
Saat Gemilang tengah fokus ke arah depan, dari balik pohon yang tak jauh dari posisi mereka ada seseorang yang telah bersiap mengarahkan pistolnya pada Gemilang. Mazaya yang menyadari itu segera meringsek berdiri di belakang Gemilang. Lalu dengan cepat ia melepaskan tembakan bersamaan dengan pria itu juga yang melepaskan tembakan.
"Aaarghhh ... " Terdengar suara letusan senjata api dari balik punggung Gemilang bersamaan dengan pekikan yang membuat Gemilang sontak menoleh dengan mata terbelalak.
"Zaya ... " Pekiknya dengan wajah merah padam.
Terlihat darah mengucur dari lengan Mazaya membuatnya berang. Ingin memberikan balasan, tapi ternyata tersangkanya telah lebih dahulu tumbang.
"Mas, fokus aja ke depan. Aku nggak papa. Hanya tergores peluru yang melintas aja, nggak sampai nancep kok," papar Mazaya mencoba menjelaskan agar Gemilang tidak khawatir.
Dengan berat hati, Gemilang mengangguk. Padahal ia ingin sekali memeriksa keadaan istrinya itu.
Gemilang mencoba kembali menarik pelatuk pistolnya, tapi ternyata pelurunya telah habis.
"Sh!ttt!" umpatnya kesal sebab masih ada 2 musuh kagu yang masih bertahan.
"Mas, pakai punyaku!" Mazaya menyodorkan pistol miliknya, tapi Gemilang menggeleng.
"Pakai saja untuk melindungimu, sayang. Mas bisa menghadapi mereka."
Ternyata musuh pun telah kehabisan peluru. Lantas mereka mengeluarkan pedang yang mereka simpan di bawah jok mobil. Tak mau kalah, Gemilang melihat ke sekeliling. Ada sebatang kayu yang cukup panjang dengan diameter yang terlihat pas di genggamannya. Ia pun mengambil kayu itu dan melangkah maju untuk menghadapi kedua musuh yang sedang bersiap melawannya.
Tak ingin melihat suaminya maju seorang diri, Mazaya pun menyimpan pistol miliknya yang masih menyisakan satu peluru. Ia pun masuk ke dalam mobil untuk meraih belati yang tersimpan di dalam tasnya.
"Awas Nyonya! Aaargh ... " Ujang yang melihat majikan perempuannya akan diserang dari belakang dengan balok kayu pun berusaha melindungi sehingga bagian punggungnya lah yang terkena pukulan tersebut. Ternyata salah seorang dari kedua orang tersisa kembali melancarkan aksinya untuk menghabisi Mazaya.
Mazaya yang melihat Ujang sudah jatuh tersungkur dengan mata terpejam pun berang. Emosinya meletup-letup. Dirinya yang sudah sejak kemarin mencoba bersabar dengan segala permasalahan yang menimpa dirinya pun jadi terbakar emosi. Ia pun segera menerjang lengan laki-laki itu hingga balik kayu yang ada di tangannya terpental. Untung saja ia mengenakan celana kulot, bukan rok jadi ia masih bisa bergerak dengan leluasa.
Lalu Mazaya kembali mengangkat kakinya hendak menendang laki-laki itu, tapi laki-laki itu sigap menangkap kaki Mazaya dan memutarnya sehingga kini posisi Mazaya sedikit menyamping. Mazaya yang masih kekeh tak mau menyerah lantas mengibaskan tangannya yang memegang belati ke samping dan memutar kebelakang.
Srettt ...
Lengan atas laki-laki itupun terluka membuatnya reflek melepaskan kaki Mazaya. Mazaya segera mengendalikan keseimbangan tubuhnya. Baru saja kaki kanannya menginjak tanah, ia kembali mengangkat kakinya dengan gerakan memutar dan bruakkk ...
__ADS_1
Laki-laki itu tersungkur ke tanah karena hantaman kaki Mazaya yang tepat di samping leher laki-laki tersebut. Laki-laki itu ternyata cukup tangguh. Ia pun hendak kembali beranjak, tapi Mazaya langsung menodongkan pistolnya ke arah laki-laki membuatnya terkesiap. Dengan smirk devil di bibirnya, ia pun melepaskan timah panas terakhirnya di pundak laki-laki itu hingga membuatnya mengerang kesakitan.
Di sisi lain, Gemilang pun melawan pria yang memakai samurai itu dengan sigap. Laki-laki itu menyabetkan samurainya ke arah Gemilang. Gemilang pun segera menghindari sabetan itu dengan gesit. Laki-laki itu masih tak mau menyerah, ia kembali menyabetkan samurainya, tapi dengan cepat Gemilang pun menghantamkan kayu yang ia pegang tadi dan mendorongnya dengan kuat sehingga laki-laki itu reflek mundur ke belakang.
Lalu dengan cepat pula Gemilang mengangkat kaki kanannya dan menghantam tepat di dada laki-laki itu sekuat tenaga sehingga ia terbatuk-batuk. Ia yakin, dada laki-laki itu pasti sangat sakit karena ia menghantamnya sekuat tenaga. Melihat lawannya lengah, Gemilang pun kembali mengayunkan kayu di tangannya tepat ke pergelangan tangan laki-laki itu sehingga samurai itu pun terlepas genggaman tangannya. Kembali Gemilang menendang laki-laki itu hingga jatuh tersungkur.
Tak lama kemudian terdengar suara deru helikopter mendekat. Tiupan angin begitu kencang membuat dahan-dahan pohon yang ada di sekitarnya bergerak tak beraturan. Daun-daun beterbangan. Beruntung di sana ada tanah yang cukup lapang untuk mendaratkan helikopter. Tak lama kemudian, Juna pun turun diikuti dengan anak buahnya.
Lalu dengan sigap, Juna memerintahkan anak buahnya meringkus semua orang tadi.
Merasa semua sudah aman terkendali, Gemilang pun berlarian mendekati Mazaya. Lalu ia segera membuka baju kaosnya dan merobeknya. Kemudian ia pun segera membebat luka di lengan Mazaya agar darahnya berhenti mengalir.
"Kau tidak apa-apa kan? Ada luka lain? Atau ada yang sakit?" cecar Gemilang sambil memegang kedua pundaknya.
Mazaya menggeleng cepat, "aku nggak papa, mas? Kalau mas? Ada yang luka?"
Gemilang tersenyum jumawa, "cecunguk seperti mereka takkan mudah untuk melukaiku." Ujarnya sombong.
"Cih, sombong. Nggak ingat apa hampir aja kena tembakan kalau nggak ada aku yang liat duluan."
"Mari tuan, silahkan masuk ke dalam helikopter!" Ucap Juna seraya menghampiri Gemilang dan Mazaya yang tengah berpelukan.
"Kita naik helikopter?" tanya Mazaya pada sang suami.
"Hmmm ... aku ada keperluan pagi ini. Kalau naik mobil membutuhkan waktu yang cukup lama."
"Hmmm ... ya udah. Antar aku langsung ke kantor kalau begitu."
"Di rooftop perusahaan mu ada landasan helikopter?"
Mazaya mengangguk, "ada cuma udah lama nggak difungsikan."
"Ya udah, ayo!" ajak Gemilang sambil merangkul Mazaya. "Juna, segera bereskan mereka! Bawa mereka semua ke markas untuk diinterogasi. Kali ini kita harus tahu siapa yang memerintahkan mereka dan apa tujuannya. Bila mereka bungkam, habisi saja!" Tegas Gemilang membuat Mazaya yang belum pernah bertindak kejam seketika bergidik ngeri. Ternyata suaminya ini sudah seperti mafia saja.
__ADS_1
"Baik tuan." Sahut Juna dengan wajah datarnya. Juna menyeringai. Ditatapnya satu persatu orang-orang yang terlihat tak berdaya itu.
"Bawa mereka ke markas!" titahnya pada anak buahnya.
"Baik tuan." Jawab mereka serentak. Mereka pun segera memasukkan orang-orang itu ke dalam mobil yang mereka bawa tadi, sedangkan Juna bertugas membawa mobil Gemilang dengan Ujang yang sudah ia masukkan terlebih dahulu. Karena masih dalam keadaan pingsan, Juna pun bermaksud membawa Ujang ke rumah sakit atau klinik terdekat.
...***...
Akhirnya Gemilang tiba di kantor setelah lebih dahulu mengantarkan Mazaya. Baru saja ia masuk ke dalam ruangannya, sekretarisnya melaporkan bahwa ada seseorang di bawah yang memaksa menemui atasan mereka itu.
Saat tahu yang hendak menemuinya adalah Carla, ia pun mempersilahkan Carla naik ke ruangannya. Carla memang sudah tak diizinkan lagi masuk ke perusahaan itu, tapi Gemilang kini terpaksa mengizinkannya sebab penasaran apa yang ingin perempuan itu lakukan.
"Sayang," seru Carla dengan memasang wajah sedih. Ia berhambur hendak memeluk Gemilang, tapi dengan cepat Gemilang menggeser tubuhnya. Ia tak mau seperti tokoh dalam novel lain yang begitu mudahnya disentuh perempuan lain yang ujung-ujungnya menimbulkan kesalahpahaman.
"Katakan, apa tujuan mu ke mari!" Tegas Gemilang datar dan dingin.
"Sayang, kenapa kau tega padaku? Kenapa kau semakin jauh dariku. Kau ... hiks ... hiks ... hiks ... " Carla menangis tersedu-sedu. Berharap ia bisa membuat Gemilang iba dengan air matanya.
"Tak usah banyak drama, jalaang! Apa sebenarnya mau mu, hah?" bentak Gemilang.
Melihat penolakan kasar dari Gemilang membuat Carla terkekeh, "kau kejam sekali, sayang. Kau tanya apa mau ku? Tentu saja aku ingin meminta pertanggungjawaban mu." Jawab Carla santai tanpa rasa malu sedikit pun.
Gemilang tersenyum sinis," pertanggungjawaban ku? Apa kau sudah kehilangan kewarasan mu? Kau pikir aku bodoh mau mengakui anak perempuan murahan seperti mu? Kau pikir aku sudah gila mau mengakui anak yang bukan darah dagingku."
"Kau ... " Carla menggeram marah saat Gemilang menyebutnya perempuan murahan.
"Kenapa? Kau tak terima perkataan ku? Aku bersyukur bisa lepas dari perempuan ular seperti mu. Ternyata benar perkataan orang tua ku yang menyebut mu perempuan ular, nyatanya kau memang seperti itu. Kau menjajakan tubuh mu entah kepada siapa, tapi justru meminta pertanggungjawaban ku? Kau pikir aku bodoh yang mau-mau saja melakukan apa yang kau katakan." Sentak Gemilang sambil berkacak pinggang. Hilang sudah rasa sayangnya pada perempuan itu. Bila dulu ia masih ada rasa sayang meski tak cinta, tapi kini yang ada hanya kebencian dan rasa jijik karena perbuatannya yang sungguh di luar nalar.
"Aku tak peduli. Yang aku mau kau menikahiku. Aku tak mau anak ini lahir tanpa ayah. Lagipula aku melakukan ini karena kau. Kau tahu, karena kau. Kau yang tak mengacuhkan aku, lalu membuangku begitu saja membuatku frustasi dan melakukan hal gila tanpa sadar." Pekik Carla. "Gara-gara kau, aku frustasi. Aku mabuk. Aku tak tahu, siapa laki-laki yang sudah mengambil keuntungan dariku. Aku mohon Lang, tolong aku. Minimal sampai anak ini lahir. Aku tak mungkin melahirkannya tanpa seorang ayah. Dia butuh status, Lang. Kasihanilah dia, Lang. Aku janji, setelah melahirkan anak ini, aku akan segera pergi dari hidupmu. Aku mohon tolong aku."
Carla menangis meraung-raung sambil duduk bersimpuh di lantai. Gemilang diam tak bergeming. Ada rasa iba, tapi rasa benci pun memenuhi benaknya.
Kira-kira, apa yang akan Gemilang lakukan ya?
__ADS_1
...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...