
'Ayo Lang, ayo katakan baiklah. Aku sudah tak sabar menjadi istrimu dan mengumumkan pada dunia bahwa kau adalah suamiku. Aku akan menjadi nyonya muda Cakrabuana. Hidupku pasti akan kian terjamin ke depannya. Status? Hahaha ... Aku tahu kau itu gampang iba, honey. Aku yakin kau bersedia menikahiku. Tak masalah saat ini aku jadi yang kedua, tapi setelah menikah, aku pastikan akan menjadikan diriku hanya satu-satunya. Aku akan menyingkirkan wanita sialan itu. Terserah dia mau CEO Syailendra Group atau bukan, yang pasti akulah yang kelak akan menjadi istrimu satu-satunya. Hahaha ... ' Carla sudah berangan-angan akan dinikahi Gemilang. Bahkan ia membayangkan menjadi istri pertama Gemilang setelah sebelumnya ia menyingkirkan Mazaya terlebih dahulu. Rasanya ia sudah tak sabar lagi untuk melancarkan rencana liciknya.
Gemilang menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Ia memang iba dengan apa yang menimpa Carla, tapi ia juga tak bisa melakukan hal yang bisa saja membuat rumah tangganya retak bahkan kandas. Banyak cara untuk menolong, tapi bukan dengan menikahi. Ia takkan mengorbankan rumah tangganya hanya demi menolong seseorang yang tengah membutuhkan status pernikahan untuk anaknya. Tidak. Ia takkan melakukan kebodohan itu. Bayangkan bila orang yang kita cintai melakukan hal serupa, sudah pasti kita akan merasa sakit hati dan terluka bukan. Biarpun iba, otaknya tetap harus berpikir jernih. Bagaimana pun, istrinya, masa depannya. Ia tak mau kehilangan wanita yang ia cintai hanya karena membantu wanita lainnya.
"Maaf, mau kau menangis darah pun, aku tak bisa mengorbankan rumah tangga ku demi membantumu." Tegas Gemilang.
"Elang, tak bisakah kau membantuku sedikit saja? Kalau kau takut istrimu marah, aku bersedia kau nikahi diam-diam. Yang penting anakku memiliki status yang jelas di mata hukum. Bahkan kau tak perlu satu atap dengan ku bila kau takut istrimu curiga. Hanya status agar anakku dilahirkan dengan status yang jelas. Aku hanya membutuhkan status saja, tidak lainnya." Pekik Carla frustasi.
Ia kesal, susah sekali meluluhkan hati mantan kekasihnya itu. Bahkan setelah ia memelas dan membuat alasan menyedihkan agar membuatnya iba lalu bersedia membantu pun tak membuat pertahanannya goyah sama sekali.
'Brengsek. Kenapa susah sekali sih membuatnya luluh agar bersedia menikahiku.' geram Carla.
"Sekali tidak bisa, tetap tidak bisa. Kau bisa meminta bantuan orang lain, tapi bukan aku karena aku tidak akan pernah mengorbankan rumah tangga ku hanya demi kau. Lagipula aku bukan badan amal yang bersedia dengan suka rela membantumu. Silahkan pergi dari sini!" Tegas Gemilang. Ia tetap kukuh pada pendiriannya. Sebagai seorang laki-laki, ia harus tegas. Ia takkan memberikan celah pada orang yang jelas-jelas mengancam keberlangsungan rumah tangganya.
"Nggak. Aku nggak mau pergi sebelum kau bersedia menikahiku. Aku nggak mau." Pekiknya dengan wajah merah padam.
"Segera pergi sebelum aku meminta sekuriti menyeretmu keluar dari kantor ku!" Titahnya dingin.
Sebenarnya Carla sudah ketar-ketir mendengar nada suara laki-laki yang selama 2 tahun ini bersedia menjadi kekasihnya, tapi ia tentu belum mau menyerah. Selain ia menginginkan menjadi istri dari Gemilang Cakrabuana, ia juga memang membutuhkan status untuk anaknya. Tidak mungkin kan ia menikah dengan ayahnya sendiri. Apa kata orang-orang saat mengetahui ia hamil anak ayahnya sendiri. Apalagi selama ini tak ada yang tahu status Antonio hanyalah ayah tiri dirinya.
Banyak orang yang mengira Antonio adalah ayah kandungnya sebab Antonio telah menikahi ibunya selama belasan tahun yang lalu, lebih tepatnya saat ia baru menginjak usia remaja. Oleh sebab itu, wajar tak ada yang tahu status Antonio yang sebenarnya. Belum lagi bagaimana bila ibunya tahu perbuatannya dan ayahnya di belakang ibunya itu. Ia yakin, Maria pasti akan murka dan benar-benar marah padanya.
"Pokoknya aku nggak mau." Jawab Carla dengan suara tak kalah melengking. Ia lantas dengan santai menghenyakkan bokongnya di sofa yang ada di dalam ruangan itu. Malas berdebat, Gemilang pun segera meminta sekretarisnya memanggil sekuriti melalui interkom. Carla benar-benar tak menyangka, Gemilang benar-benar melakukan hal itu.
Tak butuh waktu lama, 2 orang sekuriti telah datang bersama sekretaris Gemilang.
"Tuan ... " Belum sempat sekretaris Gemilang berbicara, Gemilang sudah lebih dahulu memberikan perintah.
"Usir dia keluar dan jangan biarkan dia masuk ke perusahaan ini lagi apapun alasannya!" Tegas Gemilang yang diangguki sekuriti dan sekretarisnya. Carla hanya bisa membeliakkan matanya tak percaya dengan apa yang Gemilang lakukan.
"Elang, kamu harus menikah dengan ku!" teriak Carla tanpa tahu malu. Kedua sekuriti sudah memegangi tangannya dan menyeretnya perlahan keluar dari sana. Bagaimana pun Carla sedang hamil saat ini. Mereka tak mau mengambil risiko dengan membuatnya terluka apalagi sampai keguguran. Tentu saja mereka telah tahu skandal yang saat ini tengah heboh. Meskipun Gemilang tidak mengatakan apapun tentang Carla yang tengah hamil.
Gemilang tak menggubris Carla sama sekali. Ia justru kembali menyibukkan diri. Tak peduli Carla terus-terusan berteriak memintanya menikahinya. Ia tak mau hanya karena ingin membantu wanita lain sampai mengorbankan wanita lain yang notabene adalah istrinya sendiri. Ia tak ingin menyakiti Mazaya. Sudah cukup di awal pernikahan ia membuat drama perselingkuhan. Beruntung Mazaya masih memberikannya kesempatan untuk terus bersama. Namun ia yakin, bila hal serupa terjadi apalagi sampai menikahi meskipun hanya sementara, bisa jadi Mazaya akan benar-benar pergi meninggalkannya tanpa mau menoleh lagi.
Gemilang menghela nafas kasar. Ia benar-benar pusing memikirkan berbagai masalah yang menghantamnya beberapa waktu ini.
Tak lama kemudian, Juna masuk setelah mengetuk pintu beberapa kali. Ternyata dia baru kembali dari markas tempat mereka berkumpul untuk membahas hal yang rahasia.
"Bagaimana keadaan mereka?"
"Mereka sudah ditangani dokter Rudi, tuan." Ujar Juna mengingat para pembunuh bayaran itu tampak cukup mengenaskan. Bukan hanya karena semburan timah panas, tapi juga pukulan dan tendangan Gemilang dan Mazaya.
Gemilang mengangguk, "siapkan segala keperluan interogasi kita."
"Baik, tuan."
"Bagaimana dengan hasil penyelidikan Carla? Apa ada kemajuan?" lanjut Gemilang.
__ADS_1
Juna menggeleng, "maaf tuan, sejauh ini belum ada. Masih seperti kemarin-kemarin, hanya tuan Antonio yang rutin mendatangi apartemen Carla."
Gemilang mendengkus. Ia benar-benar bingung, sebenarnya siapa laki-laki yang sudah menghamili Carla? Apa benar dia tidak tahu? Atau pura-pura tak tahu?
"Lalu tugas terakhir yang aku berikan?"
"Informan kita belum menemukan informasi tentang masa lalu Antonio, tuan. Tapi ... "
"Tapi apa?"
"Informan kita mendapatkan satu informasi menarik."
"Apa itu?"
"Ternyata Antonio memiliki gudang penampungan narko ba di lantai dasar hotel miliknya." Ucap Juna membuat mata Gemilang terbelalak. Ternyata Antonio bukan pria sembarangan pikirnya.
Tak lama kemudian, pintu terbuka dari luar. Gemilang tersenyum saat melihat kedatangan orang-orang yang sejak tadi ia tunggu.
"Halo bro, ada apa nih kamu diundang kemari? Sepertinya ada tugas spesial." Seloroh Jendra sambil menghenyakkan bokongnya di sofa yang sebelumnya di duduki Carla.
"Kau tahu, gara-gara kau meminta kami segera ke mari, kami sampai meninggalkan semua pekerjaan kami. Hal sepenting apa yang membuat kami harus terburu-buru ke mari? Aku harap, kau tidak segera mengerjai kami." Timpal Mada yang diangguki Nugie. Mereka berdua pun telah duduk di salah satu sofa.
"Aku tidak sekurang kerjaan itu sampai-sampai memanggil kalian hanya untuk mengerjai. Aku butuh bantuan kalian. Urgent. Aku harap kalian dapat membantu ku."
"Tugas apa itu? Apa imbalannya bila kami berhasil?" Ujar Mada dalam mode serius.
Ketiga laki-laki itu sumringah. Kemudian menyeringai.
"Kalau aku meminta Aya, bagaimana? Kau akan memberikannya?" Ucap Jendra tiba-tiba membuat Gemilang membulatkan matanya. Ia pun sontak berdiri sambil mengeluarkan revolver dari dalam laci meja kerjanya.
"Kau mau mati sekarang, hah?" sentak Gemilang membuat ketiga orang itu membeliakkan matanya saat melihat Gemilang sudah mengarahkan revolvernya ke arah Jendra.
"Wow, wow, wow, slow bro! I was kidding. Gue nggak segila itu sampai mengincar istri sahabat sendiri." Seru Jendra santai.
Gemilang menghela nafas. Kemudian menyimpan kembali revolvernya, "kalian pasti sudah mendengar tentang skandal kehamilan Carla kan?"
Ketiga sekawan itupun mengangguk.
"Kalian pasti tahu, aku tidak mungkin melakukannya." Lagi-lagi ketiganya mengangguk. "Mada, kau seorang peretas handal, aku minta bantuanmu untuk meretas apartemen Carla." Ucapnya pada Mada. "Dan kalian ... " Ucapnya pada Jendra dan Nugie. "Tolong selidiki masa lalu Antonio, ayah Carla, pemilik hotel Dome Hotels. Hanya kalian yang bisa. Aku sudah meminta informan, tapi ia tidak mendapatkan apapun selain informasi bahwa ternyata Antonio seorang bandar narko ba. Bahkan gudang penyimpanannya ada di lantai dasar Dome Hotels."
Terang saja apa yang ditugaskan Gemilang pada Jendra dan Nugie membuat ketiganya mengerutkan kening. Mereka pun ikut terkejut saat mengetahui ternyata Antonio adalah seorang bandar narko ba.
"Mengapa kau ingin menyelidiki masa lalunya? Apa dia sudah membuat masalah padamu?" tanya Jendra penasaran.
"Sebenarnya bukan denganku, tapi Zaya. Namun karena Zaya sudah menjadi istri ku, setiap masalah yang berhubungan dengannya pun kini menjadi masalahku. Kalian tahu, ternyata CEO Syailendra Group adalah istri ku sendiri."
"Apa?" seru ketiganya dengan netra yang membulat sempurna.
__ADS_1
"Ya. Dan tentang kematian kedua orang tuanya yang kalian bahas tempo hari ternyata benar. Ada yang janggal. Bahkan kematian kakek Zaya kemarin pun tak luput dari perbuatan orang yang sama. Motifnya adalah dendam. Tapi dendam atas dasar apa, itu yang ingin aku ketahui. Bahkan sebelum kembali kemari pun, kami dihadang segerombolan pembunuh bayaran. Dan ... orang yang kami curigai dalang semua kejadian ini adalah Antonio. Karena itu, aku mohon bantuan kalian."
"Kami?"
"Ya, aku dan Zaya. Beruntung kami berhasil menghadapi mereka semua."
"Bagaimana keadaan Aya saat ini?" tanya Jendra khawatir.
Gemilang melirik geram, "dia tidak apa-apa. Hanya saja tadi ia sedikit terluka." Gemilang kembali mengingat luka di lengan Mazaya. Semoga memang benar tidak infeksi. Tadi Gemilang sudah ingin mengajaknya ke rumah sakit untuk mengobatinya, tapi Mazaya menolak. Gemilang lantas mengobati sendiri luka di lengan istrinya dan membebatnya dengan perban.
"Brengsekkk." Umpat Jendra murka. "Baiklah. Kau tunggu saja informasi dari kami. Kami akan segera mendapatkan informasi yang kau mau. Setelah mendapatkannya, mari kita hancurkan dia sama-sama." Imbuh Jendra menggebu-gebu membuat Nugie dan Mada menggelengkan kepalanya.
"Baiklah. Kau kirimkan saja alamat apartemennya. Aku akan segera memulai meretas apartemennya.
Semoga saja kita bisa segera mengetahui siapa laki-laki kurang ajar itu."
"Tunggu-tunggu, apa Antonio itu laki-laki ini?" tanya Nugie sambil menunjukkan sebuah foto pada Gemilang. Gemilang pun mengangguk membuat Nugie membelalakkan matanya.
"Gila!" seru Nugie membuat ketiga orang itu bingung.
"Kau mengenalnya."
Nugie menggeleng, "dia ini ayah Carla?" tanyanya lagi.
Gemilang pun mengangguk.
"Beneran ayahnya?"
"Kenapa memangnya?" tanya Mada heran.
"Gue liat mereka berdua booking hotel cuy."
"Ayah dan anak tinggal satu kamar hotel kan biasa. Bisa aja hanya mengantar."
Nugie menggeleng, "no, no, no. Gue yakin mereka punya hubungan lebih dari itu. Bukan sekedar ayah dan anak."
"Maksud loe?"
"Waktu gue ada perjalanan bisnis ke Bali, gue liat Carla sama laki-laki itu check in hotel. Yang buat gue speechless, sebelum masuk ke dalam kamar hotel, mereka ... "
"WHAT???" seru ketiganya dengan mata membulat antara percaya dan tak percaya.
...***...
...Hayo, titik-titik isinya apa? Othor yakin, kakak-kakak bisa nebak semua nih. 😄...
...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...
__ADS_1