ISTRI TANGGUH

ISTRI TANGGUH
Serbuan wartawan


__ADS_3

"Zayang, bangun!" Panggil Gemilang lembut seraya mengusap pelan pipi mulus Mazaya.


"Eunggh ... masih ngantuk," jawab Mazaya. Bukannya bangun, ia justru merapatkan kepalanya di dada Gemilang membuat laki-laki itu terkekeh karena gemas dengan tingkah sang istri.


"Tapi ini sudah siang, Zayang. Penerbangan kita emang masih lama, sekitar 6 jam lagi, tapi apa kamu nggak lapar, hm?" Jelas saja Gemilang menanyakan hal tersebut. Setelah pertempuran mereka setelah subuh tadi sampai hampir pukul 7, pastilah istrinya itu kelaparan dan kehabisan tenaga. Sedangkan saat ini jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, waktu sarapan pun telah terlewati.


Rencananya pukul 4 sore nanti mereka akan kembali ke Indonesia. Tak terasa mereka telah menghabiskan liburan bulan madu mereka selama 2 Minggu di sana. Tak begitu banyak kegiatan yang mereka lakukan. Hanya jalan-jalan, berkeliling sekitaran resort, belanja oleh-oleh ke pusat oleh-oleh yang ada di sana, dan melakukan sedikit olah raga air seperti snorkeling, lalu sisa waktu lainnya tentu saja untuk tidur setelah beradu peluh dahulu tentunya.


Namanya juga pengantin baru. Baru merasakan penyatuan maksudnya. Lagi panas-panasnya. Rugi banget kalau bulan madunya tidak dimanfaatkan untuk bercinta. Untung saja tamu bulanan Mazaya telah berakhir beberapa hari sebelum mereka pertama kali bercinta. Jadi mereka bisa melakukannya tanpa harus terganggu tamu bulanan para wanita tersebut.


"Emang sekarang jam berapa?" tanyanya masih dengan mata terpejam.


"Udah jam 10."


"Sebentar lagi. Masih ngantuk banget." Jawabnya dengan hidung yang sudah sibuk menghidu aroma tubuh suaminya yang top less dan hanya mengenakan bokser untuk menutupi rudalnya yang gagah.


Gemilang baru saja selesai mandi dan tubuhnya masih terasa lembab sekaligus harum. Aroma sabun mandi bercampur parfum miliknya menguar memenuhi rongga hidung Mazaya. Sungguh harum yang menenangkan dan Mazaya sangat menyukainya.


Ah, aroma tubuh suaminya saat berkeringat saja Mazaya suka, apalagi wangi seperti ini, jelas membuatnya makin enggan membuka mata. Seolah candu membuatnya tak henti-henti menghidu aroma tubuh sang suami membuat Gemilang seketika melotot. Tentu kakak-kakak tahu apa penyebabnya, iya kan? Hahaha ...


"Zayang," panggil Gemilang lirih dengan nafas yang perlahan memburu. Dadanya naik turun. Matanya kian melotot saat melihat rudalnya telah menggelembung dari balik bokser berwarna abu-abu itu.


"Hmmm ... " gumam Mazaya menghiraukan akibat yang ia timbulkan dari kegiatannya tersebut.

__ADS_1


"Udah, berhenti. Kalau kamu nggak mau mas buat makin capek lagi lebih baik segera stop it." Tahan Gemilang pada tangan dan wajah Mazaya yang sibuk bermain di dada bidangnya. Ia sudah was-was rudalnya kembali minta jatah.


Mazaya membuka matanya dengan dahi berkerut. Matanya yang sayu karena masih terbawa rasa kantuk terlihat begitu lucu dan menggemaskan.


"Maksud mas?" tanyanya polos.


Lalu tangan Gemilang menarik tangan Mazaya dan meletakkannya tepat di atas rudalnya yang telah mengembang sempurna membuat Mazaya membelalakkan matanya.


"Kamu sudah siap?" goda Gemilang seraya mengerlingkan sebelah matanya.


'OH NO!' Teriak Mazaya dalam hati. "Nggak. Nggak mas, Zaya mandi sekarang. Oke, oke, Zaya segera mandi sekarang."


Lalu Mazaya pun bergegas turun dari atas ranjang. Karena terburu-buru membuatnya sampai lupa kalau tubuhnya kini sedang tidak terbalut apa-apa. Ia berlarian menuju ke kamar mandi. Namun, belum juga ia masuk ke dalam kamar mandi, tiba-tiba saja tubuhnya sudah melayang di udara membuat perempuan cantik itu memekik kaget dengan mata membulat.


Bukannya menurunkan tubuh Mazaya dari gendongannya, Gemilang justru terkekeh dan mengecup bibir merah muda sang istri.


"Nambah satu ronde, oke!"


"Mas."


"Nggak ada protes. Salahkan sendiri sudah membangunkan rudal mas. Mas nggak mau ya main pake tangan, nggak level." Selorohnya membuat Mazaya mengerucutkan bibirnya.


Pintu kamar mandi tertutup rapat. Suara gemericik air dari shower yang dinyalakan mulai terdengar. Tak lama kemudian terdengar suara decapan, era ngan, dan desa han saling beradu pertanda kalau sepasang insan itu telah memulai kegiatan percintaannya.

__ADS_1


...***...


Kini Gemilang dan Mazaya sudah dalam perjalanan menuju Indonesia. Sepanjang perjalanan, Mazaya tampak tertidur lelap. Gemilang hanya bisa terkekeh saat mengingat apa yang mereka lakukan sebelum berangkat tadi. Bisa-bisanya dirinya meminta jatah lagi untuk ke sekian kalinya hari itu. Akibatnya, Mazaya tampak begitu kelelahan. Bahkan setelah perjalanan hampir 6 jam, Mazaya belum juga terbangun dari tidurnya.


Senyum tipis tak luput dari bibirnya yang sedikit tebal. Beberapa pramugari yang berada di sekitarnya pun sampai tak berkedip melihat tuannya yang tersenyum sangat manis. Tak ada aura dingin seperti biasanya. Yang ada hanyalah aura hangat dan penuh kebahagiaan. Ini pertama kalinya bagi para pramugari itu melihat senyum Gemilang sebab selama ini, setiap kali menemani penerbangan laki-laki itu, mereka tak pernah menjumpai senyum terpatri di bibirnya. Yang ada hanyalah kesan datar, dingin, cenderung galak. Mereka sering bergidik sendiri bila melihat Gemilang melintas di depan mereka.


"Aura orang bucin emang beda ya."


"Iya. Tumben-tumbennya tuan Gemilang tersenyum-senyum sendiri kayak gitu."


"Ternyata cinta bisa merubah sosok yang begitu dingin, datar, dan angkuh seperti tuan Gemilang jadi sosok yang berbeda 180° ya?" cetus sesama pramugari seraya berbisik pelan agar tidak sampai terdengar Gemilang.


Bisa gawat bila Gemilang mendengar ada yang secara terang-terangan menggosipkan dirinya. Bisa-bisa karir yang mereka bangun susah payah akan hancur seketika hanya karena kebodohan mereka yang tidak bisa menjaga mulut. Tapi biarpun begitu, tetap saja mereka tak bisa menahan keinginan mereka untuk membahas sang pengusaha tampan. Yang penting mereka tidak membicarakan kejelekan apalagi menjelek-jelekkan tuannya tersebut. Mereka justru memuji dengan penuh kekaguman. Terlebih sikap Gemilang pada Mazaya yang tak pernah ditunjukkannya pada orang lain.


Setelah menempuh perjalanan udara hampir 12 jam lamanya, akhirnya mereka pun tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta. Para pengawal sudah membawakan koper mereka. Gemilang dan Mazaya berjalan menuju mobil jemputan mereka yang ada di luar bandara.


Namun sebelum sempat tiba di depan mobil mereka, tiba-tiba segerombolan awak media tiba-tiba saja mengelilingi mereka. Kilatan blitz kamera tak henti-hentinya diarahkan pada mereka membuat batin Gemilang bertanya-tanya, sebenarnya apa yang sudah terjadi? Mengapa mereka sampai diserbu para pencari berita seperti ini?


Mereka memang sampai saat ini memang belum tahu kehebohan yang sedang terjadi di tanah air. Bahkan selama 2 Minggu ini mereka belum sama sekali mengaktifkan ponsel mereka. Terang saja baik Gemilang maupun Mazaya merasa bingung. Hingga sebuah pertanyaan yang terlontar dari bibir salah seorang wartawan membuat rahang Gemilang bergemeluk. Berbanding terbalik dengan Mazaya yang tampak pias.


"Tuan Gemilang, benarkah Anda yang telah menghamili nona Carla?"


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING. 🥰🥰🥰...


__ADS_2