ISTRI TANGGUH

ISTRI TANGGUH
Ngemall bareng


__ADS_3

"Wah, mbak liat baju ini, cantik ya!" seru Fatiyah saat sudah berada di baby shop.


Saat ini Fatiyah, Mazaya, dan Windy sedang jalan-jalan di sebuah mall. Sebenarnya Mazaya yang ingin pergi ke mall dan berbelanja kebutuhan bayinya. Saat bercerita dengan Windy dan Fatiyah melalui sambungan video call, kedua perempuan yang kini sudah saling akrab layaknya saudara itu ingin ikut serta. Mazaya pun menyambut keinginan Windy dan Fatiyah dengan senang hati.


Kini ketiga perempuan hamil itu sedang memasuki sebuah baby shop. Sedangkan ketiga suami mereka mengawal dari belakang. Terang saja kedatangan tiga perempuan hamil nan cantik jelita dikawal 3 pria tampan rupawan itu menjadi sorotan para pengunjung mall tersebut. Tak sedikit yang ikut membuntuti mereka untuk melihat apa yang akan mereka lakukan. Mereka juga terang-terangan memuji para suami tampan penyayang istri itu dan menyebutkan para istri mereka sebagai wanita yang beruntung. Namun ada juga yang memuji sebaliknya, mengatakan kalau para laki-laki itu beruntung memiliki istri seperti bidadari.


"Iya, bagus banget. Kamu mau, Yah?" tanya Mazaya pada Fatiyah yang sedang hamil 2 bulan.


Fatiyah mencebikkan bibirnya, "mau sih, tapi kan kandungan ku baru 2 bulan, Mbak. Kata ibuku pamali," tukas Fatiyah sambil menghela nafasnya.


Mazaya tersenyum geli melihat ekspresi Fatiyah yang sungguh menggemaskan. Pantas saja Willy sampai jatuh cinta padanya.


"Benar kata Tiyah, Ya. Ibu honey ku juga bilang gitu. Tapi kalau kamu udah nggak masalah, Ya. Kan kandungan kamu udah 7 bulan. Kalau aku juga belum bisa kan kandungan ku baru 5 bulan." Jawab Windy.


Meskipun mereka menikah di hari yang sama, tetapi Windy justru hamil lebih dahulu dibandingkan Fatiyah. Fatiyah sampai sempat down. Ia mengira dirinya mengalami gangguan kesuburan sehingga kesulitan hamil. Willy sampai kesulitan untuk meyakinkan Fatiyah agar tidak merasa insecure. Willy juga terus meyakinkan kalau mereka pasti bisa memiliki anak, hanya saja belum waktunya.


Fatiyah sampai merengek ingin memeriksakan diri, tapi Willy menolak. Ia takut salah satu diantara mereka memang bermasalah. Ia takut makin membuat Fatiyah sedih nantinya. Namun siapa duga, 4 bulan kemudian Fatiyah merasakan sesuatu yang tak biasa di tubuhnya. Tubuhnya jadi lebih mudah lelah. Bahkan ia sering mengantuk di rumah sakit. Salah seorang rekannya meyakini kalau Fatiyah tengah hamil, tapi Fatiyah tak percaya.


Hingga akhirnya Fatiyah mencoba memeriksa menggunakan tespek. Dan sesuatu tak terduga terjadi. Ternyata benda pipih itu menunjukkan garis dua berwarna merah. Air mata haru menetes di pipinya. Ia yang sudah tak sabar mengabari Willy pun segera menghubungi suaminya melalui sambungan video call.


Awalnya Willy panik saat melihat wajah istrinya berderai air mata. Namun dengan wajah sumringah, Fatiyah justru memamerkan tespek bergaris dua itu di depan layar membuat mata Willy seketika terbelalak. Pasangan suami istri itu bahagia tak terkira. Akhirnya doa mereka dikabulkan Allah.


"Iya tuh, Mbak. Eh tapi, Mbak udah USG belum? Ini kan baju baby girl, takutnya pas udah lahir, taunya baby boy." Ujar Fatiyah.


Mazaya tersenyum lebar, "nggak masalah kok mau beli baju baby boy ataupun baby girl, ya nggak Mas?" Ucap Mazaya seraya menoleh ke arah suaminya.


"Yes, Zayang. Mau beli baju baby boy ataupun baby girl, nggak masalah."

__ADS_1


"Kok gitu? Emang baby nya punya kelamin ganda gitu?" Ucap Fatiyah polos membuat mata Willy terbelalak khawatir bosnya tersinggung.


"Hussttt ... sembarangan. Kami emang bebas mau beli baju yang mana aja sebab baby nya kan ada dua, satu baby girl, satu lagi baby boy." Ucap Mazaya sumringah membuat Fatiyah membelalakkan matanya.


"Kok gitu sih? Kan yang punya gen kembar itu kakang sama mbak Windy, kok yang hamil kembar malah Mbak Zaya sih?" Fatiyah mengerucut bibirnya. Ia pun ingin hamil kembar juga.


Willy maju sambil terkekeh. Lalu ia merangkul pinggang Fatiyah dan menghadiahinya kecupan di puncak kepalanya.


"Ya nggak papa, Ayang. Kan kita masih bisa program lagi setelah lahiran yang ini." Ucapnya sambil mengusap perut Fatiyah yang belum menonjol. "Bisa jadi baby kedua dan ketiga kita kembar, yang penting sekarang jaga kesehatan mu. Ingat, kesehatanmu adalah yang utama. Ibunya sehat, baby nya pun ikut sehat."


"Heh, yang ini aja belum lahir, udah mau program lagi. Emang aku kucing?" Protes Fatiyah.


"Kan katanya pingin punya anak kembar." Jawab Willy santai.


"Ya, nggak papa. Kakang sih mau-mau aja programnya. Apalagi prosesnya. Mau lahiran setiap tahun juga, nggak masalah."


"Nggak. Aku nggak mau pokoknya. Ini aja udah keliatan gendut. Kalau hamil setiap tahun, kapan Tiyah kurusnya coba? Entar kakang malah selingkuhi Tiyah gara-gara Tiyah gemukan, nggak kurus-kurus." Mata Fatiyah sudah berkaca-kaca sontak saja membuat Willy panik.


"Ayang, kakang nggak maksud gitu. Kakang cuma ... "


"Cuma apa? Cuma cari alasan biar Kakang bebas ngelirik cewek lain yang lebih seksi dari Tiyah kan? Soalnya kini Tiyah jadi lebih gemukan. Jadi jelek, jadi itu bisa Kakang jadiin alasan untuk mendua, bukan?" Bibir Fatiyah sudah mencebik-cebik. Para pengunjung yang tadi menguntit mereka pun jadi penasaran bagaimana cara suaminya untuk menenangkan istrinya yang tengah sensitif tersebut.


"Ayang, dengar janji Kakang, kalau Kakang berani mendua, Ayang bisa menghukum Kakang kayak gimana pun. Kalau perlu, Ayang minta Zaya pecat Kakang supaya Kakang jadi pengangguran. Kalau Kakang jadi pengangguran kan otomatis nggak ada cewek yang mau." Ucap Willy mencoba menenangkan Fatiyah yang bibirnya telah maju lima sentimeter itu.


"Mbak, beneran ya, kalau Kakang sampai macam-macam, pecat aja dia. Biar jadi pengangguran. Biar aja dia jadi bapak rumah tangga aja."


"Siap, laksanakan." Seru Mazaya sambil mengulum senyum.

__ADS_1


"Bapak rumah tangga? Wah, gimana ya kalo Willy jadi bapak rumah tangga? Pakai apron? Kain serbet di pundak? Keren kali ya?" seloroh Windy membuat Willy melotot.


"Baby, aku mau makan es krim, kamu mau?" Celetuk Juna tiba-tiba membuat Mazaya, Gemilang, Willy, dan Fatiyah melongo.


Melihat ekspresi teman-temannya tampak aneh, Windy pun menyela, "masuk trimester kedua ini Juna yang ngidam. Apa yang nggak dia suka, sekarang justru jadi makanan favoritnya."


Sontak saja Gemilang dan Willy terkekeh.


"Sindrom couvade?" Cetus Mazaya yang mengerti hal tersebut.


Windy pun mengangguk, "namanya juga bucinnya Windy gitu lho." Jelas saja, Mazaya, Gemilang, Willy, dan Fatiyah terkekeh mendengarnya.


"Kang, Tiyah juga mau. Tapi Kakang yang makan, bukan Tiyah, mau kan?"


"Tapi Ay ... " Melihat Fatiyah sudah hendak kembali mencebikkan bibirnya membuatnya urung menolak. Hanya anggukan saja sebagai jawaban pertanda setuju.


"Zaya juga Mas. Zaya juga mau Mas juga makan es krim, mau kan?"


"Zayang, jangan aneh-aneh deh, kan Mas nggak suka makan ... "


"Jadi Mas nggak mau?"


"Eh, iya, mau, Mas mau kok. Ayok kalau begitu!" Ucap Gemilang cepat. Ia tak mau membuat istrinya kembali kecewa padanya jadi sebisa mungkin akan ia turuti apapun keinginan istrinya itu. Mazaya pun tersenyum penuh arti. Lalu ia melirik Windy dan Fatiyah yang juga tersenyum dengan jempol mengacung diam-diam di samping tubuhnya.


"Juna, bayar semua belanjaan istriku!" Titahnya sambil merengkuh pundak sang istri.


Windy mencebik. Siapa yang duluan mau lihat suaminya makan es krim, lalu siapa yang duluan pergi ke kedai es krim. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga asisten pribadi jadi harus siap kapanpun dibutuhkan. Selain itu, salahnya juga sih yang diam-diam mengajak Mazaya dan Fatiyah mengerjai suami-suami mereka. Jadinya dia sendiri yang kena kan.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...


__ADS_2