ISTRI TANGGUH

ISTRI TANGGUH
56


__ADS_3

Sepanjang malam, Gemilang tak kunjung bisa memejamkan matanya. Sudah terlalu terbiasa tidur sambil berpelukan manja dengan sang istri membuatnya begitu gelisah. Gemilang membaringkan tubuhnya di sofa yang tak jauh dari kat, sedangkan ketiga sahabatnya telah terlelap beberapa jam yang lalu di kamar tamu.


Gemilang menendang selimutnya asal. Matanya tak mau terpejam sama sekali. Cuaca yang cukup dingin membuatnya kian frustasi.


"Zayang, mas kedinginan!"


Sebuah pesan ia kirimkan kepada Mazaya berharap sang istri mau membukakan pintu. Meskipun jarum jam sudah menunjukkan pukul 4 lewat, ia berharap masih bisa sebentar saja melelapkan matanya agar ia tidak terlalu mengantuk saat bekerja.


Namun hingga adzan subuh berkumandang, Gemilang tak kunjung mendapatkan balasan pesannya. Waktu yang telah sangat terlambat untuk kembali tidur.


Ceklek ...


Mazaya membuka pintu. Lalu ia pun keluar dari dalam kamar dengan mukenah yang telah menutupi tubuhnya.


"Mas nggak tidur?" tanya Mazaya polos. Ia keluar dari dalam kamar ingin mengajak suaminya itu shalat berjamaah seperti biasa.


"Zayang, kamu kok kejam banget sih nyuruh mas tidur di sini? Gimana mas mau tidur, kalau kamu nggak ada." Tuturnya dengan wajah memberengut membuat Mazaya terkekeh.


"Wah, ada bidadari surga rupanya! Udah siap? Yuk, kita sholat. Aku imamin ya?" ucap Jendra sekeluarnya dari dalam kamar. Ternyata wajah ketiga sekawan itu telah basah oleh air wudhu.


Gemilang yang mendengar itu sontak melotot.


"Cari makmummu sendiri sana! Hanya aku yang boleh jadi imam istriku." Ketus Gemilang dengan mata melotot membuat Mada dan Nugie terbahak.


"Iya kak Jen, aku sama mas Elang aja deh. Kalau kau mau cari makmum, aku mau rekomendasiin seseorang, mau? Dia cantik, cerdas, baik, meskipun sedikit manja, pokoknya cocoklah buat kamu yang pecicilan kayak gini." Ujar Mazaya.


"Wah, benarkah? Siapa itu?" tanya Jendra bersemangat.


"Pita alias Gempita."


"Bukannya Pita itu adiknya Elang ya?" tanya Nugie dan Mazaya mengangguk.

__ADS_1


"Emang bener. Dia suka sama kamu kak Jen, katanya. Daripada sibuk cari cewek di luar yang belum tentu jelas sifat aslinya, mending sama Pita, ya nggak kak Mada, kak Nugie?"


"Nggak."


"Setuju."


Seru Gemilang, Mada, dan Nugie serempak. Mata Gemilang sontak saja memicing tajam ke arah Jendra yang dibalas dengan kekehan.


"Ayo mas, ambil wudhu sana. Keburu waktunya habis." Pungkas Mazaya yang segera dianggap Gemilang dan yang lainnya.


...***...


"Wah, enak banget ya punya bini, makan dimasakin, disiapin, mana masakannya enak-enak pula." Puji Jendra yang saat ini sedang ikut sarapan bersama di meja makan kediaman Gemilang.


"Makanya cari bini!" tukas Mada membuat Jendra memutar bola matanya malas.


"Loe udah kayak nyokap gue aja, Da, dikit-dikit disuruh cari bini, dikit-dikit disuruh buruan nikah, bosen tau." Ketus Jendra membuat mereka terbahak.


"Eh, loe tadi manggil bini gue apa?" Ketus Gemilang dengan mata melotot.


"Adek Aya, emang kenapa? Dia kan lebih muda daripada gue, jadi wajar kan gue panggil dia adek. Apalagi gue kan dah lama ngidam punya adek perempuan. Punya adek 3, laki semua. Sukanya ngajakin adu jotos pula." Seloroh Mada.


"Iya loe ini Lang, posesif banget. Kami itu udah anggap Zaya jadi adek kami sendiri, jadi nggak usah khawatir. Kalaupun si curut ini mau coba-coba nikung, tenang aja, tinggal kita serahin dia ke Tante Bonita dijamin pasti nyahok dia." Timpal Nugie sambil cengengesan.


"Sialan. Emangnya gue apaan mau sama manusia jadi-jadian kayak gitu," geram Jendra membuat Gemilang, Nugie, dan Mada terbahak.


"Emangnya siapa Tante Bonita itu kak?" tanya Mazaya setelah duduk di samping suaminya.


"Tante Bonita itu pemilik cafe tempat kami suka nongkrong dulu. Dia itu manusia jadi-jadian alias maho. Wanita berbatang," ujar Nugie sambil terbahak.


"Berhenti bicarain dia ih. Najis tau nggak." Jendra bergidik ngeri mengingat sosok bernama Tante Bonita itu. Padahal saat menjadi laki-laki dia begitu tampan dengan tubuh besar dan kekar, tapi tiba-tiba saja dirinya bermetamorfosa menjadi manusia jadi-jadian dan begitu menggilai Jendra. Alhasil, Jendra tak pernah mau lagi datang ke cafe tersebut. "Oh ya, Lang, jadi rencana loe setelah ini apa? Yang aku dengar Antonio kabur sebelum ditangkap." Tanya Jendra yang mengalihkan perhatian dengan membahas masalah Antonio dan Carla.

__ADS_1


Gemilang tersenyum menyeringai, "tentu saja melaporkan bisnis haram Antonio." Ucap Gemilang tegas.


Dan sesuai rencana Gemilang, mobil polisi pun masuk berbondong-bondong ke Dome Hotel. Pihak hotel sampai kebingungan. Mereka pikir para polisi tersebut hanya ingin menangkap Antonio paska perbuatan tercelanya dengan putrinya sendiri.


Namun yang terjadi lebih dari itu. Para polisi itu dikerahkan untuk mencari gudang penampungan narko ba milik Antonio. Awalnya mereka sedikit kesulitan karena pintu yang dulu biasa digunakan untuk masuk dan keluar lantai dasar hotel itu telah dimatikan dan diratakan menjadi sebuah dinding permanen.


"Bos, bangun bos." Ucap salah seorang anak buah Antonio.


"Apa?" sentak Antonio murka. "Kau tahu bukan, aku belum lama tidur."


"Maaf bos, tapi ini benar-benar mendesak." Ucap anak buah Antonio itu yang telah gemetaran.


"Apa yang terjadi?" tanya Antonio penasaran. Bahkan ia telah mendudukkan tubuhnya sambil memijat pelipisnya.


"Bos, di luar banyak polisi. Mereka sepertinya telah mengendus keberadaan gudang ini. Mereka sekarang sedang berusaha menemukan pintu masuk ke ruangan ini," aku anak buah Antonio membuat laki-laki itu membelalakkan matanya.


"Apa? Bagaimana bisa mereka mengetahui tempat ini?" Gumam Antonio frustasi. Ia menjambak rambutnya sendiri berpikir bagaimana menyelamatkan barang-barangnya dan membawanya keluar dari sini. Awalnya ia tak masalah saat Maria membuangnya begitu saja sebab ia sudah memiliki banyak harta dan sumber uang yang jauh lebih besar daripada mengelola hotel yang menyita banyak waktu. Tapi bila bisnis barang haramnya ini ketahuan, otomatis semua akan disita dan dia akan ditangkap karena telah menjadi bandar narko ba skala besar.


"Nggak, kita harus segera menyelamatkan barang-barang ini. Minta anak buah kita masukkan semua barang ke satu mobil. Lalu siapkan mobil lainnya untuk pengalihan. Bawa barang-barang kita ke gudang yang lama. Aku nanti akan segera menyusul." Titah Antonio. Ia pun segera bersiap. Tanpa perlu mencuci muka apalagi mandi, Antonio segera menuju motornya dan pergi dari sana melalui pintu rahasia mereka. Pintu itu hanya muat untuk sebuah motor karena itu ia tidak menggunakan mobilnya.


Setelah Antonio pergi, mobil-mobil pengecoh maupun yang membawa barang terlarang itu pun keluar dari pintu utama. Gerbang hotel yang telah dipenuhi para polisi pun terkejut saat melihat beberapa mobil dengan jenis, warna, dan plat yang sama melaju begitu kencang menerobos barikade mereka begitu saja sampai-sampai ada aparat yang terjatuh, terperosok, dan terseret. Beberapa kendaraan milik kepolisian pun mereka tabrak begitu saja. Lalu mereka pun berlalu dengan berpencar ke arah berlainan.


Para aparat kepolisian itu pun gegas bergerak dan naik ke kendaraan masing-masing. Mereka pun turut berpencar sambil membunyikan sirine dengan begitu kencang sehingga memancing atensi masyarakat sekitar. Aksi kejar-kejaran pun terjadi membuat jalanan hari itu tampak heboh.


...***...


Kakak-kakak udah ada yang baca Ternyata Aku yang Kedua belum? Sekuel dari Duri dalam Pernikahan. Bagi yang udah, pasti tahu dengan tokoh Freya kan? Othor mau buat sekuelnya lho. Rencananya hari ini udah launching dengan judul RAHIM TEBUSAN. Ditunggu ya kak!


...****...


...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2