ISTRI TANGGUH

ISTRI TANGGUH
57


__ADS_3

Aksi kejar-kejaran terus terjadi. Mobil polisi yang jumlahnya hanya beberapa membuat mereka sedikit kesulitan untuk mengejar 5 buah mobil truk kontainer yang melaju begitu kencang itu. Jalanan yang cukup padat.


Suara klakson bersahutan-sahutan di tengah bisingnya suara kendaraan dan teriknya matahari yang mulai meninggi membuat aksi kejar-kejaran itu kian menguras energi.


Karena merasa kalah jumlah, mereka pun menghubungi kantor pusat untuk meminta bantuan agar segera dikirimkan bantuan. Mereka benar-benar kewalahan mengejar truk-truk kontainer itu. Sudah banyak motor yang terbalik karena berusaha menghindari laju mobil yang begitu kencang itu. Tak sedikit orang yang mengalami luka-luka akibatnya.


Bukan hanya pengendara motor, pengendara mobil pun banyak yang jadi korban. Mobil mereka ringsek, tergores, dan ada juga yang sedikit penyok karena berbenturan dengan truk-truk yang menggila di jalanan itu.


Suara sirine kini bukan hanya yang berasal dari mobil polisi saja, tapi juga ambulance. Warga yang melihat banyaknya kecelakaan akibat truk kontainer yang melaju tak tentu arah dengan kecepatan sangat tinggi pun segera menghubungi pihak rumah sakit untuk meminta pertolongan medis.


Hingga tiba di jalanan yang cukup sepi, ternyata di ujung jalan sudah terdapat mobil polisi yang memblokade jalan. Salah satu truk kontainer yang terjebak berusaha menerobos, tapi karena kehilangan keseimbangan, mobil itupun oleng dan menabrak pembatas jalan.


Para petugas polisi pun segera mendekati mobil itu dan memeriksa keadaan sang sopir yang ternyata masih sadarkan diri. Sedangkan petugas yang lain bertugas memeriksa barang bawaan truk kontainer itu.


"Bagaimana?" tanya salah seorang dari mereka.


"Kosong." Ucapnya cepat.


"Sial." Umpatnya. "Heh, kamu, katakan dibawa bosku dan kemana barang-barang haram tersebut dibawa?" Polisi itu menyentak kasar sang sopir yang terlihat acuh tak acuh saja itu.


"Tak tahu." Jawabnya tak acuh.


"Katakan brengsekkk!" bentak polisi yang lainnya.


"Saya bilang saya tidak tahu ya tidak tahu." Balasnya ikut membentak.


Bugh ...


Polisi itu pun memukul rahang sang sopir hingga sudut bibirnya berdarah.


"Bawa dia!" titahnya pada bawahannya sambil berkacak pinggang. Lalu ia menelpon rekannya yang lain.


"Yang di sini kosong." Ucapnya dengan rekannya di tempat lain.

__ADS_1


"Yang di sini juga kosong. Total 3 mobil yang sudah kita tangkap dan semuanya kosong. Tinggal 2 lagi, tapi kami kehilangan jejak satunya." Ujar rekannya di seberang telepon.


"Sial. Baiklah. Minta tim kita memeriksa CCTV jalanan sekitar. Jangan sampai kita kehilangan mereka. Mungkin bajingaan itu ada di salah satu mobil itu." Ujarnya memberikan arahan. Setelah memberikan arahan, ia menutup panggilan itu.


Sementara itu, di tempat lain, lebih tepatnya di lapas tempat Carla sementara ini ditahan, tampak perempuan itu meringkuk kesakitan sambil memegang perutnya yang sudah mulai membukit. Wajahnya pucat pasi. Peluh membanjiri pelipis hingga sekujur tubuhnya. Rasa sakit mencengkram di bagian perutnya membuatnya kehilangan tenaga.


"To-tolong aku." Rintihnya sambil memegang perut.


"Kau kenapa? Tak perlu berpura-pura sakit untuk mendapatkan belas kasihan kami." Sentak salah seorang petugas yang berjaga saat itu.


"Perutku ... perutku benar-benar sakit. Tolong ... tolong aku." Lirih Carla sambil mengerang dengan wajah pucat pasi.


Melihat wajah Carla yang sudah seputih kertas membuat petugas itu khawatir. Ia pun segera membuka sel dan memeriksa keadaan Carla. Matanya terbelalak saat melihat cairan merah telah mengalir dari sela kakinya hingga membasahi lantai.


Panik, petugas itu pun segera meminta bantuan rekannya yang lain untuk membantu membawa Carla ke rumah sakit.


Setibanya di rumah sakit, Carla segera diperiksa. Ternyata kehamilannya bermasalah dan harus segera diangkat. Carla tentu saja syok saat tahu kandungannya harus segera diangkat. Bukan hanya itu yang membuatnya syok, tapi menurut hasil pemeriksaan dirinya dinyatakan positif mengidap HIV.


Carla menangis pilu menyesali segala perbuatannya yang telah menyakiti hati ibunya. Ia bukan sekedar menyakiti, tapi juga mengkhianati kepercayaan sang ibu. Wanita yang membesarkannya dengan begitu banyak cinta, tapi ia khianati mentah-mentah dengan alih-alih perasaan cinta.


Ya, Carla memang telah jatuh cinta pada ayah tirinya sendiri. Oleh sebab itu ia pun dengan senang hati melayani sang ayah tiri di atas ranjang. Semua terjadi begitu saja di belakang ibunya. Saat Maria sedang bepergian, di saat itulah mereka memanfaatkan waktu untuk bercinta. Tak jarang Carla menemui Antonio di hotel.


Semua orang yang mengetahui Carla merupakan putri dari Antonio pun tak ada yang curiga saat melihat Carla terlalu sering datang ke Dome hotel tersebut. Tanpa ada yang tahu, ternyata mereka tengah menjalin asmara terlarang.


Perbuatannya ini bukan hanya menyakiti sang ibu, tapi juga tunangan Carla, Alex. Dengan mata kepalanya sendiri, Alex mendapati Carla tengah bercinta dengan Antonio. Padahal malam harinya mereka baru saja melangsungkan pertunangan, tapi saat keesokan harinya, Alex justru mendapati Carla tengah beradu peluh dengan Antonio di apartemen yang Alex hadiahkan untuknya.


Alex merasa terpukul, ia pun berlari keluar dari apartemen itu hingga melupakan mobilnya sendiri. Ia berlari tak tentu arah untuk membendung rasa sakit dan kecewanya. Hingga akhirnya, karena pikiran yang kosong, ia pun berlari menyeberangi jalan tanpa melihat situasi jalanan lagi yang tengah ramai dengan kendaraan melintas.


Alhasil, sebuah mobil pun menabraknya tanpa sempat menghindar. Alex pun meninggal di tempat setelah terpelanting cukup jauh dan sang penabrak adalah Gemilang. Dan sejak itulah, Carla dan Antonio memanfaatkan rasa bersalah Gemilang untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya dengan selalu mendampingi Carla hingga berujung menjadi sepasang kekasih.


"Mommy, maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan Carla, mom. Carla menyesal." Raungnya penuh penyesalan.


Tapi sayang, mau meraung dan menjerit bagaimana pun, Maria tak kunjung datang. Hatinya terlalu sakit atas perbuatan anak dan suaminya. Ia lebih memilih menyendiri ke tempat yang jauh. Urusan hotel pun telah ia serahkan pada orang-orang kepercayaan. Setidaknya untuk saat ini ia membutuhkan ketenangan.

__ADS_1


...***...


[Zayang, siang nanti makan siang dengan ku di cafe starla, mau?]


[Kebetulan aku ada meeting di sana jam 10. Selesainya belum pasti, tapi biasanya makan waktu sekitar 2 jam. Kamu bisa?]


Mazaya yang juga baru saja selesai meeting terkejut saat melihat pesan yang masuk jam 10 kurang tadi. Sedangkan saat ini sudah hampir pukul 12. Mazaya lantas segera membalas pesan suaminya itu.


[Maaf mas, aku pun baru selesai meeting makanya baru bisa buka pesan mas sekarang. Baiklah. Aku segera ke sana.]


Setelah memberikan pesan balasan, Mazaya pun segera bersiap menuju Cafe starla yang berjarak kurang lebih 30 menit dari kantornya.


"Aku mau makan siang di cafe starla, kalian?" Ucap Mazaya yang telah selesai bersiap.


"Gue ngikut ajalah." Sahut Windy. "Loe Will?"


"Ya udah, ayo." Jawab Willy singkat.


Mereka pun bergegas turun ke basemen menuju mobil yang biasa mereka gunakan saat bepergian bersama. Namun, baru saja ketiganya membuka pintu, Mazaya merasakan sesuatu seperti menusuk pundaknya. Mazaya mengernyit. Namun perlahan-lahan penglihatannya memburam dan brukkkk ...


"Zaya ... "


"Akkhhh ...


Brukkk ...


"Zaya, Windy, kali-"


Brukkk ...


...***...


...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2