakin lemah, entah apa sebabnya. Makan tak bisa, tidur tak nyenyak, mual, pusing, tak bertenaga. Mama sudah memaksa ku untuk ke dokter, tapi entah mengapa tiba-tiba aku merasa takut. Aku takut terjadi sesuatu di dalam tubuhku....


...Benar dugaanku. Setelah memeriksakan diri ke dokter, ternyata apa yang aku takutkan benar-benar terjadi. Ya Tuhan, kenapa kau hadirkan dia di saat seperti ini? Aku harus apa? Aku harus bagaimana? Tapi aku tak mungkin membuangnya. Cukup sudah dosa yang ku buat, aku tak mau membuat diriku makin berlumur dosa dengan melenyapkannya....


...Ya Tuhan, jaga aku, lindungi aku, kuatkan aku. Berikan aku kemampuan untuk menjaganya. Dia adalah sumber kekuatan ku. Akan aku jaga dia dengan sepenuh hatiku. Akan aku sayangi dia dengan sepenuh jiwa dan raga ku. Tak peduli dirinya tak menginginkannya, ada aku yang akan selalu ada untuknya....


...***...


"Papa, papa ... " pekik Anika saat ia sedang menonton televisi. Ia berteriak panik membuat Guntara yang sedang berada di ruang kerjanya tegas berlari dengan tergesa menghampiri sang istri.

__ADS_1


"Ada apa, ma? Apa yang terjadi? Kenapa kamu sampai berteriak seperti itu?" Sahut Guntara setelah mendekat ke arah sang istri.


"Liat itu, pa! Liat berita itu."


"Liat berita? Berita apa sih? Gosip? Mama teriak-teriak cuma karena habis nonton acara gosip? Mama kadang-kadang ... "Guntara menggelengkan kepalanya. Ia sudah panik sampai berlarian tergesa justru disuruh menonton acara gosip seakan-akan Guntara suka menonton acara seperti itu.


Anika berdecak. Belum apa-apa sudah protes, pikirnya.


"Pa, bukan itu masalahnya. Mama juga nggak mungkin teriak panggil papa kalau ini nggak penting. Liat itu! Papa tahu, berita siapa yang sedang heboh saat ini? Dia perempuan ular itu, pa. Dia jelek-jelekin anak kita. Dia nuduh putra kita udah hamilin dia dan meninggalkannya begitu aja. Meskipun tidak secara langsung, tapi secara ia menyatakan itu secara tersirat. Semua orang jadi mencaci-maki putra kita, pa? Bukan hanya Elang yang jadi sasaran, tapi juga Zaya. Kita harus apa, pa? Kita harus bagaimana?" tukas Anika panik membuat Guntara terkejut bukan main.


Guntara pun mengambil alih remote di tangan sang istri dan memperbesar volume agar ia bisa mendengar dengan jelas apa yang host acara infotainment itu.


Mata Guntara terbelalak. Sama seperti sang istri, ia pun ikut syok dengan apa yang disiarkan. Rahang Guntara mengeras. Ia membutuhkan konfirmasi dari Gemilang, tapi sayang, baik Gemilang maupun Mazaya tidak ada yang bisa dihubungi. Tampaknya keduanya sengaja menonaktifkan ponsel mereka agar tidak ada yang mengganggu kegiatan bulan madu mereka.


Ternyata bukan hanya Anika dan Guntara yang terkejut. Maria pun terkejut dengan pemberitaan yang tengah heboh saat ini. Ia membelalakkan matanya saat melihat berita yang menayangkan curahan hati sang putri yang ditinggalkan Gemilang karena lebih memilih wanita lain. Bahkan putrinya mengakui kehamilan di luar nikahnya di khalayak ramai. Yang jadi permasalahan, bukan hanya karena Carla tanpa rasa malu menyebarkan aibnya yang hamil di luar nikah, tapi juga karena ia telah memfitnah Gemilang.


Maria yang tahu bukan Gemilang yang menghamili sang putri pun sontak saja khawatir. Bagaimana pun keluarga Gemilang bukanlah keluarga sembarangan. Bagaimana bila mereka marah dan menuntut putrinya karena fitnah yang putrinya lakukan.


Tok tok tok tok ...


"Carla, buka pintunya, cepat!" teriak Maria sambil menggedor-gedor pintu kamarnya. Namun Carla yang masih asik masyuk bergelung dengan selimutnya merasa enggan membukakan pintu. Padahal telinganya mendengar pekikan suara sang ibu yang meminta pintu segera dibuka.

__ADS_1


"Carla, kau dengar mommy, tidak? Cepat bukan pintunya!" Teriak Maria lagi dengan dada yang bergemuruh. Mengapa putrinya kian keras kepala seperti ini pikirnya. Bahkan ia mulai acuh tak acuh dengan segala perkataannya.


"CARLA, MOMMY TAHU KAU MENDENGAR SUARA MOMMY, CEPAT BUKA PINTUNYA ATAU ... "


"Atau apa?" balas Carla ikut berteriak saat pintu baru saja dibukanya dari dalam. "Aku masih mengantuk mommy, kenapa sih pagi-pagi sudah membuat keributan. Mommy kayak orang tinggal di hutan aja, pake teriak-teriak segala," ketus Carla membuat Maria mengangakan mulutnya.


"Kau ... kenapa mulutmu semakin hari semakin kurang ajar, Carla? Aku mommy mu, tapi kau ... " Maria merasa speechless dengan sikap Carla yang jauh dari kesan sopan santun. "Wajar saja kalau Gemilang meninggalkan mu, lihat sikapmu ini? Pria baik-baik pasti takkan mau dengan perempuan yang bicara dengan orang tuanya saja tak ada sopan santun." Hardik Maria dengan mata membulat dan berkaca-kaca. Hatinya sakit, hatinya kecewa. Bagaimana anak yang besarkan dengan segenap cinta dan kasih sayang justru tumbuh menjadi perempuan yang kurang ajar dan tak beretika.


"Sudahlah mom, tak perlu banyak drama, mommy mau apa, hah? Aku masih ngantuk, mau tidur. Kalau cuma mau ceramah, mending mama pergi ke masjid saja. Aku jengah mendengarnya."


Makin tak habis pikir lah Maria dengan sikap Carla yang tidak menghormati dan menghargainya sama sekali. Tapi tujuannya menemui Carla bukan itu.


"Dasar anak kurang ajar! Mommy cuma mau bertanya, kenapa kau membuat berita kebohongan seperti itu, hah? Kau tau apa dampaknya kelak? Jangan bodoh Carla, kau pikir dengan kau membuat kehebohan seperti ini Gemilang akan kembali padamu?" Hardik Maria lalu ia menggelengkan kepalanya, "tidak. Justru sebaliknya, ia akan makin murka. Kau pikir dia akan diam saja saat nama baiknya kau usik? Mengapa kau mati-matian ingin mendapatkan Gemilang? Seharusnya di saat seperti ini kau temui laki-laki yang membuatmu hamil dan meminta pertanggungjawaban, bukannya mengarang cerita yang tidak-tidak dan menggiring opini seolah kau merupakan perempuan yang paling tersakiti. Berhentilah Carla, jangan lanjutkan kebodohanmu itu. Kau takkan mungkin bisa mendapatkan Gemilang dengan cara seperti itu. Berhentilah sebelum ia mengambil tindakan dan membuatmu hancur," imbuh Maria berharap putrinya sadar dan menghentikan perbuatan bodohnya.


"Sudahlah, kalau mommy tak bisa membantu, lebih baik mommy tutup mulut." Sentak Carla seraya mendelik. Setelah mengucapkan kata-kata itu, Carla menutup pintu dengan kasar membuat Maria terbelalak dengan mata berkaca-kaca.


Hati ibu mana yang tak sakit saat diperlakukan seperti itu oleh anaknya sendiri. Putri yang ia jaga dan rawat dengan segenap hati, cinta, dan kasih sayang justru memperlakukannya bak ibu tiri. Seketika Maria terkenang mendiang suaminya. Ia pernah berjanji pada mendiang suaminya di sisa akhir hidupnya akan menjaga dan merawat Carla dengan sebaik mungkin. Namun kini ia merasa gagal. Ternyata perjuangannya selama ini justru dibalas dengan kesakitan oleh sang anak.


"Ya Tuhan, apa salah dan dosaku sehingga anakku sendiri seperti tak menganggap keberadaanku?" lirih Maria sambil berjalan gontai menuju sofa tempat ia duduk tadi.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...


__ADS_2