ISTRI TANGGUH

ISTRI TANGGUH
Kematian dan Dendam


__ADS_3

Gemilang tampak sedang berdiri di kaca ruangannya. Kaca itu berhadapan langsung dengan jalanan ibu kota yang memang selalu padat merayap membuat siapapun yang ingin bepergian harus bersiap lebih awal untuk mencegah terjadinya keterlambatan.


Terdengar helaan kasar dari bibir Gemilang. Ia belum juga bisa mendapatkan informasi tentang siapa ayah dari bayi yang berada di dalam kandungan Carla.


Juna memang sudah mendapatkan informasi mengenai usia kandungan Carla. 5 Minggu, usia kandungannya 5 Minggu. Dan ini telah seminggu berlalu artinya sekarang usia kandungan Carla sudah 6 Minggu.


Ingin melakukan test DNA, masih butuh waktu 10 Minggu lagi, itu terlalu lama. Gemilang rasanya sudah benar-benar jengah terhadap berita yang kini sedang berseliweran di berbagai media. Beruntung Mazaya mempercayai dirinya, bila tidak habislah dia. Ia sudah terlalu bergantung pada sosok istrinya itu.


Ah, mengingatnya saja sudah membuatnya rindu apalagi bila mereka terpisah karena kesalahpahaman, bisa-bisa ia benar-benar menggila.


Belum selesai masalah tentang kehamilan Carla yang menuding dirinya sebagai ayah dari calon bayinya, kini masalah datang dari pihak Mazaya. Entah siapa yang menjadi provokator, beberapa dewan direksi perusahaan Syailendra Group mulai meragukan Mazaya sebagai ahli waris Syailendra Group. Hal ini terjadi karena adanya hembusan berita miring di media yang mengatakan kalau putri dari Narendra Syailendra telah hilang bertahun-tahun yang lalu. Jadi mereka mengatakan kalau Mazaya yang ada saat ini pasti Mazaya palsu. Oleh sebab itu siang ini Mazaya akan melakukan konferensi pers.


Beruntung ia memiliki wajah yang begitu mirip dengan sang ayah jadi bagi yang mengenal ayahnya pasti bisa melihat kemiripan itu tanpa bisa membantah. Namun untuk memperkuat keterangan, Mazaya juga sudah menyiapkan bukti-bukti otentik dan berbagai dokumen pelengkap. Tapi kakek Syailendra tidak ikut turun tangan. Hanya ada pengacara sang kakek dan Gemilang yang akan mendampinginya.


Ya, hari ini juga akan dimanfaatkan Mazaya untuk menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.


...***...


Mazaya kini sedang bersiap akan menuju ke tempat dilangsungkannya acara konferensi pers. Gemilang pun telah tiba di perusahaan Syailendra Group untuk menjemputnya. Namun baru saja ia beranjak mendekati Gemilang yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya, tiba-tiba terdengar panggilan di ponsel yang sedang ia genggam. Mazaya mengerutkan kening saat melihat nama yang terpampang di layar ponselnya. Ia pun bergegas mengangkat panggilan itu. Mata Mazaya seketika terbelalak. Ponselnya bahkan telah meluncur bebas di lantai karena terkejut dengan kabar yang baru saja ia dapatkan.

__ADS_1


"Zayang, kamu kenapa? Siapa yang menelpon kamu?" cecar Gemilang tak kalah panik saat melihat wajah syok sang istri. Mata Mazaya berkaca-kaca, lidahnya kelu, jantungnya memompa dengan begitu cepat.


Gemilang lantas memungut ponsel Mazaya. Dilihatnya ternyata panggilan masih terhubung.


"Halo," ucap Gemilang. Sontak saja Gemilang ikut membelalakkan matanya saat mendengar kabar tak terduga itu.


"Mas," cicit Mazaya dengan air mata bercucuran. "Mas, kakek ... kakek ... "


"Ssst ... mending kita segera pulang ke desa sekarang. Kasihan kakek bila terlalu lama menunggu kita."


Mazaya mengangguk dengan lemas. Bahkan kakinya bergetar hebat saat ingin melangkah. Ia bagai kehilangan tenaganya. Tak tega melihat sang istri terpuruk, Gemilang pun langsung mengangkat Mazaya ke dalam gendongannya. Mereka harus tiba secepatnya ke desa dimana kakek Syailendra berada.


...***...


Begitu pula Mazaya, ia langsung tersungkur di depan jasad yang belum selesai dikafani tersebut. Tangis Mazaya kian pecah saat melihat wajah pucat sang kakek karena tiada lagi darah yang mengalir di setiap nadinya.


"Kakek ... kakek kenapa pergi secepat ini? Kakek ... kenapa kakek ninggalin Zaya? Zaya sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, tapi kenapa kakek tega tinggalin Zaya? Kalau kakek pergi, terus Zaya sama siapa? Sama siapa lagi Zaya mengadu? Zaya ... Zaya ... "


Gemilang yang tak tega melihat keterpurukan istrinya lantas menarik Mazaya ke pelukannya.

__ADS_1


"Sudah sayang, ikhlaskan kakek. Biarkan kakek tenang di atas sana. Tenanglah, kamu tidak sendirian lagi, ada mas, mama, dan papa yang akan selalu ada untukmu." Ujar Gemilang mencoba menenangkan.


"Zaya." Panggil Anika yang ternyata baru saja tiba. "Tenanglah sayang. Benar kata Elang, kamu tidak sendirian lagi. Kamu sekarang anak mama dan papa. Mama dan papa akan selalu ada untukmu. Jadi ikhlaskan kakek ya. Mungkin kakek sudah kangen sama mama dan papa kamu. Kamu tenang ya, sayang."


...***...


Area pemakaman tampak ramai. Semua warga datang berbondong-bondong untuk memberikan penghormatan terakhir pada kakek Syailendra. Kabar kematian kakek Syailendra telah tersebar di semua media baik media cetak maupun elektronik. Bahkan kini wajah Mazaya telah terpampang jelas di layar televisi dan surat kabar membuat semua orang terkejut saat mengetahui bahwa pewaris Syailendra Group ternyata istri dari pengusaha Gemilang Cakrabuana. Mereka tak jadi melakukan konferensi pers. Keberadaan Mazaya di makam dan wajah yang begitu mirip dengan sang ayah membuat semua orang mulai mempercayai kalau Mazaya benar-benar putri dari Narendra Syailendra. Pengacara Mazaya juga sudah membeberkan bukti-bukti kalau Mazaya benar putri dari CEO Syailendra Group sebelumnya.


Mazaya sudah sedikit tenang. Sebisa mungkin ia mencoba meredam kesedihannya dan mencoba mengikhlaskan. Ia tak mau memberatkan kepergian kakeknya dengan terus bersedih. Benar kata Gemilang, ia kini tidak sendiri. Ada suami, mertua, dan adik iparnya. Tak lupa ia memiliki dua orang sahabat yang akan selalu setia mendampinginya kapan pun dan dimana pun.


Sementara Mazaya tengah berduka cita karena kepergian Kakek Syailendra yang terlalu mendadak, di tempat lain, ada seorang pria yang tak kalah terkejut dari yang lainnya. Ia benar-benar tak menyangka kalau istri Gemilang adalah putri dari Narendra. Orang yang paling ia benci. Meskipun ia telah membalaskan dendamnya dengan melenyapkan Narendra dan istrinya, tapi ternyata bara dendamnya masih membara. Kebencian yang telah mendarah daging. Ia benci saat melihat keturunan Narendra masih ada, sedangkan calon anak dan istrinya telah pergi untuk selamanya.


Diambilnya sebuah pigura yang ia simpan di dalam laci meja kerjanya. Pigura itu menampakkan sepasang suami istri yang tengah menunggu kelahiran calon buah hatinya dengan senyuman yang begitu merekah.


"Sayang, tunggulah, sebentar lagi dendam kita akan benar-benar segera terbalaskan."


...****...


...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2