
"Waktu gue ada perjalanan bisnis ke Bali, gue liat Carla sama laki-laki itu check in hotel. Yang buat gue speechless, sebelum masuk ke dalam kamar hotel, mereka saling ciVokan, bro. Biasanya gue liat adegan bersilat lidah dan bibir di film-film yang gue tonton, eh hari itu gue liat secara live. Bikin junior gue tiba-tiba on, sialan nggak." Aku Nugie bersungut-sungut.
"WHAT???" seru ketiganya dengan mata membulat antara percaya dan tak percaya.
"Kalian nggak percaya? Ah, sayangnya karena terlalu syok, gue sampai lupa rekam. Mereka bukan cuma ngelakuin itu, tangan mereka pun nggak bisa diem. Kayaknya mereka dah master banget deh. Bikin mata perjaka gue ternoda aja. Tangan mereka saling ***** sana ***** sini. Astaga, gue bisa liat mereka benar-benar sudah dikuasai napsu sampai-sampai nggak nyadar ada gue berdiri nggak jauh dari sana." Papar Nugie.
"Emangnya kapan itu terjadi?" Tanya Jendra yang ikut penasaran.
"Udah lumayan lama sih, kalau nggak salah waktu loe tiba-tiba ngasi tau loe sedang berada di desa mau kawin. Gue kira loe bercanda, nggak taunya beneran." Ujar Nugie sambil terkekeh.
"Udah lumayan lama, tapi kenapa loe nggak ada cerita sama gue selama ini?" ketus Gemilang. Bukan cemburu, hanya saja bila ia tahu sejak awal perbuatan Carla di belakangnya, pasti udah sejak lama juga ia mengakhiri hubungannya dengan perempuan itu. Ia jadi penasaran hubungan Carla dan Antonio yang sebenarnya.
"Bukannya nggak mau kasi tau, cuma kan waktu itu gue lupa video'in. Gue nggak mau loe pikir gue jelek-jelekin mantan pacar loe itu karena nggak ada bukti." Ujarnya jujur membuat Gemilang menghela nafas kasar. Ia pun tak dapat menyalahkan Nugie sebab apa yang Nugie katakan itu benar adanya. Yang ada justru persahabatan mereka merenggang. Maksud hati mengungkap kebenaran justru berakhir pertengkaran.
"Jangan-jangan anak yang dia kandung itu anak ayahnya sendiri?" seloroh Jendra membuat ketiga temannya membeliakkan matanya.
"Bisa jadi. Terus Carla meminta loe nikahin dia untuk menutupi hubungan terlarangnya dengan bokapnya itu." Sahut Mada sambil geleng-geleng kepala.
"Kalau iya benar-benar gila sih? Nggak mikir apa risikonya. Nggak mikir juga apa gimana perasaan ibunya saat tahu hubungan terlarang mereka itu." Ujar Mada sambil menggelengkan kepalanya.
"Orang kalo udah dikuasai hawa napsu, dalam otaknya hanya kepikiran isi selang kangan. Mana mikir dia risiko apalagi perasaan orang-orang yang mereka sakiti." Ucap Jendra yang dibenarkan ketiga sahabatnya.
"Paham banget kayaknya, jangan-jangan ... " Cibir Nugie sambil memicingkan mata.
"Eitz, jangan mentang gue punya banyak pacar kalian pikir gue manusia otak selang kangan ya! Biar dikata gue dijuluki playboy, gue tetap tahu batasan. Sampai sekarang gue masih menjaga keperjakaan gue. Emang sih banyak cewek-cewek gue yang nyodorin diri dan kasi kode-kode main kuda-kudaan, tapi gue ogah. Udah banyak cewek yang gue putusin gara-gara ngajak gituan. Ogah tau nggak. Ngeri kena penyakit kelamin, cuy." Ucap Jendra menggebu-gebu membuat Gemilang, Nugie, dan Mada terkekeh.
...***...
Sepulang kerja, Juna mengendarai mobil menuju ke markas Gemilang. Gemilang duduk dengan tenang di kursi belakang. Hari ini ia tidak menjemput Mazaya sebab Mazaya telah pulang lebih awal tadi. Mazaya mendadak tak enak badan setelah mendapatkan paket yang entah siapa pengirimnya.
Flashback on
"Bu, di bawah ada kurir yang mengantarkan paket untuk Anda " Ujar Windy. Ia mengonfirmasikan terlebih dahulu sebelum menerima paket itu. Ia masih menunggu instruksi dari Mazaya terlebih dahulu. Apalagi identitas pengirim paket tersebut tidak diketahui.
"Paket? Siapa pengirimnya?"
"Tidak tahu, Bu. Tidak ada nama pengirim di paket tersebut. Kurirnya hanya bilang tadi ia diminta orang menjemput paket di suatu tempat dan mengirimnya sesuai alamat tujuan. Mungkin itu paket pesanan ibu?" Ujar Windy. Saat di kantor mereka berbicara dengan formal.
"Saya tidak ada pesan sesuatu." Ujar Mazaya sambil mengerutkan keningnya.
"Jadi bagaimana, Bu? Paketnya diterima atau tolak?"
"Coba terima saja. Barangkali itu memang barang pesanan saya tapi saya lupa." Ujar Mazaya yang memang sering berbelanja online.
"Baik, Bu."
Windy pun segera permisi dan meminta resepsionis untuk mengambil paket tersebut dan makannya ke ruangan Mazaya.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, paket berupa kotak yang cukup besar itu telah tergeletak di atas meja. Mazaya pun mengambil gunting dan membuka paket tersebut tanpa merasa curiga sama sekali. Namun matanya seketika terbelalak dengan wajah pucat dan isi perut yang bergejolak saat melihat isinya.
"Zaya, ada apa denganmu? Kamu kenapa?" Panik Windy saat melihat perubahan mimik wajah Mazaya apalagi saat melihat Mazaya tiba-tiba mual dan berlari ke dalam toilet.
Di dalam toilet Mazaya memuntahkan isi perutnya membuat Windy seketika panik. Ia pun memijit tengkuk Mazaya agar sedikit meringankan mual muntahnya.
"Win, tolong ambilin minyak angin di dalam tasku." Pinta Mazaya lirih. Tanpa banyak kata, Windy pun bergegas mengambil apa yang Mazaya pinta. Bahkan ia tanpa banyak bicara langsung membuka tutupnya dan mengusapkannya du tengkuk Mazaya.
"Coba cium aromanyo untuk meredakan mualmu." Ucap Windy. Mazaya pun segera melakukannya.
Setelah rasa mual Mazaya mereda, mereka pun segera keluar dari dalam toilet. Tubuh Mazaya seketika memaku saat melihat kotak paket tadi masih tergeletak di atas meja.
"Win, tolong singkirkan kotak itu! Aku ... "
"Kenapa? Memang apa isinya?" Bukannya langsung menjalankan perintah Mazaya, Windy justru merasa penasaran dengan isi dari kotak tersebut. Hal tersebut bertepatan dengan pintunya yang terbuka dan masuklah Willy ke dalam sana.
"Kalian kenapa?" tanya Willy saat melihat ekspresi Mazaya yang sedikit tegang dan pucat.
Tanpa banyak bicara, Windy pun segera mendekati kotak tadi dan membukanya. Matanya pun terbelalak. Begitu pula Willy yang ikut melihat ke dalamnya.
"Brengsekkk! Ulah siapa ini?" geram Willy saat melihat isi kotak tersebut ternyata bangkai kucing yang lehernya nyaris putus.
"Bajingaan mana yang berani-beraninya melakukan ini? Dasar manusia setan?" Windy pun ikut menggeram. Lalu ia melihat selembar kertas kecil yang terselip di dekat kaki kucing itu.
...[TUNGGU GILIRAN MU!]...
"Tolong antar aku pulang! Kepalaku tiba-tiba sangat pusing." Ucap Mazaya sambil memijit pelipisnya. Entah ulah siapa itu pikirnya. Tapi ia meyakini satu hal, pasti itu orang yang sama yang telah meneror sang kakek pun menghabisi kedua orang tuanya.
Flashback off
...***...
Mobil yang dikendarai Juna telah tiba di markas mereka. Bahkan Gemilang kini sudah duduk santai sambil mengawasi orang-orang yang tadi hendak menghabisi mereka.
"Buka mulut dia!" titah Juna pada salah seorang dari mereka.
"Baik tuan." Juna pun segera meminta anak buahnya membuka kain yang menyumpal mulut salah satu dari mereka.
"Lepaskan aku, brengsekkk!" teriaknya saat mulutnya telah terbuka.
Plakkk ...
Juna pun segera menampar mulut laki-laki itu sekuat tenaga sehingga salah satu sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Jaga bicaramu pada tuan kami kalau kau tak mau nyawamu segera berakhir di sini!" sentak Juna dengan sorot mata tajam.
"Aku tidak peduli. Cepat lepaskan aku!"
__ADS_1
"Sepertinya kau tidak bisa diajak bekerja sama, hah! Baiklah." Juna mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu ia mengulurkan tangannya ke arah anak buahnya. Anak buahnya yang paham pun lantas memberikan apa yang diminta tuannya. Sedangkan Gemilang hanya duduk santai sambil melihat apa yang akan Juna lakukan. Juna sebenarnya laki-laki yang baik, tapi ia juga bisa berubah menjadi laki-laki yang kejam bila berhadapan dengan orang-orang yang juga kejam.
Juna menyeringai saat melihat sebuah tang telah berada di tangannya, "katakan, siapa yang membayarmu untuk menghabisi tuan dan nona kami? Cepat!" sentak Juna dengan suara menggelegar.
"Tidak tahu." Jawabnya tak acuh.
"Cepat katakan!" sentak Juna lagi.
"Kataku tidak ya ti- aaaargh ... "
Tiba-tiba laki-laki itu memekik kaget saat Juna menjepit jari kelingkingnya dengan tang yang ada di tangannya.
"Lepaskan, brengsekkk! Jangan macam-macam denganku atau aku akan ...."
"Aku akan apa? Menghabisiku, begitu? Apa kau lupa kau sedang berada di mana? Bahkan bila kau mati pun, tidak akan ada yang tahu," seru Juna sambil menyeringai.
Krekkk ...
"Aaarkh ... "
Terdengar suara retakan tulang dari jari yang Juna jepit dengan tang tersebut. Juna sebenarnya awalnya hanya ingin menakuti, tapi sepertinya laki-laki itu keras kepala dan kekeh tak mau berkata jujur siapa yang telah membayar mereka. Rekannya yang lain sudah pucat pasi saat melihat rekan mereka menjerit kesakitan.
Setelah itu, mulutnya kembali disumpal. Juna melakukan hal yang sama pada yang lainnya yang tak juga mau berkata jujur. Ada juga yang giginya Juna cabut secara paksa karena telah berani-beraninya meludah ke Gemilang. Hingga pada orang keenam, barulah ada yang mau membuka suara. Ternyata hanya pemimpin mereka saja yang tahu nama orang yang telah membayar mereka dan dia adalah orang yang giginya dicabut oleh Juna. Namun karena saat orang yang membayar mereka menelpon, ia sedang berada di sana, jadi ia pun ikut mendengar nama orang yang disebutkan pemimpin mereka tersebut.
"Jangan tuan, jangan sakiti saya! Akan saya katakan siapa orang yang membayar kami, tapi saya mohon, jangan sakiti saya. Saya mohon!" melasnya. Sudah cukup kakinya terkena timah panas. Rasa sakitnya saat ini pun masih begitu menyiksanya sebab dokter yang mengeluarkan selongsong peluru itu tidak menggunakan bius sama sekali. Hal itu memang atas permintaan Gemilang untuk memberikan efek jera pada mereka. Supaya mereka pun tahu, bagaimana sakitnya ditembak orang lain.
Juna dan Gemilang tersenyum lebar.
"Baiklah, kami takkan menyakitimu asal kau berkata jujur. Cepat katakan, siapa dia?" Kini Gemilang yang angkat bicara.
" Nona Firly. Ya, namanya nona Firly yang membayar kami untuk menghabisi istri Anda, tuan." Ucapnya dengan sorot mata penuh ketakutan saat melihat Juna yang memegang tang di tangan kanannya.
"Firly?" beo Gemilang merasa tidak mengenal nama itu sama sekali. "Benar namanya Firly?"
"Benar tuan. Saya sendiri yang mendengar bos Tiger menyebut nama non Firly saat menerima perintah melalui sambungan telepon."
Gemilang lantas menoleh ke arah Juna meminta penjelasan siapa Firly yang dimaksud laki-laki itu barusan.
"Dia putri tuan Margono, tuan, pemilik CV Citra Persada. Perempuan yang waktu itu telah mengusik Nyonya muda." Ucap Juna yang paham arti tatapannya.
Sontak saja rahang Gemilang mengeras. Ia sempat mengira itu perbuatan Antonio, tapi ternyata bukan. Namun biar begitu, tetap saja ia akan memberikan perempuan itu hukuman. Takkan ia biarkan orang-orang yang berani mengusik ketenangannya apalagi mencoba menyakiti istrinya melenggang bebas begitu saja.
"Serahkan mereka semua ke kantor polisi. Berikut bukti pengakuan laki-laki ini barusan. Aku ingin perempuan itu segera dijebloskan ke dalam penjara. Buat dia mendapatkan hukuman yang setimpal. Kalau perlu tuntut dia seberat-beratnya. Jangan sampai ada yang membebaskannya dengan mudah." Titahnya yang langsung diangguki Juna.
...***...
...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...
__ADS_1